NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Nyanyian Siren

~Upon Once Summer's Morning, I carefully did stray...~

Alunan nada suara nyanyian vokal tersebut terdengar memendam melodi yang teramat merdu, anggun, memikat, namun di sisi lain sekaligus menyiratkan rasa dingin yang teramat menyayat hati, seolah-olah vokal lagu itu diproduksi dan dipancarkan langsung keluar dari dasar palung samudra yang paling dalam dan purba milik wilayah takhta Abyssal Trench.

Alan tertegun membeku di atas batu karang, seluruh otot tubuhnya mendadak mengunci secara tidak alami. Sebuah gelombang rasa kantuk yang teramat pekat, berat, dan sensasi lemas yang luar biasa masif mendadak menyerang sistem kesadaran otaknya dengan tingkat intensitas yang jauh lebih hebat dan destruktif dari seluruh akumulasi kelelahan fisiknya sebelumnya. Jiwanya seolah dipaksa untuk menyerah pada tidur abadi.

Di belahan pantai pasir putih, Moana, Helios, dan Justin secara spontan langsung bangkit berdiri dari posisi duduk berlutut mereka, mengabaikan total ember plastik dan sekop mainan pasir yang kini tergeletak begitu saja berantakan di atas tanah.

Ketiga anak kecil itu mematung kaku di bibir pantai, menyipitkan sepasang mata mereka menembus silau matahari, menatap lurus ke arah cakrawala udara di mana sosok siluet anak berambut putih—Alan—terlihat laksana sebutir titik kecil yang terbang dengan cara yang limbung, goyah, dan tidak stabil di angkasa.

"Lihat itu! Itu adalah Alan! Anak Pegasus gila itu benar-benar berhasil melacak aroma energiku dan menemukanku sampai ke tempat terisolasi ini!" seru Justin dengan nada suara yang berpadu rumit antara rasa kebahagiaan murni berbaur dengan rasa kecemasan yang masif.

Dari jarak pandangnya, dia bisa melihat dengan teramat jelas betapa payah, lemah, dan menyedihkannya kepakan sepasang sayap putih sahabatnya itu di udara.

Moana mengangkat satu telapak tangannya untuk melindungi kelopak matanya dari paparan silau sinar matahari pagi yang membakar. "Jalur penerbangan anak itu terlalu rendah, Justin! Jika dia sampai kehilangan kesadaran psikologisnya dan pingsan di atas permukaan air laut dalam itu, situasi keselamatannya akan menjadi sangat berbahaya bagi nyawanya!"

"Dia benar, Justin! Arus bawah Pesisir Azure ini dipenuhi pusaran air tajam!" tambah Helios Marine, ekspresi wajah jailnya instan lenyap, berganti dengan raut wajah serius khas klan bangsawan lautan yang mengenali bahaya geografi rumahnya.

Di atas langit, Alan terus menguras sisa-sisa jatah hidupnya untuk memaksakan sepasang sayapnya tetap bergerak horizontal. Suara pekikan vokalnya yang memanggil nama Justin dari kejauhan terdengar kian parah, serak, dan pecah di udara.

Jarak geografis antara batuan karang luar dan tepian pantai pasir sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditempuh oleh seorang pelari supernatural daratan, namun bagi sepasang sayap Pegasus yang telah mencapai titik batas kerusakan absolutnya, bentangan jarak itu terasa laksana ribuan mil yang mustahil untuk digapai.

"Ayo berjuang, Alan! Tahan posisimu, tinggal sedikit lagi kau akan sampai di daratan!"

Justin berteriak sekuat tenaga dari bibir pantai hingga seluruh urat di leher pucatnya menegang, sembari melambai-lambaikan sepasang tangan kecilnya tinggi-tinggi ke udara, mencoba memberikan sinyal penanda koordinat posisi berdiri mereka di sepanjang Pesisir Azure.

