Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa dengan Lia?
Seminggu ini Ane disibukkan dengan proses pemindah tugasannya ke Bandung. Meski tak begitu jauh, tapi belum pernah sekalipun Ane mengunjungi tempat itu.
Jadi, setelah tahu dimana alamat kantor barunya, Ane segera saja mencari info sekolah baru untuk Lia yang enam bulan lagi sudah masuk usia SD. Karena untuk urusan tempat tinggal, sudah ada mess khusus petinggi perusahaan yang berasal dari luar kota.
"Besok kamu menginap dirumah kak Gita dulu ya, Lia. Soalnya lusa mama mau ke luar kota" ujar Ane sambil memoleskan make up ke wajahnya sebelum berangkat kerja.
"Tumben sekali mama ke luar kota?" tanya Lia.
"Iya, ada urusan sebentar sayang. Kamu jangan nakal ya. Mama sudah bilang sama mama Lisa, kok. Dan semua perlengkapan kamu sudah mama berikan juga. Jadi besok kamu bisa langsung ke rumahnya kak Gita saja ya" kata Ane.
"Iya ma" kata Lia singkat, ketidakbiasaan Ane meninggalkannya hingga harus menginap membuat perasaan Lia jadi tidak nyaman.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Cuma besok saja kok. Yasudah, yuk berangkat sekolah" ajak Ane sambil mencubit pelan hidung mancung Lia yang sedikit cemberut.
"Ayo ma" kata Lia menyetujui.
Hari ini Ane masuk pagi, dan kebetulan juga ada kunjungan kerja ke cabang Bandung sore ini. Atasannya yang baik mengajak Ane ikut pergi untuk melihat kondisi kantor barunya dan diapun diperbolehkan untuk mengurus administrasi sekolah Lia esok hari saat para petinggi perusahaannya sedang rapat.
Sementara siang itu, di sebuah rumah sakit ternama yang Vicky pilih untuk melakukan tes DNA.
Vicky tengah bertatap muka dengan dokter spesialis masalah genetika untuk membahas masalah kecocokan DNA nya.
"Berapa lama waktu yang diperlukan sampai hasil dari tes itu keluar, dok?" tanya Vicky.
"Bisa 2 Minggu atau bisa juga dalam tiga hari ke depan sudah bisa keluar datanya, pak" ucap dokter Rama dengan ramah.
"Tolong segera lakukan tesnya. Saya ingin segera tahu hasilnya. Untuk masalah biaya, dokter tidak perlu khawatir" ucap Vicky.
"Tentu, pak. Akan saya lakukan yang terbaik" balas Rama.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu. Saya tunggu kabar baiknya, dan jangan sampai salah dalam memberi label nama dari dua anak ini dok" kata Vicky mewanti-wanti sang dokter.
Bisa gawat kan kalau hasil tesnya sudah keluar, tapi dokter itu iseng menukar nama dari Johan dan Lia.
"Oh, tentu pak. Kami akan bekerja dengan sangat baik. Bapak tidak perlu khawatir" balas Dokter Rama dengan kekehan kecilnya.
Ada-ada saja pikiran buruk Vicky padanya. Dia kira ini dunia sinetron yang bisa membuat nama tertukar?
Keluar dari ruangan dokter, Vicky disambut wajah serius dari Felix di ruang tunggu. Pria itu jadi berfikir, kapan dia menyuruh Felix untuk menunggunya?
"Apa yang kau lakukan disini, Fel? Dan kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Vicky heran.
"Maaf bos. Sepertinya kita harus segera ke kantor cabang kita yang berada di Malaysia" ucap Felix sedikit terburu-buru.
"Kenapa memangnya? Sepertinya bisnis disana berjalan dengan baik" tanya Vicky dengan kernyitan heran di alisnya.
"Kantor cabang kita yang baru buka di Selangor sedang sedikit bermasalah, Vic. Sepertinya ada seorang yang korup disana. Pengeluarannya sangat mencurigakan" ujar Felix.
"Kamu sendiri yang menyelesaikan masak nggak bisa sih, Fel? Rugi aku bayar kamu mahal kalau urusan seperti itu saja masih harus aku yang mengerjakan" kesal Vicky.
"Ada beberapa hal yang harus kamu sendiri yang mengerjakan, Vic. Jadi kita berangkat kesana itu sekalian mengerjakan yang lainnya" kata Felix sedikit ngambek, dia sudah sangat loyal pada sahabatnya ini, masih saja disalahkan.
"Kapan kita berangkat?" tanya Vicky pada akhirnya.
"Nanti malam" ujar Felix singkat.
"Mendadak sekali? Kenapa nggak sekalian sekarang saja?" tukas Vicky kesal, rencananya dia mau ke sekolah Johan untuk menemui Lia. Beberapa hari tidak bertemu dengannya membuat pria itu merasa rindu pada Lia.
"Boleh juga ide kamu. Lebih cepat lebih baik" kata Felix sambil mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk menghubungi bawahannya agar segera mengurus keperluannya dan juga Vicky untuk pergi siang itu juga.
