Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Empat Hari yang Panjang
Udara pagi yang dingin menusuk tulang. Viona sudah mencoba berdiri untuk ketiga kalinya, namun kakinya masih seperti kapas. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing, dan luka di pinggangnya berdenyut hebat setiap kali ia menarik napas. Ia memegang tepi ranjang kayu, berusaha menahan diri agar tidak jatuh. Di depannya, Derek sedang sibuk membungkus beberapa potong roti kering dan daging asap ke dalam kain.
"Aku sudah bilang, jangan memaksakan diri," ucap Derek tanpa menoleh. Suaranya tenang, tetapi ada nada tegas di dalamnya. "Kau baru saja selamat dari sungai sedingin es dengan luka terbuka. Dalam kondisi seperti ini, kau tidak akan bisa berjalan lebih dari satu mil sebelum pingsan lagi."
"Aku tidak bisa hanya diam di sini," desah Viona dengan napas tersenggal. "Semakin lama aku di sini, semakin jauh jarak antara aku dan Kerajaan Timur. Musuhku mungkin sudah mencari aku ke mana-mana. Bagaimana jika mereka menemukan kabin ini?"
Derek akhirnya berbalik. Matanya yang abu-abu menatap lurus ke arah Viona. "Jika mereka menemukan kabin ini, kau akan mati sebelum sempat menarik pedang. Karena itu, kau akan tetap di sini sampai tubuhmu benar-benar pulih."
"Berapa lama?" tanya Viona, suaranya hampir bergetar.
Derek meletakkan perbekalannya di atas meja kayu. Ia berjalan mendekat, lalu menarik kursi kayu dan duduk di hadapan Viona. "Setidaknya tiga atau empat hari lagi. Lukamu masih basah dan bisa terinfeksi. Dan kau kehilangan darah terlalu banyak—mungkin butuh waktu seminggu penuh sebelum kau benar-benar bisa menunggang kuda tanpa jatuh."
Viona mengerutkan kening. "Seminggu? Itu terlalu lama."
"Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mempercepatnya." Derek menghela napas panjang. Ia terlihat lelah—mungkin karena begadang menjaganya semalaman. "Kau adalah putri kerajaan. Kau pasti terbiasa dengan pelayan dan tabib yang siap sedia. Di sini, aku hanya punya ramuan hutan dan kain perban. Prosesnya tidak akan secepat di istana."
Viona menggigit bibirnya. Ia ingin membantah, tetapi kenyataan bahwa ia bahkan tidak bisa berdiri sendiri sudah cukup untuk membungkamnya. "Baiklah," bisiknya akhirnya. "Tapi aku tidak mau hanya berbaring sepanjang hari. Aku bosan. Setidaknya ajari aku sesuatu."
Derek menatapnya heran. "Ajari apa?"
"Memanah. Atau menggunakan pisau." Viona menatap pisau berburu yang tergantung di sabuk Derek. "Jika aku harus bepergian melewati hutan ini, aku harus bisa melindungi diri sendiri."
Derek terdiam beberapa saat. Lalu, ia mengangguk pelan. "Baik. Tapi hanya latihan ringan. Kau masih dalam masa pemulihan."
---
Hari pertama berlalu dengan lambat. Viona hanya bisa berbaring, sesekali bangun untuk minum sup yang disediakan Derek. Ia tidak bisa melakukan banyak hal. Tangan kirinya masih terbalut perban tebal, dan setiap kali ia menggerakkan badan, luka di pinggangnya terasa tertarik.
Sore harinya, Derek duduk di dekat perapian sambil membaca sebuah buku tua. Viona memperhatikannya dari kejauhan. Terlihat jelas bahwa pria ini bukan sembarang pemburu. Cara ia duduk tegak, cara ia memegang buku dengan jari-jari yang halus, dan cara ia memilih kata-kata saat berbicara—semuanya terkesan seperti seseorang yang terbiasa dengan kehidupan yang lebih tinggi dari sekadar kabin kayu di hutan.
"Kau pernah hidup di istana?" tanya Viona tiba-tiba.
Derek tidak mengangkat kepalanya. "Tidak."
"Tapi kau membaca. Kau berbicara dengan sangat rapi. Pemburu biasa biasanya tidak pandai merangkai kata seperti itu."
Derek diam sebentar. Lalu ia menutup bukunya dan menatap Viona. "Kau terlalu banyak bertanya, Putri. Istirahatlah. Besok kau akan mulai latihan, tetapi hanya jika kau cukup kuat."
Viona menghela napas. Ia tahu Derek sengaja menghindari pertanyaannya. Namun, ia tidak punya tenaga untuk memaksa. Ia menutup matanya dan mendengarkan suara kayu yang terbakar di perapian. Dalam beberapa menit, ia pun tertidur.
---
Hari kedua dimulai dengan sinar matahari yang temaram. Viona terbangun, dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih segar. Kepalanya tidak lagi pusing, dan rasa lemas di kakinya mulai berkurang.
Derek sudah berada di luar kabin. Ketika Viona keluar dengan langkah pelan, ia melihat Derek sedang mengasah sebilah anak panah di atas batu besar. Angin dingin bertiup, dan rambut Derek sedikit bergoyang.
"Kau sudah bisa berdiri," ucap Derek tanpa menoleh.
"Sepertinya begitu." Viona berjalan mendekat. Jaraknya hanya beberapa langkah, tetapi napasnya sudah mulai tersengal. "Kau bilang akan mengajariku memanah."
Derek berdiri, mengambil busur kayu yang bersandar di pohon. "Kau masih lemah. Tapi setidaknya aku bisa menunjukkan cara memegang busur yang benar. Tangkap ini."
Derek melempar busur itu dengan ringan. Viona menangkapnya dengan kedua tangan, tetapi beratnya membuat tangannya bergetar. Ia harus menahan napas agar tidak menjatuhkannya.
"Busur ini berat," keluh Viona.
"Busur perang tidak dibuat untuk gadis istana." Derek mendekat, berdiri di belakang Viona. "Kau harus menyeimbangkan kaki kiri dan kanan. Jangan tegang. Biarkan otot bahu yang bekerja, bukan pergelangan tangan."
Tubuh Derek begitu dekat. Aroma kayu dan asap rokok tembakau tercium samar. Viona merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Aku hanya sedang belajar memanah, bisiknya dalam hati. Jangan berpikir macam-macam.
Derek tidak menyadari perubahan emosi Viona. Ia terus menjelaskan cara menarik tali busur, cara membidik, dan cara melepas panah dengan tepat. Selama satu jam, Viona hanya berlatih memegang busur tanpa benar-benar melepas anak panah. Lengannya sudah terasa pegal, tetapi ia tidak mengeluh.
"Selesai untuk hari ini," ucap Derek akhirnya. "Kau sudah cukup baik untuk pemula."
Viona menurunkan busurnya, dan tiba-tiba, rasa pusing menyerang lagi. Dunia di matanya berputar. Derek dengan sigap menangkap lengannya saat Viona hampir jatuh.
"Aku bilang jangan memaksakan diri." Suara Derek terdengar agak kesal, tetapi tangannya sangat hati-hati saat menuntun Viona kembali ke kabin. "Istirahat. Kau belum pulih."
Viona mengangguk patuh. Ia benar-benar merasa lelah. Derek membantunya berbaring, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal.
"Makan daging dan roti ini," kata Derek, meletakkan sepiring kecil di sampingnya. "Besok kau harus makan lebih banyak. Tubuhmu butuh protein untuk memperbaiki jaringan yang rusak."
"Terima kasih, Derek." Viona menatapnya. "Sungguh."
Derek hanya mengangguk tanpa menjawab, lalu keluar kabin lagi. Viona memandang punggungnya dari balik jendela. Pria itu begitu kuat, tetapi ada luka yang ia sembunyikan. Viona penasaran, tetapi ia tahu ia belum berhak bertanya.
---
Hari ketiga datang dengan cuaca yang lebih cerah. Viona sudah bisa berjalan tanpa dipegangi, meskipun masih pelan. Pagi itu, Derek mengajarkannya cara melempar pisau.
Latihan berlangsung di sebuah lapangan kecil di belakang kabin. Derek menancapkan sebuah batang pohon mati sebagai target. Lalu ia memberikan sebilah pisau kecil dengan gagang berbalut kulit kepada Viona.
"Pegang gagangnya erat, tetapi tidak kaku. Fokus pada titik target. Tarik tangan ke belakang, lalu lempar dengan pergelangan yang lurus."
Viona mengikuti instruksinya. Lemparan pertama melenceng jauh ke kiri. Pisau itu menancap di batang pohon di dekat target, tetapi tidak tepat sasaran.
"Kurang kuat," komentar Derek. "Coba lagi."
Lemparan kedua dan ketiga masih melenceng. Namun, pada lemparan keenam, pisau itu akhirnya menancap tepat di target. Mata Viona membelalak senang.
"Aku berhasil!"
Derek tersenyum tipis. "Kau pembelajar yang cepat. Tapi jangan bangga dulu. Di hutan, musuhmu tidak akan diam saja sambil menunggu kau membidik. Tapi ini cukup untuk pemula."
Sore harinya, Derek memasak daging kelinci hasil buruannya di atas api unggun. Untuk pertama kalinya, mereka makan bersama di luar kabin. Langit mulai berwarna oranye, dan matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan.
"Kau selalu tinggal sendirian di sini?" tanya Viona.
"Terkadang ada pejalan kaki yang tersesat, seperti kau. Tapi mereka biasanya hanya lewat." Derek menggigit sepotong daging. "Aku sudah biasa sendiri."
"Tidak ada keluarga? Teman?"
Derek diam. Matanya menatap api unggun. "Aku tidak ingin bicara soal itu."
Viona mengerti. Ia tidak memaksa lagi. "Baiklah. Tapi terima kasih kau tidak membiarkanku mati di sungai."
Derek memandangnya sebentar. "Tugas seorang pria adalah melindungi mereka yang tak bisa melindungi dirinya sendiri. Itu saja."
Viona tersenyum. "Kau pria yang aneh, Derek Henrick."
"Aneh atau tidak, aku yang akan mengantarmu ke Kerajaan Timur." Derek melempar tulang kelinci ke dalam api. "Tapi kau harus benar-benar sehat dulu. Masih ada hari keempat."
---
Hari keempat akhirnya tiba. Viona bangun pagi-pagi, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tubuhnya kembali normal. Tidak ada pusing, tidak ada lemas. Luka di lengannya sudah mengering, dan luka di pinggangnya tinggal gatal-gatal yang menandakan penyembuhan.
Ia keluar kabin dan menemukan Derek sudah merapikan pelana dua ekor kuda. Ada kantong-kantong kulit yang sudah diisi perbekalan, dan sebuah peta terlipat di pelana depan.
"Kau sudah siap," ucap Viona.
Derek menatapnya dari atas kepala sampai kaki. "Kau terlihat lebih sehat dibandingkan empat hari lalu. Tapi kau yakin? Perjalanan ini berat. Kita harus melewati tiga puncak pegunungan."
"Kalau aku menunggu sampai aku benar-benar pulih, mungkin butuh satu bulan lagi." Viona mengambil kantong perbekalan dan meletakkannya di atas kudanya. "Aku tidak punya waktu lagi, Derek. Aku harus pergi sekarang."
Derek mengangguk. "Baik. Naiklah."
Viona memasang kaki di sanggurdi, lalu menaiki kuda itu dengan gerakan yang masih kaku, tetapi ia tidak jatuh. Derek menarik tali kekang kudanya, dan perlahan mereka mulai melangkah meninggalkan kabin kayu itu.
Di belakang mereka, kabin kecil itu perlahan menghilang ditelan kabut pagi. Viona menoleh sekilas. Selama empat hari ia di sana, ia tidak hanya pulih secara fisik. Ada sesuatu yang tumbuh di hatinya—sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan.
Dan saat ia menatap punggung Derek di depan, ia tahu bahwa dua minggu perjalanan ini tidak akan hanya menjadi perjalanan fisik semata.