Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Suasana di lantai eksekutif Aethelgard Group siang itu luar biasa tegang. Dixon baru saja menyelesaikan rapat dewan direksi yang berlangsung alot selama tiga jam penuh. Pria berusia 39 tahun itu duduk di kursi kebesarannya, melonggarkan sedikit simpul dasinya dengan rahang yang mengeras. Beban pekerjaan dan bayang-bayang kepulangan Amora nanti malam membuat aura di sekelilingnya menjadi dua kali lebih dingin dan mengintimidasi.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan terbuka perlahan, dan sosok Cia melangkah masuk. Seperti hari sebelumnya, ia membawa kotak bekal hangat di tangannya. Namun, hari ini tidak ada senyum ceria yang merekah di wajah cantiknya. Langkah kaki Cia terasa berat, dan sepasang mata jernihnya menyiratkan kecemasan yang teramat pekat.
Cia meletakkan kotak bekal itu di atas meja kerja Dixon dengan perlahan. Ia tidak langsung memutari meja atau meracau manja. Gadis itu berdiri diam di hadapan Dixon, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin.
"Mas Dixon..." panggil Cia, suaranya terdengar bergetar lirih, sarat akan beban emosional yang sengaja ia ekspos untuk memancing reaksi suaminya.
Dixon mendongak, menatap datar wajah pucat istrinya. "Ada apa lagi, Valencia? Aku sedang banyak pikiran."
Cia menggigit bibir bawahnya, setitik air mata buatan mulai menggenang di sudut matanya, membuat penampilannya terlihat begitu rapuh dan ketakutan. "Bagaimana... bagaimana kalau nanti malam anakmu tidak menyukaiku, Mas?" tanya Cia dengan nada suara yang bergetar hebat, memulai drama psikologisnya.
Dixon menghentikan gerakan tangannya di atas berkas.
"Amora adalah putri tunggalmu, dia segalanya bagimu," lanjut Cia dengan air mata yang mulai luruh membasahi pipinya. "Aku... aku hanyalah pelayan toko kue yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupmu karena sebuah ketidaksengajaan. Jika nanti malam dia melihatku, histeris, dan membenciku... bagaimana kalau dia memohon padamu untuk menceraikanku? Apa kamu akan mengiyakan permintaannya dan membuangku begitu saja, Mas?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang dipenuhi rasa tidak aman dari Cia, Dixon mengembuskan napas panjang. Ego kaku sang miliarder berontak. Di satu sisi, ia lelah dengan tekanan pekerjaan, namun di sisi lain, pertanyaan Cia seolah meragukan otoritasnya sebagai seorang kepala keluarga.
Dixon menegakkan punggung tegapnya, menatap Cia dengan pandangan elang yang teramat tajam dan mengunci mati pergerakan gadis itu. "Hentikan drama konyolmu ini, Valencia," ucap Dixon, suara baritonnya terdengar sangat ketat dan mutlak. "Aku tidak akan peduli dengan apa yang dia katakan atau bagaimana reaksinya nanti. Pernikahan ini sudah sah, dan aku adalah pria yang memegang teguh komitmenku. Keputusanku tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk Amora."
Mendengar jawaban tegas dari Dixon, batin Cia bersorak puas. Namun, drama ini harus diselesaikan dengan akhir yang dramatis agar Dixon merasa bersalah.
Sebelum Cia sempat berbicara lagi, Dixon yang sudah berada di puncak batas kesabarannya akibat stres kerjaan mendadak berdiri dari kursinya. Tubuh raksasanya mengintimidasi siluet ramping Cia. "Sekarang, ambil barang-barangmu dan keluar dari ruanganku! Pulang ke rumah dan tunggu di sana. Jangan mengacaukan fokus kerjaku dengan ketakutan-ketakutan bodohmu itu. Keluar!" bentak Dixon dengan nada suara yang meninggi dan dingin.
