Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Cinta Pertama
Langit mulai berubah jingga ketika rapat akhirnya selesai. Para pekerja satu per satu meninggalkan kantor lapangan setelah seharian bergelut dengan pekerjaan dan berbagai kejadian yang melelahkan. Suasana yang sejak pagi dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi jauh lebih tenang.
Sementara itu, di halaman kantor proyek, Pak Bandi dan Vanessa masih berdiri saling berhadapan.
"Pokoknya Faris ikut proyek hotel di Bali," kata Pak Bandi sambil melipat tangan.
Vanessa sama sekali tidak mau mengalah.
"Tidak."
"Dia lebih dibutuhkan di Kalimantan."
Pak Bandi mendengus. "Kamu masih muda, Vanessa. Proyek seperti itu masih banyak."
Vanessa langsung membalas. "Justru karena saya masih muda, saya butuh tim yang bisa mengikuti cara kerja saya."
Pak Bandi menunjuk Faris. "Dia sudah saya temukan lebih dulu."
"Tapi kan belum ada kontrak."
"Ya tinggal dibuat!"
"Belum dibuat, kan?"
Faris sendiri berdiri beberapa meter dari mereka sambil tersenyum canggung.
"Pak..."
Keduanya langsung menoleh bersamaan. "Iya?"
Faris menggaruk tengkuk. "Kalau boleh... saya minta waktu berpikir dulu."
Pak Bandi terdiam.
Vanessa juga ikut diam.
"Saya benar-benar berterima kasih karena dipercaya..Tapi... Saya baru saja memulai lagi hidup saya. Saya ingin memikirkannya baik-baik."
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Pak Bandi akhirnya mengangguk pelan. "Itu keputusan yang bijaksana."
Vanessa juga mengembuskan napas. "Baik. Tapi jangan terlalu lama."
Faris tersenyum lega. "Terima kasih."
Pak Bandi lalu mengangkat kunci mobil. "Ayo, aku antar pulang."
Belum sempat Faris menjawab, Vanessa langsung berkata, "Tidak usah. Saya yang antar."
Pak Bandi melotot. "Lho? Kenapa kamu lagi?"
Namun Faris buru-buru mengangkat kedua tangannya.
"E... tidak usah dua-duanya."
Mereka kembali menoleh kepadanya.
"Saya naik bus saja."
Pak Bandi tampak tidak percaya. "Kamu yakin?"
"Iya, Pak."
"Sekalian mau menikmati perjalanan."
Vanessa mengernyit. "Naik bus?"
"Iya."
"Kenapa?"
Faris tersenyum kecil. "Saya memang terbiasa naik bus kok. Apalagi angkot."
Pak Bandi dan Vanessa saling pandang sebelum akhirnya sama-sama tersenyum tipis.
"Baiklah."
"Kabari kalau sudah memutuskan."
"Pasti, Pak."
Tak lama kemudian, Faris berjalan menuju halte yang berada tidak jauh dari lokasi proyek.
Bus kota datang sekitar sepuluh menit kemudian. Ia memilih duduk di dekat jendela.
Mesin bus mulai menderu pelan meninggalkan kawasan proyek. Faris menyandarkan punggungnya. Baru sekarang ia benar-benar bisa bernapas lega.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Hari ini melelahkan."
[Detak jantung Host berada dalam kondisi normal.]
"Eh?"
[Tingkat kelelahan otot hanya 11%.]
Faris sedikit terkejut. "Serendah itu?"
[Efek peningkatan kebugaran masih aktif.]
Ia tertawa kecil. "Pantas saja."
Faris lalu melihat kedua telapak tangannya. Dulu tangan itu setiap hari mengangkat semen, mencampur pasir, memikul besi, bahkan bekerja di bawah terik matahari tanpa alat yang memadai.
Pulang dengan badan pegal sudah menjadi hal biasa. Kalau hujan turun, pekerjaan tetap berjalan..Kalau panas menyengat, tetap harus bekerja. Bahkan makan siang sering hanya ditemani nasi bungkus sederhana di pinggir proyek. Dibandingkan semua itu pekerjaan hari ini terasa jauh lebih ringan.
"Ternyata begini rasanya bekerja memakai otak." Ia tersenyum sendiri.
"Bukan cuma tenaga."
Bus terus melaju melewati jalan raya yang mulai dipenuhi kendaraan pulang kantor.
Beberapa menit kemudian Faris kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia teringat saldo rekeningnya. Uang yang diberikan sistem sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah yang layak.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Kalau aku beli rumah sekarang bagaimana?"
[Host mampu.]
"Aku tahu."
"Tapi..."
Faris memandang keluar jendela. "Ibu pasti curiga."
