Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Ruangan di Dalam Cincin
Begitu tetesan darah Riu Han terserap sempurna ke dalam cincin hitam itu, ikatan antara pemilik dan benda pusaka pun terbentuk. Tidak ada rasa sakit atau kejutan yang berlebihan, hanya sebuah getaran halus yang menjalar dari ujung jarinya menuju seluruh tubuhnya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar melampaui dugaan akal sehatnya.
Tiba-tiba, cahaya hitam keemasan yang semula hanya memancar samar, meluas dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh Riu Han. Rasanya seperti terseret ke dalam pusaran angin yang sangat lembut namun tak tertahankan. Sekejap saja, kesadarannya terasa melayang, tetapi yang membuatnya terkejut bukan hanya pikirannya—ia masih bisa merasakan berat tubuhnya, napasnya, dan detak jantungnya yang berdegup normal.
Ketika cahaya itu perlahan memudar, Riu Han membuka matanya perlahan. Napasnya tertahan, dan matanya terbelalak lebar tak percaya. Ia baru menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di ruangan batu di dalam pohon Kayu Keabadian tadi. Ia telah berpindah tempat sepenuhnya, membawa seluruh raganya masuk ke dalam cincin itu sendiri.
Selama ini, dalam semua cerita dan pengetahuan yang ia dengar di klan, sebuah cincin ruangan atau benda penyimpan ruang hanya bisa dimasuki oleh kesadaran pemiliknya saja. Tubuh jasmani tidak mungkin dapat masuk ke dalam ruang yang ukurannya terbatas. Namun kenyataan di hadapannya membuktikan sebaliknya—cincin ini berbeda dari apa pun yang pernah dikenal orang. Ia bukan sekadar wadah untuk menyimpan barang, melainkan sebuah ruang independen yang berdiri sendiri, memiliki hukum alamnya sendiri, dan bahkan membentang seluas sebuah dunia kecil yang tak terlihat batasnya.
Di hadapan matanya terbentang pemandangan yang sangat memukau. Langit di atas berwarna biru jernih yang diselimuti kabut tipis berwarna keemasan, udaranya terasa jauh lebih kental dan segar dibandingkan tempat mana pun di dunia luar. Di kejauhan terlihat perbukitan hijau yang subur, aliran sungai yang airnya berkilauan bagaikan cairan kristal, serta padang rumput yang membentang luas tanpa ujung. Energi alam di tempat ini terasa begitu padat hingga terlihat seperti butiran-butiran cahaya yang melayang-layang di udara.
Saat Riu Han masih tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, sebuah suara yang sudah dikenalnya terdengar tepat di samping telinganya.
“Eh, bocah… kamu adalah anak paling beruntung yang pernah ada di ribuan tahun terakhir. Bisa menemukan dan mengikat warisan ini, sungguh tak disangka-sangka.”
Riu Han terkejut, lalu menoleh dengan cepat. Berdiri tepat di sampingnya adalah sosok seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tahun, berpakaian jubah panjang berwarna hitam dengan hiasan pola awan kuno. Wajahnya terlihat tenang namun memancarkan wibawa yang mendalam, seolah telah hidup selama ribuan tahun. Ini pasti Long Siu, jiwa yang bersemayam di dalam cincin itu.
Melihat sosok nyata di hadapannya, Riu Han baru benar-benar sadar bahwa apa yang ia alami bukanlah mimpi atau khayalan belaka. Ia menelan ludah, lalu membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat, meski rasa bingung dan takjub masih tergambar jelas di wajahnya.
“Jadi… ini benar-benar dunia di dalam cincin itu?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar karena takjub. “Selama ini aku tahu cincin ruangan hanya untuk menyimpan barang, dan tidak bisa dimasuki dengan tubuh. Tapi mengapa aku bisa masuk ke sini secara utuh?”
Long Siu tersenyum tipis, lalu melangkah maju memandangi sekelilingnya seolah mengenang masa lalu. “Itulah bedanya benda biasa dengan pusaka tingkat tertinggi. Cincin ini bernama Cincin Ruang Abadi. Ia diciptakan oleh ahli yang menguasai puncak hukum ruang dan waktu ribuan tahun silam. Tempat ini bukan sekadar ruang tambahan, melainkan dimensi kecil yang telah distabilkan secara sempurna. Ia memiliki matahari, tanah, air, dan aliran energi yang terus berputar layaknya dunia asli. Karena itulah tubuhmu bisa masuk dan tinggal di sini tanpa terganggu.”
Ia berbalik menghadap Riu Han, sorot matanya menjadi lebih tajam namun tetap ramah. “Biasanya, hanya mereka yang memiliki dasar kultivasi yang kuat dan tubuh yang murni yang bisa menemukan tempat ini. Tapi takdir memilihmu—seorang anak yang saluran energinya tersumbat oleh racun. Mungkin justru karena kekuranganmu itulah, jalan yang selama ini tertutup di dunia luar justru terbuka lebar di dalam tempat ini.”
Mendengar penjelasan itu, hati Riu Han berdebar kencang. Ia menatap hamparan tanah subur dan energi yang melimpah di sekelilingnya, lalu kembali menatap Long Siu dengan penuh harapan yang mulai tumbuh.
