NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Suasana di dalam ballroom hotel berbintang di pusat kota malam itu tampak begitu gemerlap. Sorot lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan, senada dengan tema dekorasi pesta ulang tahun Mama Lastri yang ke-70. Balon-balon helium berwarna putih mutiara dan emas tertata rapi di setiap sudut, membingkai panggung utama yang dihiasi tulisan besar bersepuh perak. Meja-meja bundar berlapis kain satin putih telah dipenuhi oleh para tamu undangan mulai dari kerabat dekat, tetangga lama, hingga jajaran kolega bisnis Mas Broto.

​Sejak pukul lima sore, seluruh anak dan menantu Mama Lastri sudah berkumpul. Sebagai anak tertua yang memimpin klan keluarga besar ini, Mas Broto tampak berdiri gagah di dekat pintu masuk utama dengan setelan jas hitamnya yang klimis. Di sampingnya, Mbak Rika, sang istri, sibuk membetulkan letak sanggulnya yang tinggi menjulang, sembari memamerkan senyum lebar kepada setiap kolega yang datang bersalaman.

​Di sudut lain, tidak jauh dari meja kado, Abah Bagas tampak sibuk bukan main. Keringat dingin membasahi bagian dalam kemeja batik barunya. Pria itu sudah hilir mudik sejak pagi hari, memastikan susunan acara berjalan lancar, menyambut kru vendor dekorasi, hingga memeriksa letak kue ulang tahun bertingkat mewah pesanan Mas Broto yang diletakkan di meja utama. Bagas melakukan semuanya dengan energi yang menggebu-gebu. Bukan murni karena rasa bakti yang tulus kepada Mama, melainkan karena ia tidak mau melewatkan kesempatan untuk terlihat andal dan sukses di depan mata kakak-kakaknya. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah anak nomor enam yang bisa diandalkan, anak yang patuh dan sanggup berdiri sejajar dengan para saudaranya yang mapan.

​Namun, di tengah riuhnya persiapan yang hampir menyentuh puncaknya itu, sepasang kursi di meja nomor enam meja khusus untuk keluarga Bagas masih tampak kosong melompong. Beberapa kali Bagas melirik jam tangan kulitnya dengan cemas. Napasnya memburu, memikirkan apa yang akan dikatakan Mas Broto jika istri dan anaknya terlambat datang di acara sepenting ini.

​Tepat saat jarum jam menyentuh angka tujuh malam, pintu kaca lobi hotel perlahan terbuka. Adinda melangkahkan kakinya masuk ke dalam area hotel dengan ritme yang tenang. Napasnya sedikit terengah, sisa dari kelelahan mengemas puluhan kotak pesanan kue online di rumah kontrakannya sore tadi. Namun, tidak ada lagi gurat kepasrahan atau binar mata yang minder di wajah wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu. Pandangannya lurus dan mantap. Di samping kanannya, Dimas berjalan tegap mendampingi sang Ibu. Remaja berusia empat belas tahun itu mengenakan kemeja kasual polos bergaris biru, tampak sangat rapi meski pakaian itu dibeli dari sisa tabungan rahasia kiriman Om Danu, bukan dari sepeser pun uang Abahnya.

​Sore tadi, setelah membersihkan dapur kontrakan mereka yang mandek diterpa peluh, Dimas bersikeres menemani dan membantu sang Ibu menyelesaikan pesanan kue pelanggan terakhir hingga tuntas. Dimas sengaja melakukan itu agar ibunya tidak perlu terburu-buru, meski konsekuensinya mereka harus datang belakangan ke hotel mewah ini. Bagi Dimas, melihat ibunya tersenyum setelah menyelesaikan target katering jauh lebih penting daripada harus datang pagi-pagi ke hotel demi menyaksikan Abahnya sibuk menjilat pujian dari Mas Broto.

​"Ibu tenang saja, ada Dimas di sini," bisik Dimas pelan saat mereka mulai menaiki anak tangga menuju lantai ballroom. Suara remajanya yang mulai memberat terdengar seperti sebuah perisai yang kokoh bagi Adinda.

​Adinda tersenyum tipis, merapatkan genggaman tangannya pada jemari putranya. Sebelum berangkat tadi, ia sempat menatap pantulan dirinya di cermin lemari plastik rumahnya. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, Adinda sengaja memilih penampilan yang sangat bersahaja malam ini. Ia mengenakan gamis polos berwarna broken white dengan potongan kain yang simpel, tanpa ada aksen brokat, payet, atau renda mewah seperti yang biasa digandrungi kaum sosialita. Hijab segi empat sewarna ia sampirkan sederhana di bahu, hanya dikunci dengan satu jarum pentul di bawah dagu. Riasan wajahnya pun sangat minimalis hanya sapuan bedak tipis dan lipstik berwarna natural yang hampir menyatu dengan warna bibirnya. Di tangan kanannya, ia hanya menjinjing sebuah tas kecil berbahan kain satin murah.

