Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dalang yang bangkit
Keheningan menyelimuti ruang dewan para pendiri.
Aurelius Blackwood masih berlutut sambil memegang bahunya yang terluka.
Darah menetes perlahan ke lantai batu.
Namun tatapannya bukan tertuju kepada Galaxy.
Melainkan kepada pria bertopeng yang baru saja menembaknya.
"Jadi..."
"Kau benar-benar masih hidup."
Pria bertopeng itu hanya tersenyum kecil.
"Kecewa melihatku?"
Seluruh pasukan Black Crown tampak kebingungan.
Mereka saling berpandangan.
Bahkan Damian Cross terlihat ragu.
"Siapa dia?"
bisiknya pelan.
Komandan Ethan mengangkat senjatanya, tetapi Nathaniel menahan lengannya.
"Jangan."
"Kita belum tahu siapa musuh sebenarnya."
Pria bertopeng itu berjalan perlahan memasuki ruangan.
Setiap langkahnya penuh keyakinan.
Ia berhenti tepat di tengah ruangan.
Lalu membuka sarung tangan kulit hitamnya.
Di jari telunjuknya terpasang cincin dengan lambang yang belum pernah dilihat siapa pun.
Bukan burung gagak.
Melainkan seekor naga yang melingkar.
Nathaniel membelalak.
"Itu..."
"Mustahil."
Galaxy menoleh.
"Anda mengenalnya?"
Nathaniel menarik napas panjang.
"Lambang itu..."
"Sudah menghilang lebih dari tiga puluh tahun."
Pria bertopeng itu tertawa pelan.
"Guru."
"Ingatanmu ternyata masih sangat baik."
Nathaniel mengepalkan tangannya.
"Organisasi Naga Hitam..."
"Kukira sudah musnah."
Pria itu mengangguk santai.
"Semua orang memang mengira begitu."
"Dan itulah alasan kami bisa hidup dalam bayangan."
Grizella memandang Galaxy dengan cemas.
"Berarti..."
"Black Crown bukan organisasi terbesar?"
Nathaniel menggeleng perlahan.
"Tidak."
"The Black Crown hanyalah salah satu cabang."
"Masih ada organisasi yang jauh lebih tua."
Ruangan kembali sunyi.
Galaxy mulai memahami.
Setiap kali mereka merasa telah mencapai puncak...
Selalu ada lapisan baru yang menunggu.
Pria bertopeng itu menatap Aurelius.
"Terima kasih."
"Kau telah membangun Black Crown menjadi organisasi yang berguna."
Aurelius tersenyum pahit.
"Jadi selama ini..."
"Aku hanya pionmu."
Pria itu tidak membantah.
"Kau pemimpin yang hebat."
"Tapi bukan pemilik permainan."
Galaxy melangkah maju.
"Kalau begitu..."
"Siapa sebenarnya dirimu?"
Pria bertopeng itu memandang Galaxy beberapa saat.
Kemudian perlahan melepas topengnya.
Semua orang menahan napas.
Wajah pria itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun.
Tatapannya tajam.
Namun yang membuat Galaxy membeku...
Adalah kemiripan wajah pria itu dengan foto-foto lama ayahnya.
Nathaniel memejamkan mata.
"Akhirnya..."
"Kau memperlihatkan wajahmu."
Pria itu tersenyum.
"Perkenalkan."
"Namaku..."
Lucian Ashford.
"Aku adalah orang yang mengawasi Project Raven sejak hari pertama."
Galaxy merasakan bulu kuduknya berdiri.
Satu demi satu rahasia mulai terbuka.
Namun ia sadar...
Perang yang selama ini mereka hadapi ternyata hanyalah permulaan.
Di balik Black Crown...
Masih ada kekuatan yang jauh lebih besar.
Dan kini...
Pemimpinnya telah berdiri tepat di hadapan mereka.
Ruangan dewan para pendiri berubah sunyi.
Nama Lucian Ashford masih menggema di telinga semua orang.
