NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12: Kamar Nomor Dua

Intensitas tatapan Adrian di koridor depan malam itu terasa seperti medan magnet yang mengunci seluruh pergerakan Gisella.

Pertanyaan "Siapa kau sebenarnya?"

bukan lagi sekadar sindiran skeptis seperti hari-hari sebelumnya, melainkan sebuah desakan mutlak dari seorang ilmuwan yang dunianya baru saja diguncang oleh ketidaklogisan.

Gisella mengatur napasnya yang sempat tertahan.

Dia bisa merasakan kehangatan sekaligus getaran halus dari telapak tangan Adrian yang masih mencengkeram lengan atasnya.

Di belakang pria itu, Valerie masih menatapnya dengan sisa-sisa rasa syok, namun kini bercampur dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

"Adrian, lepaskan dulu tanganmu. Kau menyakitiku,"

ucap Gisella bohong, menggunakan nada suara yang sengaja dibuat sedikit rapuh untuk mencairkan ketegangan fisik di antara mereka.

Mendengar kata 'menyakitiku', Adrian tersentak.

Dia seolah baru tersadar dari transnya dan langsung menarik kedua tangannya kembali dengan canggung.

Pria itu berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawa formalnya yang sempat runtuh.

"Maaf. Aku tidak bermaksud kasar."

"Aku tahu,"

Gisella tersenyum tipis, mengusap lengannya sendiri untuk memberikan efek dramatis.

"Bisa kita bicarakan ini di tempat yang lebih pribadi? Di sini terlalu terbuka, dan Ayah serta Ibu tidak perlu ikut panik mendengar spekulasi kita."

Adrian melirik Valerie, lalu mengangguk setuju pada usulan Gisella.

"Ikut ke kamarku."

"Tidak!"

potong Gisella cepat, refleks melangkah mundur satu langkah.

Bayangan tentang insiden salah masuk kamar malam itu langsung berkelebat di benaknya, membuat pipinya mendadak merona merah muda.

"Maksudku... kita bicara di kamarku saja. Kamar nomor dua di seberang kamarmu."

Adrian memperhatikan perubahan ekspresi wajah Gisella.

Sudut bibirnya yang sempat mengeras kini sedikit mengendur, menyiratkan rasa geli yang samar.

"Baiklah. Kamar nomor dua."

Gisella mendorong pintu kayu kamarnya, membiarkan Adrian masuk terlebih dahulu sebelum dia menutupnya rapat.

Ini adalah pertama kalinya Adrian menginjakkan kaki ke dalam kamar ini sejak mereka menikah enam minggu lalu.

Ruangan itu kini tampak jauh lebih rapi dan minimalis dibandingkan saat pertama kali Gisella terbangun di sini.

Botol-botol kosmetik mahal yang dulunya berserakan tanpa aturan kini berbaris rapi di atas meja rias.

Aroma lavender yang lembut dan menenangkan menguar dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat kontras dengan ruang kerja Adrian yang maskulin dan penuh tekanan.

Adrian tidak duduk di ranjang.

Dia memilih berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman mawar bawah, menyilangkan tangan di depan dada, dan mengunci pandangannya pada Gisella yang baru saja duduk di kursi meja rias.

"Sekarang, jelaskan padaku, Gisella,"

buka Adrian, suaranya terdengar berat dan bergema rendah di dalam kamar yang sunyi.

"Aku menghargai fakta bahwa kau menyelamatkan hidup kami hari ini. Tetapi sebagai seorang peneliti, aku tidak bisa menerima jawaban 'firasat' atau 'mimpi buruk' lagi. Logika fungsional tidak bekerja seperti itu."

Gisella sudah menduga bahwa dia tidak akan bisa lolos begitu saja dengan alasan klise.

Berhadapan dengan Adrian berarti dia harus menyajikan sebuah kebohongan yang dibungkus dengan struktur yang masuk akal bagi otak seorang profesor sains.

"Apakah kau tahu tentang teori sinkronisitas dan persepsi bawah sadar, Adrian?"

tanya Gisella, memajukan tubuhnya sedikit, meniru gaya komunikasi Adrian saat sedang berdiskusi.

Adrian mengernyitkan dahi.

"Carl Jung? Sinkronisitas adalah konsep psikologis tentang hubungan bermakna antara kejadian internal dan eksternal tanpa hubungan kausalitas fisik. Apa hubungannya dengan kecelakaan truk tadi?"

"Hubungannya adalah otak manusia merekam lebih banyak data daripada yang disadari oleh pikiran sadar kita,"

jawab Gisella dengan lancar, memanfaatkan seluruh ilmu komunikasi korporat dan literatur psikologi yang pernah dia baca di dunia aslinya.

"Dua hari lalu, saat aku berada di perpustakaan kota, aku tidak sengaja membaca buletin dinas pekerjaan umum setempat di atas meja baca. Di sana tertulis jadwal perawatan aspal darurat untuk jalur lingkar luar yang dimulai minggu ini. Pikiranku saat itu mengabaikannya, tetapi otak bawah sadarku merekamnya sebagai data risiko."

