NovelToon NovelToon
The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: SweetMoon2025

​"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"

​Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.

​Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.

​Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Ulah Sang Panglima

"Ayah, lepaskan kapak itu! Kita tidak bisa bergerak gegabah sekarang," seru Anna setengah berbisik, menahan lengan Paul.

​Ia hanya duduk termenung menatap surat ancaman bersimbah darah yang kini berada di tangan ayahnya.

​Begitu membaca runtunan kalimat keji dari Guild itu, aura yang keluar dari tubuh Paul mendadak berubah drastis. Amarahnya sebagai seorang mantan Ksatria Grandmaster seketika meledak hebat.

"Para tikus busuk Guild Borjuis itu sudah melewati batas, Anna! Ayah akan mendatangi markas mereka sekarang juga dan mencabut lidah bajingan yang berani mengancam nyawa keluargaku!"

​"Tidak, Ayah! Jika Ayah menyerang secara brutal, mereka justru akan menggunakan hukum keamanan kota untuk menjebak kita," lirih Anna, berusaha menenangkan ayahnya. "Tuan Panglima yang memesan kain kemarin ... jika dia kembali lagi, kita bisa meminta bantuannya secara hukum."

​Paul langsung menoleh, matanya menajam tak setuju. "Tidak, Anna. Panglima militer itu sama saja dengan para Guild. Rumor yang beredar kalau dia sangat kejam, berdarah dingin, dan tidak memiliki sisi kemanusiaan. Kita tidak bisa memercayakan leher kita padanya."

​Mendengar ucapan Paul, batin Anna mendadak bergejolak. Ada penolakan kuat yang muncul dari lubuk hatinya dalam diam.

'Tidak, dia tidak sekejam itu. Pria itu menghabiskan sup ayam buatan Ibu dengan begitu lahap, dia juga berbaik hari memesan lima set dengan harga fantastis dan juga entah apa yang aku rasakan tapi yang jelas dia pria baik,' bisik Anna pada dirinya sendiri.

​"Baiklah, kita pikirkan ini nanti. Berjanjilah pada Ayah untuk tidur dan beristirahat sekarang, Anna. Biarkan Ayah yang mengurus bajingan-bajingan ini besok dengan cara yang rapi," ucap Paul akhirnya, mengalah demi melihat wajah putrinya yang memohon.

​Anna mengangguk samar, namun begitu Paul kembali ke kamarnya, Anna justru menyelinap turun ke gudang bawah tanah tepat di keheningan tengah malam. Ia mengunci pintu rapat-rapat, lalu mengaktifkan permukaan cermin air untuk memanggil Valen, sang agen penghubung Pasar Suci lintas kerajaan.

​"Oh, Nona Ruby! Demi Dewa Perdagangan, kain apa lagi yang kau bawa kali ini?" seru Valen dari balik cermin, matanya membelalak takjub.

​Anna mendorong gulungan kain sutra kelabu yang telah dimurnikan dengan Thread Magic tingkat tinggi ke dalam riakan cermin. "Ini kain dengan sihir proteksi fisik tingkat tinggi yang jauh lebih sempurna dari kemarin, Tuan Valen."

​Jemari Valen gemetar hebat saat menyentuh tekstur kain tersebut melalui medium magis. "Kemurnian Mana ini ... ini sangat langka dan sakral! Sesuai kesepakatan kontrak eksklusif kita, ini pembayaran tunaimu."

​KLANG! KLANG! KLANG!

​Buntalan kain beludru besar berisikan 3.500 koin emas murni didorong keluar dari permukaan cermin, mendarat di lantai gudang. Dengan rutinitas transaksi fantastis berkisar antara 2.000 hingga 5.000 koin emas setiap dua hari sekali, pundi-pundi kekayaan rahasia Anna kini telah meroket tajam. Uang ini sudah lebih dari cukup untuk merenovasi rumah tua mereka, bahkan untuk membeli tanah luas guna membangun rumah tokonya sendiri nanti.

​"Tuan Valen, sebagai bonus kontrak kita, aku butuh informasi," ucap Anna dingin. "Siapa eksekutor lapangan Guild Borjuis yang meneror rumahku dengan panah darah malam ini?"

​"Ok! Tunggu sebentar, Nona." Valen memejamkan mata, menggerakkan jaringan informan tingkat tinggi milik Pasar Suci. Hanya dalam hitungan detik, permukaan cermin memunculkan gulungan perkamen. "Ketemu! Mereka adalah kelompok tentara sewaan tingkat rendah yang dipimpin oleh si kumis tipis dari pengawas Guild. Mereka berencana melakukan sabotase pada rumahmu besok pagi."

​"Terima kasih, Tuan Valen," lirih Anna, menutup koneksi cermin dengan senyum.

​Merasa urusan informasinya selesai, Anna kembali ke kamar lantai duanya. Tubuhnya yang teramat lelah akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang berat. Namun, rasa aman itu tidak bertahan lama.

​Tengah malam buta, seiring dengan berembusnya angin malam yang membawa hawa sedingin es, sesosok bayangan besar melompat senyap melewati jendela kamar Anna.

​Aethan Cassian Solaris berdiri di sana.

​Semalam, di dalam kastilnya, riakan energi dari noda darah merah anggur milik Anna yang menetap dengan jelas di atas seprai sutra putih gadingnya terus berdesir hebat dalam nadi Aethan. Energi darah itu tidak hanya meredakan kutukan hitam di tubuhnya, melainkan juga mengikat jiwanya dalam kegelisahan yang asing. Jiwanya menolak untuk tenang jika belum memastikan keadaan gadis itu. Didorong rasa posesif yang kian mengikat erat akal sehatnya, sang Panglima memutuskan kembali menyelinap ke rumah Anna.

