Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
# Bab 01: Mengaku Menikahkan\, Sebenarnya Menjual
"Bu Pratama, ini putri saya, Sari Wulandari."
Hendra Wijaya tersenyum rendah, nyaris menjilat, kepada perempuan berumur yang tetap tampak anggun dan berwibawa di hadapannya. "Menurut Ibu, dia cocok tidak?"
"Anak saya ini selama ini dibesarkan di desa. Dijamin jujur, penurut, badannya juga kuat. Dia pasti bisa merawat Tuan Arga dengan baik."
Melihat sikap Hendra yang begitu berlebihan, orang yang tidak tahu mungkin mengira dia sedang menawarkan dagangan.
Padahal, kenyataannya memang tidak jauh dari menjual anak.
Seperti yang Hendra katakan, Sari memang dibesarkan di desa. Namun alasannya bukan karena kasih sayang, melainkan karena ia adalah anak dari istri pertama Hendra yang sudah meninggal, anak yang sejak awal dibuang olehnya. Setelah istri pertamanya wafat, Hendra segera menikahi perempuan kedua yang latar keluarganya lebih kuat. Demi menyenangkan keluarga istri barunya, ia mengirim Sari kepada ibunya di desa.
Sari tumbuh bersama neneknya. Setelah sang nenek meninggal, ia tetap tinggal sendirian di desa tanpa ada seorang pun yang peduli.
Kalau bukan karena hari ini Hendra membutuhkan dirinya, pria itu tidak akan pernah mengingat bahwa ia masih punya seorang putri.
Alasan Hendra mencarinya pun sederhana. Ia ingin mendapat keuntungan dari keluarga Pratama, keluarga terpandang di Jakarta, keluarga yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan bisa ia dekati.
Karena itu Hendra sangat takut Bu Pratama, nyonya besar keluarga Pratama, tidak menyukai Sari. Ia hanya bisa terus menjual kelebihan putrinya. Setelah bicara panjang lebar, ia mendorong gadis yang duduk di sebelahnya dengan kasar. "Sari, cepat sapa Bu Pratama!"
Kesempatan ini muncul karena keluarga Pratama, keluarga paling berkuasa di Jakarta, sedang mencari menantu perempuan.
Terdengar menggiurkan, bukan?
Begitu banyak orang ingin menempel pada keluarga Pratama. Bagaimana mungkin kesempatan itu bisa jatuh ke tangan keluarga Wijaya, keluarga bisnis kecil seperti milik Hendra?
Masalahnya justru ada di sini. Keluarga Pratama mencari menantu perempuan untuk merawat putra mereka yang bernasib buruk. Tuan muda keluarga Pratama, yang lahir dengan sendok emas di mulutnya, tanpa sengaja menjadi pasien koma setelah sebuah kecelakaan.
Pasien koma. Putri keluarga terpandang mana yang mau menikahi pria yang nyaris seperti orang mati, hanya bisa berbaring di ranjang dan menunggu dirawat?
Terus terang, keluarga Pratama bukan sedang mencari menantu. Mereka sedang mencari seorang perawat pribadi.
Dan harus seorang perawat yang sehat, kuat, tahan lelah.
Maka Hendra langsung menghitung untung rugi, lalu membawa Sari dari desa.
Dorongan Hendra sama sekali tidak lembut, tetapi tubuh Sari hanya sedikit miring. Ia tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya diam-diam menjauh sedikit dari Hendra, lalu tetap dengan sikap tenang, jujur, dan mudah ditindas, menunduk sopan kepada perempuan bangsawan yang jarang ia temui di desa itu.
"Selamat siang, Bu."
Sari hanya berkata begitu. Tidak ada kalimat manis tambahan.
Hendra tentu tidak puas. Ia masih berharap Sari mengucapkan beberapa kalimat untuk menyentuh hati Bu Pratama. Bagaimanapun, ia takut asal-usul desa Sari membuatnya tidak disukai. Di mata Hendra, Sari agak gelap, terus terang agak miskin dan agak jelek. Yang paling penting, sejak tadi Bu Pratama tidak banyak bicara. Sikapnya dingin, seolah kurang puas.
Bagaimana bisa begitu!
Namun sebelum Hendra sempat memainkan sandiwara lain, suara Bu Pratama yang berwibawa dan mulia sudah terdengar. "Baik. Anda boleh pulang."
Hendra tidak menyangka kalimat pertama Bu Pratama justru mengusirnya. Ia terpana sesaat, tidak mengerti.
Mengusirnya pergi, berarti puas pada Sari atau tidak?
Hendra gelisah. "Kalau putri saya..."
"Dia tinggal."
Bu Pratama tampaknya benar-benar tidak punya kesabaran untuk Hendra. Kalimatnya pendek, dingin, dan jelas. "Cocok atau tidak, harus menunggu setelah pemeriksaan."
"Pengurus rumah, antarkan tamu."
Namun Hendra tidak keberatan. Ia malah berdiri dengan wajah senang dan tahu diri. "Ya, ya. Silakan Ibu memeriksa anak ini sepuasnya. Kalau begitu saya pergi dulu. Permisi, Bu."
Asalkan tidak langsung ditolak, semuanya masih baik.
Sebelum pergi, ia masih sempat memperingatkan Sari, "Ingat, harus jujur dan patuh kepada Bu Pratama, mengerti?"
Sari hanya mengangguk diam. Sikapnya kepada Hendra sangat hambar.
Hendra juga tidak marah. Yang ia butuhkan hanya manfaat yang bisa Sari bawa, bukan hubungan ayah-anak yang merepotkan. Takut membuat Bu Pratama tidak senang, ia tidak berlama-lama dan segera meninggalkan kediaman Pratama. Saat pergi, wajahnya penuh senyum lebar, seolah sepuluh miliar sudah pasti masuk ke genggamannya. Ia sama sekali tidak merasa tindakannya yang nyaris seperti menjual anak itu salah.
Setelah Hendra pergi, Bu Pratama juga tidak berniat banyak bicara dengan Sari. Ia berdiri dan mengangkat dagu memberi isyarat. "Ikut saya."
Sari diam-diam berdiri dan mengikutinya.
Baru kemudian Sari tahu Bu Pratama hendak membawanya menemui putranya.
Tuan muda keluarga Pratama yang kini sudah menjadi pasien koma.
Pria yang mungkin, dalam waktu dekat, akan menjadi suaminya.