Gisella berdiri dari kursinya, berjalan beberapa langkah mendekati Adrian untuk memperkuat argumennya.

"Lalu, kemarin sore saat aku berada di dapur, aku mendengar berita radio tentang peningkatan volume truk logistik yang masuk ke kota Aethelgard karena penutupan jalur kargo pelabuhan. Secara tidak sadar, otak fotografisku—yang baru saja terstimulasi akibat benturan jendela kemarin—menggabungkan kedua data tersebut saat aku tidur."

Adrian mendengarkan penjelasan itu tanpa memotong.

Sepasang matanya yang tajam menganalisis setiap pergerakan mikro pada wajah Gisella—mencari tanda-tanda fabrikasi cerita.

"Otakku menyimpulkan sebuah simulasi risiko: jalur lingkar luar yang sedang diperbaiki ditambah truk bermuatan berat yang tergesa-gesa sama dengan potensi kecelakaan fatal di jam sibuk pagi hari,"

lanjut Gisella, menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Adrian.

"Mimpi burukku adalah manifestasi dari visualisasi risiko tersebut. Jadi, saat Valerie bilang ingin lewat sana tepat pukul sembilan pagi, seluruh alarm di kepalaku berbunyi karena kecocokan variabel waktu dan tempat. Itu bukan sihir, Adrian. Itu adalah analisis data bawah sadar yang kebetulan terbukti 100 persen akurat."

Ruangan kembali hening setelah Gisella menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya.

Adrian menatap Gisella dalam diam selama hampir satu menit penuh.

Logika yang dipaparkan Gisella memang memiliki struktur ilmiah yang sah dalam psikologi kognitif.

Otak manusia memang mampu melakukan kalkulasi prediktif di bawah sadar berdasarkan serpihan informasi yang dikumpulkan secara acak.

Dan fakta bahwa tubuh Gisella asli memiliki kemampuan memori fotografis yang kuat membuat penjelasan ini terasa... masuk akal.

Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, Adrian tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan oleh wanita ini.

Ada ketenangan, kematangan emosional, dan cara pandang hidup yang tidak mungkin terbentuk hanya karena stimulasi benturan fisik.

"Analisis yang sangat rapi,"

ucap Adrian akhirnya, suaranya melunak.

Dia menurunkan kedua tangannya dan berjalan mendekati Gisella, mengikis jarak di antara mereka hingga Gisella bisa merasakan hembusan napas hangat sang profesor di atas keningnya.

"Kau selalu punya jawaban ilmiah untuk setiap perubahan radikalmu, Gisella. Pertama tentang kesehatanku, kedua tentang tata krama bangsawan di depan Nyonya Eleanor, dan sekarang tentang kalkulasi kecelakaan maut."

Adrian menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat jernih Gisella.

"Tetapi kau melupakan satu variabel penting dalam analisismu."

Gisella menahan napas, jantungnya kembali berdegup kencang karena jarak mereka yang terlalu intim.

"V-variabel apa?"

"Variabel emosi,"

bisik Adrian, suaranya terdengar rendah dan berbahaya bagi pertahanan diri Gisella.

"Gisella yang asli sangat membenciku. Dia akan senang jika aku mengalami kegagalan riset atau bahkan menghilang dari dunia ini agar dia bisa bebas bersama Julian dengan membawa harta warisanku. Tetapi kau... kau mempertaruhkan wibawamu, memohon padaku dengan mata yang berkaca-kaca demi keselamatanku dan Valerie. Tatapan mata yang kau berikan padaku di ruang makan tadi pagi... itu bukan tatapan mata seorang analisis data. Itu adalah tatapan mata seseorang yang benar-benar takut kehilangan."

Gisella tertegun.

Kata-kata Adrian menghantam pertahanan psikologisnya dengan telak.

Dia tidak bisa membantah bagian itu. Saat menyadari bahwa Adrian dan Valerie berada di ambang maut, dia benar-benar panik bukan hanya karena takut plot novelnya berantakan, melainkan karena dia sudah mulai peduli pada pria kaku yang rapuh ini.

"Mengapa kau peduli padaku, Gisella?"

tanya Adrian lagi, tangannya perlahan terangkat, ujung jari telunjuknya yang hangat menyentuh dagu Gisella dengan lembut, memaksanya untuk terus menatap mata elang itu.

"Mengapa seorang wanita yang bersikeras meminta cerai dalam waktu tiga puluh hari justru bertingkah seolah dia ingin bersamaku selamanya?"

Pertanyaan menohok itu menggantung di udara kamar nomor dua, menciptakan ketegangan baru yang jauh lebih mendebarkan daripada ancaman kecelakaan truk kontainer di luar sana.

Gisella tahu, jika dia salah menjawab satu kata saja malam ini, ikatan di antara mereka akan berubah selamanya sebelum kontrak tiga puluh hari itu usai.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!