"Hei, aku hanya bercanda. Kita berangkat malam nanti saja" kesal Vicky.
Felix mengangguk paham, diapun kembali mengantongi ponselnya dan menatap Vicky penuh curiga.
"Memangnya apa yang mau kau lakukan?" tanya Felix.
"Aku ingin ke sekolah Johan" jawab Vicky.
"Tumben kamu perhatian sekali pada putramu itu? Kau sudah mengakuinya?" tanya Felix yang berjalan bersisian dengan bosnya.
"Aku ingin bertemu dengan Lia. Entah mengapa aku merindukan gadis kecil itu" tukas Vicky.
"Rindu anaknya atau ibunya? Kau masih beranggapan kalau Lia itu anakmu, ya? Belum kapok juga kau dibohongi wanita? Lebih baik tunggu saja sampai hasil tes DNA itu keluar, agar kau bisa menentukan sikap untuk kedepannya" saran Felix.
"Jadi kau menuduh kalau Vivi pernah berselingkuh dengan pria lain? Aku katakan padamu ya Fel. Vivi dan aku saling mencintai, jadi tidak mungkin dia berselingkuh dariku. Dan aku bisa pastikan kalau Lia adalah benar putri kandungku" tegas Vicky.
"Oke. Kita lihat saja hasilnya nanti. Kau jangan kecewa dan putus asa sampai mau bunuh diri ya kalau sampai hasilnya tidak sesuai harapanmu" ejek Felix yang merasa sahabatnya ini sangat bucin pada Vivi.
"Itu tidak mungkin terjadi. Dan aku yakin kalau Lia adalah anakku. Dan kalau sampai hasilnya mengatakan kalau Lia adalah benar putri kandungku, maka bonusmu di bulan ini tidak akan aku berikan" ancam Vicky.
"Euh! Malas sekali kalau harus menyinggung masalah bonus" keluh Felix.
"Biarkan saja" ujar Vicky acuh, rasakan saja pembalasannya.
Tiba di parkiran dan memasuki mobil mewahnya, sejenak Vicky melihat jam tangan dan mendapati jika sudah waktunya Lia pulang.
Seolah tubuhnya bergerak tanpa perintah otaknya, dengan semangat membara Vicky mendatangi sekolah Lia.
Berpacu di panasnya jalan tanpa kemacetan, hati bahagia Vicky membawa ke tempat dimana Lia berada.
Keyakinan hatinya mengatakan jika Lia adalah putrinya, dan dengan segala cara dia akan berusaha untuk memperjuangkan Lia dan tentunya Viviane.
Sekalian untuk menebus segala kesalahan yang sudah dilakukannya dulu saat dia dengan segala sifat pengecutnya telah mengabaikan cinta sejatinya.
"Tunggulah papa datang, nak. Saat semuanya sudah jelas, akan kupaksa kalian berdua untuk mendapatkan hak kalian yang seharunya" ujar Vicky dalam hatinya.
Hingga tak terasa laju mobilnya sudah membawanya ke depan sekolah Lia. Mencari tempat yang aman, Vicky malah dibuat sedikit terkejut dengan mobil papanya yang berada di parkiran.
"Tumben papa mau menjemput Johan?" gumam Vicky sedikit kesal.
Kalau sampai papanya melihat dia berkeliaran di sekolah Johan, bisa gawat juga jika orang tua itu melihatnya malah sedang bersama Lia. Vicky takut jika keselamatan Lia yang akan menjadi taruhannya.
Dengan langkah mengendap setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang aman dari jangkauan papanya, Vicky ingin tahu apa yang papanya lakukan di sekolah Johan.
Dari jarak yang aman, Vicky melihat papanya sedang memangku seorang anak perempuan kecil?
"Apa mataku tidak salah melihat?" gumam Vicky sambil mengucek kedua matanya.
"Tapi sepertinya memang benar kalau papa sedang memangku, Lia?" Vicky seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Orang tua yang dulu dengan teganya membuang Viviane dan anaknya, kini malah terlihat sangat bahagia membawa Lia dalam pangkuannya. Sementara terlihat Johan dan Gita yang juga duduk bersebelahan dengannya.
Papa Abra terlihat begitu antusias mendengar apa yang tengah Lia katakan.
"Bukannya papa bukan penyayang anak kecil? Dari Johan masih kecil saja aku tak pernah melihat papa mau menggendongnya. Lantas kenapa papa bisa begitu nyaman saat memangku Lia?" heran Vicky yang bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Tapi dengan begini, saat semuanya sudah jelas nanti bahwa Lia adalah cucunya, aku tidak butuh usaha berlebih agar papa mau menerimanya" senyum Vicky terukir indah kali ini.
Membayangkan saat fimana yang dia, Viviane dan Lia akan bisa bersatu nanti membuat hatinya semakin menghangat.
Tapi dia tidak tahu jika di depannya masih ada jalan terjal yang harus ditaklukkan.
Berusahalah Vicky!
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?