Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam di kediaman Kiai Ahmad Bashir selalu memiliki aroma yang khas—perpaduan antara wangi kayu gaharu, sisa hujan yang membasahi tanah, dan kesunyian yang terasa sakral. Namun, bagi dua jiwa yang baru saja diikat paksa oleh takdir, kesunyian itu terasa seperti sembilu.
Pukul tiga dini hari. Fatih terbangun secara otomatis. Kebiasaan bertahun-tahun di pesantren membuatnya tak butuh alarm untuk bangkit menemui Sang Pencipta. Ia menoleh ke arah sofa panjang di pojok kamar. Kosong. Ia baru menyadari bahwa ia yang tidur di sofa, sementara Bella di tempat tidur. Ia bangkit, merapikan selimutnya yang terjatuh, lalu melihat sosok yang meringkuk di atas ranjang.
Fatih menghela napas berat. Ada rasa sesak yang masih bersarang di dadanya. Tanpa suara, ia mengambil handuk dan berlalu keluar kamar menuju masjid kecil yang terletak di halaman rumahnya. Ia butuh ruang yang lebih luas dari sekadar kamar untuk mengadu.
Beberapa saat kemudian, Bella membuka mata. Sebenarnya, ia tidak benar-benar tidur. Ia mendengar setiap gerak-gerik Fatih. Saat pintu tertutup rapat, Bella bangkit dengan tubuh yang masih terasa linu. Ia menatap pintu itu dengan pandangan hampa. Punggung pria itu—pria yang kini menjadi suaminya—terasa begitu jauh, meski hanya berjarak beberapa langkah tadi.
Bella melangkah ke kamar mandi. Ia menyentuh air wudhu yang begitu dingin, seolah air itu sedang membasuh daki-daki dosa yang melekat di kulitnya selama hidup di bawah cengkeraman Barja. Ia mengenakan mukena putih pemberian Umi Fatimah. Putih. Warna yang sudah sangat lama ia jauhi karena merasa tak pantas.
Di masjid halaman, Fatih bersujud. Dalam sujudnya yang panjang, bahunya bergetar.
"Ya Allah... Ampuni dosa-dosa hamba. Ampuni kesombongan hamba yang merasa paling suci hingga menghakimi ciptaan-Mu tanpa tahu lukanya," batin Fatih bersuara.
Setelah salam, ia terpekur. Matanya menatap hamparan sajadah dengan nanar.
"Ya Allah... hamba terima ujian ini. Jika wanita ini adalah yang terbaik bagi hamba dan jalan dakwah hamba, maka kuatkanlah kesabaran hamba. Bersihkan nama hamba dari fitnah yang keji, dan jadikanlah ia wanita sholehah yang kelak mencintai-Mu lebih dari apa pun."
Fatih berhenti sejenak, tenggorokannya tercekat.
"Namun, jika ia bukan yang terbaik, berilah hamba cara agar ia pergi dari hidup hamba dengan cara yang baik, tanpa ada luka baru bagi Abi dan Umi. Dan Ya Allah... tidak bosan hamba memohon kepada-Mu... pertemukan hamba dengan 'Wulan-ku'. Sekalipun ia sudah berkeluarga atau bahkan sudah menjadi jenazah... hamba hanya ingin memohon maaf padanya karena gagal menepati janji sepuluh tahun lalu."
Di saat yang bersamaan, di dalam kamar yang terkunci, Bella bersujud di atas sajadah yang masih terasa kaku karena baru. Ia tidak melakukan tahajud seperti Fatih. Ia melakukan sholat taubat. Air matanya mengalir deras, membasahi kain mukena di bagian pipi.
"Ya Allah... di sajadah ini, hamba kembali bersujud. Cukup lama hamba meninggalkan-Mu. Kerasnya Jakarta telah mengeraskan hati hamba. Hamba lupa bahwa Engkau adalah satu-satunya tempat berlindung," isaknya dalam kesunyian.
Bella meremas ujung sajadahnya, dadanya terasa sesak oleh penyesalan.
"Betapa banyak dosa hamba, Ya Allah... Pantas hamba menerima takdir sehina ini. Apakah Engkau mengantarkan hamba ke rumah suci ini hanya untuk memeluk hamba kembali ke pangkuan-Mu? Ya Allah, hamba tidak mau orang-orang suci di rumah ini tercemar oleh noda hamba. Hamba mohon... jika Engkau masih menyayangi hamba, pertemukan hamba dengan 'Abbas-ku'. Dia pasti akan menerima hamba. Hamba tahu ketulusan dan kegigihannya dulu... hanya dia yang bisa melihat Wulan, bukan Bella si wanita malam."
Dua doa yang sama-sama mencari masa lalu itu melambung ke langit yang sama, tanpa tahu bahwa sosok yang mereka cari sebenarnya hanya terpisah oleh dinding rumah.
Fatih kembali ke kamar saat fajar mulai membayang. Ia membuka pintu dengan sangat pelan, khawatir akan membangunkan Bella. Namun, saat daun pintu terbuka sedikit, langkahnya terhenti.
Lampu kamar yang temaram menunjukkan pemandangan yang menghantam jantung Fatih. Bella masih bersimpuh di atas sajadah. Kepalanya menunduk dalam, tangannya menangkup wajah, dan bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan agar tidak bersuara. Suara bisikan doanya yang samar terdengar sangat pedih.
Hati Fatih seperti tersiram air panas. Ada rasa perih yang menjalar. Ia teringat perlakuannya siang tadi—bentakannya, tatapan jijiknya, dan cara ia menghakimi pakaian Bella tanpa mau mendengar jeritan hatinya.
