Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sudah hampir lima belas menit Acha menunggu Mama Shiren yang tak kunjung tiba. Padahal Mama Shiren tadi berkata sedang di jalan menuju kampusnya. Dengan perasaan gelisah Acha pun tetap menunggu agar tidak membuat Mama Shiren kecewa kepada dirinya.
Di saat Acha sedang melamun , tanpa berselang lama tibalah salah satu mobil mewah milik keluarga Karta Wijaya yaitu Mercedes-AMG GT 53 S 4 -Door Caupe bagaimana tidak mewah, dengan hanya melihat dari bodynya saja Acha sudah tahu kalau mobil tersebut mempunyai harga yang tidak main-main. Tanpa pikir panjang Acha langsung berdiri lalu berjalan kaki menuju mobil tersebut.
Pintu mobil terbuka oleh Shiren. Iya, Shiren memang tidak suka jika harus memakai supir pribadi seperti Ravendra sang Suami. Shiren lebih baik menyetir sendiri karena lebih asyik menurutnya.
"Sudah lama menunggu Mama, Cha?." Tanya Shiren kepada Acha yang saat ini berada di depan pintu mobil miliknya.
Acha menggelengkan kepalanya menandakan tidak terlalu lama dan keberatan apabila Mama Shiren datang terlambat. "Tidak ko Ma, Acha barusan saja menunggu Mama." Dusta Acha kepada Mama Shiren. Acha tidak ingin membuat Mama Shiren merasa tidak enak hati kalau dia berbicara jujur.
"Hari ini Mama kepingin kenalin kamu sama teman-temannya Mama, gimana Cha?."
"Aku, Ma.?" Tanya Acha dengan kaget kepada Mama Shiren.
Shiren menganggukan kepala dengan yakin atas jawabannya. "Iya Acha, kamu. Memang siapa lagi yang mau Mama bawa, hem?." Jawab Shiren dengan yakin kepada Acha.
"Tapi Ma, Acha tidak ingin ada gosip yang menyebar jika nanti Mama bawa Acha pergi menemui teman-teman Mama." Jawab Acha dengan tepat. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian bagi teman-teman Mama Shiren.
"Acha tidak usah khawatir. Teman-teman Mama tidak seperti yang Acha bayangkan. Acha harus percaya sama Mama." Shiren menggenggam tangan Acha untuk meyakinkan bahwa memang tidak akan terjadi apa-apa. "Trust me." Kembali Shiren meyakinkan Acha untuk kedua kalinya.
Dengan helaan nafas yang sedikit kasar Acha mencoba tersenyum dan percaya kepada Mama Shiren. Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Yang Acha takutkan adalah, akan ada gosip-gosip murahan yang bertebar saat Acha sedang berduaan dengan Mama Shiren. Padahal jelas-jelas Acha bukanlah Menantu dari keluarga Karta Wijaya.
"Baik Acha akan ikut bersama Mama." Jawab Acha dengan tepat.
Dengan cepat Shiren masuk kedalam mobil lalu di ikuti oleh Acha yang masuk pula ke dalam mobil milik Mama Shiren. Betapa kagumnya Acha saat sudah masuk kedalam mobil mewah milik Mama Shiren. Desainnya sangat-sangat elegan dan kesan mewah pun sangat terasa.
"Ready sayang? Pakai sabuk pengaman jangan lupa ya, Cha." Ucap Mama Shiren yang mengingatkan tanpa melihat Acha.
Acha terdiam termangu tidak menjawab pertanyaan Mama Shiren. Dia benar-benar kaget bisa menaiki mobil semewah dan seelegan ini dan ini pengalaman pertama kali di dalam hidupnya.
"Acha." Tanya Shiren saat melihat Acha terdiam.
"Eh iya Ma, maaf Acha bengong. Mobil Mama bagus sekali dan Acha baru pertama kali naik mobil semewah dan sebagus ini." Jawab Acha dengan jujur kepada Mama Shiren.
Mama Shiren hanya tersenyum menanggapi ucapan Acha seraya mengelus rambut panjang Acha. Rasa bersalah itu kembali terbesit didalam benak Shiren. Bagaimana jika Acha tau kalau yang menabrak kedua orang tuanya adalah Dewa? Apakah sikap Acha akan selalu seperti ini? Shiren sangat takut sekali jika rahasia besar ini akan terbongkar dengan cepat.
