Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aris terdiam beberapa saat, wajahnya pucat pasi. Namun, ego sebagai seorang lelaki membuatnya kembali memasang topeng kemarahan. Dia masih berusaha mengelak dari tuduhan Rena, meskipun sang istri sudah memberikan bukti yang sangat jelas.
"Kamu ini bicara apa, sih, Ren?! Linda itu... dia cuma rekan bisnisku! Uang dua juta itu urusan pekerjaan, dan soal hotel itu untuk menjamu klien penting!" ucap Aris, suaranya meninggi namun terdengar sangat dipaksakan. Dia mencoba mengabaikan Rena dengan membalikkan badannya memunggungi sang istri, lalu menarik selimut tinggi-tinggi. "Sudahlah, aku capek. Aku mau tidur dan kita bicarakan lagi besok. Aku sudah sangat lelah dan ngantuk!"
Rena tidak beranjak, dia hanya menatap punggung suaminya dengan pandangan jijik. Dia tahu betul, suaminya itu sedang mengelak. Tapi sayangnya Rena bukan wanita bodoh yang bisa di tipu oleh pengelakan nya.
Di balik selimut itu, jantung Aris sedang berdetak kencang dengan sangat liar. Rahasia menjijikkan yang selama ini sudah dia simpan rapat-rapat, kini bisa terbongkar begitu saja hanya karena kecerobohannya sendiri meninggalkan bukti di saku celana. Dia tidak menyangka kalau Rena akan sejeli itu.
Keesokan harinya, pemandangan di rumah Aris benar-benar berubah total. Rena tidak seperti biasa. Pagi ini, dia tidak melakukan pekerjaan rumah apa pun. Lantai dibiarkan berdebu, pakaian kotor menumpuk di ember, bahkan untuk memasak sarapan pun tidak dia lakukan.
Bu Broto yang baru saja keluar dari kamar langsung berkacak pinggang di depan meja makan yang kosong melompong. Hal itu tentu saja membuat Bu Broto terus mengomel tidak ada henti, suaranya melengking memenuhi seisi rumah sejak dia membuka mata.
"Rena! Mana sarapan pagi ini?! Kamu benar-benar sudah keterlaluan ya! Rumah kotor begini, masakan tidak ada! Mau bikin mertuamu mati kelaparan, hah?!" teriak Bu Broto berapi-api.
"Ibu punya tangan kan, silahkan masak sendiri, sapu sendiri dan cuci sendiri baju-baju kotor itu. Siska juga sudah besar dan bisa melakukannya sendiri. Jangan terlalu berharap kepadaku untuk melakukannya lagi. " balas Rena dengan berani.
Mendengar kata-kata Rena, Bu Broto langsung naik pitam dan mengatai Rena dengan semua kata-kata kasar yang tidak sepantasnya di keluarkan seorang ibu mertua kepada menantunya.
Aris yang baru saja selesai bersiap dengan pakaian kantornya hanya bisa berjalan melewati ibunya dengan wajah tegang. Pria itu menatap Rena yang sedang memakaikan sepatu sekolah Dio di ruang tamu. Aris yang melihat perubahan sikap Rena pun menebak kalau istrinya itu sepertinya masih sangat marah padanya karena kejadian semalam. Sadar dirinya berada di posisi yang salah, Aris memilih diam dan tidak protes atau menegur sikap Rena yang mengabaikan semua pekerjaan rumahnya hari ini.
"Ibu, sudahlah. Jangan berisik. Aku berangkat ke kantor dulu," potong Aris pendek, lalu melangkah keluar tanpa berani menatap mata Rena.
"Lihat itu, bahkan suamimu pergi dengan perut kosong. Benar-benar keterlaluan kamu Rena. "
Rena mengabaikan ucapan mertuanya. Setelah Aris pergi, Rena langsung menggandeng tangan Dio. Dia mengabaikan makian Bu Broto yang masih menggelegar di belakangnya, lalu mengantar Dio ke sekolah dan setelah itu langsung pergi bekerja ke rumah Ririn. Dia tidak peduli dengan keadaan rumah yang berantakan.
