Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Di Antara Dua Meja
Suasana di kantin berasa hening seketika. Padahal orang-orang masih makan, ketawa, berisik kayak biasa. Tapi di telinga gue? Semua kedengaran samar. Fokus gue cuma ke pintu masuk.
Cewek itu berdiri di sana, tas selempang di pundak, rambutnya sedikit berantakan, matanya merah banget — kayak habis nangis lama. Dia natap lurus ke arah kami, tepat ke Farhan. Lalu ke gue. Tatapannya tajem, sedih, dan penuh tanya.
"Han?" gue sentuh pelan lengannya. "Siapa itu?"
Farhan gak jawab. Napasnya berhenti sebentar, terus dia tarik panjang banget, kayak orang yang baru sadar ketakutan terbesarnya udah datang. Tangan kanannya dikepal di bawah meja, sampe uratnya kelihatan.
"Gue harus pergi," katanya tiba-tiba, berdiri cepat.
"Makan belum selesai loh..."
"Gak laper lagi. Lo makan aja, Mir. Gue duluan."
Dia langsung jalan cepat keluar dari meja, menuju pintu. Gue ikutin pandangannya — dia nyamperin cewek itu, lalu berhenti di depannya. Mereka ngobrol pelan, gak kedengaran dari sini. Farhan natap ke bawah, bahunya turun. Cewek itu geleng-geleng kepala, tangisnya mulai kedengaran pelan.
Gue pengen banget tau apa yang mereka omongin. Tapi gue gak bisa beranjak. Kaki gue berat.
"Siapa itu ya?" Sari ngintip dari samping gue. "Muka Farhan pucat banget, Mir. Lo kenal?"
Gue geleng. "Belum pernah lihat seumur hidup gue."
Dari ujung meja, Dimas berdiri. Dia mau jalan ke arah pintu, tapi berhenti pas lihat gue natap terus ke sana. Gantian, dia nyamperin meja kami.
"Lo tau siapa cewek itu?" tanyanya pelan, berdiri di samping kursi gue.
"Gak tau. Farhan langsung nyamperin dia pas lihat," jawab gue, masih gak bisa lepasin pandangan.
Dimas ikut natap. "Itu... kayaknya kakak kelas angkatan di atas. Namanya Rina, gue denger dia pindah sekolah setahun lalu."
"Pindah? Terus sekarang balik buat apa?"
Dimas diem sebentar, lalu natap gue. "Gak ada yang tau pasti. Tapi... banyak yang bilang dulu dia sama Farhan deket banget."
Jantung gue langsung berhenti sejenak.
"Deket? Maksudnya gimana?"
"Kayak... lebih dari temen. Tapi dirahasiain, gak banyak yang tau. Tiba-tiba dia pindah, dan Farhan berubah jadi pendiem sebulan penuh."
Dunia gue kayak berputar pelan. Selama ini gue kira Farhan cuma punya gue sebagai temen dekat. Gak pernah cerita soal cewek lain. Gak pernah bilang siapa-siapa.
"Mir?" Dimas duduk di tempat Farhan tadi, di sebelah gue. "Lo oke?"
Gue gak jawab. Mata gue gak lepas dari pintu. Rina nunjuk ke arah gue dari jauh. Farhan nengok sebentar, natap gue, lalu balik natap Rina. Wajahnya bingung, takut, bersalah — semua jadi satu.
Mereka akhirnya jalan berdua keluar gerbang sekolah. Gak nengok ke belakang sekali pun.
Sepanjang sisa pelajaran, gue gak bisa fokus. Buku terbuka, tapi gak ada satu kata yang masuk ke otak. Farhan gak balik ke kelas. Tasnya masih di kursi, tapi dia gak muncul sampe bel pulang bunyi.
"Lo pulang sama siapa?" Sari beresin tas di sebelah.
"Gue... tunggu bentar. Mungkin Farhan balik lagi," jawab gue, padahal hati gue udah bilang dia gak bakal balik hari ini.
Anak-anak pada keluar kelas, satu per satu. Ruangan makin sepi. Gue duduk sendirian di tempat duduk, mainin ujung tas, bingung harus ngapain.
"Masih di sini?"
Suara Dimas dari pintu. Dia berdiri sambil bawa tas, natap gue lembut.
"Masih nunggu Farhan," jawab gue pelan.
Dimas masuk, berdiri di dekat meja. "Tadi gue lihat dia naik motor sama cewek itu. Kayaknya gak balik lagi hari ini."
Gue nunduk. Perih banget rasanya. "Oh... gitu."
"Gue antar pulang ya?" tawarnya pelan. "Lo gak bisa di sini sendirian sampe malam."
Gue mikir sebentar. Biasanya kalau gue bingung, gue cari Farhan. Sekarang? Farhan yang bikin gue bingung.