*****
Dewa saat ini masih dalam puncak emosi yang begitu tinggi. Karena mendengar berita dari anak buahnya bahwa mereka tidak berhasil menemukan pelaku yang membawa uang milik keluarga Karta Wijaya.
Tama yang berada satu pesawat dengan Dewa pun hanya bisa diam seraya menyusun kembali jadwal kerjaan milik Dewa. Bagaimana tidak seharusnya mereka akan berada sekitar 2 hari di kota ini. Tetapi insiden ini membuat Dewa naik pitam dan membatalkan semuanya.
Tama pun memijit pelipisnya jika mengingat kelakuan Dewa yang seenaknya. Bagaimana tidak, Tama lah yang harus menyusun semua dan membujuk para klien agar mau dipindah ke lain hari jadwalnya.
Pesawat pribadi milik Karta Wijaya masih terbang menuju Ibukota, butuh beberapa jam lagi agar mereka bisa sampai dengan selamat.
Dewa saat ini masih mencoba terdiam seraya memenjamkan matanya guna meredam emosinya yang masih membuncah. Fikirannya saat ini sedang berkecamuk memikirkan nasib rumah tangganya dengan Renata juga permintaan Sang Papa untuk secepatnya menikahi Acha.
Apakah dirinya harus menikahi Acha secepat ini? Bagaimana jika Renata mengetahuinya? Apakah Dewa akan sanggup menjelaskan semuanya kepada Renata bahwa pernikahannya dengan Acha hanyalah sebatas menebus dosa yang Dewa lakukan kepada kedua orang tuanya.
"Tam, carikan penghulu secepat mungkin. Dan rahasiakan semuanya dari Renata juga para awak media. Urus semuanya secepat mungkin, agar rasa bersalah ini sedikit berkurang." Ucap Dewa dengan tiba-tiba kepada Tama.
Tama yang sedang memaikan tangannya di keyboard laptop hanya bisa terdiam. Apakah mungkin Dewa akan menikahi anak dari mendiang sahabat Tuan Ravendra?.
"Baik Tuan akan segera saya siapkan semuanya tanpa awak media dan Nyonya Renata tau. Akan saya pastikan tidak ada satupun yang tahu mengenai pernikahan Tuan yang kedua ini." Jawab Tama dengan cepat.
Dengan segera Tama membuka ponselnya dan menghubungi beberapa kenalan yang dia punya guna menyiapkan keperluan pernikahan Dewa yang kedua.
"Maaf Tuan, bukankan waktunya masih minggu depan ya? Apakah tidak terlalu cepat jika kita menghubungi penghulu saat ini?." Jawab Tama dengan hati-hati.
"Yang mau menikah kamu atau saya Tam? Kenapa jadi kamu yang mengatur semuanya? Hem?." Ucap Dewa dengan tegas.
"Maaf Tuan, kalau begitu secepatnya pasti akan saya dapatkan penghulunya Tuan. Untuk acara kira-kira akan di selenggarakan dimana?." Tanya Tama dengah hati-hati.
"Dikediaman utama saja Tam. Intinya saya tidak ingin satupun ada yang tahu mengenai pernikahan ini." Jawab Dewa.
"Baik Tuan akan saya laksanakan." Jawab Tama dengan menganggukan kepala tanda dia mengerti. Jika Dewa sudah berbicara seperti itu maka Tama tidak bisa berbuat apa-apa.
Semoga pernikahan Dewa yang kedua ini bisa membuat Dewa berubah sedikit demi sedikit dan tidak selalu memikirkan Renata. Tama jelas begitu tidak suka dengan Renata. Hanya saja Dewa yang terlalu bucin dan terlalu percaya kepada Renata sehingga membuat Renata menjadi semena-mena terhadap Dewa.
Semoga saja semua kebusakan Renata segera terungkap. Tama pun sudah mulai jengah jika harus melihat gaya hidup Renata yang sudah sangat keterlaluan membohongi seluruh keluarga Karta Wiajaya.
Tama hanya bisa berdoa semoga Acha bisa merubah Dewa dan membuat perasaan Dewa berubah kepada Acha. Dan semoga saja Acha tidak pernah tahu bahwa Dewalah penyebab kematian kedua orang tuanya. Tama tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Acha mengetahui semuanya. Pasti Acha akan hancur sehancur-hancurnya jika mengetahui pernikahan ini hanyalah terselubung untuk menutupi kasus Dewa yang merenggut nyawa kedua orang tua Acha.
Bersambung. . .