NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.

Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.

Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan Lucian

Suasana di mansion mewah itu kini terasa jauh lebih dingin. Perceraian Keith dan Vivian yang dilakukan secara diam-diam seolah menciptakan lubang besar yang menelan segala sisa kehangatan. Tidak ada drama di media, tidak ada berita utama di koran bisnis, semuanya diselesaikan di balik pintu tertutup. Namun, dampaknya terhadap Lucian tidak bisa disembunyikan.

​Lucian kembali ke cangkangnya. Ia menjadi pemuda yang irit bicara, bahkan lebih pendiam daripada sebelum mereka dekat.

​Pagi itu, di meja makan yang hanya diisi oleh suara denting sendok yang beradu dengan piring, Jeslyn menatap Lucian dengan cemas. Lucian mengenakan seragam sekolahnya dengan sangat rapi, namun wajahnya tampak pucat dan matanya menyimpan kehampaan.

​"Lucian," panggil Jeslyn lembut.

"Mami sudah siapkan bekal buatmu. Kamu harus makan siang, jangan sampai melewatkan jam istirahat hanya untuk melamun."

​Lucian mendongak, menatap Jeslyn sekilas lalu mengangguk pelan. "Iya, Mami."

​"Dan dengarkan Mami baik-baik," Jeslyn meletakkan garpunya, menatap Lucian dengan tatapan serius.

"Sekolah fokus saja pada pelajaran. Kamu sudah kelas tiga, tahun terakhir. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting di luar sana. Apalagi soal Hera. Ingat, dia bukan tanggung jawabmu, dan dia sama sekali bukan teman yang baik untukmu. Jangan biarkan dirimu dimanfaatkan lagi, ya?"

​Lucian terdiam. Ia menatap bekal makan siangnya yang tertata rapi, lalu jemarinya bergerak gelisah di bawah meja.

"Tapi, Mami... dia temanku, dia adalah tempatku bercerita dan begitu juga sebaliknya, dia menjadikan aku tempatnya cerita dan mengeluh."

​"Lucian!" suara Jeslyn meninggi, sedikit bar-bar seperti biasanya.

"Itu alasan klasik untuk membuatmu merasa dibutuhkan! Dia hanya sedang mencari kambing hitam untuk masalahnya sendiri. Mami tidak mau dengar kamu pulang dengan luka lagi karena membela orang yang tidak peduli padamu."

​Lucian tetap bungkam, namun keraguan terpancar jelas di raut wajahnya. Ia masih memegang harapan tipis, harapan bahwa setidaknya dengan berbuat baik, ia bisa merasa sedikit berharga.

​"Dengar, Sayang," suara Jeslyn melunak kembali saat melihat keraguan di mata Lucian.

"Mami tahu hatimu terlalu baik. Tapi dunia ini kejam. Vivian maksud Mami, Mommy mu sudah pergi mengejar mimpinya. Itu pilihannya. Kamu tidak perlu menjadi korban dari pilihan orang lain. Fokuslah pada dirimu sendiri."

​Lucian menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat dewasa untuk pemuda seusianya.

"Aku mengerti, Mami. Terima kasih."

​Ia bangkit dari kursinya, mengambil tas sekolahnya, lalu melangkah ke arah pintu. Namun sebelum keluar, ia berbalik menatap Jeslyn.

"Aku berangkat."

​"Hati-hati, Lucian! Jangan cari masalah!" teriak Jeslyn sambil melambaikan tangan, meskipun ia tahu anaknya sudah terlalu jauh untuk mendengarnya dengan jelas.

​Tak lama setelah Lucian pergi, Keith muncul dari ruang kerjanya. Pria itu tampak lebih lelah dari biasanya, namun auranya tidak lagi sepekat dulu. Ia duduk di kursi Lucian tadi, memijat pelipisnya.

​"Dia sudah berangkat?" tanya Keith tanpa menoleh.

​"Sudah," jawab Jeslyn ketus.

"Kamu seharusnya bicara padanya sebelum dia berangkat tadi. Dia butuh ayahnya, Keith. Bukan cuma diam di balik kertas bisnis itu."

​Keith menyesap kopinya, wajahnya tetap datar. "Aku sudah mengurus semua dokumen hak asuh dan harta yang dituntut keluarga Vivian. Semuanya selesai. Lucian sekarang sepenuhnya tanggung jawabku."

​"Tanggung jawab bukan berarti hanya masalah harta dan hak asuh, Keith!" Jeslyn berdecak gemas.

"Dia itu anakmu yang sedang hancur hatinya karena ibunya pergi tanpa pamit. Kamu setidaknya bisa menanyakan bagaimana perasaannya."

​Keith terdiam. Ia meletakkan cangkirnya dengan pelan. "Aku tidak tahu harus bicara apa padanya. Setiap kali aku melihatnya, aku melihat kegagalanku sendiri."

​"Ya, dan karena itu kamu harus bicara!" balas Jeslyn.

"Kalau kamu terus menghindar, kamu hanya akan membuat jarak di antara kalian semakin lebar."