Secara mendadak, saat jarak terbang tubuh Alan tinggal tersisa sekitar lima puluh meter lagi dari bibir pantai pasir, struktur otot pada sayap kanan putihnya mendadak kaku dan mati rasa total akibat kehabisan pasokan mana sihir. Dia instan kehilangan poros keseimbangan aerodinamisnya di udara. Tubuh kecil bocah berambut putih itu menukik tajam secara vertikal, meluncur bebas ke arah permukaan air laut yang berwarna biru pekat di bawahnya.

"Kakak Moana, Helios! Lihat itu, dia akan jatuh terhempas ke dalam laut!" teriak Justin panik setengah mati, sepasang kakinya sudah mengambil ancang-ancang untuk nekat menerjang gelombang ombak pantai demi menolong sahabatnya.

Namun, tepat pada satu detik kritis sebelum permukaan kulit tubuh Alan bersentuhan dengan molekul air laut, alunan nada nyanyian misterius yang beberapa saat lalu terdengar sayup-sayup terbawa angin, mendadak kembali mengalun dengan frekuensi gelombang suara yang teramat kencang dan masif, seolah-olah lautan samudra itu sendiri sedang memiliki kehendak mistis untuk menangkap tubuh jatuh Alan menggunakan media melodi vokal.

Atmosfer di sepanjang tepi pantai seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap tanpa riak suara burung, hanya menyisakan alunan bait lagu kuno bertajuk The Walls of Wapping yang terbawa riuh embusan angin laut.

Suara vokal itu terdengar teramat jernih, jorok, dan memikat jiwa, seolah-olah sang penyanyi misterius itu sedang berdiri tegak tepat di hadapan poros telinga mereka masing-masing, namun anehnya permukaan air laut di sekitar mereka tetap bergerak tenang tanpa ada tanda-tanda kemunculan satu pun perahu nelayan yang melintas.

Moana dan Helios Marine berdiri mematung kaku di atas pasir, sepasang telinga Mermaid mereka menangkap dengan sangat detail setiap progresi nada tinggi yang menyayat hati dan memendam sihir hipnotis tingkat tinggi tersebut.

"Alunan suara itu... itu bukan merupakan sejenis nyanyian vokal biasa, Justin, Helios," bisik Moana dengan raut wajah manisnya yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi teramat serius, dingin, dan menegang kaku. "Itu adalah struktur dari Nyanyian Siren terlarang... atau mungkin... salah satu dari entitas mahluk purba berbahaya yang mendiami klan laut terdalam yang menjadi musuh kuno dari takhta Abyssal Trench milik Ayah."

Justin memutar kepalanya menatap ke arah Moana dan Helios dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh kebingungan massal, namun fokus atensinya instan kembali terpecah saat melihat pergerakan tubuh Alan yang kini kian mendekati area air namun semakin kehilangan kendali total atas kesadaran motorik sayapnya.

"Tapi Kak Moana, Helios, lihat kondisi Alan sekarang! Tubuhnya seolah-olah sedang berada di dalam pengaruh sihir hipnotis suara itu!" seru Justin panik sembari jarinya menunjuk lurus ke arah sahabatnya di udara.

Benar saja apa yang dianalisis oleh Justin; Alan yang semula mengerahkan seluruh sisa fokus terbangnya lurus menuju ke arah pantai pasir, kini tampak mulai bergerak abnormal, terbang berputar-putar melingkar di udara. Kepala kecil berambut putihnya terkulai lemas ke samping seolah-olah alunan nyanyian kuno tersebut sedang bertindak sebagai parasit magis yang menyedot habis seluruh sisa energi kesadaran batinnya.

Sepasang manik mata ungunya tampak sayu berbayang hampa, dan dia tidak lagi mengeluarkan suara pekikan memanggil nama Justin. Tubuh Alan justru bergerak terbang perlahan, meluncur pasrah menuju ke arah titik pusat datangnya gelombang suara di dekat batuan karang raksasa di tengah laut, berbelok menjauhi area aman pantai pasir.

"Anak Pegasus itu berada di dalam bahaya maut faksi! Jika dia sampai jatuh pingsan dan tenggelam di dekat jajaran batuan karang tajam itu, tubuhnya bisa hancur terbentur atau mati kehabisan napas!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!