NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.

Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.

Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.

Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.

Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.

Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

.

Suasana perusahaan Mahendra Grup berjalan seperti biasa. Suara ketikan keyboard dan percakapan ringan antar karyawan terdengar di setiap sudut ruangan. Rania pun tenggelam dalam tumpukan dokumen di mejanya, berusaha menyelesaikan semua tugas tepat waktu. Sejak acara penyambutan investor kemarin, ia tak pernah lagi bertemu langsung dengan Alvino. Baginya, pria itu terlalu tinggi posisinya untuk sering berinteraksi dengan karyawan biasa seperti dirinya.

Di lantai paling atas, Alvino duduk bersandar sambil memandangi layar laptopnya. Namun pandangannya kosong, pikirannya sama sekali tak tertuju pada angka-angka laporan yang seharusnya ia baca.

“Kalau cuma diam saja dan hanya memandang dari jauh, sampai kapan pun dia takkan sadar kalau kamu menyukainya?” Kata-kata Bu Soraya kembali terngiang di kepalanya.

Alvino menghela napas panjang, lalu mengusap pelan pelipisnya.

“Ibu benar, tapi aku tak ingin membuatnya tertekan juga,” gumamnya sendiri. “Dia baru saja terluka, aku tak mau mendekat dengan cara yang salah sampai dia merasa terjebak.”

Matanya kemudian tertuju pada map berwarna biru rapi yang tergeletak di atas meja, sudah diantarkan oleh asistennya sejak pagi tadi. Tiba-tiba satu ide terlintas di benaknya, membuat pria itu tersenyum tipis.

Pria itu lalu menekan tombol interkom di meja kerjanya.

“Galih, ke ruanganku sebentar.”

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Galih Saputra, asisten pribadinya masuk.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Alvino?”

Alvino mengangguk pelan.

“Sampaikan pada general manager operasional, minta bagian administrasi keuangan membawa laporan evaluasi investasi proyek cabang Surabaya beserta semua dokumen pendukungnya ke ruanganku sekarang juga.”

Galih sempat terkejut mendengar perintah itu. Selama ini, dokumen setingkat itu biasanya cukup dikirim lewat email atau diserahkan melalui kepala divisinya saja. Namun ia tak berani bertanya lebih jauh.

“Baik, Pak. Segera saya sampaikan.”

Beberapa menit kemudian, Rania yang sedang memeriksa deretan angka di layar dikejutkan oleh kedatangan Pak Danu, GM operasional yang memanggil namanya.

“Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

“Pak Alvino meminta Anda membawa laporan evaluasi investasi cabang Surabaya beserta seluruh lampirannya ke ruang beliau sekarang juga.”

Mata Rania seketika membelalak tak percaya.

“Ke... ke ruangan Pak Alvino langsung, Pak?”

“Benar.”

“Tapi biasanya laporan seperti ini dulu diperiksa oleh ketua divisi dulu, Pak?” tanyanya ragu.

“Ini perintah langsung dari Beliau, Rania. Jadi kamu laksanakan saja.”

“Baik, Pak. Saya mengerti.”

Begitu Pak Danu pergi, beberapa rekan kerja di sekitarnya langsung melirik dan berbisik-bisik penasaran.

“Wah, Rania… kamu dipanggil langsung ke ruang Presiden Direktur? Ada apa ya?”

Rania menggelengkan kepala dengan raut cemas. “Aku juga tidak tahu. Apa jangan-jangan aku melakukan kesalahan, ya?"

“Jangan berpikiran negatif dulu. Siapa tahu aja kamu mau dipromosikan?”

"Iya benar. Kan selama ini kamu karyawan teladan di divisi kita?”

Rania hanya mengangguk canggung sambil merapikan pakaiannya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Selama bekerja di sini, ia hampir tak pernah berhubungan langsung dengan Alvino Mahendra. Pria itu baginya hanya sosok pemimpin yang jarang terlihat.