Ego martabatnya sebagai ustadz kondang yang selama ini ia jaga, tiba-tiba terasa sangat kecil di hadapan ketulusan taubat seorang hamba yang sedang hancur.
"Astaghfirullah... apa yang hamba lakukan kepada ciptaan-Mu, Ya Allah?" batin Fatih merutuk. "Hamba memang tidak mencintainya, tapi setidaknya hamba harus memperlakukannya sebagai manusia."
Fatih menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya, lalu melangkah masuk. Bella menyadari kehadiran Fatih. Ia segera mengusap air matanya dengan kasar dan melipat sajadahnya dengan terburu-buru. Ia berdiri, menunduk tak berani menatap mata suaminya.
"Bang...!!" panggil Bella pelan. Suaranya serak.
Fatih berdiri terpaku, hanya berjarak dua meter darinya.
"Bang, maaf... aku tidak sengaja merusak reputasimu. Aku tahu kehadiranku adalah noda bagi karir dakwahmu," Bella memulai dengan suara bergetar. "Aku akan menerima apa pun keputusan Abang. Jika Abang ingin menjatuhkan talaq padaku sekarang pun, aku siap. Aku tidak akan menuntut apa-apa."
Fatih terdiam, lidahnya kelu.
"TAPI...!!lanjut Bella sambil memberanikan diri menatap mata Fatih, "aku mohon... beri aku kesempatan sebentar saja untuk memperlakukanmu sebagai suami sebelum kita berpisah. Aku takut Allah marah padaku karena tidak berbakti setelah Engkau menyelamatkanku dari neraka Barja."
Bella melangkah mendekat. Dengan gerakan yang sangat santun dan ragu, ia meraih tangan kanan Fatih. Fatih tidak menarik tangannya. Bella membawa tangan itu ke bibirnya, mencium punggung tangan Fatih dengan penuh takdzim dan rasa terima kasih yang mendalam.
Setetes air mata Bella yang hangat jatuh tepat di atas punggung tangan Fatih.
Deg.
Dada Fatih terasa sesak, seperti dihujam ribuan panah tak kasat mata. Pengakuan Bella, kerendahan hatinya, dan air matanya benar-benar meruntuhkan tembok kebencian yang Fatih bangun sejak kemarin. Benar apa kata Umi, ia tidak boleh menghakimi lahiriah seseorang. Pernikahan ini, meski diawali tragedi, tetaplah sebuah akad yang sakral di mata Arsy.
"Ya... aku sudah memaafkanmu, Mbak," suara Fatih kini melunak, tidak lagi sedingin es.
Ia memegang bahu Bella dengan lembut, memaksa wanita itu sedikit mendongak.
"Aku juga minta maaf. Aku tidak membencimu. Haram bagiku membenci makhluk ciptaan Tuhanku, apalagi engkau adalah seorang manusia yang sedang mencari jalan pulang. Hanya saja... mungkin karena begitu tiba-tiba nasib ini menghantam. Cita-cita yang aku bangun puluhan tahun hampir hancur dalam sehari. Maafkan aku, aku mungkin terlalu egois."
Melihat wajah Bella yang tampak begitu pasrah dan cantik di bawah balutan mukena, naluri perlindungan Fatih bangkit. Ia merasa harus memberikan sedikit ketenangan bagi istrinya. Fatih perlahan merunduk, hendak mencium kening Bella sebagai tanda perdamaian dan sahnya mereka sebagai suami istri.
Namun, saat bibirnya hampir menyentuh kulit kening Bella, sebuah ingatan berkelebat cepat di pikirannya. Senyum malu-malu seorang gadis di balik cadar di bawah pohon sawo pesantren Tasikmalaya.
"Wulan... tidak... jangan..." bisik Fatih dalam hati.
Bayangan Wulan seolah menjadi dinding pembatas yang tak terlihat. Ia merasa mengkhianati cintanya pada Wulan jika ia mencium wanita ini, meski wanita ini adalah istrinya yang sah.
Fatih menarik diri secara tiba-tiba. Gerakannya kaku. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan kegelisahan yang mendadak menyerang.
Bella menatap Fatih dengan pandangan kecewa yang dalam. Ia merasa tertolak lagi. Namun, ada sesuatu yang menggantung di telinganya. Saat Fatih tadi hampir menciumnya, bibir Fatih bergerak menggumamkan sesuatu yang sangat pelan dan samar, seperti sebuah nama.
"Wulan...?" batin Bella bertanya-tanya.
Ia tidak salah dengar, tapi ia tidak berani memastikan. Hati Bella kembali mencelos.
"Apakah Fatih sudah punya wanita lain yang sangat ia cintai? Apakah itu sebabnya dia begitu membenciku dan tidak sudi menyentuhku? Betapa jahatnya aku... aku telah menghancurkan kebahagiaan pria ini dengan wanita pilihannya," tanya Bella pada hatinya sendiri.
Suasana kamar itu kembali membeku. Fatih sudah berjalan menuju lemari untuk mengambil baju koko bersih guna persiapan sholat Subuh di masjid besar.
"Cepat bersiap, kita sholat Subuh berjamaah dengan Abi dan Umi di bawah," ujar Fatih tanpa menoleh lagi. Suaranya kembali formal, menutupi kecamuk badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
Bella hanya mengangguk kecil. Ia melipat mukenanya, merasakan luka baru yang lebih halus namun lebih perih daripada luka yang diberikan oleh Barja. Luka karena merasa menjadi penghalang bagi cinta suci suaminya.
Di luar, adzan Subuh mulai berkumandang, memanggil jiwa-jiwa yang haus akan ampunan, di saat rahasia masa lalu mereka masih terkunci rapat oleh kabut kesalahpahaman.