“Jadi… apakah di sini ada cara untuk mengatasi kondisiku? Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan jalan kultivasi?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa disembunyikan lagi rasa penasarannya.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Long Siu dan mulai memahami sedikit demi sedikit keistimewaan tempat ini, tiba-tiba di tengah udara yang dipenuhi energi murni itu, muncul cahaya lembut yang perlahan membentuk sosok seorang lelaki tua. Ia mengenakan jubah panjang berwarna putih bersih yang terlihat tak pernah ternoda, dengan rambut dan janggut yang memutih seputih kapas, namun sorot matanya tetap jernih dan memancarkan kearifan yang mendalam.
Ya, sosok itu adalah Qin Rue, jiwa asli yang telah ditugaskan sebagai penjaga utama Cincin Ruang Abadi ini selama ribuan tahun lamanya.
Dengan gerakan yang anggun dan penuh rasa hormat, Qin Rue membungkukkan badannya sedikit, lalu menyapa dengan suara yang lembut namun terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan:
“Selamat datang, Tuan. Hamba adalah jiwa tua yang bertugas menjaga tempat ini, Qin Rue.”
Mendengar panggilan itu, Riu Han tertegun sejenak. Wajahnya segera memerah karena merasa canggung, lalu dengan sikap yang sangat polos ia menunjuk dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.
“Siapa? Aku? Tuan? Tidak… tidak, Paman! Jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku sama sekali tidak pantas menyandang gelar semacam itu,” jawabnya tergesa-gesa, nada bicaranya terdengar jujur tanpa ada sedikit pun kepura-puraan.
Melihat sikap polos dan kerendahan hati bocah itu, Qin Rue tidak dapat menahan tawanya. Suara tawanya terdengar hangat dan menenangkan, seperti aliran air sungai yang mengalir perlahan.
“Ha ha ha… Anak muda, jangan merasa ragu. Sejak tetesan darahmu menyatu dengan inti cincin ini dan membentuk ikatan sah, secara hukum warisan dan peraturan yang telah ditetapkan sejak dahulu, kaulah pemilik baru yang berhak sepenuhnya atas tempat ini. Dengan begitu, otomatis kaulah tuan bagi kami semua yang berdiam di sini.”
Namun Riu Han tetap tidak mau menerima sebutan itu. Ia melangkah maju sedikit, menatap wajah lelaki tua itu dengan pandangan tulus, lalu berkata dengan nada yang sangat rendah hati:
“Tapi aku merasa canggung dan tidak nyaman jika dipanggil demikian. Bagaimana kalau kita mengubahnya saja? Izinkan aku memanggilmu Kake Qin, dan anggaplah aku ini cucumu sendiri. Dengan begitu, hubungan kita lebih terasa seperti keluarga, bukan lagi hubungan antara tuan dan bawahan. Bagaimana menurutmu? Apakah Kake Qin bersedia menyetujuinya?”
Mendengar usulan itu, senyum di wajah Qin Rue semakin melebar dan terasa lebih tulus. Matanya sedikit berkaca-kaca, merasa sangat terkesan dan kagum dengan sikap anak yang baru berusia enam tahun ini. Di dunia luar, mereka yang mendapatkan benda pusaka biasanya akan langsung menjadi sombong dan angkuh, namun Riu Han justru menunjukkan kerendahan hati yang jarang ditemukan.
“Baiklah, baiklah… Aku menyetujuinya sepenuhnya. Mulai hari ini, aku adalah Kake Qin, dan kaulah cucu kesayanganku. Tidak ada lagi sebutan tuan atau hamba di antara kita,” jawab Qin Rue dengan suara yang penuh kehangatan.
Sementara itu, Long Siu yang menyaksikan seluruh percakapan itu hanya bisa berdiri mematung dengan mulut sedikit ternganga. Ia tidak menyangka seorang bocah yang dianggapnya lemah dan tidak memiliki bakat itu justru memiliki akhlak dan pemikiran sedemikian rupa. Setelah tersadar dari keterkejutannya, ia pun tertawa lepas sambil menepuk-nepuk bahu Riu Han dengan ramah.
“Kamu ini benar-benar bocah yang aneh, sungguh di luar dugaan! Tapi percayalah, aku sangat menyukai sikapmu ini. Tidak sombong, tidak angkuh, dan tetap rendah hati meski baru saja mendapatkan harta pusaka yang bisa membuat siapa saja gila. Bagus sekali, sangat bagus!”
Tawa dan kehangatan terasa menyelimuti seluruh ruang di dalam dimensi itu. Riu Han yang semula merasa asing dan canggung kini mulai merasa betah, seolah ia telah pulang ke tempat yang seharusnya menjadi rumahnya. Ia menatap Kake Qin dan Long Siu dengan senyum yang lebar, untuk pertama kalinya merasakan kehadiran sosok yang bisa ia anggap sebagai keluarga tambahan di samping ayahnya.
Setelah suasana menjadi lebih tenang, Kake Qin melangkah mendekat dan menatap Riu Han dengan pandangan yang penuh perhatian.
“Nah, cucuku. Sekarang sudah waktunya aku menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhmu, dan bagaimana tempat ini bisa menjadi jalan keluar yang mungkin tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.”
Long Siu terkekeh pelan, lalu mengangguk mantap. “Tunggu saja, bocah. Perjalananmu baru saja dimulai. Tempat ini menyimpan lebih dari sekadar tanah dan air—ia menyimpan ilmu, sumber daya, dan rahasia yang bisa mengubah nasib siapa pun. Tapi semuanya tergantung pada seberapa gigih dan sabarnya dirimu.”
Di tengah hamparan dunia kecil yang luas itu, Riu Han merasa untuk pertama kalinya sejak ia lahir, ada secercah cahaya yang menembus kegelapan nasibnya.
Lanjut Up Thor 💪💪