Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014
Suamiku di Frekuensiku
“Jakarta Approach, Nusantara 8966, sedang turun melewati FL100, informasi Lima.”
Jari Laras berhenti sepersekian detik di atas panel.
Arkan.
Kali ini ia tidak hanya mengenali suara itu. Ia tahu laki-laki di kokpit adalah suaminya, mengenakan empat garis dan cincin perak yang baru ia pasangkan kemarin.
“Nusantara 8966, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke ketinggian 6.000 kaki, QNH 1008.”
“Turun ke 6.000 kaki, QNH 1008, Nusantara 8966.”
Suara Laras tidak berubah. Ia menggeser label penerbangan Arkan ke dalam urutan kedatangan, memeriksa jarak dengan lalu lintas di depan, lalu memberi instruksi kepada pesawat berikutnya.
Di kursi monitoring, Bagas mengamati layar tanpa komentar.
Laras tidak punya ruang untuk menjadi istri. Di frekuensi ini, Nusantara 8966 adalah satu dari sembilan pesawat yang harus ia bawa masuk dengan jarak aman.
Di kokpit A330, Arkan melepas jari dari tombol transmisi sedikit lebih lambat.
Dio yang duduk di kursi kopilot menoleh. “Kenapa, Kapten?”
“Nggak apa-apa.”
“Suara controller-nya kenal?”
Arkan melihat cincin perak di tangan kirinya, lalu kembali pada instrumen. Laras pernah mengatakan jadwalnya malam ini, tetapi tidak menyebut posisi atau sektor. Suara di frekuensi terdengar lebih formal dan datar daripada saat berbicara di rumah.
Tetap saja, ada sesuatu pada cara perempuan itu mengucapkan angka.
“Fokus checklist,” katanya.
Dio menyembunyikan senyum. “Siap, Kapten.”
Laras menahan Nusantara 8966 pada enam ribu kaki karena dua kedatangan di depannya belum cukup terpisah. Arkan membaca ulang setiap instruksi dengan bersih, tidak meminta prioritas hanya karena mengenali kemungkinan suara istrinya.
Itu membuat Laras lebih mudah bernapas.
Pesawat di depan Nusantara 8966 tiba-tiba melaporkan belum stabil pada kecepatannya. Tower meminta jarak tambahan sebelum menyerahkan izin mendarat.
Bagas menunjuk label penerbangan di belakang Arkan. “Kalau yang depan diperpanjang, belakangnya ikut rapat.”
Laras sudah melihatnya. Ia menekan tombol transmisi.
“Nusantara 8966, belok kanan heading 290 untuk menambah jarak, pertahankan 6.000 kaki.”
Jalur itu membawa Arkan menjauh sementara dari localizer. Bukan pilihan yang disukai pilot setelah penerbangan panjang, tetapi readback datang tanpa keluhan.
“Belok kanan heading 290, pertahankan 6.000 kaki, Nusantara 8966.”
Laras kemudian menurunkan penerbangan di belakang ke tujuh ribu kaki dan mengurangi kecepatannya. Penerbangan lain yang baru masuk meminta jalur lebih pendek karena cuaca di sebelah timur.
“Permintaan direct tidak dapat disetujui karena ada pesawat di depan. Pertahankan heading saat ini, panduan radar diberikan dalam lima mil.”
Kapten penerbangan itu mencoba meminta sekali lagi. Laras menolak dengan suara yang tetap lembut, menjelaskan lalu lintas yang menghalangi tanpa memberi satu meter pun ruang yang tidak aman.
Di kokpit Nusantara 8966, Dio memantau perubahan jarak di layar navigasi.
“Approach malam ini tegas juga,” katanya.
Arkan menyesuaikan heading sesuai instruksi. “Karena traffic-nya padat.”
“Biasanya Kapten sudah tanya kemungkinan shortcut.”
“Belum ada ruang.”
“Percaya sekali sama controller-nya.”
Arkan meliriknya. “Kamu mau ambil radio?”
Dio langsung kembali melihat instrumen. “Nggak, Kapten.”
Di darat, Laras menunggu hingga pesawat pertama kembali stabil dan Tower mengonfirmasi landasan siap menerima kedatangan berikutnya. Ia menghitung jarak, kecepatan, dan waktu konvergensi sebelum memutar Arkan kembali.
“Nusantara 8966, belok kiri heading 230, turun ke ketinggian 4.000 kaki.”
“Belok kiri heading 230, turun ke 4.000 kaki, Nusantara 8966.”
