Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suasana ballroom berubah semakin semarak ketika pembawa acara mulai memimpin jalannya lelang. Para tamu satu per satu mengangkat papan nomor peserta, saling bersaing memberikan penawaran. Tepuk tangan dan pujian terdengar setiap kali harga sebuah barang berhasil melampaui target yang ditentukan panitia.
Di meja keluarga Pratama, Bu Ratna tidak dapat menyembunyikan senyum puasnya.
"Lihat, Dimas," ucapnya pelan. "Kalung itu sudah menembus delapan ratus juta."
Dimas mengangguk singkat. "Semoga bisa tembus satu miliar."
Vina ikut tersenyum bangga.
"Kalau sampai terjual semahal itu, nama Mas Dimas pasti semakin harum."
Bu Ratna mengangguk puas.
"Itulah tujuan Ibu. Ibu ingin semua orang tahu kalau keluarga kita tidak hanya sukses, tetapi juga dermawan."
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa beberapa pasang mata tengah memperhatikan meja mereka.
Di sisi lain ballroom, Pak Wijaya masih memandangi panggung dengan sorot mata tajam.
Bu Wijaya menggenggam tangan putrinya pelan.
"Karin, apa kamu benar-benar yakin ingin membiarkan ini berlanjut?"
Karin mengangguk pelan.
"Sebentar lagi semuanya akan selesai, Bu."
Pembawa acara kembali mengangkat mikrofon.
"Penawaran terakhir satu miliar rupiah..Apakah masih ada yang ingin menaikkan harga?"
Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada kotak kaca yang berisi kalung berlian itu.
Pembawa acara kembali menghitung.
"Satu miliar rupiah..."
"Pertama..."
"Kedua..."
Baru saja ia hendak mengucapkan hitungan ketiga, sebuah suara perempuan terdengar jelas dari tengah ballroom.
"Tunggu."
Suara itu tidak keras. Namun cukup membuat seluruh ruangan terdiam.
Semua tamu serempak menoleh.
Karin perlahan berdiri dari kursinya. Gaun hijau zamrud yang dikenakannya membuat sosoknya langsung menjadi pusat perhatian.
Pembawa acara tampak bingung.
"Maaf, Nona. Apakah ada yang ingin disampaikan?"
Karin tersenyum sopan.
"Ada. Aku hanya ingin memastikan sesuatu sebelum lelang ini dilanjutkan."
Bu Ratna langsung membelalak.
Dimas spontan berdiri dari kursinya.
"Karin, duduk."
Namun Karin sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap menatap pembawa acara.
"Dapatkah panitia menjelaskan bagaimana proses penerimaan barang donasi untuk acara malam ini?"
Pembawa acara mengangguk.
"Tentu. Setiap barang yang dilelang harus disertai surat pernyataan bahwa barang tersebut merupakan milik sah penyumbang dan diserahkan secara sukarela."
Karin mengangguk pelan.
"Jadi, panitia memastikan seluruh barang yang dilelang benar-benar berasal dari pemiliknya?"
"Betul. Nona"
Karin tersenyum tipis.
"Kalau begitu..." Tatapannya perlahan beralih ke arah kotak kaca di atas panggung. "...aku ingin menyampaikan bahwa kalung dan anting berlian yang sedang dilelang itu adalah milikku."
Kalimat itu langsung membuat seluruh ballroom gempar. Bisikan para tamu memenuhi ruangan.
"Apa?"
"Itu milik Nona Karin?"
"Lalu kenapa didaftarkan atas nama Pak Dimas?"
Wajah Bu Ratna langsung kehilangan warna. Sementara Dimas diam membeku.
Suasana ballroom yang semula meriah mendadak dipenuhi bisik-bisik para tamu. Semua mata kini tertuju kepada Karin yang masih berdiri dengan tenang, lalu bergantian menatap Dimas dan Bu Ratna yang terlihat mulai kehilangan ketenangan.
Pembawa acara tampak kebingungan. Ia menatap Karin, lalu melirik ke arah ketua panitia yang duduk di barisan depan.
"Maaf, Nona. Apakah Anda yakin dengan apa yang baru saja Anda sampaikan?"
Karin mengangguk mantap.
"Saya sangat yakin. Kalung berlian dan anting itu adalah hadiah ulang tahun dari kedua orang tua saya. Mereka memberikannya langsung kepada saya beberapa tahun yang lalu."
Karin menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah."
Pak Wijaya perlahan berdiri dari kursinya.
"Itu benar."
Suara Pak Wijaya terdengar tegas hingga membuat seluruh ruangan kembali hening.
"Kalung dan anting berlian itu saya pesan secara khusus untuk putri saya. Pembeliannya tercatat atas nama perusahaan saya, dan seluruh dokumennya masih kami simpan."
Ucapan itu membuat para tamu semakin heboh.
Ketua panitia akhirnya berdiri dan berjalan naik ke atas panggung.
"Pak Dimas," panggilnya dengan sopan. "Kami mohon penjelasannya."
Semua tatapan langsung beralih kepada Dimas.
Dimas menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Ini hanya kesalahpahaman. Kami memang membawa perhiasan itu. Tetapi niat kami hanya ingin menyumbangkannya untuk kegiatan amal."
Karin tersenyum tipis.
"Lalu sejak kapan kamu berhak menyumbangkan barang milikku tanpa seizinku?"
Dimas terdiam.
Karin kembali bertanya.
"Aku hanya ingin jawaban sederhana. Apakah kamu pernah meminta izin kepadaku?"
Dimas mengatupkan bibirnya.
"Karin, kita bicarakan di rumah."
"Tidak."
Suara Karin tetap tenang.
"Yang dipertanyakan di sini bukan urusan rumah tangga. Tetapi kepemilikan barang yang sedang dilelang."
Ia kembali menatap Dimas.
"Jawab pertanyaanku. Apakah kamu pernah meminta izinku?"
Ballroom kembali sunyi. Semua tamu menunggu jawaban Dimas. Namun pria itu tetap membisu.
Melihat putranya tidak mampu menjawab, Bu Ratna buru-buru berdiri.
"Karin, jangan membuat keributan di acara amal seperti ini."
Karin menoleh kepadanya.
"Aku juga tidak ingin membuat keributan, Bu."
"Kalau begitu duduk."
Karin menggeleng pelan.
"Justru Ibu yang harus menjawab."
Wajah Bu Ratna menegang.
"Ibu selalu mengatakan semua perhiasanku disimpan di brankas keluarga demi keamanan."
Tatapan Karin semakin tajam.
"Kalau memang disimpan... mengapa sekarang berada di atas panggung sebagai barang donasi?"
Bu Ratna membuka mulut, tetapi tidak satu pun kata keluar.
Keheningan itu membuat para tamu mulai saling berpandangan.
Beberapa wartawan yang diundang untuk meliput acara amal itu bahkan mulai mengarahkan kamera mereka ke arah keluarga Pratama.
Ketua panitia mengernyit.
"Bu Ratna, demi menjaga kredibilitas acara ini, kami perlu memastikan bahwa setiap barang yang dilelang benar-benar disumbangkan oleh pemilik sahnya. Kami mohon penjelasan."
Kini seluruh ballroom benar-benar menunggu jawaban Bu Ratna. Tidak ada lagi tepuk tangan ataupun suara percakapan.
Hanya keheningan yang menekan. Dan untuk pertama kalinya, Bu Ratna merasakan bagaimana rasanya berdiri di hadapan ratusan pasang mata tanpa memiliki kebohongan yang mampu menyelamatkannya.