Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Menembus Batas Kemustahilan
Permukaan danau magma meledak ke atas, mengeluarkan pilar batu cair setinggi tiga puluh meter.
Dari balik pilar api itu, rahang raksasa Kadal Api terbuka lebar, memperlihatkan deretan taring yang meneteskan lahar. Binatang purba itu meluncur turun, berniat menelan Ye Cangtian hidup-hidup ke dalam perut berapinya.
Cangtian tidak bergeser seinci pun dari posisinya mengapung di atas magma.
Ia mengangkat lengan kanannya yang baru saja ditempa ulang, menggenggam erat gagang Pedang Pemutus Surga dan mengayunkannya ke atas, menyambut rahang raksasa yang turun menimpanya.
Clangg!
Benturan pedang baja dan sisik monster itu menghasilkan gelombang kejut yang meniup habis semua asap belerang di kawah.
"Bagus," Cangtian menyeringai.
Menyadari mangsa kecilnya menahan gigitannya, Kadal Api meraung marah. Dari kerongkongannya, cahaya merah menyala terang. Sedetik kemudian, ia memuntahkan napas api cair tepat ke wajah Cangtian dari jarak dekat.
Cangtian memiringkan tubuhnya, meluncur di atas permukaan magma, membiarkan aliran api mematikan itu melewatinya.
Saat melawan Jenderal Lu, aku butuh setengah detik untuk memusatkan Niat Pedang, batin Cangtian. Setengah detik adalah celah yang membedakan hidup dan mati. Tapi sekarang... meridianku sudah tidak sama lagi.
Sambil meluncur mundur, ia memompa Qi dari Pusaran Emasnya. Tidak ada jeda setengah detik. Tidak ada proses pengumpulan energi.
Garis emas setipis jarum muncul di bilah pedang hitamnya secara instan, mengeluarkan dengungan tinggi yang mengerikan.
Tanpa ragu, Cangtian melompat ke udara, membalikkan badan, menebas aliran napas api raksasa itu. Niat Pedangnya membelah pilar api cair itu jadi dua, meleset melewati sisi kiri dan kanannya. Ia mendarat tepat di tengkuk sang Kadal Api, menusukkan pedang ke celah sisik lehernya.
Krrsskk!
Sisik tebal monster itu retak, bilah pedang Cangtian menembus dagingnya.
"Graah!"
Kadal Api melolong kesakitan. Monster itu sadar bertarung di permukaan melawan kutu lincah ini sangat merugikan. Dengan insting bertahan hidupnya, ia menukik tajam, membawa Cangtian terjun jauh ke dasar danau magma.
Dunia seketika berubah jadi merah gelap yang menyilaukan.
Di kedalaman seratus meter di bawah permukaan magma, tekanannya begitu masif hingga bisa meremukkan baja padat. Lapisan pelindung Qi keemasan yang membungkus tubuh Cangtian mulai retak.
Kadal Api itu berputar liar di habitat alaminya, berusaha menabrakkan Cangtian ke dinding-dinding kawah bawah tanah yang bergerigi. Suhu ekstrem perlahan membakar kulit Cangtian, sementara oksigen di paru-parunya menipis cepat.
Tekanannya luar biasa... Cangtian mencengkeram pedangnya erat-erat agar tidak terlempar. Lebih berat dari hantaman Jenderal Tie. Lebih mencekik dari badai Jenderal Lu.
Ia memejamkan mata di tengah lautan api cair itu.
Ia berhenti menyalurkan energi untuk mempertahankan perisai luarnya. Alih-alih melawan tekanan dari luar, ia menarik seluruh kesadarannya ke dalam Dantian.
Pusaran Emas di perutnya berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencoba menyeimbangkan tekanan hidup dan mati dari lingkungan sekitarnya.
Di sinilah batas Master Bela Diri Tingkat 1 berada, sebuah tembok kaca transparan yang mencegah energinya memadat lebih jauh. Tembok yang harus dihancurkan bukan dengan waktu, melainkan tekanan mutlak.
Danau magma ini tungkunya.
Pusaran Emas di Dantian Cangtian tiba-tiba berhenti berputar. Keheningan terjadi di dalam tubuhnya selama sepersekian detik.
Suara retakan bergema di dalam jiwanya. Pusaran Emas itu meledak ke dalam, lalu mengembang kembali dua kali lipat lebih besar.