Label pesawat itu bergerak tepat ke ruang yang Laras ciptakan. Dua lalu lintas lain tetap terpisah di belakangnya.
Bagas memeriksa jarak pada layar, lalu mengangguk kecil. “Sequence bagus.”
Laras hanya menjawab, “Terima kasih, Pak.”
“Nusantara 8966, kurangi kecepatan menjadi 210 knot.”
“Kecepatan 210 knot, Nusantara 8966.”
Beberapa menit kemudian, celah terbuka.
“Nusantara 8966, belok kiri heading 240, turun ke ketinggian 4.000 kaki, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R.”
“Belok kiri heading 240, turun ke 4.000 kaki, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R, Nusantara 8966.”
Laras memastikan seluruh perubahan arah, ketinggian, dan izin pendekatan dibaca kembali dengan lengkap. Tidak ada angka yang terlewat.
Arkan menyelesaikan readback, lalu menambahkan setelah jeda singkat, “Terima kasih ya, Bu Kontrol.”
Ada senyum tipis di ujung suaranya.
Ujung telinga Laras panas. Ia tidak menjawab bagian terakhir.
“Nusantara 8966, hubungi Tower di 118.75.”
“Tower 118.75, Nusantara 8966.”
Pesawat itu berpindah frekuensi. Laras segera memanggil kedatangan berikutnya, seolah dua kata tadi tidak meninggalkan apa pun di ruang kendali.
Bagas menunggu sampai lalu lintas sedikit longgar.
“Kenal pilotnya?” tanyanya pelan.
“Saya kenal banyak pilot dari suara, Pak.”
“Jawaban aman.”
Laras tetap menatap layar. “Jawaban profesional.”
Bagas tidak mengejar. Namun, Laras melihat sudut bibir supervisornya bergerak sebelum ia kembali memeriksa koordinasi dengan Tower.
Seluruh frekuensi terekam. Laras mencatat dalam hati bahwa Arkan tak boleh menjadikan sapaan pribadi sebagai kebiasaan. Pernikahan mereka tidak mengubah satu pun aturan di ruang kendali, dan ia tak akan mempertaruhkan rating demi rasa manis beberapa detik.
Di kokpit, Dio juga belum menyerah.
“Kapten senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Baik.” Dio menunduk pada checklist approach. “Berarti saya salah lihat.”
“Benar.”
“Tapi controller tadi suaranya memang manis.”
Arkan menoleh perlahan.
Dio langsung mengangkat satu tangan. “Komentar profesional, Kapten. Artikulasi jelas.”
“Checklist pendaratan.”
“Checklist pendaratan.”
A330 itu mendarat dengan mulus di 25R. Setelah keluar runway, Arkan tidak membuka ponsel sampai seluruh prosedur parkir selesai, penumpang turun, dan tanggung jawab pascapenerbangan dituntaskan.
Baru di ruang kru ia melihat WhatsApp.
Pesan terakhir dari Laras dikirim sebelum shift.
Makanannya sudah kumakan. Nilai: 9.
Arkan mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Arkan:
Kamu di sektor kedatangan tadi?
Ia menunggu hampir satu menit. Pesan tidak terbaca.
Tentu saja. Laras masih bekerja.
Arkan mengirim pesan kedua.
Arkan:
Selesai jam berapa? Aku tunggu kalau kamu mau.
Di Jakarta Approach, Laras baru melihat dua pesan itu saat petugas pengganti mengambil posisinya untuk istirahat. Ia menjalani overlap, menyelesaikan checklist, lalu mengambil ponsel dari loker.
Pertanyaan pertama membuat bibirnya terangkat.
Laras:
Informasi petugas yang pegang sektor rahasia.
Balasan Arkan datang cepat.
Arkan:
Berarti benar kamu.
Laras tidak mengiyakan. Ia hanya mengirim emoji tanpa ekspresi.
Arkan:
Jam berapa selesai?
Laras:
Tengah malam. Nggak usah tunggu, kamu baru landing.
Arkan:
Aku tanya jamnya, bukan minta izin.
Senyum Laras semakin sulit disembunyikan. Laki-laki yang di depan kru menyangkal tersenyum kini berdebat untuk menunggunya pulang.
Ia baru hendak membalas ketika pesan lain masuk.
Pak Bagas:
Ras, kerja bagus tadi. Besok makan siang bareng? Ada yang mau kubahas.
Laras menatap dua nama di layar.
Suaminya menanyakan jam pulang.
Pak Bagas mengajaknya makan berdua.