Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suara gemericik air masih mengalir pelan dari balik pintu kamar mandi. Begitu pintu itu tertutup rapat, Aisyah tidak langsung bergerak menuju keran wudhu. Kedua tangannya masih menggenggam cadar biru yang tadi diambilnya dari tangan Ammar. Jemarinya gemetar sementara napasnya naik turun tidak beraturan. Perlahan ia melangkah mundur hingga membuat punggungnya menyentuh dinding dingin kamar mandi.
Bruk...
Tubuhnya meluncur pelan sampai terduduk di lantai yang masih kering. Barulah saat itu seluruh pertahanan yang sejak pagi ia bangun, hancur begitu saja. Tangannya buru-buru menutup mulutnya sendiri.
"Mmhh..."
Isakan tertahan memenuhi rongga dadanya.
Aisyah menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak keluar terlalu keras. Ia tidak ingin Ammar mendengarnya. Tidak ingin laki-laki itu mengira bahwa tangisnya adalah sebuah tuntutan atau cara untuk mencari belas kasihan. Air matanya mengalir semakin deras sementara bahu mungilnya bergetar hebat.
"Ya tuhan..." Suara itu hanya terdengar sebagai bisikan yang nyaris tak bersuara. "Mengapa rasanya sesakit ini?"
Sejak pagi ia sudah berkali-kali memaksa dirinya tersenyum. Tersenyum saat ijab kabul selesai. Tersenyum ketika mencium tangan laki-laki yang baru menjadi suaminya. Tersenyum ketika semua tamu mendoakannya. Tersenyum ketika diantar menuju rumah yang kini harus ia sebut rumahnya. Bahkan ketika Ammar memperlakukannya begitu dingin, ia masih berusaha menjaga adabnya. Namun sekarang, tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan.
Di balik pintu kamar mandi ini, hanya ada dirinya dan Rabb yang mengetahui betapa hancurnya hatinya.
"Ya Rabb, apa salahku?" Isak Aisyah di dalam hati. "Aku tidak pernah meminta semua ini." Air matanya jatuh tanpa henti. "Aku juga tidak pernah ingin merebut siapa pun." Aisyah memejamkan matanya dengan erat. "Aku hanya ingin Kak Salsa tetap bahagia, aku hanya ingin semua orang berhenti terluka."
Tangannya semakin menekan mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Seluruh tubuhnya bergetar. Hari ini kehidupannya berubah begitu cepat. Pagi tadi ia masih menjadi putri bungsu Pak Umar. Siang tadi ia menjadi pengantin dan malam ini, Ia sudah menjadi istri seorang laki-laki yang sejak awal mengatakan bahwa hatinya tidak akan pernah menjadi miliknya. Tanpa sadar perkataan Ammar kembali terngiang jelas di telinga Aisyah.
"Hatiku tetap milik Salsa. Jangan pernah mengambil tempat yang menjadi milik Salsa."
Kalimat itu seperti terus berulang-ulang memenuhi telinganya dan membuat Aisyah menundukkan kepala.
"Aku tahu, Mas." Bisik Aisyah lirih. "Aku memang tidak pernah berniat mengambil tempat Kak Salsa."
Tangisnya kembali pecah. Beberapa menit berlalu dan air mata itu seolah belum juga habis. Aisyah sendiri tidak mengerti mengapa Allah menakdirkan jalan hidup seperti ini. Jika ini adalah ujian, Mengapa rasanya begitu berat? Mengapa rasanya seolah seluruh hidupnya berubah hanya dalam satu hari? Aisyah memejamkan matanya semakin erat. Lalu, entah dari mana, sebuah ayat yang pernah ia dengar sejak kecil perlahan terlintas di dalam benaknya.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Aisyah membuka matanya perlahan. Napasnya masih tersengal. Ayat itu kembali berputar di kepalanya.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Bibirnya bergetar. "Kalau begitu..." Ia mengusap air matanya. "Kalau Engkau memberiku ujian ini,"
Berulang kali Aisyah mengusap wajahnya yang basah. "Apakah itu berarti Engkau yakin aku mampu melewatinya, ya Rabb."
Kalimat itu justru membuat dadanya sedikit lebih tenang meski belum menghilangkan rasa sakit seluruhnya, tetapi cukup untuk membuatnya kembali berdiri. Aisyah menarik napas panjang. Ia memandang bayangannya pada cermin kecil di depan wastafel. Matanya merah. Kelopak matanya bengkak, namun perlahan ia menganggukkan kepalanya sendiri.
"Aku harus kuat. Bukan karena aku hebat, Tapi karena Allah tidak mungkin memberikan ujian yang tidak mampu dipikul hamba-Nya."
