NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Tengah Malam

Terkadang, firasat buruk yang tiba-tiba muncul tanpa alasan bukanlah sekadar ketakutan berlebihan. Ada kalanya perasaan itu datang sebagai peringatan. Sebuah bisikan halus yang mencoba memberitahu bahwa sesuatu yang tidak baik sedang menunggu di depan.😩

-----

Malam pertama di ruko ujung gang itu berjalan lebih panjang daripada yang kubayangkan.

Jam di layar ponsel menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dari jendela kecil kamar lantai empat, aku bisa melihat kerlap-kerlip lampu Jakarta yang seolah tidak pernah tidur. Di kejauhan, deretan gedung tinggi berdiri megah diterangi cahaya lampu, sementara di bawah sana kehidupan malam terus bergerak tanpa mengenal lelah.

Namun entah kenapa, pemandangan itu sama sekali tidak membuatku kagum.

Dadaku terasa sesak sejak sore tadi.

Mungkin karena aku terlalu memikirkan rumah. Mungkin juga karena pertemuanku dengan Anggun meninggalkan kesan yang tidak nyaman.

Di atas kasur busa, Marni sedang rebahan sambil memainkan ponselnya.

"Kamu kenapa dari tadi murung terus?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aku menghela napas pelan.

"Gak tahu. Rasanya gak tenang saja."

"Kangen anak?"

Pertanyaan itu membuat dadaku semakin berat.

Aku mengangguk.

Bayangan Lala dan Andi langsung muncul di kepala. Aku membayangkan mereka sedang tidur di rumah ibu. Membayangkan suara mereka memanggilku. Membayangkan wajah suamiku yang biasanya selalu berusaha terlihat kuat meski sedang banyak masalah.

Baru sehari meninggalkan rumah, tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan.

"Tahan saja dulu," kata Marni. "Nanti kalau sudah gajian, perasaanmu juga ikut membaik."

Aku tersenyum tipis.

Semoga saja begitu.

BRAK!

Suara benturan keras dari lantai bawah mendadak memecah keheningan.

Aku langsung tersentak.

"Apaan itu?"

Marni bahkan tidak terlihat terkejut.

"Paling anak-anak ribut."

Belum sempat aku bertanya lagi, suara teriakan perempuan melengking naik dari bawah.

"BALIKIN PUNYA GUE!"

Disusul rentetan makian kasar.

Marni memejamkan mata sesaat.

"Nah, tuh."

"Tuh apanya?"

"Kalau bukan Anggun sama Shara ya siapa lagi."

Aku segera berdiri.

Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah.

Bersama Marni, aku menuruni tangga menuju lantai tiga.

Belum sampai ke bawah, keributan itu sudah terdengar jelas.

Koridor lantai tiga yang tadi sore tampak tenang kini dipenuhi penghuni mes yang keluar dari kamar masing-masing. Sebagian berdiri sambil melipat tangan di dada. Sebagian lagi berbisik-bisik menikmati tontonan gratis malam itu.

Di depan kamar paling ujung, Anggun dan Shara berdiri saling berhadapan.

Tatapan mereka sama-sama tajam.

Sama-sama menyimpan amarah.

"Lu pikir gue gak tahu apa yang lu lakuin?" bentak Anggun.

Shara menyilangkan kedua tangan di dada.

"Wah, mulai lagi."

"Jangan pura-pura bego!"

"Aku memang gak ngerti kamu ngomong apa."

Senyuman tipis di wajah Shara membuat emosi Anggun semakin naik.

"Akhir-akhir ini pelanggan gue pada hilang satu-satu."

"Lalu?"

"Mereka pindah ke lu!"

Shara tertawa kecil.

Tawa yang justru terdengar seperti ejekan.

"Lah terus salah gue di mana?"

"Jangan main bodoh!"

"Kalau mereka milih gue, itu urusan mereka."

"Kamu nyolong!"

"Kata siapa?"

"Jangan bikin gue marah!"

Meskipun suaranya tidak terlalu keras, ada sesuatu dalam nada bicara Anggun yang membuat suasana koridor mendadak terasa dingin.

Aku memperhatikan wajah para penghuni lain.

Aneh.

Tak satu pun dari mereka terlihat benar-benar menikmati keributan ini.

Mereka justru tampak tegang.

Seolah menunggu sesuatu yang buruk terjadi.

Bahkan beberapa perempuan yang tadi sempat tertawa kini memilih diam.

Tatapannya bergantian mengarah ke Anggun dan Shara.

"Lu tahu gak sih?" kata Anggun pelan. "Gue sudah cukup sabar selama ini."

Shara maju selangkah.

"Terus?"

"Jangan coba-coba cari masalah sama gue."

"Lalu kalau gue tetap cari masalah?"

Hening.

Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Aku tidak tahu kenapa, tetapi bulu kudukku tiba-tiba meremang.

Sorot mata Anggun berubah.

Tadi marah.

Sekarang berbeda.

Lebih gelap.

Lebih dingin.

Lebih menyeramkan.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Shara.

Keributan pecah seketika.

"AWWW!"

Shara langsung membalas dengan menjambak rambut Anggun.