Nathaniel memandang pria itu dengan tatapan penuh penyesalan.
"Jadi... kau benar-benar memilih jalan ini."
Lucian tersenyum tipis.
"Bukankah Guru yang mengajariku bahwa dunia hanya menghormati orang yang memiliki kekuasaan?"
Nathaniel menggeleng.
"Aku mengajarimu memimpin."
"Bukan menguasai."
Galaxy melangkah hingga berdiri sejajar dengan Nathaniel.
"Selama ini..."
"Kaulah dalang di balik semua tragedi?"
Lucian menganggukkan kepala.
"Tidak semuanya."
"Aku hanya memastikan setiap bidak bergerak sesuai tempatnya."
Victor.
The Raven.
Aurelius.
Bahkan Arthur Bennett.
"Mereka semua menjalankan perannya masing-masing."
Aurelius yang masih berlutut tertawa lirih.
"Lucian..."
"Selama bertahun-tahun aku mengira aku yang mengendalikan permainan."
Lucian menatapnya tanpa emosi.
"Dan itulah alasan kau berguna."
Ucapan itu membuat wajah Aurelius berubah.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa seluruh ambisinya hanya dimanfaatkan oleh orang lain.
Grizella mengepalkan tangan.
"Begitu banyak nyawa melayang..."
"Hanya karena permainanmu?"
Lucian menatapnya tenang.
"Permainan?"
"Tidak."
"Ini adalah seleksi."
"Hanya mereka yang cukup kuat yang pantas bertahan."
Galaxy melangkah maju.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menghentikan seleksi gilamu."
Lucian tersenyum tipis.
"Itulah yang membuatmu mirip ayahmu."
Ia mengeluarkan sebuah liontin perak dari saku jasnya.
Liontin itu berbentuk kompas tua.
Nathaniel langsung membelalak.
"Kompas Pendiri..."
"Bagaimana benda itu bisa berada padamu?"
Lucian memutar liontin tersebut.
"Benda ini selalu menjadi milikku."
"Edward hanya meminjamnya."
Galaxy menatap liontin itu.
Entah mengapa, ia merasa pernah melihatnya saat masih kecil.
Aaron tiba-tiba membuka laptopnya.
"Tuan!"
"Saya berhasil membuka file terakhir dari kartu memori emas."
Galaxy segera menghampiri.
Di layar muncul sebuah rekaman video.
Edward Wesley sedang berbicara langsung ke kamera.
Wajahnya tampak lelah, tetapi penuh ketegasan.
"Jika Lucian muncul..."
"Jangan melawannya dengan kebencian."
"Karena itulah yang selama ini ia inginkan."
Galaxy memandang layar tanpa berkedip.
Video itu berlanjut.
"Lucian bukan musuh terbesarmu."
"Musuh terbesarmu adalah keputusan yang akan kau ambil saat semuanya terasa mustahil."
Nathaniel menutup matanya.
"Edward..."
"Bahkan sampai akhir..."
"Kau masih percaya pada harapan."
Belum sempat mereka mencerna isi rekaman itu...
Seluruh bangunan kembali bergetar.
BOOM!
Ledakan besar terdengar dari bagian luar.
Damian berlari masuk dengan napas terengah.
"Tuan Lucian!"
"Pasukan internasional telah mengepung pulau ini!"
Lucian justru tersenyum puas.
"Bagus."
"Berarti semua pemain sudah berkumpul."
Ia menatap Galaxy untuk terakhir kalinya.
"Babak berikutnya..."
"Tidak akan berlangsung di pulau ini."
"Tapi di tempat yang tidak pernah kau duga."
Lucian menekan sebuah tombol kecil di liontinnya.
Lantai di bawah kakinya terbuka.
Sebelum menghilang ke lorong rahasia, ia berkata pelan,
"Kalau ingin mengetahui seluruh kebenaran tentang keluargamu..."
"Datanglah mencariku."