“Jangan-jangan memang ada kesalahan yang terlewat?” gumamnya pelan, merasa sedikit cemas.

Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil map yang diminta, memeriksa sekali lagi kelengkapannya, lalu melangkah menuju lift. Semakin dekat ke lantai atas, rasa gugup itu semakin tak bisa ia sembunyikan.

Begitu tiba di depan ruangan presiden direktur, Rania sudah ditunggu oleh Asisten Galih.

“Pak Alvino sudah menunggu," ucapnya.

Rania mengangguk dengan wajah kaku. Terlebih saat Galih membuka pintu untuknya dan mempersilakan dia untuk masuk. Wanita itu bahkan memejamkan matanya untuk merapal doa keselamatan.

“Permisi, Pak Alvino. Saya membawa berkas yang Bapak minta.”

Begitu melihat Rania berdiri di ambang pintu sambil memeluk map tebal, sorot mata Alvino yang biasanya dingin seketika berubah lembut. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

“Silakan masuk, Rania.”

Rania berjalan mendekat, lalu meletakkan map itu rapi di atas meja kerja besar dengan posisi menghadap Alvino.

“Ini laporan lengkapnya, Pak. Mulai dari rincian biaya sampai proyeksi keuntungan untuk dua tahun ke depan sudah saya lampirkan.”

“Terima kasih.”

Rania mengangguk sopan, “Kalau begitu, saya permisi kembali, Pak,” ucapnya lalu bersiap berbalik.

“Sebentar.”

Langkah Rania terhenti seketika. Ia menoleh kembali.

“Iya, Pak?”

Alvino membuka map itu perlahan, padahal sebenarnya ia sudah membaca dan memeriksa isinya sejak pagi tadi. Bahkan ia sudah hafal setiap poin penjelasannya. Namun melihat Rania berdiri di depannya dengan wajah serius dan sopan, hatinya terasa lebih tenang dari biasanya.

“Duduklah sebentar. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan terkait analisis di laporan ini.”

Rania mengangguk dan duduk di kursi hadapannya, dengan jantung semakin berdebar kencang dan pikiran yang semakin buruk.

“Bagian analisis keuntungan kuartal kedua ini, kamu yang menyusunnya sendiri?” tanya Alvino seolah benar-benar ingin tahu.

“Ya, Pak. Saya yang mengumpulkan data dan menyusun rangkumannya.”

Alvino mengangguk puas.

“Bagus sekali. Penjelasannya rinci, mudah dimengerti, dan tidak bertele-tele.”

Rania sedikit terkejut mendengar pujian itu. Wajahnya sedikit memerah.

“Terima kasih banyak, Pak. Saya hanya berusaha mengerjakannya sebaik mungkin.”

“Grafik perkembangan investasi ini juga rapi sekali. Kamu pandai mengolah data menjadi tampilan yang jelas.”

“Terima kasih, Pak.”

Senyum kecil yang muncul di bibir Rania membuat hati Alvino terasa hangat. Diam-diam ia mengamati wanita itu. Wajahnya terlihat lebih cerah dan tenang dibandingkan saat pertama kali ia temui beberapa minggu lalu.

“Rania.”

“Iya, Pak?”

“Mulai sekarang, untuk laporan penting seperti ini, kamu boleh langsung menyerahkannya ke ruanganku. Tak perlu lewat jalur biasa lagi.”

Mata Rania membulat tak menyangka.

“Langsung ke sini saja, Pak?”

“Ya. Supaya lebih cepat jika ada hal yang perlu didiskusikan.”

“Baik, Pak Saya mengerti.”

Alvino mengangguk lega. “Terima kasih atas kerja kerasmu. Kalau begitu, silakan kembali ke tugasmu.”

“Terima kasih, Pak. Saya permisi.” Rania berdiri dari tempat duduknya lalu membungkukkan sedikit badannya sebelum kemudian keluar dari ruangan itu.

