Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Cynthia dan Hati yang Patah
Malam di kantor PT Timur Jaya Group tidak pernah benar-benar gelap.
Lampu lantai eksekutif tetap menyala.
Layar grafik masih bergerak.
Pendingin ruangan berdengung pelan.
Cynthia Wulandari duduk sendirian di depan meja kerjanya.
Di layar laptop, ada laporan ekspansi tiga divisi baru.
Financial investment.
Venture capital.
Internet technology.
Angka-angkanya rapi.
Proyeksinya kuat.
Namun mata Cynthia tidak berada di sana.
Ia menatap layar ponselnya.
Foto dari ulang tahun Jessica Mahendra terbuka satu per satu.
Daun yang tertawa dengan syal merah muda.
Michelle yang membuat wajah aneh di samping kue.
Bagus yang memegang piring besar.
Lalu foto itu.
Hendry Pratama berdiri di belakang Jessica, memasangkan kalung mutiara emas di lehernya.
Wajah Hendry tenang.
Wajah Jessica basah oleh air mata.
Di mata mereka, tidak ada tempat untuk orang ketiga.
Cynthia menatap foto itu lama.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ia sudah tahu sejak awal.
Hendry punya istri.
Hendry punya anak.
Hendry bukan pria yang bisa ditarik keluar dari rumahnya hanya dengan kagum, uang, atau masa lalu.
Justru karena itu ia menghormatinya.
Dan justru karena itu dadanya sakit.
Satu tetes air jatuh ke layar ponsel.
Cynthia cepat menghapusnya.
Tetes kedua jatuh.
Lalu ketiga.
Ia menutup mulut dengan punggung tangan, tetapi suara napasnya tetap pecah.
Pintu ruang kerja terbuka sedikit.
Adrian Chandra berhenti di ambang pintu.
Ia memegang map kontrak.
"Maaf, saya kira Bu Cynthia masih rapat dengan tim legal."
Cynthia langsung mematikan layar ponsel.
"Tidak apa-apa. Saya hanya..."
Ia mengambil tisu terlalu cepat.
"Mata saya kemasukan debu."
Adrian melihat meja yang sangat bersih.
Lantai yang baru disedot.
Jendela tertutup.
Tidak ada debu yang cukup berani masuk ke ruangan itu.
Namun ia hanya mengangguk.
"Debu kantor memang kadang memilih orang yang paling sibuk."
Cynthia menatapnya.
Untuk sesaat, ekspresinya hampir pecah lagi.
Adrian berjalan masuk dan meletakkan kotak tisu di samping laptop.
"Kontrak bisa saya tinggalkan di sini. Tidak perlu dibaca malam ini."
"Saya bisa baca."
"Saya tahu."
Adrian menatapnya tenang.
"Tapi bisa bukan berarti harus."
Cynthia diam.
Adrian tidak bertanya lebih jauh.
Itu membuatnya sedikit lebih mudah bernapas.
Pria itu meletakkan map, lalu mundur ke pintu.
"Besok pukul sepuluh, Pak Hendry ingin membahas struktur PT Timur Jaya."
Cynthia mengangguk.
"Saya akan siap."
Setelah pintu tertutup, ia membuka ponsel lagi.
Foto Hendry dan Jessica masih ada di sana.
Cynthia mengusap layar.
Kali ini ia tidak menangis keras.
Hanya duduk diam sampai malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Keesokan paginya, ruang rapat PT Timur Jaya terlihat dingin dan bersih.
Di dinding kaca, tiga bagan besar sudah ditempel.
`Divisi Investasi Finansial`
`Divisi Modal Ventura`
`Divisi Teknologi Internet`
Hendry berdiri di depan meja.
Cynthia masuk dengan setelan hitam, rambut rapi, wajah profesional.
Tidak ada bekas air mata.
Kecuali bagi orang yang cukup dekat untuk melihat bahwa matanya sedikit kurang tidur.
"Pagi, Hendry."
"Pagi, Cynthia."
Hendry menunggu ia duduk.
Adrian berada di ujung meja, membuka tablet.
Namun setelah beberapa menit presentasi, Hendry menutup map di depannya.
"Adrian, beri kami sepuluh menit."
Adrian mengangkat mata.
Ia tidak bertanya.
"Baik, Pak Hendry."
Pintu tertutup.
Cynthia tetap duduk tegak.
"Ada yang salah dengan rencana saya?"
"Tidak."
"Target terlalu agresif?"
"Tidak."
"Kalau begitu?"
Hendry menatapnya.
Tatapannya tidak keras.
