NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Selama Ini Disembunyikan

Sabtu sore, Doni janjian ketemu Sinta di taman kecil belakang kampus, tempat yang biasanya sepi karena jauh dari gedung-gedung kelas, cuma ada beberapa bangku kayu di bawah pohon trembesi besar yang daunnya rontok pelan-pelan ketiup angin sore.

Sinta udah duduk di salah satu bangku waktu Doni dateng, dua botol air mineral dingin di sampingnya, satu buat dia sendiri, satu lagi udah disiapin buat Doni.

"Lo dateng juga," kata Sinta, sedikit tersenyum meski masih ada nada waspada di suaranya.

"Iya, gue janji kan." Doni duduk di sebelahnya, ngambil botol air yang disodorin, tangannya terasa dingin meski cuaca sore itu nggak sepanas biasanya.

Mereka diam sebentar, cuma suara angin sama beberapa mahasiswa yang lewat jauh di kejauhan yang mengisi keheningan itu.

"Jadi," Sinta akhirnya buka suara, "lo mau cerita apa?"

Doni menghela napas panjang, udah nyiapin diri dari semalam, tapi tetap aja susah nemuin kalimat pembuka yang pas begitu momennya beneran dateng.

"Sin, inget waktu itu gue bilang soal firasat kuat?" mulainya pelan.

"Inget. Terus?"

"Itu... bukan firasat, Sin. Itu lebih dari itu." Doni menatap ke arah rerumputan di depannya, nggak berani langsung natap Sinta. "Sekitar tujuh bulan lalu, tiba-tiba ada semacam... suara, atau lebih tepatnya teks, yang muncul di kepala gue. Kayak notifikasi sistem di game, tapi ini beneran kejadian, bukan mimpi, bukan halusinasi."

Sinta diam, nggak motong, cuma nunggu Doni lanjut.

"Setiap minggu, muncul info. Awalnya cuma satu, sekarang tiga. Info soal barang yang bakal naik harga, saham yang bakal melejit, kesempatan-kesempatan yang belum banyak orang tau. Jaket vintage itu, saham MJBR, turntable nenek lo, gula aren, sampai tender kemarin semua itu berawal dari info-info itu."

Sinta mengernyit, mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang baru aja didengarnya. "Jadi... selama ini, semua 'keberuntungan' lo itu bukan usaha lo sendiri?"

"Bukan cuma itu, Sin. Info-nya emang dari sistem, tapi eksekusinya, resikonya, kerja kerasnya buat nge-follow up semua itu, gue yang jalanin sendiri. Kayak koperasi, itu murni usaha gue, sistem cuma kasih tau soal harga gula aren bakal naik. Selebihnya, negosiasi sama Koh Aliong, ngurus legalitas, presentasi tender, itu semua gue yang jalanin, tanpa bantuan sistem."

Sinta menatap Doni lama, matanya penuh campuran ekspresi susah dibaca antara syok, penasaran, dan sedikit... entah kenapa, ada juga rasa lega di sana.

"Kenapa lo nggak cerita dari awal, Don? Kenapa harus nutup-nutupin selama ini?"

"Karena gue takut, Sin. Takut lo mikir gue gila. Takut orang-orang mikir gue macem-macem, entah nipu, entah pake cara nggak halal buat dapetin semua ini. Lagian, gue sendiri butuh waktu buat percaya ini beneran kejadian, bukan mimpi panjang."

Sinta menghela napas, menatap ke arah pohon trembesi di atas mereka, kayak lagi nyari kata-kata yang tepat.

"Don, gue nggak akan bohong, ini... ini gila banget kalau dipikir logis. Tapi gue juga inget, selama ini lo nggak pernah keliatan santai-santai aja nikmatin keberuntungan itu. Lo selalu keliatan capek, mikirin banyak hal, kayak beban yang berat banget buat dipikul sendirian."

"Emang berat, Sin. Apalagi belakangan, infonya makin banyak, makin susah gue atur waktu buat eksekusi semuanya sekaligus."

"Kenapa nggak cerita ke orang tua lo?"

Doni menggeleng pelan. "Belum berani, Sin. Gue takut mereka malah khawatir, atau mikir gue kena sesuatu yang aneh-aneh. Lo aja gue butuh waktu berbulan-bulan buat cerita."

Sinta tersenyum tipis, meski matanya masih menyisakan keseriusan. "Berarti gue orang pertama yang lo kasih tau."

"Iya, Sin. Orang pertama."

Ada jeda lagi, kali ini nggak canggung, lebih ke jeda yang penuh sama pikiran masing-masing yang lagi berusaha nyerna semuanya.

"Ada satu hal lagi," kata Doni, lebih pelan dari sebelumnya, "yang bahkan gue sendiri baru mulai nyadar belakangan ini."

"Apa?"

"Info-infonya acak, Sin, nggak selalu nyambung satu sama lain. Tapi minggu lalu, ada satu info yang beda. Soal reuni keluarga pengusaha perkebunan. Entah kenapa, waktu baca itu, dada gue kayak... berdegup aneh, kayak ada sesuatu yang gue tau tapi nggak gue sadari."

Sinta mengernyit. "Maksud lo?"

"Gue nggak tau pasti, Sin. Tapi belakangan ini, gue jadi mikir-mikir soal keluarga dari pihak ibu gue, yang selama ini nggak pernah dibahas di rumah. Tiap gue nanya, nyokap selalu ngehindar, bilang 'itu udah lama, nggak usah diungkit.' Gue jadi curiga, jangan-jangan ada hubungannya sama kenapa sistem ini muncul ke gue."

"Lo pikir ini ada hubungannya sama keluarga lo?"

"Gue nggak tau, Sin. Tapi rasanya kayak nggak sepenuhnya kebetulan."

Sinta diam sebentar, lalu meraih tangan Doni pelan, gerakan yang bikin Doni sedikit kaget tapi nggak dia tarik.

"Don, apapun ini, lo nggak harus nanggung sendirian lagi. Gue tau ini aneh, gue butuh waktu buat sepenuhnya paham semuanya. Tapi gue di sini, kalau lo butuh cerita, atau butuh bantuan nyari tau soal keluarga lo itu."

Doni menatap Sinta, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, jauh berbeda dari deg-degan waktu nunggu hasil saham atau tender. "Makasih, Sin. Beneran."

"Tapi," Sinta menambahkan, nada suaranya berubah sedikit lebih tegas, "lain kali, jangan nunggu berbulan-bulan buat cerita hal penting kayak gini. Gue temen lo, Don. Atau... lebih dari itu, mungkin."

Doni ketawa kecil, salah tingkah denger kalimat terakhir itu. "Lebih dari itu gimana maksudnya, Sin?"

Sinta cuma nyengir, nggak jawab langsung, malah buru-buru berdiri dari bangku. "Udah, ah, gue laper. Makan dulu yuk, baru lanjut ngobrol. Kepala gue butuh waktu buat proses semua yang baru aja lo certain."

Doni ikut berdiri, ngerasa beban yang udah dia pikul berbulan-bulan sendirian, sekarang terasa jauh lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai sistemnya masih ada, misteri soal keluarga ibunya masih ngambang tapi karena akhirnya ada orang lain yang tau, dan lebih penting lagi, orang itu masih di sini, jalan di sampingnya, bukan menjauh.

Mereka jalan bareng ninggalin taman kecil itu, matahari sore mulai turun di ujung langit kampus, ninggalin warna jingga yang keliatan lebih cerah dari biasanya di mata Doni entah karena warnanya beneran beda, atau karena hatinya yang jauh lebih lega dari sebelumnya.

1
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!