Begitu pintu tertutup rapat, Alvino kembali bersandar di kursinya sambil tersenyum sendiri. Ia bahkan tak sadar, sedari tadi sudut bibirnya tak pernah turun.

Rania melangkah menuju lift dengan perasaan campur aduk antara bingung dan lega. Padahal sebelumnya dia benar-benar merasa takut, siapa sangka malah dipuji?

Sementara itu, Bu Soraya yang kebetulan datang membawa bekal makan siang, tanpa sengaja melihat punggung Rania yang berjalan menjauh. Dengan kening berkerut wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam ruangan putranya dan menghela nafas lelah sambil menggelengkan kepalanya kecil melihat Alvino duduk sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Wah wah wah, si bujang lapuk ini akhirnya mulai bergerak juga,” godanya sambil terkekeh pelan. “Sepertinya sebentar lagi Ibu akan benar-benar punya mantu.”

1
dewi rofiqoh
Semoga kedepannya kehidupan rania menjadi lebih baik
Muft Smoker
akhirny mereka bersatu jugaa ,, tinggal menunggu kebenaran terungkap saja sypa yg mandul ,, 😒😒😒😒



mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
Patrick Khan
legaaaa udah sahhhh😍
Ummee
setau q ijab qobul cuma ada di islam, mohon koreksi kalo salah🙏
Ummee: baik kak, terimakasih kembali🤗
total 2 replies
vania larasati
lanjut
sunaryati jarum
Ikut lega Rania dan Alvino sah suami istri
Felycia Fernandez
kk Thor,tolong lebih di perhatikan..
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sepertinya ada kesalahan penulisan. akan saya koreksi. terima kasih udah diingatkan
total 2 replies
sunaryati jarum
Pak Aksara pasti cari wali hakim😭Rania dan Alvino tetep menikah
sunaryati jarum
Tidak diberi uang banyak
Nar Sih
ada akad nikah ada peberkatan nikah jdi bingung kak ,atau mingkin lgi slh tulis ,tpi ttep semagat kak💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sudah aku revisi. makasih udah diigetin
total 1 replies
Noor hidayati
apakah nonis pake wali juga,maaf aku ga tahu soalnya,setahuku cuma umat muslim aja yang butuh wali nikah,terus kok sekarang mau ijab kabul,apa agamanya rania ganti lagi🙏🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. makasih ya. dan jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi
total 3 replies
Hary Nengsih
agama nya apa si katanya gereja tapi ada akad
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan tadi dan sudah di revisi. makasih udah diingetin 🙏
total 1 replies
imel
sejak kapan menikah di gereja pake akad nikah? pake wali hakim pula?
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. terima kasih sudah diingatkan 🙏
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
mau ngapain kamu Arga? ...
Ilfa Yarni
alhamdulillah proses akdnya selesai jg walaupun ada drama sebelumnya tp bersyukur sih klo Rani bukan ank kandung orangtua matre itu jd dia ga bisa meminta harta kpd rania wg ternyata Arga dtgelihat and nikah rania gmn rasanya arga
Yulya Muzwar
ketika nikah sama arga di gereja kecil, lalu nikah sama alvino pake ijab kabul sama penghulu.. 🙄🤔
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: iya, salah nulis tadi. makasih udah diingetin. jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi ya
total 2 replies
Oma Gavin
akhirnya sah rania jadi istri alvino dan sebentar lagi hamil biar arga dan ibunya syok dan tau kalau yg mandul anak kesayangan nya
lyla lafiya
👍
Lucy
parah ya org tua kayak bgtu knpa GK dr awal bongkar kenyataan nya ,knpa harus pas waktu akad brlangsung,GPP Rania pakai wali hakim aja lalu tinggalkan kluarga toxic itu👍🤣🤣
Muft Smoker
oke mak ,, aq msh belum paham ,,
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!