​Penampilan ini adalah sebuah pernyataan bisu. Adinda sengaja ingin melihat seberapa jauh topeng gengsi palsu keluarga mertuanya akan bergulir malam ini di hadapan kesederhanaan yang ia bawa.

​Begitu pintu ganda ballroom dibuka oleh petugas hotel, kontras visual langsung terpampang nyata di depan mata Adinda dan Dimas. Suasana di dalam begitu megah, bertolak belakang dengan ruang tengah kontrakan mereka yang sempit dan pengap oleh asap kompor gas dua tungku.

​Di dekat panggung utama, lingkaran para ipar Adinda sudah berdiri berkumpul dengan tawa yang berderai. Penampilan mereka benar-benar heboh dan menyita perhatian mata siapa pun yang memandang. Mbak Rika mengenakan kebaya modern penuh dengan taburan payet swarovski yang berkilauan tajam setiap kali terkena sorot lampu hotel, lengkap dengan ekor kain brokat yang menyapu lantai karpet. Pergelangan tangan dan lehernya dipenuhi perhiasan yang berkilau tajam. Di sebelahnya, Mbak Ambar ipar Adinda yang lain tampil tidak kalah cetar dengan gaun malam berbahan satin merah menyala yang sangat glamor. Mereka berdiri berdampingan seolah-olah sedang berkompetisi di atas karpet merah peragaan busana, saling memamerkan kilau perhiasan masing-masing.

​Melihat langkah kaki Adinda dan Dimas yang mendekat ke arah meja keluarga, obrolan heboh di lingkaran para ipar itu mendadak terhenti seketika. Sunyi sejenak merayap di antara mereka, sebelum akhirnya Mbak Rika melirik Adinda dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mata yang penuh penghinaan yang dikemas dalam senyuman tipis.

​"Ya ampun, Adinda... kamu baru datang?" suara Mbak Rika melengking cukup keras, sengaja memancing perhatian beberapa kerabat dekat yang duduk di meja sebelah. "Kok pakaiannya sederhana banget, Din? Ini kan acara ulang tahun Mama yang ke-70, lho. Dihadiri banyak teman-teman bisnisnya Mas Broto dari kantor pusat. Masa menantunya Mama cuma pakai baju kosongan begitu? Gak ada payetnya sama sekali, kayak mau pergi ke pengajian komplek saja."

​Mbak Ambar ikut terkekeh pelan, sengaja menggerakkan pergelangan tangan hingga gelang-gelang emasnya bergemerincing nyaring. "Iya nih, Din. Minimal kamu pakai brokat sedikit atau pinjam baju siapa gitu biar kelihatan kalau kamu itu bagian dari keluarga besar ini. Kalau begini kan... maaf ya, agak jomplang banget kalau berdiri di sebelah kita-kita. Nanti apa kata kolega Mas Broto kalau lihat menantu Mama ada yang penampilannya... ya, begitulah."

​Adinda tidak membalas. Ia hanya mengulum senyum sabar yang teramat tipis, menatap kedua wanita di depannya dengan pandangan yang tenang tanpa ada riak keminderan sedikit pun. Ia sudah terlalu kenyang dengan sindiran-sindiran sejenis sejak bertahun-tahun lalu, di mana penampilannya dan Dimas selalu dijadikan bahan lelucon halus di setiap acara kumpul keluarga.

​Namun, belum sempat Adinda menarik napas untuk bersuara, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat. Bagas datang dengan wajah yang sudah merah padam dan napas memburu karena amarah yang memuncak. Pria itu baru saja terlepas dari kesibukannya di depan panggung dan langsung mendapati istri serta anaknya menjadi pusat perhatian karena pakaian mereka.

Gengsi yang selama ini Bagas rawat mati-matian di hadapan Mas Broto seketika ambrol ke titik terendah begitu melihat gamis polos yang dikenakan Adinda.

​"Din! Kamu ini gimana sih?!" semprot Bagas dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan amarah di dekat telinga Adinda. Matanya melotot tajam, memandang Adinda seolah-olah wanita itu baru saja melakukan kesalahan kriminal yang fatal. "Kan sudah aku billing dari jauh-jauh hari! Ini acara besar Mama! Mas Broto sudah sewa ballroom mewah, kuenya saja merk pastry terkenal yang harganya jutaan! Kok kamu malah datang pakai baju kosongan lusuh begini? Gak punya modal baju yang bagusan sedikit apa? Bikin jatuh harga diriku saja di depan Mbak Rika sama Mas Broto!"