Justru karena tidak keras, Cynthia tahu ia tidak bisa bersembunyi di balik angka.
"Cynthia, aku sudah punya istri dan anak."
Jari Cynthia berhenti di atas map.
Kalimat itu datang tanpa belokan.
Tanpa mempermalukan.
Tanpa memberi harapan palsu.
Tapi tetap sakit.
Hendry melanjutkan, "Jessica adalah segalanya bagiku."
Cynthia tersenyum.
Ia berhasil.
Senyum itu keluar rapi.
"Aku tahu, Pak."
Kata `Pak` itu membuat jarak yang sebelumnya tidak pernah ia pakai terlalu sering.
"Aku hanya ingin bekerja dengan baik."
"Aku tahu kamu bekerja sangat baik."
"Kalau begitu kita lanjutkan presentasi."
"Cynthia."
Ia menggenggam map sedikit lebih kuat.
Hendry berkata pelan, "Aku tidak ingin kehilangan kamu sebagai rekan. Tapi aku juga tidak akan berbuat seolah tidak melihat apa-apa. Itu tidak adil untukmu. Tidak adil untuk Jessica."
Ruangan itu sunyi.
Cynthia menunduk sebentar.
Ketika ia mengangkat wajah, matanya basah, tetapi suaranya tetap stabil.
"Kamu kejam dengan cara yang sopan."
Hendry menerima kalimat itu.
"Mungkin."
"Tapi itu lebih baik daripada pria yang baik hanya di depan istri."
Hendry diam.
Cynthia menarik napas.
"Aku tidak akan mengganggu keluargamu."
"Aku percaya."
"Dan aku tidak akan pergi."
Kali ini Hendry mengangkat mata.
Cynthia membuka map baru.
"PT Timur Jaya butuh orang gila yang cukup sabar untuk membangun tiga divisi dari nol. Aku orangnya."
Hendry akhirnya tersenyum tipis.
"Aku ingin kamu menjadi COO PT Timur Jaya."
Cynthia membeku sejenak.
"COO?"
"Kamu pegang operasional penuh. Financial investment untuk arus dana dan instrumen pasar. Venture capital untuk startup dan teknologi baru. Internet technology untuk platform sendiri. Adrian tetap menjaga struktur legal dan hubungan dengan PT Surya Abadi."
Cynthia melihat bagan di kaca.
"Surya Abadi untuk tradisional. Timur Jaya untuk masa depan."
"Surya-Timur Twin Star Strategy."
Nama itu keluar pelan.
Namun rasanya seperti dua mesin besar mulai menyala.
Cynthia berdiri.
Ia berjalan ke dinding kaca dan mengambil spidol.
"Kalau begitu, divisi investasi tidak boleh hanya menjadi kasir. Kita bentuk meja risiko sendiri. Venture capital harus punya screening internal, bukan ikut tren. Untuk internet technology, kita butuh platform yang bisa mengikat UMKM, pembayaran, dan logistik."
Hendry mendengarkan.
Inilah Cynthia yang ia butuhkan.
Cynthia menolak menjadi perempuan yang menangis di belakang foto.
Tapi orang yang bisa melihat perang dari angka.
Ketika Adrian kembali sepuluh menit kemudian, kaca rapat sudah penuh garis dan panah.
Ia melihat mata Cynthia.
Masih merah sedikit.
Tapi nyalanya sudah berbeda.
Adrian meletakkan tablet.
"Saya harus tambah tiga tim legal?"
Cynthia tidak menoleh.
"Lima."
Adrian menaikkan alis.
"Agresif."
"Kita membangun masa depan. Jangan pelit pada fondasi."
Hendry berkata, "Setujui."
Adrian mengetik cepat.
"Baik, Pak Hendry."
Sore itu, Cynthia pulang ke apartemennya.
Ia melepas blazer, berdiri di depan cermin, dan menatap perempuan di dalamnya.
Mata sedikit bengkak.
Bibir pucat.
Tapi punggung tetap lurus.
Di meja rias, ponselnya kembali menyala.
Foto ulang tahun Jessica muncul sebagai notifikasi dari grup kecil.
Cynthia mengambil ponsel itu.
Ia menatap foto Hendry dan Jessica sekali lagi.
Lalu ia menyimpannya ke folder arsip.
Rasa itu tidak dihapus.
Hanya tidak lagi dibiarkan di depan mata.
Ia membasuh wajah.
Mengganti pakaian dengan kemeja kerja putih.
Mengikat rambut lebih rapi.
Di depan cermin, ia berkata pelan, "Kalau tidak bisa jadi istrinya, maka jadilah partner terbaiknya."
