NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

***

Udara subuh di Pondok Pesantren Al-Falah terasa menusuk hingga ke tulang. Kabut tipis sisa semalam masih bergelayut manja di dahan-dahan pohon mangga yang mengitari halaman utama masjid. Suara lantunan selawat tarhim dari pelantang suara masjid sayup-sayup mulai membangunkan seisi pondok, menandakan waktu salat subuh membayang beberapa puluh menit lagi.

Namun, di tengah kesunyian dan dingin yang menggigit itu, Naya sudah harus berjibaku dengan takdir barunya.

Napasnya memburu, keluar membentuk uap-uap tipis dari mulutnya. Tubuhnya terasa remuk redam setelah semalam suntuk menyikat lantai dan mencuci tumpukan panci raksasa di dapur umum sendirian. Matanya terasa berat karena hanya sempat terpejam selama satu jam. Dan sekarang, tantangan berikutnya sudah membentang di depan mata: menjemur enam lembar karpet masjid yang tebal, panjang, dan basah kuyup setelah dicuci kemarin sore.

"Satu... dua... tiga... uhuk!"

Naya mengerang, sekuat tenaga menyeret lembaran karpet kedua keluar dari selasar masjid menuju jemuran besi panjang di halaman utama. Karpet beludru hijau tua itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena menyerap air. Setiap kali Naya menariknya, otot-otot lengannya yang biasa dimanja di salon kecantikan Jakarta berdenyut nyeri. Telapak tangannya yang memerah dan lecet akibat sabun colek semalam terasa perih luar biasa saat bergesekan dengan serat kasar karpet.

Sreeek... sreeek...

"Sialan, ini karpet atau jangkar kapal pesiar sih? Berat banget!" umpat Naya lirih dengan suara serak.

Keseimbangan tubuhnya goyah. Kakinya yang bersandal jepit licin tiba-tiba tersangkut undakan semen. Tubuh Naya limbung ke belakang. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan hantaman keras ubin semen pada punggungnya yang sudah pegal.

Namun, hantaman itu tidak pernah terjadi.

Sebuah sentuhan mendadak menahan ujung karpet dengan sentakan kuat, sementara sebuah lengan kokoh yang terbungkus kain koko putih bersih menstabilkan beban di hadapannya, membuat karpet itu tidak sampai ambruk menimpa tubuh Naya.

Naya tersentak, membuka matanya dengan cepat. Di balik temaram lampu halaman, sesosok pria jangkung berdiri dengan tenang. Sarung tenun hitam bermotif gerimis dan peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya mempertegas wibawanya.

Gus Zayyan.

Pria itu menatap Naya dengan sepasang mata tajam yang selalu tampak tenang namun menyelidik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan kanan Zayyan mencengkeram erat pinggiran karpet, bersiap membantu mengangkatnya ke atas besi jemuran.

Naya tertegun. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang, bukan hanya karena hampir jatuh, tetapi karena menyadari situasi ini. Di pesantren ini, ada batasan ketat antara santri dan keluarga pengasuh, apalagi seorang Gus.

"G-Gus Zayyan?" Naya mengerjap-erjapkan matanya, memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi karena kurang tidur. "Ngapain subuh-subuh di sini?"

Zayyan tidak langsung menjawab. Ia menggunakan kekuatannya untuk mengangkat separuh beban karpet yang basah itu, membagi beban sepihak agar Naya tidak kepayahan. "Harusnya saya yang bertanya. Kenapa jam segini kamu sudah menguras tenaga dengan karpet-karpet ini? Di mana pengurus piket yang lain?" suaranya berat, memecah kesunyian subuh.

Naya buru-buru memalingkan wajah, menyembunyikan gurat kelelahan dan matanya yang agak sembap. Gengsi lamanya sebagai anak Jakarta yang mandiri dan keras kepala mendadak bangkit. Ia tidak sudi terlihat lemah, apalagi mengadu seperti pecundang tentang fitnah Fida dan Ustadzah Maryam kemarin siang.

"Enggak ada apa-apa, Gus. Ini... ini inisiatif gue sendiri," jawab Naya asal, mencoba terdengar santai sembari membetulkan posisi berdirinya.

Satu alis Zayyan terangkat. "Inisiatif? Sukarela mencuci dapur umum sampai tengah malam dan menjemur karpet seberat ini di waktu subuh? Sejak kapan seorang Nayanika menjadi se-rajin ini?"