​Kalimat makian yang keluar dari mulut bapaknya sendiri membuat darah di dalam tubuh Dimas berdesir hebat. Remaja berusia empat belas tahun itu tidak bisa lagi menahan diri melihat ibunya diperlakukan seperti beban keluhan di depan orang-orang yang selalu merendahkan mereka. Dengan gerakan cepat, Dimas melangkah maju satu siar, berdiri tegap tepat di depan Adinda, memotong jarak pandang antara Bagas dan ibunya. Sorot mata Dimas lurus, tajam, dan penuh ketegasan yang luar biasa.

​"Pakaian Ibu bersih, rapi, dan sopan, Bah. Gak ada yang salah atau bikin malu," potong Dimas dengan suara lantang, cukup tegas hingga membuat tawa ejekan di bibir Mbak Rika dan Mbak Ambar seketika membeku di udara. Beberapa kerabat di meja terdekat bahkan mulai menoleh ke arah mereka.

​Dimas tidak menurunkan pandangannya sedikit pun dari mata Bagas yang terbelalak. "Baju mewah penuh payet kayak punya Tante Rika itu dibeli pakai uang, kan? Abah lupa, uang modal katering Ibu buat belanja daging subuh saja Abah paksa ambil buat patungan acara mewah ini semalam? Kalau Abah mau Ibu pakai baju bertabur berlian, harusnya Abah modalin Ibu uang belanja yang benar dari dulu! Bukan malah merampas hasil keringat Ibu tiap subuh demi iuran gengsi Abah di depan Om Broto!"

​"Dimas! Tutup mulutmu!" bentak Bagas, wajahnya kian mengeras dan bergetar hebat karena merasa ditelanjangi habis-habisan oleh anak kandungnya sendiri di tengah keramaian ballroom mewah hotel. Gengsinya runtuh berkeping-keping. Ia melirik panik ke arah Mas Broto yang mulai berdiri dari posisinya, menatap tajam ke arah keributan kecil di meja nomor enam.

​Sebelum Bagas sempat melayangkan tangan atau makian yang lebih kasar, Adinda segera menyentuh lembut pundak Dimas. Sentuhan tangan Adinda yang dingin namun penuh ketenangan itu membuat napas Dimas yang memburu perlahan mulai mereda. Adinda melangkah maju, kini berdiri sejajar dengan anaknya. Ia menatap Bagas dengan pandangan mata yang teramat datar dan kosong sebuah tatapan dingin yang belum pernah Bagas lihat selama tiga belas tahun pernikahan mereka. Tatapan yang sanggup mengunci lidah Bagas seketika.

​"Sudah, Mas Bagas. Mas Broto sudah memberi isyarat dari depan. Acara kejutan untuk Mama sebentar lagi dimulai," ucap Adinda dengan suara yang teramat tenang namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keangkuhan di ruangan itu. "Mari kita duduk di kursi kita masing-masing. Kursi di barisan paling belakang, di barisan nomor enam, kan? Tempat yang sudah Mas Broto siapkan untuk kita."

​Mendengar kalimat Adinda, Bagas hanya bisa mendengus kasar dengan sisa kekesalan yang tertahan di tenggorokan. Ia tidak berani membalas lagi, takut keributan ini makin membesar dan merusak citra anak berbakti yang sedang ia bangun di depan seluruh keluarga besar. Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar, Bagas berbalik dan berjalan mendahului mereka menuju meja bundar bernomor enam di sudut belakang ballroom, meninggalkan Mbak Rika dan Mbak Ambar yang masih terpaku dengan wajah masam akibat kalimat menohok dari Dimas.

​Adinda menggandeng tangan Dimas dengan erat, melangkah dengan keanggunan yang alami menuju kursi mereka. Di bawah temaram lampu ballroom yang mulai meredup untuk menyambut kedatangan Mama Lastri, Adinda berbisik lirih di dekat telinga putranya, "Terima kasih ya, anak ganteng Ibu. Kamu hebat sekali malam ini."

​Dimas hanya mengangguk mantap dengan senyuman tulus. Di dalam benak remaja itu, pertunjukan baru saja dimulai. Topeng gengsi palsu Abahnya dan keluarga besar ini sudah mulai retak oleh kalimatnya tadi, dan Dimas tahu, Ibu dan dirinya tidak akan pernah sudi lagi menjadi keset bagi kaki-kaki orang yang tidak pernah menganggap mereka ada. Malam ini, di bawah pendar kemewahan yang dipaksakan dari air mata ibunya, sebuah akhir dari ketertindasan telah resmi dimulai.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!