"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 #Tak sengaja menggoda
Kalimat blak-blakan Bara yang mengungkit kejadian di toilet dan klab malam itu sempat membuat kerja otak Anya berhenti selama beberapa detik. Namun, Anya menolak untuk terus-menerus menjadi pihak yang terpojok dan ketakutan. Dia adalah seorang Zevanya Anneliza, gadis yang terkenal cerdas dan penuh percaya diri di kampusnya. Dia tidak boleh membiarkan pria berumur tiga puluh lima tahun ini mendominasi seluruh kewarasannya.
Anya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sifat aktingnya yang tersisa. Dia memaksakan tubuhnya untuk rileks, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, lalu mengubah ekspresi tegangnya menjadi sebuah tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
"Astaga, Om..." Anya tertawa renyah, meskipun tangannya yang berada di bawah meja saling meremas satu sama lain untuk menutupi kegugupan. "Ciuman begitu mah hal yang sangat biasa kali bagi anak muda zaman sekarang sepertiku. Itu cuma hiburan ringan di klab malam, tidak ada artinya sama sekali."
Anya menaikkan satu alisnya, menatap Bara dengan pandangan mengejek yang sengaja dibuat-buat. "Oh... atau jangan-jangan, ciuman itu baru pertama kali ya buat Om? Ya ampun, kasihan sekali sih kalau pria matang sesukses Om Bara ternyata sekuno dan sekaku itu dalam urusan begitu."
Anya berbohong besar. Faktanya, ciuman panas di bawah cengkeraman Bara di klab malam Heaven seminggu lalu adalah ciuman pertama dalam hidupnya. Jangankan berciuman panas, berpacaran serius saja Anya belum pernah karena standar proteksi dari papanya yang terlalu ketat. Namun, Anya sengaja membangun tameng kebohongan ini. Dia ingin membuat Bara berpikir bahwa dirinya adalah gadis liar yang sulit diatur, tidak menarik untuk dijadikan mainan, dan berharap pria itu akan merasa jijik lalu kehilangan minat padanya. Anya ingin melarikan diri dari jebakan ini dengan cara membuat dirinya terlihat tidak berharga di mata seorang pria Fernandez yang terhormat.
Namun, Anya melupakan satu hal penting, Bara Fernandez bukanlah pria amatir yang mudah digertak oleh bualan seorang gadis berusia dua puluh satu tahun.
Bukannya marah, tersinggung, atau menjauhkan tubuhnya karena mengira Anya adalah gadis murahan, Bara justru menghentikan gerakannya. Pria itu menatap Anya lekat-lekat, lalu seulas senyuman misterius yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya yang kokoh. Sepasang mata elangnya berkilat cerah, memancarkan binar ketertarikan yang justru semakin pekat dan berbahaya. Bara bisa membaca dinamika kebohongan dari bola mata Anya yang bergerak sedikit gelisah.
"Oh, jadi bagi anak muda sepertimu, hal itu sudah biasa?" tanya Bara, suaranya berupa bisikan bariton yang sangat rendah, merayap masuk ke dalam indra pendengaran Anya bagai melodi yang memabukkan.
Bara mencondongkan tubuh tegapnya lebih maju, memangkas habis sisa jarak di antara mereka hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Anya. "Kalau begitu, itu artinya kita bisa melakukannya lagi sekarang, kan? Karena bagimu itu tidak berarti apa-apa."
Anya tersedak ludahnya sendiri. "H-hah?!"
"Dan soal aku yang kamu sebut kuno..." Bara menjeda kalimatnya, tangannya bergerak lambat, menyusuri sisi lengan kursi Anya, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. "Mungkin itu tanda bahwa aku perlu mengajarimu sesuatu yang baru, Zevanya. Sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih panas, dan jauh lebih membekas daripada sekadar menyatukan dua belah bibir. Bagaimana? Kamu mau merasakannya sekarang?"
Anya merasakan seluruh permukaan kulitnya meremang hebat. Kamar makan yang luas dan ber-AC dingin itu mendadak terasa berganti menjadi oven raksasa yang membakar tubuhnya. Tatapan mata Bara yang begitu intens dan sarat akan gairah posesif pria dewasa membuat tameng kebohongan Anya runtuh berkeping-keping. Sial! Niat hati ingin menjebak dan membuat pria itu tidak suka, Anya justru masuk ke dalam perangkap yang dia gali sendiri. Jiwa singa jantan di dalam diri Bara justru tertantang oleh bualan konyolnya.
Tubuh Anya bergetar hebat karena kombinasi antara panik, gugup, dan sensasi asing yang menggelitik perutnya. Dalam kondisi otak yang korsleting dan tangan yang gemetar, Anya mundur sedikit refleks meraih gelas berisi iced taro latte di dekatnya, berniat meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
Namun, karena gerakannya yang terlalu terburu-buru dan tidak stabil...
Prang!
"Ah!" Anya memekik panik.
Gelas kaca tebal itu tergelincir dari genggaman jemari lentik Anya. Cairan ungu pekat yang dingin beserta bongkahan es batu di dalamnya tumpah ruah, meluncur bebas dari tepi meja dan langsung mengenai tepat di bagian dada hingga perut kemeja hitam yang sedang dikenakan oleh Bara.
Kemeja sutra hitam mahal milik sang taipan kini tampak basah kuyup, kotor oleh noda susu ungu, dan beberapa bongkah es batu tersangkut di lipatan kain bagian perutnya.
Suasana di meja makan seketika membeku. Anya melotot sempurna dengan mulut terbuka kecil, menatap hasil kecerobohannya yang sangat fatal.
"Ma-maaf! Om, aku beneran nggak sengaja!" seru Anya panik setengah mati.
Karena rasa bersalah yang teramat sangat dan kepanikan yang menguasai logikanya, Anya refleks bergerak maju. Tanpa berpikir panjang tentang batasan atau jarak aman, kedua telapak tangan kosong Anya langsung mendarat dan menyentuh bagian kain kemeja yang basah kuyup tepat di atas dada bidang Bara. Anya menggunakan telapak tangannya untuk mengusap dan mencoba membersihkan cairan ungu itu dari sana, berharap bisa meminimalisir noda yang menempel.
Namun, tindakan refleks itu justru menjadi kesalahan terbesar berikutnya bagi Anya.
Begitu telapak tangannya menempel di sana, Anya baru menyadari betapa tipisnya kain kemeja sutra yang basah itu. Di balik telapak tangannya, Anya bisa merasakan dengan sangat jelas tekstur dada bidang Bara yang luar biasa kokoh, keras, dan berotot bagai pahatan marmer. Kulit dada pria itu terasa sangat hangat, kontras dengan cairan es taro yang dingin. Ditambah lagi, detak jantung Bara yang berdegup dengan ritme yang kuat dan konstan seolah berdenyut langsung di bawah telapak tangan Anya.
Anya tertegun, tangannya yang sedang mengusap mendadak berhenti bergerak, namun posisinya masih tetap menempel melekat di dada bidang pria itu. Dia mendongak, dan detik itu juga, matanya langsung bertabrakan dengan sepasang mata elang Bara yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat gelap, dalam, dan dipenuhi oleh intensitas gairah yang menuntut penyerahan total.
Bara tidak bergerak sedikit pun untuk menjauhkan tangan Anya dari dadanya. Pria itu justru menurunkan pandangannya, menatap bagaimana sepasang tangan kecil yang lembut itu menempel pas di atas dadanya yang basah, sebelum kembali menatap lurus ke dalam manik mata Anya.
"Zevanya..." panggil Bara, suaranya kini berubah menjadi serak, parau, dan sangat berat. "Apa kamu sedang mencoba menggoda paman dari tunanganmu sendiri dengan cara mengusap dadanya seperti ini, hm?"
Anya menelan ludahnya dengan susah payah, menyadari posisi mereka yang kini sudah terlewat batas intim untuk ukuran seorang pelayan dan majikan. Posisinya yang condong ke depan membuat tubuh mereka hampir menempel sempurna, dan tangannya... tangannya masih setia bertengger di atas dada bidang musuhnya. Anya terjebak lagi, dan kali ini, pelariannya terasa jauh lebih mustahil.