Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
.
Seminggu berlalu sejak acara malam makan malam di kediaman keluarga Wijaya. Hubungan kedua keluarga terasa makin akrab. Hampir setiap hari Bu Ratih bertemu dengan nyonya Cempaka, membahas ini dan itu soal persiapan pernikahan. Padahal… Arga sendiri belum setuju dengan keputusan mereka. Tetapi tetap saja, ia kalah dengan keputusan kedua orang tuanya.
Hari itu, pagi-pagi sekali Angelina sudah datang ke rumah keluarga Pratama. Bersama dengan bu Ratih wanita itu membuka-buka katalog gaun, contoh desain dekorasi, hingga beberapa model kartu undangan.
“Menurut Tante, kombinasi emas dan putih ini paling pas,” kata Bu Ratih sambil menunjuk salah satu gambar. “Terlihat mewah dan berwibawa, cocok sekali untuk Arga.”
Angelina tersenyum lembut. “Aku juga setuju, Tante. Warnanya terlihat hangat.”
Padahal dia tahu, bahwa Arga belum menerima rencana pernikahan mereka Namun, kesempatan ini sudah lama ia nanti. Tidak mungkin dia melepaskannya begitu saja.
“Menurut Tante, apa Mas Arga akan setuju dengan pilihan kita?"
Bu Ratih sambil menghela napas pelan. “Dia itu sikapnya memang sedikit cuek. Tapi tenang saja, lama-kelamaan pasti dia juga akan biasa. Sebenarnya anakku itu laki-laki yang baik. Tapi karena terpengaruh oleh wanita miskin itu, dia jadi berubah dingin seperti itu.”
Angelina hanya tersenyum tipis mendengarnya. Terserah jika Arga setuju atau tidak. Yang penting restu mertua sudah ia kantongi.
Sementara Bu Ratih sendiri, tiba-tiba saja ingatannya kembali pada kejadian beberapa malam lalu saat mereka baru saja pulang dari kediaman rumah keluarga Wijaya.
“Pokoknya kamu harus menuruti keputusan kami. Bulan depan kalian harus menikah” tegas Bu Ratih tak mau dibantah.
Arga menatap ibunya dengan tatapan lelah. “Bu, aku tidak mencintai Angelina. Kalau dipaksakan, tidak akan baik bagi rumah tangga kami!”
“Cinta bisa tumbuh belakangan! Ada pepatah mengatakan, ‘witing tresno jalaran soko kulino’.” jawab Bu Ratih cepat. “karena itu terimalah keputusan kami! Dan belajarlah mencintai Angelina. Dia itu satu-satunya wanita yang layak menjadi menantu keluarga Pratama.”
Arga memejamkan matanya rapat. Tekanan ini terasa semakin berat dipikulnya. Akhirnya pria itu menghembuskan napas panjang, seolah melepaskan sisa tenaga yang masih dimilikinya. “Terserah Ibu saja.”
Wajah Bu Ratih langsung berseri lega. “Baguslah kalau begitu. Dengar! Kami melakukan semua ini demi kebaikan kamu.”
Arga hanya tersenyum hambar. Entah kebaikan seperti apa yang dimaksud oleh ibunya. Dia sama sekali tidak setuju, tapi juga tak punya tenaga untuk melawan.
Kembali ke pagi itu.
Angelina memandang katalog di tangannya sejenak, lalu menoleh ke arah Bu Ratih. “Tante, Angel mau nanya sesuatu boleh nggak?”
“Silakan, Sayang. Apa ada yang mengganjal di pikiranmu?” tanya Bu Ratih lembut.
“Kalau misalnya aku kirim undangan pernikahan juga untuk Mbak Rania, Tante setuju nggak?”
Mendengar itu, Bu Ratih mengerutkan keningnya. Tapi saat kemudian wanita itu tersenyum lebar. “Wah, itu benar-benar ide yang bagus sekali. Tante setuju sama kamu! Biarkan wanita mandul itu sadar, kalau Arga sudah menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari dia.”
“Tapi... Kalau Mas Arga tidak setuju gimana?" Angelina menatap wajah bu Ratih dengan raut khawatir.
"Ya nggak usah ngomong sama dia!” Jawab bu Ratih sengit. "Sejak dulu sebenarnya aku itu nggak suka sama dia. Sudah miskin... mandul pula! Keluarga Pratama benar-benar sial mendapatkan mantu seperti dia!”