"Oke..." jawab gue pelan. "Makasih ya, Dim."
Di jalan, di dalam mobil yang tenang, gue natap ke luar jendela. Pemandangan lewat satu per satu, tapi gak gue lihat. Kepala gue penuh pertanyaan. Siapa Rina? Kenapa dia balik? Apa hubungannya sama kecelakaan dua tahun lalu di pesan itu? Dan kenapa Farhan gak pernah cerita sama gue?
"Lo mau cerita?" tanya Dimas pelan sambil nyetir.
Gue geleng. "Gak tau mau mulai dari mana. Rasanya gue gak kenal Farhan sebenernya."
"Dia temen lo dari kecil kan? Pasti ada alasannya dia sembunyiin," kata Dimas tenang. "Bukan berarti dia jahat."
"Kalau alasannya bikin gue benci dia gimana?"
Dimas diem sebentar. "Kalau lo sayang sama dia, lo denger dulu penjelasannya sebelum memutuskan apa-apa."
Dia nasihatin kayak orang dewasa, padahal umur kita sama. Gue natap dia sebentar. Cowok yang semua orang taksir ini sekarang di sebelah gue, perhatian, sabar, gak pernah maksa.
Pas mobil berhenti di depan rumah gue, gue gak langsung turun.
"Makasih ya, Dim. Udah antar," kata gue.
"Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, atau cuma mau ngobrol... gue ada di sini. Kapan aja," katanya sambil natap gue. "Gak harus tentang perasaan. Bisa soal apa aja. Soal Farhan, soal Rina, soal yang bikin lo pusing."
Gue kaget. "Lo tau nama dia?"
Dimas sedikit kaku. "Denger dari temen. Gue cuma mau bilang, lo gak harus nanggung sendiri. Gue siap dengerin."
Gue turun, masuk rumah, masih bingung. Di kamar, gue jatuh ke kasur, natap langit-langit. HP mati di meja, gak berani nyalain. Takut ada pesan dari nomor asing lagi. Takut ada pesan dari Farhan yang gak tau harus dibalas apa.
Sore itu lewat berat banget. Malam pun datang tanpa kabar apa pun dari Farhan.
Jam menunjukkan hampir jam 8 malam. Gue duduk di meja belajar, buka buku harian, tapi pulpen gak mau turun. Tiba-tiba HP nyala di samping — satu pesan masuk. Bukan dari nomor asing.
Dari Farhan.
Jantung gue langsung deg-degan. Gue buka cepat.
"Mir, maaf gak bilang apa-apa tadi. Bisa gue ketemu lo sekarang? Di tempat biasa, yang di dekat taman. Penting banget. Gue mohon."
Gue berdiri cepat. Pakai jaket, bilang ke Ibu mau beli barang sebentar, lari keluar. Harus tau. Harus denger langsung dari mulutnya.
Di taman, lampunya remang-remang. Tempat biasa kita duduk berdua dari SD — bangku kayu di bawah pohon besar. Di sana, Farhan udah nunggu. Baju nya kusut, rambutnya berantakan, mukanya lelah banget. Seperti orang yang gak tidur tiga hari.
"Han!" panggil gue sambil mendekat.
Dia nengok, berdiri pelan. "Mir... makasih mau datang."
"Siapa cewek itu? Kenapa lo pergi sama dia? Kenapa lo gak pernah cerita sama gue kalau deket sama seseorang?" tanya gue bertubi-tubi, gak nunggu duduk dulu.
Farhan tarik napas gemetar. Dia duduk lagi, pegang kepala pakai kedua tangan.
"Namanya Rina..." suaranya pecah pelan. "...dan dia bukan cuma temen, Mir."
Dia berhenti, menelan ludah susah banget, lalu natap gue dengan mata berkaca-kaca.
"Dia... dia mantan gue."
Gue mundur selangkah. Dunia gue rasanya goyang.
"Mantan? Kita tiap hari bareng, Han. Gak pernah lo kasih tau petunjuk sedikit pun..."
"Soalnya kita sembunyiin, Mir. Gak ada yang tau. Dan..." dia berhenti, napasnya berat. "...dan kecelakaan dua tahun lalu itu... dia sama gue di dalam mobil waktu itu."
Darah gue dingin. Kaki gue lemas.
"Lo bilang lo sendirian waktu itu..."
"Gue bohong."
Dia natap gue, matanya penuh air mata dan ketakutan.
"Dan kecelakaan itu bukan kecelakaan, Mir..." suaranya makin pelan. "...gue yang nyetir. Gue yang nabrak."
Gue gemetar. "Terus..."
"Rina gak pindah sekolah karena mau ikut orang tuanya..." dia menunduk, air mata jatuh ke pelukannya. "...dia dirawat di rumah sakit luar kota selama setahun, Mir. Karena gue.