Aisyah mengambil tisu lalu mengusap wajahnya hingga bersih. Kemudian ia melangkah menuju keran air. Suara air yang mengalir memenuhi kamar mandi. Dengan perlahan Aisyah mulai mengambil wudhu, membasuh kedua telapak tangannya, berkumur dan membersihkan wajahnya. Setiap tetes air yang menyentuh kulitnya seolah ikut menenangkan hatinya sedikit demi sedikit. Ketika air membasuh wajahnya, ia kembali berbisik.
"Ya Allah... Hanya kepada-Mu aku mengadu Karena hanya Engkau yang benar-benar mengetahui isi hatiku."
Setelah menyempurnakan wudhu nya, Aisyah mengusap wajahnya sekali lagi. Napasnya kini jauh lebih teratur, mungkin masalahnya belum selesai. Namun setidaknya hatinya mulai sedikit menerima.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi akhirnya terbuka.
Ceklek.
Aisyah keluar dengan pakaiannya yang lebih sederhana.
Rambutnya masih tertutup rapi dalam hijab. Tangannya membawa mukena putih dan wajahnya kembali tertutup cadar. Begitu melangkah keluar, pandangannya langsung tertuju ke arah ranjang. Ammar sudah berbaring. Tubuh laki-laki itu membelakanginya. Lampu kamar sudah diredupkan dan membuat suasana kembali sunyi. Aisyah hanya memandang beberapa detik ke arah Ammar. Tidak ada niat mengganggu. Ia juga tidak berharap Ammar akan berbicara padanya. Perlahan ia mengambil sajadah yang sejak tadi sudah disiapkannya.
Di salah satu sudut kamar yang menghadap kiblat, ia menggelar sajadah itu dengan hati-hati. Mukena dikenakannya perlahan kemudian ia berdiri lalu mengangkat kedua tangan.
"Allahu Akbar..."
Suara itu begitu pelan dan khusyuk. Di atas ranjang, Ammar sebenarnya belum tidur. Sejak tadi matanya memang terpejam, namun pendengarannya menangkap setiap suara dari arah kamar mandi. Ia mendengar isakan Aisyah yang berusaha disembunyikan. Walau samar dan tertahan, tetap saja ia bisa mendengarnya. Dan sekarang, Ia mendengar suara bacaan sholat Aisyah.
Entah mengapa, Ammar tidak sanggup membuka matanya. Shalat itu berlangsung sangat tenang. Tak ada suara selain lantunan bacaan sholat Aisyah yang terdengar lirih dan sesekali terdengar isak kecil yang berusaha ditahan. Ammar perlahan membuka matanya sedikit. Dari sela-sela kelopak matanya ia melihat siluet Aisyah yang sedang sujud begitu lama. Sujud yang jauh lebih lama daripada biasanya. Ketika Aisyah selesai mengucapkan salam, perempuan itu tidak langsung bangkit. Ia masih duduk sementara kedua tangannya terangkat untuk berdoa dengan suaranya yang sangat lirih, namun kamar yang begitu sunyi membuat sebagian doa itu sampai ke telinga Ammar.
"Ya Allah... Berikanlah aku kekuatan dan berikanlah aku kesabaran. Jangan biarkan aku menjadi sebab rusaknya kebahagiaan orang lain." Air mata Aisyah kembali menetes.
"Kalau memang ini jalan yang Engkau pilihkan untukku, aku mohon tolong kuatkan langkahku." Ammar menelan ludah. Dadanya terasa semakin berat saat mendengar doa Aisyah yang belum selesai. "Ya Allah... Tolong bahagiakan Kak Salsa. Jagalah rumah tangga Kak Salsa dan Mas Ammar. Jangan biarkan Kak Salsa terlalu lama menderita karena aku."
Doa itu membuat dada Ammar seperti dihantam sesuatu. Tangannya perlahan mengepal di balik selimut. Selama ini ia hanya memikirkan dirinya. Ia hanya memikirkan luka Salsa dan menganggap Aisyah sebagai penyebab semua masalah. Padahal, perempuan itu justru sedang mendoakan kebahagiaan mereka berdua bahkan di malam pertama pernikahannya sendiri. Tidak ada satu pun doa Aisyah yang meminta cinta ataupun doa agar Ammar berubah. Yang ada justru doa agar Salsa dan dirinya tetap bahagia. Ammar memejamkan matanya kembali. Untuk pertama kalinya ia merasa bimbang dan mengingat kembali semua sikap dingin dan kata-kata tajam yang baru saja diucapkannya kepada Aisyah. Padahal perempuan itu sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun.