NovelToon NovelToon
Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma Kirana

proses perbaikan Puebi (Typo)
"Buang saja penyesalanmu Mas, aku sudah lelah dengan omong kosongmu!"

Haura Yameena Arandita dan Bramasta Wiratama menikah karena perjodohan kedua orang tua. Meski begitu Ara telah jatuh cinta pandangan pertama kepada Bram. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, sampai Bram berubah karena hadirnya orang ketiga. Bram menyakiti Ara secara fisik dan mental, bahkan ketika Ara sedang hamil anaknya, ia tak peduli. Hingga Ara lelah bertahan dan memutuskan menyerah, ketika pria itu berkali-kali mencoba membunuh bayinya dan akhirnya ia kehilangan bayinya.

Disaat Ara mulai menyerah, Bram menawarkan kembali cinta berbalut penyesalan dan ia sadar bahwa dia mencintai istrinya.

Akankah Ara memaafkan Bram? Ataukah Ara tetap mantap dengan perpisahan?

Novel berbawang ⚔️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Mencoba sekali lagi

...🍁🍁🍁...

Begitu mendapatkan telpon dari kekasihnya, Bram langsung pergi meninggalkan rumah sakit tanpa pamitan pada siapapun juga terutama kepada Ara yang berstatus sebagai istrinya.

Ara benar-benar istri yang terabaikan. Bram tidak peduli padanya, meski wanita itu sedang hamil. Bram malah menyesal pernah menyentuhnya disaat kesepian dan dia malah mengkhianati cintanya dari Giselle. Padahal 3 bulan ini Giselle tak punya kekasih selain dirinya dan hanya fokus dalam karir modelingnya.

Bram merasa bersalah pada Giselle, padahal tadinya kalau ia tak dijodohkan Ara maka ia akan menikahi Giselle. Tapi Giselle pergi dan dalam keadaan pikiran tak stabil, Bram menerima perjodohan dari kakeknya karena sebagian dari rasa sakit hatinya juga. Tapi sekarang Bram sadar, bahwa dia akan memperjuangkan cintanya pada Giselle dan bercerai dengan Ara secepatnya, ia tak peduli dengan bayi yang dikandung Ara. Bayi itu seharusnya tak pernah ada karena Bram tidak pernah menginginkannya.

Sementara Bram pergi ke rumah orang tua Giselle, Ara baru saja selesai melaksanakan shalat dhuhur. Ia merentangkan kedua tangannya seraya bersedekap dan berdoa. Mengadukan segala keluh kesahnya pada yang kuasa.

"Ya Allah, apa aku harus memberikan kesempatan pada hubungan ini satu kali lagi? Apakah hati mas Bram bisa jatuh kepadaku? Apakah harus aku bertahan di dalam pernikahan ini?"

Hatinya mantap ingin berpisah dengan Bram, tapi dia banyak menimbang lagi. Dia tengah hamil saat ini dan Aryan juga sedang sakit. Sungguh Ara bimbang, ia juga ingin bahagia, ia ingin bebas. Tapi keadaan seakan tak mendukungnya.

Dalam shalatnya, dalam doanya ia mendapatkan sebuah keputusan. Ia akan mencoba untuk mempertahankan hubungan ini sekali lagi, hanya sekali lagi saja. Jika suaminya tidak bisa luluh sampai ia melahirkan bayinya, atau jika suaminya mencoba membunuh bayinya lagi. Maka tidak ada maaf untuk Bram. Perlu ditekankan lagi, bahwa saat ini ia bertahan karena keadaan dan jawaban dari kegundahannya lewat doa.

"Bismillah ya Allah, akan kuberikan hubungan ini kesempatan sekali lagi. Jika mas Bram tidak berubah, maka aku benar-benar akan---" Ara menggantung ucapannya disana.

Setelah selesai shalat dari mushala, Ara kembali ke ruangan Aryan. Namun sebelum itu ia meminjam telpon rumah sakit untuk menghubungi Ratih bahwa ia ada di rumah sakit karena Aryan berada di rumah sakit. Ratih lega karena Ara memberikan kabar padanya.

Tapi wanita itu berpesan pada Ara untuk segera pulang karena ia tak mau Ara sakit hati berada di tengah-tengah keluarga Bram.

"Ra, kamu pulang ya nak. Ibu gak mau kamu sakit hati,"

"Bu, aku akan mencoba memberikan kesempatan satu kali lagi." Ara menghembuskan nafas panjang.

"Apa maksudmu?" tanya Ratih yang terdengar tak senang dengan keputusan Ara.

"Bu, aku tidak bisa egois...aku akan segera jadi seorang ibu dan juga keadaan opa. Pokoknya aku akan mencoba kesempatan untuk sabar dan memperbaiki hubungan kami!"

"Ara, apa yang coba kamu perbaiki nak? Kapal rumah tanggamu sudah karam oleh orang ketiga nak! Kalaupun kamu bertahan, kamu hanya akan terombang-ambing." tegur Ratih yang tidak rela Ara bertahan hanya untuk disakiti.

"Aku tau Bu, aku hanya mencoba untuk mengambil kesempatan Bu! Setiap orang punya kesempatan Bu, aku akan memberikannya pada hubungan kami."

"Baiklah, terserah kamu saja nak! Tapi jika kamu ingin pulang dan kamu tidak bisa bertahan. Datanglah kemari nak, ibu akan selalu ada untuk kamu," Ratih mendesah pasrah dengan keputusan Ara.

"Makasih Bu, kalau gitu Ara temui dulu opa ya Bu." kata Ara berpamitan.

"Iya nak, jaga hati kamu dan jaga bayi kamu nak! Ibu memiliki firasat tidak enak tentang mereka."

"Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa Bu, bismillah." ucap Ara. "Assalamualaikum,"

"Waalaikumsalam." balas Ratih dengan suara lesu.

Kemudian sambungan telpon itu pun terputus. Ara mendesah panjang, sembari mengusap dada dan berharap semoga keputusannya ini benar. Ara melihat gelang berwarna merah yang selalu dipakainya, gelang peninggalan kedua orang tuanya. Gelang kesayangannya.

"Ibu...ayah, kuatkan Ara." gumam Ara sambil mencium gelang itu dengan penuh kasih sayang.

****

Rumah orang tua Giselle yang berlokasi di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan. Kini Bram berada disana dan bertemu dengan semua keluarga Giselle, yang terdiri dari kakak laki-laki, ibu dan ayah.

"Jadi kapan kamu akan menikahi anak saya?"tanya seorang pria dengan wajah dinginnya. Dia adalah Bryce Gallan papa Giselle.

"Sa-saya..." Bram tampak gugup, jujur ia belum bisa memberikan jawaban pasti karena opanya melarang ia menikah lagi sebelum Giselle dan Ara melahirkan.

"Jawab pertanyaan papaku, Bram!" sentak Sean, kakak dari Giselle yang amat menyayangi adiknya itu. Dia adalah seorang jaksa muda dan memiliki karir cemerlang.

Artinya Giselle juga berasal dari keluarga terhormat.

"Maafkan saya Om, Tante, Sean, saya belum bisa memberikan jawaban yang pastinya kapan saya akan menikahi Giselle.Tapi pasti saya akan bertanggungjawab terhadap Giselle dan anak kami, namun untuk saat ini saya masih memiliki istri." jelas Bram sambil menetralkan dadanya yang naik turun.

"Lalu kenapa kamu tidak segera menceraikan istrimu? Oh...atau kamu berniat menjadikan adikku orang ketiga?" Sean menatap tajam pada Bram, dia tidak mau bila adik kesayangannya menjadi istri kedua alias orang ketiga.

"Sean, posisiku sulit karena Ara juga..."

"Istri Bram sedang hamil, ma, pa, kak." sambung Giselle memperjelas semuanya dan membuat semua anggota keluarganya kaget.

"Astaga...." Anna mendesah sambil memegang kepalanya. Ia merasa posisi Giselle sangatlah sulit karena Bram masih memiliki istri. Sementara Giselle hanya bisa menangis di pelukan mamanya itu.

"Saya tidak mau tau, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan anak saya! TITIK!" Bryce membentak Bram dan seolah keputusannya mutlak.

"Saya akan bertanggungjawab om, saya akan bicara pada opa saya tentang ini." hanya itu yang bisa Bram ucapkan saat ini.

Aku harus membujuk opa lagi, aku harus segera bercerai dari Ara. Kasihan Giselle.

"Putriku harus menjadi satu-satunya, camkan itu BRAM!" tunjuk Bryce pada pria yang duduk di hadapannya itu.

"I-iya om."

Setelah itu Bram pergi dari rumah Giselle dan masalah belum selesai. Rasanya kepala Bram mau pecah, kalau saja Ara tidak hamil maka masalah tidak akan sesulit ini, pikir Bram dalam hatinya.

Di dalam kamar pasangan suami istri Bryce dan Anna, terlihat Anna tengah memandangi foto seorang bayi mungil dengan gelang berwarna merah dengan mutiara berbentuk hati disana. Anna menangisi foto itu.

"Sayang, sudah 20 tahun...apa kau akan terus seperti ini? Kita bahkan sudah punya Giselle sebagai putri kita," Bryce memeluk istrinya, lalu mengusap air matanya dengan tangan lembutnya. Istrinya selalu seperti ini, setiap hari ia selalu merindukan sosok anak mereka yang hilang 20 tahun yang lalu.

"Aku yakin bahwa putri kita masih hidup, aku yakin Bryce." kata Anna yakin.

"Anna..." lirih Bryce sambil memeluk istrinya dengan erat. Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian 20 tahun yang lalu, dimana putri mereka menghilang.

...****...

1
💟노르 아스마💟
keren
💟노르 아스마💟
beralhir jdi obsesi ya bram
💟노르 아스마💟
M I M P I...!!!!
Mak Nab
knp la watak perempuan ni bodoh sgt
Siti Nur Janah
ayo mama Anna maju bela anakmu
Siti Nur Janah
Sean Ama dokter Tania aj
Komang Diani
Luar biasa
Faza Zahiduzzaka
peran wanitanya lemah..menye2..tdk tegas dikit2 nangi..gak suka
Nurul
ara tolol
Rodiah Rodiah
lanjut💪💪💪💪💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah lu dulu juga janda kan cong tp nikah lagi sama suami baru, gimana sih ni emak2 satu aneh bin ajaib bgt 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk kenapa ya kalo di panggil mas kayaknya reflek pengen jawab "iya sayang" 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
dasar gelo
Siti Zuriah
gaskeun aku cari thor
Irma Kirana: Ayo kakak mampir/Drool/
total 1 replies
Dewi Nurani
si ara mah emang bodoh akut
Dewi Nurani
berlebihan , di luar nalar
Ma Em
Tapi aku ga suka Bryce terlalu kejam sama Ara yg mengakibatkan Ara keguguran harusnya Ara jgn Terima dulu keluarga Bryce Ana biar dia jg merasakan sakit seperti yg Ara rasakan
Npy: tapi ada hikmah dgn Ara keguguran kak., Ara jd bisa cerai dr laki modelan sprt Bram gitu,,gak ada manis2nya
total 1 replies
Ma Em
Mana bisa Bram kamu balikan sama Ara sedangkan kamu sdh menalak dia talak tiga lg ya ga bisa tapi sukur deh akhirnya karmanya Bram Terima jg dgn cepat selamat menyesal sampai mati Bram
Ma Em
Bryce memang kejam masa sama perempuan sampai dia siksa meskipun itu bkn putrinya apalagi sekarang setelah Bryce mengetahui Ara putrinya semoga dia akan menyesal seumur hidupnya
Ma Em
Lagian Ara ngapain kamu ikut sama Giselle Ara jangan bodoh kamu jd orang kamu terlalu merendahkan hargadiri kamu sendiri sdh dihina msh saja mau maunya krm pesan sama si Bram
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!