​Sementara itu, di sekolah, Lucian berjalan menyusuri lorong dengan kepala tertunduk. Ia mencoba fokus pada bukunya, namun pikirannya terus melayang pada kata-kata Jeslyn tentang Hera. Ia tahu Jeslyn benar, ia tahu ia seharusnya menjauh. Namun, di dalam hatinya yang masih menyimpan trauma karena ditinggalkan oleh ibu kandungnya, ia takut untuk benar-benar menutup pintu bagi orang lain.

​"Lucian!"

​Sebuah suara yang ia kenal memanggilnya. Itu Hera. Wanita itu berlari kecil ke arahnya dengan mata yang tampak bengkak karena menangis.

​"Lucian, tolong aku," isak Hera tanpa basa-basi.

"Dia marah lagi. Dia mengancam akan menyebarkan foto-fotoku kalau aku tidak mau menurutinya. Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya."

​Lucian mematung. Ia teringat nasihat Jeslyn pagi tadi. Fokus sekolah, jangan pikirkan Hera.

​"Hera," Lucian berucap pelan, suaranya sedingin es.

"Aku tidak bisa lagi membantumu. Mami... maksudku, keluargaku, memintaku untuk fokus pada ujian."

​Hera menatap Lucian dengan tatapan tidak percaya, matanya membesar penuh dramatisasi.

"Jadi begitu? Sekarang setelah kamu punya keluarga yang sempurna, kamu melupakan aku? Kamu pikir aku sengaja merepotkan mu? Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi, Lucian!"

​"Bukan begitu..." Lucian mulai merasa goyah. Rasa kasihan yang selama ini menjadi kelemahannya kembali muncul ke permukaan.

​"Kalau kamu tidak mau membantu, ya sudah. Biarkan saja aku hancur sendiri. Setidaknya aku tahu siapa teman sejatiku," Hera berbalik, bahunya terguncang seolah ia sedang menahan tangis yang sangat hebat.

​Lucian mengepalkan tangannya. Ia melihat Hera berjalan menjauh dengan langkah yang gemetar. Ia tahu ini adalah manipulasi, ia tahu ini adalah taktik Hera untuk mengikatnya kembali. Namun, ketakutan akan kesepian yang dulu sering ia rasakan saat ditinggal Vivian kini menghantuinya kembali.

"​Apakah aku harus membiarkannya?" batin Lucian.

​Di sisi lain mansion, Jeslyn tidak bisa duduk diam. Ia merasa ada yang salah dengan firasatnya. Ia tahu Lucian tidak akan semudah itu melepaskan kebiasaannya menjadi penyelamat orang lain.

​"Palevi!" panggil Jeslyn pada pemuda yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

​Daniel berlari kecil menghampiri Jeslyn. "Ya, Nyonya Jeslyn? Ada yang bisa saya bantu?"

​"Palevi, kamu tolong pantau Lucian di sekolah. Kalau kamu lihat Hera mendekatinya lagi, langsung kabari saya. Jangan biarkan mereka berdua saja, oke!"

​Palevi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sejujurnya dia tidak mengenal siapa Hera tetapi jika menyangkut tuan mudanya, maka dia akan menurut.

"Siap, Nyonya! Saya akan pasang mata lebar-lebar. Tuan Muda Lucian tidak akan kenapa-kenapa, saya janji!"

​Jeslyn menghela napas panjang. Ia berharap usahanya cukup untuk melindungi Lucian. Baginya, takdir dalam novel itu boleh saja tertulis tragis, tapi selama ia masih bernapas dan masih bisa cerewet di dunia ini, ia tidak akan membiarkan Lucian berakhir sebagai kerangka di gang gelap. Ia akan mengubah masa depan, meskipun ia harus berhadapan dengan takdir itu sendiri.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

1
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 33 sampai bab 37
Potatoes 🥔
Bagus Banget,/Kiss/
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bongkar kebusukan hera
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 29 dan bab 33 thor
It's me Ri🥕: Udah ya tunggu beberapa menit lagi, selamat membaca
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
jangan bikin lu cian cinta thor bikin perasaan itu seperti anak yang tidak mau ibunya lebih perhatian kepada ayahnya
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 25 sampai bab 30
It's me Ri🥕: Sebentar ya kak, lagi di cek dan edit lagii🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 16 sampai bab 20
It's me Ri🥕: Sudah di up ya, tunggu sebentar lagi🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
It's me Ri🥕: Aawww🥺 Semoga suka ya kak😘
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin adegan Lucian menganggap mcnya seperti ibu kandungnya sendiri
Fajar Fathur rizky
nanti pas lahiran bikin mcnya jadi model yang terkenal dan cantik bikin banyak yang suka bikin suaminya cemburu
Fajar Fathur rizky
cepat update thor bab 7 sampai bab 11 thor ceritanya seru
It's me Ri🥕: Kak😭 Ini udah di up kok, semoga suka yaa/Kiss/
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
besok bikin 5 bab thor ceritanya seru bikin pas mcnya selesai lahiran bikin dia jadi model yang terkenal dan cantik
Fajar Fathur rizky: biar suaminya cemburu thor mcnya banyak yang naksir hahaha
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!