Naya memutar otaknya cepat, mencari alasan paling logis yang sesuai dengan citra "matre" yang sengaja ia bangun di depan pria itu. "Ya... anggap aja gue lagi nyari muka. Gue sengaja ngerjain ini semua biar jam pegang HP gue ditambah. Lu kan pelit banget tuh soal kuota waktu, siapa tahu kalau gue rajin begini, lu tersentuh terus ngasih gue bonus waktu pacaran sama smartphone gue."

Zayyan mengembuskan napas pelan, menatap Naya lurus-lurus dengan tatapan yang seolah bisa membaca seluruh kebohongan di dalam kepalanya. "Tidak perlu melakukan hal berlebihan seperti ini hanya untuk menambah jam ponsel, Nayanika. Aturan tetap aturan, dan kesehatan kamu bukan barang taruhan."

Naya mendengkus pelan, menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar. "Ck, pelit sekali," sahut Naya dengan santainya, kembali menarik ujung karpetnya agar sejajar di atas jemuran besi. "Udah deh, Gus. Mending Gus pergi aja dari sini. Pergi gih ke pengimaman atau ke mana urusan Gus biasanya. Nanti keburu subuh, santri lain pada keluar kamar dan liat kita berduaan di sini. Kalau ada yang salah paham, repot gue nantinya. Bisa-bisa gue dituduh godain Gus idola pesantren."

"Tidak mau," jawab Zayyan singkat, padat, dan mutlak. Tangannya tetap kokoh menahan beban karpet, sama sekali tidak bergerak setapak pun dari posisinya.

Naya melebarkan matanya, menoleh ke arah Zayyan dengan tatapan sebal. "Ihhh, kok ngeselin sih?! Dibilangin juga. Nanti kalau ada ustadz atau pengurus asrama lewat gimana?"

"Biar saya bantu," potong Zayyan, mengabaikan seluruh protes Naya. Nada suaranya tidak menerima bantahan.

"Eeee, tidak usah, Gus! Gue bisa sendiri! Tangan gue masih berfungsi dengan baik kok," tolak Naya, mencoba menarik karpet itu dari cengkeraman Zayyan.

"Saya bantu, Nayanika. Diam dan pegang ujung sebelas sana," perintah Zayyan lagi, kali ini dengan penekanan yang membuat Naya langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Naya akhirnya mengalah dengan menggerutu pelan dalam hati. Mau tidak mau, mereka akhirnya bekerja sama dalam diam yang canggung. Kehadiran Zayyan yang bertubuh tegap dan bertenaga besar membuat pekerjaan yang tadinya terasa mustahil bagi Naya, selesai dalam waktu jauh lebih cepat. Lembar demi lembar karpet basah berhasil dibentangkan rapi di atas jemuran besi.

Selama proses itu, sesekali jemari mereka tidak sengaja bersenggolan saat menyelaraskan kain karpet yang tebal. Setiap kali kulit mereka bergesekan, Naya merasa ada sengatan listrik kecil yang membuat bulu kuduknya meremang, sementara Zayyan hanya mendeham kaku, mengalihkan pandangannya ke arah lain demi menjaga pandangan.

"Sudah selesai. Masuklah ke aula atau kamar, bersiap untuk salat subuh," ucap Zayyan setelah karpet terakhir terjemur dengan rapi. Ia membersihkan telapak tangannya yang basah dengan mengibaskannya pelan.

"Ya. Thanks," gumam Naya, matanya menatap lantai, enggan menatap langsung mata pria itu karena dadanya masih berdegup tidak keruan. Naya segera berbalik dan berjalan cepat menuju asrama putri sebelum fajar benar-benar menyingsing.

Zayyan berdiri mematung di halaman masjid, menatap punggung Naya yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik gerbang pembatas asrama. Ia menghela napas panjang, ada rasa tidak tenang yang menggelitik hatinya. Ia tahu betul Naya berbohong; luka lecet di tangan gadis itu dan matanya yang sembap tidak mencerminkan seseorang yang sedang berburu bonus jam ponsel secara sukarela.

Ketika Zayyan membalikkan badan hendak melangkah menuju kantor ndalem, langkah kakinya mendadak terhenti di dekat selasar samping masjid. Di balik dinding pembatas tembok ruang rapat ustadz, terdengar suara bisikan dua orang wanita yang sangat ia kenali.

Suara itu adalah suara Ustadzah Maryam dan Fida. Kebetulan pagi itu, area tersebut masih sepi dan gema suara mereka terdengar cukup jelas bagi pendengaran tajam Zayyan.

"Kamu yakin dia menyelesaikan semuanya semalam, Fida?" tanya Ustadzah Maryam dengan nada suara yang terdengar sangat santai, jauh dari kesan tegas yang biasa ia tunjukkan di depan para santri.