​Langkah kaki Aethan terhenti di dekat meja kayu kamar Anna. Matanya yang sewarna perak tajam menangkap selembar kertas yang disimpan Anna yaitu surat ancaman dari Guild Borjuis.

Sepasang mata perak Aethan berkilat bagai badai salju utara yang siap melumat habis seisi bumi. Dengan satu sentuhan yang mendominasi tanpa celah, tangan besar Aethan menarik pinggang ramping Anna, memangkas habis jarak di antara mereka hingga detak jantung sang Panglima berdetak cepat.

Anna hendak berteriak tapi gagal karena mulutnya di bekap, "Ini aku, Panglima-mu."

"A-anda. Ada apa anda kemari?" takut Anna tersentak bangun.

​"Ada tikus-tikus Guild yang berani mengancam nyawamu di wilayahku, bukan?" geram Aethan tepat di depan wajah Anna, membuat gadis yang baru saja terlelap itu terbelalak kaget. "Jangan kotori tanganmu dengan darah kecoak. Biarkan pedangku yang mencabik-cabik mereka hingga tak bersisa."

​Anna terengah, mata peraknya melebar menatap wajah Aethan yang begitu dekat dan dipenuhi kabut kemarahan. "T-Tuan... apa yang Anda—"

​Sebelum Anna sempat menyelesaikan kalimatnya, Aethan menunduk. Sebagai penanda atas perlindungan rahasia dan klaim kepemilikan yang telah ia sematkan pada sang gadis, Aethan mengecup kening Anna dengan sapuan yang lama dan sangat posesif.

Sentuhan berani itu meninggalkan desiran panas yang membakar seluruh kesadaran Anna, membuatnya terpaku tak berdaya dalam dekapan Aethan dan perlahan melepaskannya, kemudian menghilang melompati jendela secepat badai.

​Keesokan paginya, batas waktu dari Guild akhirnya tiba.

​Anna baru saja terbangun dengan kepala yang masih pening karena kurang tidur dan ulah Panglima. Tiba-tiba suara teriakan Paul menggema dari arah bawah. "Anna! Keluar sekarang, Nak! Kau harus melihat ini!"

​Dengan rasa cemas yang membubung, Anna bergegas turun dan membuka pintu kamar dan turun. Begitu menginjakkan kaki di teras kayu, mata perak Anna seketika membelalak kaget karena pemandangan yang tidak masuk akal di depannya.

​Di atas tanah halaman rumah sederhana mereka, belasan tentara bayaran elit Guild Borjuis, termasuk sang pengawas berkumis tipis yang kemarin begitu congkak, kini sudah bersimpuh tak berdaya. Pakaian mereka compang-camping dengan tubuh penuh dengan luka memar, dan wajah mereka pucat pasi menatap tanah dengan tubuh bergetar ketakutan.

​Paul berdiri di depan mereka menatap pemandangan aneh itu dengan kernyitan bingung.

​Sementara Anna, sembari meraba keningnya yang masih terasa hangat akibat kecupan semalam, hanya bisa membatin dengan jantung yang berdegup kencang. Pria itu ... dia benar-benar menepati janjinya saat fajar tiba.

1
Anne Soraya
lanjut
Razi Maulidi
awal bab yang indah kk.... ceritanya bikin sedih di awalnya.... semangat....
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih kak 🫶🤗
total 1 replies
WidBy
Lanjut kak 🤭
Mutiara
Kok belum up lagi?
Mutiara
5 bab Thor? keren bnget. besok 5 bab LG kan? 🤭
WidBy
lanjut thor
한스 HANSEN (HiAtus SEmeNtara)
aku hadir mom!
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Yes, dear. Thankyouuu 🫶🫶🫶
total 1 replies
Vhin Ananta
Sweet yang nggak Sweet karena bikkn mewek 🫣..
lanjut yaaaaa
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih Kak Vhin 😘😘😘
total 1 replies
Mutiara
makin seru ni. keren la pokknya. jadi cermin itu apa y?
WidBy
Aetan mulai tertarik ke Ana ya? 🤭
Cutiepie18
Di bab awal udah sedih banget ya, di tambah di akhir makin kena fitnah, pasti ini cewek kuat banget ngadepin semua itu, dan pas waktu perkataan itu, gue penasaran, siapasih tunangan yang di rebut itu. emgnya dia pantas direbutkan?... lanjuuut...😍
Cutiepie18: sama2 kakak, 😍😍😍... keren bgt novel novel kakk👍
total 2 replies
Mutiara
Aku mau saputangana 😍
Mutiara
wih paman Paul keren banget Weh. ternyata ya ternyata 👍🤭
WidBy
rumah siapa y? ayo bangkit An, tunjukkan k keluarga Virelle
Asley Naynay
makin penasarn rumah siapa yg di tempati? semoga aja mary sm paul g jahat
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Rumah siapa ya hmmm ikuti terus ya, Kak 😆🫶
total 1 replies
Asley Naynay
Nyonya Rosa 😭🫶🏼 bikn trharu
Asley Naynay
siapa yang sangka ternyata Paman Paul 😱👍💪
Mutiara
sialan. apes banget jadi Analin. lawan ayo lawan
Mutiara
anjg di usir. pdhl anak kandung. woilah
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Sabar, Kak sabar 😆🫶
total 1 replies
Mutiara
bab satunya seru. kasian banget analin y. jahat keluarganya
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Iya ya, Kak 🥲 baca terus bab seru lainnya ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!