Sesampainya di tempat kerja, udara segar perumahan itu sedikit menenangkan saraf Rena. Walau hatinya masih diliputi perasaan sedih, marah, dan kecewa yang mendalam setelah mendapati kenyataan bahwa suaminya selingkuh, Rena mencoba tetap bekerja dengan profesional. Dia memilah pakaian, menyetrika, dan membersihkan dapur dengan hasil yang tetap baik seperti biasa. Dia tidak ingin masalah pribadinya merusak satu-satunya sumber penghasilan yang dia miliki saat ini.
Namun, mata jeli Ririn tidak bisa dibohongi. Wanita muda yang sedang menggendong bayinya itu bisa merasakan perubahan sikap Rena yang biasanya hangat dan ramah, hari ini mendadak menjadi sangat dingin dan banyak melamun dengan mata yang sembap.
Ririn berjalan mendekati meja setrika, lalu menyentuh pundak Rena dengan lembut. "Mbak Rena... maaf sebelumnya. Saya perhatikan dari pagi Mbak banyak melamun. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mbak sedang ada masalah?"
Rena menghentikan gerakan setrikanya. Pertanyaan tulus dari Ririn perlahan meruntuhkan dinding pertahanan yang dia bangun sejak semalam. Dada Rena bergemuruh hebat. Karena sudah ditanya dengan begitu lembut, dan karena selama ini memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa dia percaya untuk berbagi beban, Rena akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Dia mencoba menaruh kepercayaan pada Ririn.
"Suami saya selingkuh, Mbak Ririn," ucap Rena dengan suara parau, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga membasahi pipinya. "Kemarin saya menemukan bukti transfer uang sejumlah dua juta rupiah ke seorang wanita bernama Linda, lengkap dengan nota pembayaran hotel. Sementara untuk biaya sekolah Dio saja, dia selalu mengaku tidak punya uang."
Ririn terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya karena terkejut. Rasa ngeri dan iba seketika bercampur di dalam hatinya. "Ya ampun, Mbak Rena... Tega sekali suamimu. Di saat Mbak kerja banting tulang di sini, dia malah bersenang-senang di luar sana dengan wanita lain."
Rena hanya bisa mengangguk pelan sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir, mencoba menguatkan diri kembali.
Setelah mendengar seluruh cerita pilu dari Rena tentang bagaimana pelit dan teganya sang suami selama bertahun-tahun, Ririn terdiam sejenak untuk berpikir. Dia merasa ada sesuatu yang ganjal dari cerita Rena.
Ririn kemudian bertanya, "Mbak Rena, kalau boleh saya tahu, memangnya pekerjaan suami Mbak Rena itu apa? Dan dia bekerja di mana?"
"Suami saya bekerja di perusahaan properti, Mbak. Di Perusahaan X," jawab Rena apa adanya, menyebutkan nama sebuah perusahaan pengembang properti yang cukup di kenal.
Mendengar jawaban tersebut, Ririn seketika terkejut bukan main. Matanya membelalak sempurna menatap Rena. "Perusahaan X, Mbak? Perusahaan properti yang logonya berwarna biru itu?"
"Iya, benar Mbak Ririn. Kenapa memangnya?" tanya Rena bingung melihat reaksi majikannya.
Ririn menelan ludah, dadanya mendadak berdebar kencang karena sebuah kebetulan yang sangat mengejutkan. "Mbak... suamiku juga bekerja di perusahaan itu! Dia menjabat sebagai salah satu manajer kepala di Perusahaan X!"
Kini berganti Rena yang terkesiap di tempatnya berdiri. Dia tidak menyangka bahwa dunia ini bisa sempit ini.
Lalu, dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius, Ririn kembali bertanya untuk memastikan sesuatu hal yang besar di kepalanya. "Mbak Rena, siapa nama lengkap suami Mbak? Barangkali suami ku mengenal suami mbak Rena dan mungkin aku bisa bertanya nanti tentang suami mbak Rena.