Suaranya masih sedikit bergetar.
Tapi setelah kalimat itu selesai, matanya kembali tajam.
Di jalan Kota Biru, mobil hitam Hendry melaju tenang.
Bagus mengemudi.
Hendry duduk di belakang, membaca ringkasan awal struktur PT Timur Jaya.
"Bu Cynthia kuat," kata Bagus tiba-tiba.
Hendry mengangkat mata.
"Kamu mendengar sesuatu?"
"Tidak. Saya cuma lihat wajah orang yang baru kalah tapi tetap berdiri."
Hendry menutup map.
"Dia bukan kalah."
Bagus berpikir sebentar.
"Kalau begitu?"
"Dia memilih tempatnya sendiri."
Bagus mengangguk, walau belum tentu benar-benar paham.
Mobil berhenti di lampu merah dekat sebuah persimpangan ramai.
Hujan kecil baru saja turun.
Aspal memantulkan lampu toko dan kendaraan.
Bagus melihat spion kiri.
Lalu spion kanan.
Kebiasaannya sejak Maya Devi muncul menjadi lebih tajam.
Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca samping.
Tok.
Tok.
Bagus langsung menegang.
Hendry menoleh.
Di luar, Maya Devi berdiri membawa tas kecil dan payung lipat.
Rambutnya sedikit basah.
Wajahnya tampak terkejut sekaligus lega.
Ia tersenyum ke arah Hendry.
"Pak Hendry! Kebetulan sekali."
Bagus tidak membuka kunci.
Maya mencondongkan tubuh sedikit, suaranya terdengar melalui kaca.
"Saya baru dari toko bahan interior. Aplikasi mobil online saya dibatalkan dua kali. Boleh nebeng sampai depan kompleks?"
Bagus menatap Hendry dari kaca spion.
Tatapannya jelas.
Jangan.
Hendry melihat jalan di sekitar.
Ramai.
Terlalu ramai untuk menolak dengan kasar tanpa alasan.
Dan terlalu ramai juga untuk menjadi tempat yang benar-benar aman.
Ia menurunkan kaca sedikit.
"Bu Maya, kami tidak langsung pulang. Ada urusan sebentar."
Maya tampak malu.
"Tidak apa-apa. Turunkan saya di mana pun yang searah. Maaf merepotkan."
Bagus berkata rendah, "Pak Hendry."
Hendry menangkap nada itu.
Ia juga menangkap hal lain.
Maya muncul di titik yang terlalu tepat.
Sama seperti kata Eyang Karyo.
Orang yang terlihat terlalu baik.
Hendry membuka kunci pintu.
"Silakan."
Bagus tidak senang.
Tapi ia patuh.
Maya masuk ke kursi depan samping Bagus.
Aroma parfum ringan memenuhi mobil.
"Terima kasih. Saya benar-benar tidak enak."
Bagus menjawab datar, "Pakai sabuk pengaman."
"Oh. Iya."
Maya memasang sabuk.
Matanya sekilas melihat jam digital di dashboard.
Satu detik.
Terlalu cepat untuk orang biasa memperhatikan.
Namun Hendry melihatnya dari pantulan kaca.
Lampu berubah hijau.
Bagus menginjak gas.
Mobil bergerak meninggalkan persimpangan.
Lima puluh meter.
Seratus meter.
Maya memegang tasnya lebih erat.
Seratus lima puluh meter.
Hendry menutup map di pangkuannya.
Dua ratus meter.
Ledakan mengguncang malam.
BOOM!
Cahaya merah menyala di belakang mereka.
Kaca mobil bergetar.
Suara klakson pecah di jalan.
Orang-orang berteriak.
Bagus langsung membanting setir ke sisi aman dan menahan mobil.
"Pak Hendry!"
Hendry sudah menoleh ke belakang.
Di kaca spion, persimpangan yang baru mereka tinggalkan berubah menjadi kepulan api.
Sebuah kendaraan hancur di titik tempat mobil mereka berhenti beberapa detik lalu.
Maya menutup mulut.
Wajahnya pucat.
Terlalu pucat.
Atau terlalu tepat.
Hendry menatap pantulan wajahnya di kaca.
Suara Jessica, Daun, dua cincin, dan peringatan Eyang Karyo melintas bersamaan di kepalanya.
Orang yang terlihat terlalu baik.
Ia berkata rendah, "Bagus."
"Saya siap."
Mata Hendry menjadi dingin.
"kunci pintu."
Di belakang mereka, api naik lebih tinggi.
Dan di dalam mobil, tidak ada lagi yang percaya pada kebetulan.