Fida terkekeh pelan, terdengar sangat puas. "Yakin, Ustadzah. Tadi malam saya sengaja menyuruh Mega buat ngecek ke dapur umum jam satu malam, dan si anak kota itu masih megang sikat sambil nangis-nangis. Sukses besar deh rencana kita di kantin kemarin siang."

"Baguslah," sahut Ustadzah Maryam dengan nada dingin. "Anak baru seperti dia memang harus diberi pelajaran keras sejak awal. Biar dia tahu kalau status 'titipan' atau kedekatannya dengan Bu Nyai tidak akan bisa melindunginya di sini kalau berani macam-macam dengan santri senior, apalagi membuat kamu menangis di depan kelas saya."

Fida tersenyum lebar, memeluk lengan Ustadzah Maryam dengan manja. "Makasih banyak ya, Ustadzah Maryam sayang. Untung kemarin Ustadzah langsung tanggap pas saya pura-pura nangis di kantin. Kalau enggak, posisi saya bisa jatuh di depan anak-anak lain gara-gara pembelaan Sarah dan Aliyah."

"Sama-sama. Sudah menjadi tugas saya untuk meluruskan santri-santri liar seperti dia. Oh ya, jangan lupa berkas untuk meeting evaluasi pengajar setelah subuh ini ya. Gus Zayyan dan para ustadz lain pasti sudah menunggu di kantor utama."

Di balik tembok, tangan Zayyan yang berada di dalam saku baju kokonya perlahan mengepal erat. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendidih di dalam dada. Semua teka-teki di kepalanya terjawab sudah. Luka di tangan Naya, tubuhnya yang ambruk karena kelelahan, dan ketidakadilan yang menimpa gadis itu... semuanya adalah hasil rekayasa busuk dari dua orang yang seharusnya menjadi teladan di pesantren ini.

Zayyan menarik napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya agar tidak meledak di tempat suci ini. Ia sengaja melangkah maju, menampakkan dirinya dari balik tembok dengan langkah kaki yang sengaja diperberat.

TAP. TAP. TAP.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Ustadzah Maryam dan Fida langsung menghentikan obrolan mereka dan berbalik. Begitu melihat sosok Gus Zayyan yang berdiri tegap dengan wajah sedingin es, senyum di wajah Fida langsung membeku, sementara Ustadzah Maryam buru-buru membetulkan letak jilbabnya, mencoba bersikap seprofesional mungkin.

"E-Eh, Gus Zayyan... Selamat subuh, Gus," sapa Ustadzah Maryam, suaranya mendadak gugup namun terselip nada genit yang tertahan. Selama ini, Ustadzah Maryam memang menaruh kekaguman mendalam pada sosok Gus muda yang tampan dan cerdas itu, dan kesempatan rapat bersama selalu menjadi momen yang paling ia nantikan. "Gus sudah mau ke ruang rapat? Berkas-berkas evaluasi dari madrasah putri sudah saya siapkan, Gus."

Zayyan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas sapaan itu. Ia hanya berdiri membisu, menatap Ustadzah Maryam dan Fida bergantian.

Namun, tatapan mata Zayyan kali ini benar-benar berbeda. Sepasang matanya menghujam tajam, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat dan dingin, seolah-olah sanggup menguliti semua kebohongan dan kebusukan yang baru saja mereka bicarakan. Tatapan itu penuh dengan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan, memperingatkan mereka tanpa suara bahwa tindakan mereka tidak luput dari perhatiannya.

Fida yang ditatap seperti itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam, tubuhnya mendadak gemetar ketakutan karena merasa aura Gus Zayyan pagi ini luar biasa mengerikan.

Berbeda dengan Fida yang ketakutan, Ustadzah Maryam yang sudah dibutakan oleh rasa kagum justru salah mengartikan tatapan intens tersebut. Dadanya berdesir hangat. Di dalam benaknya, ia merasa sangat senang dan bangga karena diperhatikan begitu lekat oleh Gus idolanya di subuh hari yang puitis ini. Ia mengira ketegasan tatapan Zayyan adalah bentuk kekaguman atas kedisiplinannya sebagai pengajar senior.

Tanpa memutuskan tatapan tajamnya, Zayyan akhirnya memutar tubuhnya dengan sentakan halus, melangkah pergi menuju ruang rapat utama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan pria itu justru menjadi badai yang sedang mengumpul di balik awan, siap meluluhlantakkan siapa saja yang berani bermain api dengan keadilan di Pondok Pesantren Al-Falah.

Di koridor menuju ruang rapat, Zayyan membatin dengan keyakinan penuh. Meeting evaluasi pengajar pagi ini tidak akan berjalan membosankan seperti biasanya, Ustadzah Maryam.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!