Keduanya saling dorong, saling tarik, saling cakar seperti kehilangan akal sehat.

Lorong berubah kacau.

Beberapa penghuni berteriak panik.

Yang lain buru-buru mencoba melerai.

"Udah! Udah!"

"Stop!"

"Jangan berantem!"

Namun dua perempuan itu seolah tidak mendengar siapa pun.

Sampai akhirnya—

"WOOOOI!"

Suara bentakan keras menggema dari arah tangga.

Semua orang langsung menoleh.

Mbak Anggi berdiri di sana dengan wajah merah padam.

"Pada mau bikin masalah apa lagi kalian?!"

Tidak ada yang menjawab.

"KALIAN MAU CI GOUW DATANG KE SINI?!"

Nama itu langsung membuat suasana berubah.

Seketika.

Seperti sakelar yang dimatikan.

Semua orang diam.

Tidak ada lagi yang berani bicara.

Termasuk Anggun dan Shara.

Aku mengernyit.

Siapa sebenarnya Ci Gouw?

Kenapa semua orang terlihat takut hanya karena namanya disebut?

Anggun perlahan melepaskan cengkeramannya.

Shara juga mundur beberapa langkah.

Namun sebelum masuk ke kamarnya, Anggun berhenti.

Ia menoleh.

Menatap lurus ke arah Shara.

Tatapan itu membuatku merinding.

"Sumpah..." katanya lirih.

Koridor yang semula ramai mendadak sunyi.

"Sumpah suatu hari nanti lu bakal nyesel."

BRAK!

Pintu kamar Anggun tertutup keras.

Tidak ada yang bicara setelah itu.

Satu per satu penghuni mes kembali masuk ke kamar masing-masing.

Pertunjukan malam itu selesai.

Tapi entah kenapa, aku merasa semuanya belum benar-benar berakhir.

Menjelang pukul satu dini hari, aku masih belum bisa tidur.

Marni sudah mendengkur pelan di sampingku.

Sementara aku terus memandangi langit-langit kamar.

Angin malam yang masuk lewat ventilasi terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Lalu...

Aku mendengar sesuatu.

Krek...

Samar.

Seperti suara langkah kaki.

Aku menahan napas.

Mencoba mendengarkan lebih jelas.

Krek...

Krek...

Suara itu berasal dari luar kamar.

Tepat di koridor.

Kemudian terdengar suara lain.

Pelan.

Tipis.

Menyerupai tawa perempuan.

"Hehehe..."

Tubuhku langsung menegang.

Aku menoleh ke arah Marni.

Masih tidur.

"Hehehe..."

Suara itu terdengar lagi.

Lebih dekat.

Aku menggigit bibir bawah.

Mungkin cuma penghuni lain yang baru pulang.

Mungkin.

Tapi kenapa rasanya berbeda?

Dengan jantung berdebar, aku turun dari kasur.

Melangkah perlahan menuju pintu.

Suara itu berhenti.

Koridor kembali sunyi.

Tanganku yang berkeringat meraih gagang pintu.

Lalu membuka sedikit celah.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Koridor lantai empat terlihat kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku mengembuskan napas lega.

Mungkin benar aku hanya terlalu lelah.

Namun saat hendak menutup kembali pintu itu, mataku menangkap sesuatu di ujung lorong.

Seseorang.

Berdiri diam dekat tangga.

Seorang perempuan.

Rambutnya panjang.

Tubuhnya kurus.

Dia tidak bergerak.

Hanya berdiri mematung dalam cahaya lampu yang redup.

Aku menyipitkan mata.

Mencoba melihat lebih jelas.

Dan tepat ketika sosok itu perlahan mengangkat kepalanya—

BRAK!

Pintu kamar mendadak terbanting keras.

Tubuhku terlempar ke belakang.

Aku jatuh terduduk di lantai.

"ASTAGHFIRULLAH!"

Marni langsung terbangun.

"Ada apa?!"

Aku menunjuk ke arah pintu dengan tangan gemetar.

"Tadi... ada orang..."

Marni buru-buru membuka pintu.

Koridor kembali kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Sunyi.

Lengang.

Seakan tidak pernah ada apa pun.

"Aduh, Mir..." gumam Marni. "Kamu kecapekan."

Aku ingin membantah.

Sangat ingin.

Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Karena saat itulah mataku melihat sesuatu.

Di ambang pintu.

Seekor cicak.

Mati.

Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.

Aku menatap bangkai itu tanpa berkedip.

Lalu menyadari sesuatu yang lain.

Di sekelilingnya terdapat beberapa kuntum bunga melati segar.

Putih.

Masih baru.

Masih harum.

Jantungku mendadak berdetak lebih keras.

Karena aku pernah melihat bunga yang sama beberapa jam lalu.

Di atas meja kamar Shara.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Tidak kepada Marni.

Tidak kepada siapa pun.

Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat ini, aku mulai merasa bahwa pertengkaran antara Anggun dan Shara mungkin bukan sekadar urusan pelanggan.

Ada sesuatu yang jauh lebih gelap tersembunyi di balik dinding-dinding ruko ini.

Dan entah kenapa...

Aku merasa diriku baru saja melangkah masuk ke dalamnya.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!