Qi yang mengalir keluar dari Dantiannya kini bukan lagi emas murni. Ia perpaduan emas tua yang megah dengan warna merah menyala seperti api kehidupan. Kepadatan auranya melonjak ke tingkat yang sama sekali berbeda.
Di kedalaman seratus meter di bawah magma, mata Ye Cangtian terbuka lebar.
Aura emas-kemerahan meledak dari tubuhnya dengan kekuatan begitu dahsyat, hingga murni mendorong magma cair di sekelilingnya mundur, menciptakan gelembung ruang hampa udara selebar dua puluh meter di dasar kawah.
Sang Kadal Api terlempar mundur, menatap mangsanya dengan ketakutan.
Cangtian mengangkat pedang hitamnya dengan kedua tangan. Aura tebal melilit bilahnya, memanjang hingga menciptakan bayangan pedang cahaya setinggi sepuluh meter.
"Seni Pemutus Surga," bisiknya, suaranya menggema di dasar kawah. "Naga Menelan Matahari."
Ia mengayunkan pedang raksasa itu ke atas dengan kekuatan penuh.
Di permukaan, seluruh Lembah Naga Api bergetar hebat.
Tebasan cahaya emas-kemerahan meletus dari dasar kawah, membelah permukaan danau magma, membelah lautan lahar itu ke kiri dan kanan.
Cahaya pedang raksasa itu melesat membelah tubuh Kadal Api tepat di garis tengahnya, lalu terus melesat ke atas, membelah awan merah di atas lembah.
Kawah magma itu terbelah, memperlihatkan dasarnya selama lima detik penuh, sebelum akhirnya lahar cair runtuh kembali menutupi retakan itu.
Di tengah hujan rintik-rintik lahar cair, Ye Cangtian melesat naik dari kawah, mendarat anggun di atas batu karang di pinggir lembah.
Napasnya teratur. Lengan kanannya bertenaga. Auranya memancarkan keagungan seorang raja yang baru saja menemukan mahkotanya.
Ia resmi melangkah masuk ke ranah Master Bela Diri Tingkat 2.
Cangtian melemparkan benda yang sedari tadi ia seret dengan tangan kiri ke tanah. Bongkahan kristal merah sebesar batu, memancarkan panas luar biasa.
Inti Monster Kadal Api purba—sumber daya berharga yang bisa dipakai memperkuat senjata Long Zhan atau formasi akademi.
Cangtian menatap ke utara, ke arah Kota Fajar. Ia tidak lagi lemah. Mulai sekarang, ia tidak akan membiarkan pasukannya menanggung dosa perang ini sendirian.
Sementara itu, ratusan mil ke barat laut, di reruntuhan Basis Danau Cermin yang dikelilingi ribuan mayat membusuk.
Udara di atas tumpukan mayat budak manusia yang teracuni itu mendadak sangat dingin. Bayangan pepohonan mati di sekitar danau, menyatu di satu titik, dan bangkit membentuk siluet manusia.
Sosok itu tidak mengenakan zirah emas klan dewa yang mencolok. Ia berjubah hitam kelam yang seolah menyerap cahaya, wajahnya separuh tertutup topeng putih tanpa ekspresi.
Jenderal Bintang Lian, pemegang murni Otoritas Bayangan.
Jenderal Lian membungkuk elegan, mengambil lumpur ungu beracun dari pinggir danau, kemudian mengendusnya perlahan.
"Tie dibelah dengan pedang yang agung. Lu dibunuh dengan pengorbanan daging yang terhormat." Suaranya seperti seribu orang berbisik bersamaan. "Tapi pembantaian di danau ini, ini sangat kotor, licik, dan pengecut."
Ia membuang lumpur itu dan terkekeh pelan. Tawanya membuat burung burung di sekitarnya berjatuhan dan mati.
"Tampaknya 'Kaisar' fana ini tidak bekerja sendirian. Dia punya iblis kecil jenius yang merangkak di balik panjinya, melakukan pekerjaan kotor yang tak berani ia sentuh sendiri." Mata di balik topeng menyipit geli.
"Membunuh kaisar yang terang benderang itu terlalu membosankan. Mari kita bunuh iblis kecil pengatur taktik itu lebih dulu. Mari kita lihat, apakah bayangan umat manusia bisa mengalahkan Dewa Bayangan yang sesungguhnya."
Bayangan Jenderal Lian memudar, meleleh ke dalam tanah, melesat ke arah Kota Fajar dan membawa ancaman pembunuhan senyap yang belum pernah dihadapi Pasukan Pembelah Langit.