Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita para tetua: Konon katanya!
"Kita sudah keliling desa, tapi sepertinya Pak Rasman memang tidak ada," kata Tris, menghentikan langkahnya di persimpangan jalan setapak yang berbatu.
Suaranya terdengar berat, sarat akan kelelahan setelah berjam-jam mengitari batas pemukiman bersama Bimo dan empat orang lainnya.
Sudah lewat magrib, yang artinya sudah empat jam mereka mencari, sambil berteriak memanggil Rasman, namun beberadaan Rasman masih menjadi teka-teki yang tak kunjung terpecahkan.
"Iya," sahut Bimo pendek. Ia menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya menggunakan punggung tangan. Napasnya terengah-engah, menandakan fisik yang mulai terkikis oleh rasa lelah.
Rombongan kecil itu sempat terdiam beberapa saat.
Namun, saat mereka bersiap untuk melangkah kembali menyusuri rute berikutnya, tiba-tiba saja pandangan Bimo tertuju pada sesuatu di kejauhan.
Di balik rimbunnya pepohonan tua dan semak belukar yang tak terawat di ujung sana, ada sebuah siluet bangunan yang berdiri kokoh.
Sebuah Vila besar bertingkat dua dengan arsitektur kuno yang tampak terbengkalai. Jendela-jendela kaca besarnya bagai mata raksasa yang sedang mengawasi mereka dari kegelapan.
"Itu, ada Vila," kata Bimo, jarinya menunjuk lurus ke arah bangunan megah namun suram tersebut.
Matanya berbinar, seolah menemukan secercah harapan di tengah keputusasaan.
"Kita ke sana saja. Siapa tahu Pak Rasman ada di dalam."
Bimo melangkah maju, hendak memimpin jalan menuju pekarangan Vila yang diselimuti kabut tipis tersebut.
Namun, belum sempat kakinya menapak lebih jauh, salah satu pemuda desa yang berjalan bersamanya langsung bergerak cepat. Tangannya langsung mencengkeram pundak Bimo untuk menghentikan Bimo melangkah mendekati area Vila, dia menahan Bimo secara paksa agar tidak melangkah lebih jauh.
"Jangan, jangan ke sana!" seru pemuda itu.
"Kenapa?" tanya Tris yang ikut terkejut melihat reaksi berlebihan dari warga tersebut. Dahi Tris berkerut dalam, diliputi rasa heran.
Pemuda itu menatap bergantian ke arah Tris dan Bimo dengan tatapan yang sangat serius, sebelum akhirnya kembali melirik waspada ke arah Vila seolah takut ada sesuatu yang mendengar ucapan mereka.
"Para tetua melarang keras warga desa mendekati Vila itu," katanya dengan suara yang ditekan serendah mungkin.
"Kenapa di larang?" Tanya Tris heran.
"Sebaiknya kita pergi saja dulu. Nanti akan aku ceritakan." Kata pemuda satunya lagi
"Ayo, cepat jalan lagi. Jangan terlalu lama berdiri berdiri sini." desak pemuda kedua seraya menarik pelan lengan Bimo, memaksa pemuda itu untuk membalikkan badannya.
Melihat ketakutan dari raut warga yang bersama mereka, Tris dan Bimo akhirnya menurut.
Mereka mengurungkan niat untuk memeriksa Vila bertingkat dua itu dan memilih mempercepat langkah kaki, membelah kegelapan jalan setapak yang hanya diterangi oleh pendaran senter.
Setelah berjalan agak jauh, pemuda desa yang tadi mencengkeram pundak Bimo mulai melambatkan langkahnya.
"Jadi, ada apa sebenarnya dengan Vila itu?" tanya Tris langsung menagih janji, rasa penasarannya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Pemuda yang memegang senter di depan menoleh sedikit, wajahnya tampak suram di bawah temaram cahaya.
"Vila itu milik orang luar desa," kata pemuda bernama Fadil itu memulai ceritanya dengan suara berbisik, memecah keheningan malam saat mereka terus berjalan menjauh.
Tris dan Bimo mendengarkan dengan saksama, sementara langkah kaki mereka tetap konstan menyusuri jalan setapak yang gelap.
Menurut cerita yang beredar di antara warga desa, bangunan bertingkat dua yang megah namun terbengkalai itu menyimpan rahasia yang sangat kelam.
Pemilik aslinya bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang pendatang misterius yang sengaja mengasingkan diri di batas desa.
"Katanya, pemilik Vila itu menganut ilmu hitam," lanjut Fadil.
Fadil melirik ke belakang sejenak, memastikan siluet bangunan tua itu sudah benar-benar hilang dari pandangan mereka.
"Sihir atau pesugihan yang dia pelihara sangat haus darah. Kata para tetua. Siapa pun yang berani mendekati area Vila, pasti akan mati mengenaskan karena dijadikan tumbal oleh pemilik bangunan tersebut untuk mempertahankan kekayaannya."
Bimo dan Tris, yang notabenenya adalah orang kota dan terbiasa dengan pola pikir logis-rasional, saling berpandangan.
Senyum sinis hampir saja tersungging di bibir Bimo, sementara Tris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Di telinga mereka, cerita Fadil terdengar seperti dongeng takhayul atau bualan pengantar tidur yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak main jauh-jauh.
"Masa ada hal yang seperti itu di zaman sekarang?" Bisik Bimo pada Tris, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Fadil dan lainnya.
"Hari gini masih percaya pesugihan dan tumbal ilmu hitam? Logikanya, kalau bangunan segede itu kosong, ya wajar kalau suasananya jadi menyeramkan."
Tris mengangguk setuju, meskipun dalam hati kecilnya ada sedikit rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh.
Sebagai orang yang besar di tengah kepungan beton dan teknologi, konsep tentang kutukan magis yang haus darah terasa sangat absurd dan sulit diterima akal sehat.
Menurut analisis rasional mereka, larangan para tetua kemungkinan besar hanyalah taktik psikologis agar warga desa terhindar dari bahaya fisik, seperti struktur bangunan tua yang rawan runtuh.