Kemarin saja ia baru keluar dari penjara. Hari ini tiba-tiba membeli rumah. Tidak masuk akal. Orang lain pun pasti akan bertanya-tanya.
Faris menggeleng pelan. "Terlalu berisiko." Ia kembali berpikir.
"Lagipula... Sakit Ibu juga belum benar-benar sembuh. Pindah rumah sekarang malah merepotkan." Semakin dipikirkan, semakin jelas jawabannya. "Aku tunda dulu."
[Keputusan dinilai rasional.]
"Aku fokus bekerja. Biarkan uang itu tetap di rekening. Nanti kalau sudah ada pemasukan yang wajar, baru beli rumah."
[Strategi diterima.]
Faris mengangguk puas. Ia merasa jauh lebih tenang setelah mengambil keputusan.
Sekitar empat puluh menit kemudian bus memasuki kawasan dekat rumahnya. Faris turun sambil meregangkan tubuh.
Langit kini mulai gelap. Lampu-lampu pertokoan mulai menyala. Perutnya mendadak berbunyi pelan.
"Kruuuk..."
Ia terkekeh.
"Lapar juga."
Saat berjalan melewati deretan ruko kecil, aroma harum mentega dan adonan yang dipanggang tiba-tiba menyeruak ke hidungnya.
Faris spontan menoleh.
"Martabak."
Sudah lama sekali ia tidak memakannya. Sewaktu ibunya sakit, hampir semua uang habis untuk biaya pengobatan. Membeli martabak terasa seperti kemewahan.
Faris tersenyum. "Sekali-sekali tidak apa-apa. Sekalian buat Ibu dan Bu Nuri."
Ia langsung berjalan menuju gerobak martabak yang tampak cukup ramai. Beberapa pelanggan sedang menunggu pesanan.
Faris berdiri di belakang antrean. Tak lama kemudian giliran orang di depannya selesai.
Penjual itu akhirnya mengangkat kepala. "Iya, Mas. Mau pesan apa?"
Suara itu sangat dikenalnya. Faris membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan ia mengangkat pandangan.
Di balik gerobak berdiri seorang perempuan berusia sekitar dua puluh empat tahun mengenakan celemek sederhana.
Rambut panjangnya diikat asal. Beberapa helai rambut menempel di dahinya karena keringat. Wajahnya masih sama. Senyumnya juga masih sama. Hanya saja kini tampak sedikit lebih dewasa.
Mata Faris membelalak. "M... Marlina?"
Perempuan itu ikut terkejut. Ia berkedip beberapa kali.
"Faris?"
Dunia seakan mendadak berhenti. Suara kendaraan. Suara pelanggan. Bahkan bunyi spatula yang mengenai wajan terasa menghilang dari telinga Faris. Yang tersisa hanya wajah perempuan di depannya.
Cinta pertama Faris. Perempuan yang dulu diam-diam selalu ia perhatikan sewaktu SMA. Perempuan yang tidak pernah sempat dia nyatakan perasaannya. Tangannya mendadak terasa dingin.
"Ini... Benar Marlina?"
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Iya. Sudah lama ya."
Faris hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya..."
Kepalanya benar-benar kosong. Saat itulah suara sistem terdengar.
[Peringatan.]
[Detak jantung Host meningkat drastis.]
"Biasa saja."
[Meningkat 37%.]
"Itu..."
[Host sedang gugup.]
"Nggak."
[Analisis menunjukkan kemungkinan 98,7%.]
Faris menggertakkan gigi pelan.
"Diam!"
Namun sistem justru melanjutkan.
[Host berhasil menghadapi puluhan warga yang melempar batu.]
[Host berhasil berdebat dengan arsitek paling keras kepala.]
[Namun gagal mempertahankan ketenangan di depan satu penjual martabak.]
Sudut bibir Faris berkedut.!"Kau sengaja, ya?"
[Benar.]
Faris hampir memejamkan mata karena malu.
Marlina memiringkan kepala. "Faris?"
"Hah?"
"Kamu tidak apa-apa?"
"Oh..."
"Iya."
"Nggak apa-apa."
"Pesan martabak apa?"
Faris malah semakin gugup.
"Eee... Yang... O... original."
Marlina tersenyum geli. "Original?"
"Iya."
"Pakai apa?"
Faris terdiam. Ia bahkan lupa isi martabak ada apa saja. Melihat ekspresi Faris yang kikuk, Marlina menahan tawa.
Sementara sistem kembali berbunyi pelan.
[Selamat.]
[Host baru saja menghadapi tantangan paling sulit hari ini.]
[Status: Cinta Pertama Ditemukan.]
[Tingkat kepanikan Host: Sangat Tinggi.]
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.