Cia tersentak mundur, wajahnya dibuat membelalak ketakutan seolah-olah ia baru saja dibentak oleh monster. Ia menyeka air matanya dengan cepat, mengambil tasnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berlari keluar dari ruangan Dixon tanpa mengucap sepatah kata pun.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat, Cia yang berdiri di lorong sunyi seketika menghentikan langkahnya. Isak tangisnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh sebuah seringai iblis yang teramat licik di bibir ranumnya. “Sempurna. Lo sudah berjanji tidak akan peduli, Mas Dixon. Mari kita lihat apa lo bisa memegang ucapanmu saat putrimu mulai menangis darah di depan matamu.”
Malam harinya, jam menunjukkan pukul sepuluh tepat ketika Rolls-Royce hitam milik Dixon berhenti di area kedatangan Bandara Internasional. Dixon melangkah turun dari mobil, dikawal oleh Asher di belakangnya. Pria berusia 39 tahun itu berdiri tegap di antara kerumunan menjemput, matanya menyisir pintu keluar terminal internasional.
Tak lama kemudian, sosok gadis muda dengan pakaian brand ternama dari ujung kepala hingga ujung kaki muncul sembari mendorong koper mewahnya. Wajah cantiknya yang angkuh dan segar langsung berbinar begitu menangkap siluet tegap sang ayah.
"Daddy!!"
Amora berteriak girang, melepaskan pegangan kopernya dan langsung berlari kencang menubruk tubuh kekar Dixon. Dixon dengan sigap menangkap tubuh putrinya, memeluknya dengan sangat erat dan hangat—sebuah pelukan tulus seorang ayah yang sangat merindukan putri tunggalnya.
"Welcome home, Princess," bisik Dixon lembut, mencium puncak kepala Amora dengan penuh kasih sayang, sangat kontras dengan sikap dinginnya pada Cia.
Amora melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah tampan ayahnya dengan senyum manja yang lebar. "I miss you so much, Dad! Wah, Daddy kelihatan lebih segar ya sekarang, apa ini efek karena sudah punya istri baru?" goda Amora sembari tertawa renyah, mengandeng lengan kekar Dixon dengan erat menuju mobil.
Selama perjalanan pulang membelah jalanan kota yang sepi, atmosfer di dalam kabin mobil terasa begitu hidup oleh celotehan Amora. Gadis itu tidak berhenti menceritakan pengalamannya di luar negeri, tentang pemotretannya, dan agensi modelnya. Namun, setiap beberapa menit sekali, topik pembicaraannya selalu kembali pada satu hal: ibu tirinya.
"Dad, jujur aku benar-benar nggak sabar banget mau sampai rumah dan ketemu sama ibu baruku!" seru Amora dengan nada antusias, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Dixon. "Aku penasaran banget, wanita kayak gimana yang bisa melunakkan hati es Daddy yang super kaku ini. Nenek bilang di telepon kalau dia cantik, sopan, dan kelihatan lugu banget ya?"
Dixon yang duduk di sampingnya hanya mengulum senyum tipis, jemari kekarnya mengusap rambut Amora pelan. "Ya, dia wanita yang tenang dan tidak suka keramaian. Kamu harus bersikap sopan padanya nanti, Amora."
"Tenang aja, Dad! Aku pasti bakal jadi anak tiri yang baik buat dia. Aku bakal ajak dia belanja bareng, ke salon bareng, pokoknya kita harus jadi bestie!" cerocos Amora tanpa henti, membayangkan masa depan yang indah bersama ibu tiri barunya tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Oh ya, siapa namanya, Dad? Dari kemarin Daddy sama Nenek misterius banget nggak mau sebut nama lengkapnya."
Dixon terdiam sesaat, menatap lurus ke depan jalanan yang diterangi lampu kota. "Namanya Valencia. Kamu bisa memanggilnya sesukamu nanti."
"Valencia... nama yang bagus," gumam Amora, mengangguk-angguk puas sembari menatap ke luar jendela mobil, menghitung menit demi menit sebelum mobil mewah itu memasuki gerbang rumah mereka.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu