Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 | WHAT SHOULD YOU
Elara terdiam di ambang pintu apartemennya. Napasnya tercekat saat sadar bahwa pria yang berdiri di depannya pria yang baru saja mengaku memiliki gedung ini adalah Dante Moretti. Pria yang seharusnya menjadi target operasinya, kini berdiri tepat di depan hidungnya, mengenakan setelan rumah yang santai namun tetap memancarkan aura bahaya yang nyata.
"Kau berbohong," suara Elara bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang meluap. " Tadi di koridor ini, kau bersama wanita itu. Dan sekarang kau bilang gedung ini milikmu?"
Dante melangkah satu langkah lebih dekat. Elara refleks mundur, punggungnya menabrak pintu apartemennya yang tertutup. Dante tidak menjawab, ia justru menatap kantong belanjaan Elara yang berserakan di lantai akibat benturan tadi.
"Aku tidak suka berbohong, Elara. Dan aku lebih tidak suka jika kau mencoba memanipulasi fakta," ucap Dante dengan suara berat yang menggetarkan udara di antara mereka. "Wanita itu tidak berarti apa-apa. Dia hanya gangguan kecil yang masuk ke wilayahku."
Elara mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia menatap tajam ke mata pria itu. " Lalu kenapa aku? Kenapa aku yang kau ikuti sampai ke sini? Apa karena aku satu-satunya orang yang tidak gemetar saat melihatmu?"
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Elara dengan lembut, namun cengkeramannya tegas, memaksa Elara untuk terus menatap matanya.
" Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, Elara. Kau memiliki nyali untuk menatap kematian dan tetap berdiri tegak. Itu membuatku... terobsesi."
"Obsesi bukanlah cinta, Dante. Itu adalah penyakit," desis Elara.
Tiba-tiba, pintu di seberang koridor terbuka lebar. Seorang pria dengan tatapan tajam dan bekas luka di sudut bibirnya Kaelen, letnan paling setia sekaligus algojo pribadi Dante muncul dari dalam. Kaelen menatap Elara dengan pandangan merendahkan, lalu beralih ke Dante dengan hormat yang kaku.
"Bos, ada masalah dengan pengiriman senjata di distrik Utara. Mereka meminta instruksi Anda," ujar Kaelen datar.
Dante melepaskan dagu Elara dengan enggan. Ia menoleh ke arah Kaelen, tatapannya berubah dari obsesif menjadi dingin dan kejam dalam hitungan detik.
" Katakan pada mereka untuk membereskannya sendiri. Jika mereka gagal, kirim kepalanya padaku sebagai peringatan."
Kaelen mengangguk singkat dan masuk kembali ke dalam apartemen Dante.
Elara memanfaatkan celah kecil itu untuk mencoba membuka pintu apartemennya, namun Dante dengan cepat menahan pergelangan tangannya. Pria itu menyudutkannya kembali ke pintu.
"Kau tahu, Elara," bisik Dante di telinga Elara, napasnya yang hangat membuat gadis itu merinding hebat. " Setiap kali kau mencoba melarikan diri, kau hanya memperpendek jarak di antara kita. Semalam, aku hampir membunuhmu di tempat kejadian. Hari ini, aku justru memberimu tempat tinggal di depanku."
"Karena aku berguna bagimu, bukan?" Elara menantang. "Karena aku agen yang bisa menembak dengan tepat?"
Dante tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat gelap dan posesif. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Kau salah. Aku membiarkanmu hidup karena aku ingin kau menyaksikan sendiri bagaimana aku menghancurkan segalanya termasuk agensimu, rencanamu, dan hidupmu hingga yang tersisa hanyalah dirimu sendiri milikku."
"Aku tidak akan pernah menjadi milikmu!" teriak Elara, meski hatinya mencelos.
"Kita lihat saja," Dante melepaskan tangan Elara dan melangkah mundur ke ambang pintu apartemennya sendiri. "Oh, dan satu hal lagi, Elara. Pintu apartemen ini tidak akan bisa menahan orang-orangku jika aku menginginkanmu. Jadi, berhenti membuang energimu untuk kunci-kunci itu."
Dante masuk ke dalam apartemennya, menutup pintu dengan suara klik yang mematikan.
Elara berdiri mematung di koridor yang kini kembali sunyi. Ia tahu ia baru saja masuk ke dalam kandang singa. Ia mengeluarkan ponsel rahasianya dari saku, berniat menghubungi markas untuk melaporkan situasi ini, namun ia berhenti saat melihat layar ponselnya.
Tidak ada sinyal.
Bukan karena jaringan buruk. Ia sadar, Dante telah memasang pemancar jammer sinyal di sepanjang lantai ini. Ia sepenuhnya terisolasi. Elara menatap pintu apartemen Dante dengan pandangan penuh kebencian. Dia tidak hanya terjebak dengan pria yang memburunya; dia terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh orang yang paling cerdas dan berbahaya di dunia mafia.
Malam itu, Elara duduk di lantai apartemennya yang dingin, tidak memakan belanjaannya, tidak bisa tidur. Ia sadar, ini bukan lagi misi untuk mengumpulkan data. Ini adalah permainan bertahan hidup yang sesungguhnya. Dan Dante Moretti, tetangganya dari neraka, sedang menunggu di balik dinding, siap untuk menyerang kapanpun ia lengah.
Elara menatap bayangannya sendiri di cermin ruangan, melihat seorang wanita yang perlahan mulai kehilangan identitasnya karena obsesi pria lain. Ia harus keluar dari sini secepat mungkin sebelum pria itu benar-benar berhasil mengubahnya menjadi Properti yang tak punya nyawa.
Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah suara kecil berbisik Apakah kau benar-benar ingin lari, atau apakah kau juga penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya ?
Elara menggelengkan kepalanya keras, menepis pikiran tersebut. Dia adalah agen. Dia adalah pemburu. Dan dia tidak akan membiarkan hatinya dikendalikan oleh monster seperti Dante Moretti.
●●●●