Pintu rahasia kembali tertutup.
Lucian menghilang tanpa jejak.
Galaxy mengepalkan tangannya.
Ia sadar...
Perburuan terhadap dalang sesungguhnya baru saja dimulai.
Suara sirene memenuhi pulau tua itu.
Helikopter berputar di atas langit.
Lampu sorot menyapu reruntuhan markas Project Raven.
Pasukan internasional mulai memasuki area satu per satu.
Namun bagi Galaxy...
Semuanya terasa terlambat.
Lucian Ashford telah menghilang.
Komandan Ethan menerima laporan melalui alat komunikasinya.
"Seluruh terowongan sudah kami periksa."
"Tidak ada jejak."
Ethan mengepalkan rahangnya.
"Dia pasti sudah merencanakan jalur pelarian itu sejak lama."
Nathaniel mengangguk pelan.
"Itulah Lucian."
"Dia selalu menyiapkan jalan keluar sebelum memulai permainan."
Aurelius masih duduk bersandar di dinding.
Luka tembak di bahunya mulai diperban oleh Vanessa.
Galaxy menghampirinya.
"Aku punya satu pertanyaan."
Aurelius tersenyum pahit.
"Tentang Lucian?"
Galaxy mengangguk.
"Kenapa kau tidak pernah menyebut namanya?"
Aurelius menatap lantai cukup lama.
"Karena..."
"Aku juga takut padanya."
Ruangan mendadak sunyi.
Pria yang selama ini dianggap sebagai dalang utama...
Ternyata hidup dalam bayang-bayang orang lain.
Nathaniel mengambil Kompas Pendiri yang tertinggal di lantai saat Lucian melarikan diri.
Ia mengusap permukaannya perlahan.
"Liontin ini bukan sekadar simbol."
"Di dalamnya tersimpan koordinat."
Aaron langsung membuka perangkatnya.
"Koordinat?"
Nathaniel menyerahkan kompas itu.
"Edward dan aku membuat sistem ini bertahun-tahun lalu."
Aaron memindai benda tersebut.
Beberapa detik kemudian, sebuah peta digital muncul.
Satu titik merah berkedip di layar.
Semua mendekat.
Lokasinya membuat Nathaniel terdiam.
"Ini..."
Galaxy menatap layar.
"Di mana?"
Nathaniel menjawab dengan suara pelan.
"Kyoto."
"Jepang."
Grizella mengernyit.
"Kenapa Jepang?"
Nathaniel menarik napas panjang.
"Karena di sanalah tempat kami pertama kali bertemu Lucian."
"Dan di sana pula..."
"...ia membangun organisasi rahasianya."
Tiba-tiba ponsel Galaxy bergetar.
Sebuah pesan anonim kembali masuk.
Tidak ada nomor.
Tidak ada identitas.
Hanya satu foto.
Foto itu memperlihatkan Lucian sedang berdiri di depan sebuah kuil tua di Kyoto.
Di bagian bawah foto tertulis:
'Jika ingin menghentikan masa lalu, datanglah ke tempat semuanya dimulai.'
Galaxy memperlihatkan foto itu kepada semua orang.
Ethan langsung berkata,
"Ini bisa saja jebakan."
Galaxy mengangguk.
"Aku tahu."
"Lalu Anda tetap akan datang?"
tanya Grizella.
Galaxy menatap wanita itu dengan penuh keyakinan.
"Selama masih ada satu rahasia yang belum terungkap..."
"Aku tidak akan berhenti."
Grizella tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Saya akan tetap berjalan di samping Anda."
Galaxy menggenggam tangannya.
"Dan kali ini..."
"Kita hadapi semuanya bersama."
Di luar bangunan, matahari mulai tenggelam di balik lautan.
Perjalanan mereka di Skotlandia telah berakhir.
Namun sebuah tujuan baru telah menanti.
Kyoto, Jepang.
Tempat di mana masa lalu, pengkhianatan, dan takdir akan kembali bertemu.