Angelina tersenyum lebar karena calon mertuanya benar-benar mendukung dirinya. Dia ingin Rania datang dan melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, bahwa kini Arga sudah menjadi miliknya. Supaya wanita itu tidak lagi memiliki nyali untuk mendekati Arga.
Angelina tersenyum tipis. “Kalau begitu biar nanti aku saja yang akan kirimkan undangan buat Mbak Rania. Tapi nanti kalau wanita itu benar-benar datang, Tante jangan bilang ke Mas Arga kalau Angel yang kirim undangannya, ya? Angel takut Mas Arga marah sama Angel.”
“Tenang saja, Tante mengerti. Lagipula Tante juga nggak suka Kalau Arga terus mikirin soal wanita mandul itu,” jawab Bu Ratih ketus.
Sore hari di sebuah rumah kontrakan kecil sederhana yang kini menjadi tempat tinggal Rania. Wanita itu baru saja selesai menyeduh teh dan duduk bersantai saat ponsel di meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
Dengan santai Rania membukanya. Namun sesaat kemudian, seluruh tubuhnya terasa membeku.
Di layar terpampang jelas undangan digital.
Arga Pratama & Angelina Wijaya
Acara pernikahan
Lokasi hotel milik keluarga Pratama
Di bawahnya tertulis pesan singkat:
“Mbak Rania, aku sungguh berharap Mbak bisa hadir dan ikut merasakan kebahagiaan kami. Karena walau bagaimanapun juga, Mbak Rania adalah wanita yang pernah dicintai oleh Mas Arga.
Salam kenal, Angelina Wijaya.”
Ruangan itu terasa mendadak sunyi senyap. Hingga perlahan, Rania tertawa pelan, terdengar begitu getir dan hampa. Walaupun sudah bertekad akan melupakannya, tetapi ketika ada sesuatu yang membuatnya kembali teringat, hatinya masih terasa sakit.
“Cepat sekali waktunya berlalu…” bisiknya pelan.
Baru satu bulan lebih perpisahan itu terjadi, dan kini pria yang pernah menjadi seluruh dunianya sudah melangkah menuju hidup baru dengan wanita lain.
Matanya mulai memerah, namun air mata tak kunjung jatuh. Mungkin memang sudah habis tercurah selama ini, atau hatinya sudah terlalu lelah untuk menangis lagi.
Rania bersandar lembut di sandaran sofa, menatap layar ponsel itu cukup lama. Lalu ia menghembuskan napas panjang, memaksakan senyum tipis terukir di bibirnya.
“Sudahlah, Rania. Mungkin begini lebih baik,” gumamnya pelan. “Lagi pula kami memang sudah resmi bercerai. Dia bebas memilih jalannya, dan aku juga harus melanjutkan hidupku sendiri.”
Rania mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali di atas meja. Namun belum sempat ia menenangkan diri, ponsel itu kembali bergetar lagi.
Lagi-lagi sebuah nomor asing muncul di layar. sebuah pesan ajakan makan malam, membuat Rania mengerutkan keningnya. Dengan ujung telunjuknya wanita itu membuka profil pengirim pesan.
“Pak Alvino?" gumam wanita itu. “Dari mana Pak Alvino mendapatkan nomor kontakku?" tanyanya lebih pada diri sendiri. Sesaat kemudian wanita itu terkekeh sambil memukul kepalanya sendiri, merasa bodoh. Jelas-jelas Alvino Mahendra adalah atasannya. Bukan hal sulit bagi pria itu mendapatkan informasi tentang dirinya.
Rania menatap foto profil itu cukup lama. Perlahan, senyum getir yang tadi terukir di bibirnya berubah menjadi lebih lembut, seolah ada angin sejuk yang menyapu luka di hatinya.
Di tempat lain, di ruang kerjanya yang tenang, Alvino masih memegang ponselnya sambil tersenyum kecil. Jari-jarinya baru saja mengirim pesan ajakan makan malam.
“Semoga dia menerima ajakanku,” gumamnya pelan sendiri. “Aku hanya ingin melihatnya tersenyum sebentar saja.”
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa beberapa menit sebelumnya, wanita yang diam-diam selalu ada di pikirannya itu baru saja menerima kabar yang cukup membuat hatinya terguncang.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