NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Toko Buku Senja

Aroma kertas dan kopi menjadi hal pertama yang menyambut Nadira setiap kali membuka pintu Toko Buku Senja.

Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika ia memutar papan kecil bertuliskan TUTUP menjadi BUKA. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar di bagian depan, menerangi rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku berbagai genre.

Toko itu tidak besar. Hanya dua lantai dengan dinding berwarna krem serta hiasan dinding dengan beberapa lukisan pada abad pertengahan. Di sudut ruangan terdapat beberapa meja baca, lengkap dengan tanaman hias yang sengaja dirawat Nadira agar pengunjung merasa nyaman berlama-lama. Meski sederhana, tempat itu selalu terasa seperti rumah. Rumah yang dibangun dari mimpi ayahnya.

"Selamat pagi, Mbak Nad." Suara Maya, pegawai paruh waktu yang masih kuliah, memecah lamunannya.

"Pagi, May."

"Semalam pulang dari nikahan jam berapa?"

"Hampir jam sepuluh."

"Wah, pasti capek."

Nadira hanya tersenyum kecil.

Kalau dipikir-pikir, rasa lelahnya bukan karena menghadiri pesta pernikahan Raina. Melainkan karena setelah pulang, ia masih harus menghitung pemasukan toko yang lagi-lagi tidak mencapai target.

Semalam Nadira menerima telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa ada beberapa orang datang ke rumah menagih cicilan bank. Dia tidak bercerita pada siapapun. Dia tidak mau membebani Raina yang sedang bahagia setelah menikah malah ikut menanggung kesedihannya.

Maya mulai menyalakan komputer kasir.

"Semoga hari ini ramai." Ucapan itu terdengar seperti doa yang setiap pagi mereka ulang.

Menjelang pukul sepuluh, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Seorang ibu membeli buku cerita anak. Dua mahasiswa mencari buku referensi. Seorang bapak paruh baya datang hanya untuk membaca koran sambil memesan kopi.

Semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ramai. Namun cukup untuk membuat toko tetap hidup.

Nadira berdiri di balik meja kasir sambil menghitung hasil penjualan pagi itu. Belum sampai lima ratus ribu rupiah. Ia menghela napas pelan.

Dulu, saat ayahnya masih hidup, akhir pekan seperti ini selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan beberapa orang rela duduk lesehan karena seluruh kursi penuh.

Kini banyak orang lebih memilih membeli buku secara daring. Sebagian lagi beralih membaca versi digital. Toko Buku Senja perlahan kehilangan pengunjungnya.

"Mbak." Maya memanggil pelan. "Ada kurir."

Seorang pria berseragam ekspedisi menyerahkan sebuah amplop putih. "Atas nama Nadira Pramesti."

"Terima kasih." Tanpa berpikir panjang, Nadira langsung membukanya. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Logo bank yang tercetak di pojok kiri atas membuat dadanya mendadak sesak. Matanya membaca setiap kalimat dengan perlahan. Apabila dalam waktu empat belas hari tidak dilakukan pembayaran tunggakan sesuai ketentuan, pihak bank berhak mengambil langkah hukum sesuai perjanjian kredit. Tangannya mulai bergetar.

"Mbak Nad...?" Maya memperhatikan perubahan raut wajah atasannya.

"Nggak apa-apa." Nadira buru-buru melipat kembali surat itu. Suaranya tidak lagi setenang tadi.

Menjelang siang, toko kembali sepi. Maya sibuk menyusun buku-buku baru di rak bagian belakang. Sementara Nadira duduk sendiri di meja kasir. Tatapannya tertuju pada sebuah foto berbingkai yang diletakkan di sudut meja.

Di dalam foto itu tampak seorang pria paruh baya tersenyum hangat sambil merangkul dirinya yang masih mengenakan seragam SMA.

"Ayah ..." Nadira mengusap bingkai foto itu perlahan. "Aku masih berusaha." Suara itu nyaris hanya berupa bisikan. Kenangan kembali memenuhi kepalanya.

Dulu, ayahnya sering berkata bahwa toko buku bukan sekadar tempat menjual buku. "Kalau orang pulang membawa satu buku, berarti kita ikut mengubah hidup satu orang." Kalimat itu yang membuat Nadira bertahan sampai sekarang.

Meski keuntungan semakin kecil. Meski cicilan semakin berat. Meski semua orang menyarankan agar toko itu dijual. Ia tidak pernah benar-benar sanggup melepaskannya.

Bel pintu kembali berbunyi. Seorang pria berkemeja biru masuk sambil membawa map hitam. "Selamat siang. Saya dari Bank Nusantara."

Jantung Nadira kembali berdegup lebih cepat.

"Saya hanya ingin memastikan Ibu sudah menerima surat peringatan yang kami kirim pagi ini."

Nadira mengangguk pelan. "Sudah."

"Kami berharap Ibu segera menghubungi pihak bank."

"Saya sedang mengusahakannya."

Pria itu tersenyum sopan. "Kami memahami kondisi Ibu tetapi keputusan akhir tetap berada di kantor pusat."

Setelah mengucapkan salam, pria itu kembali pergi. Maya yang sedari tadi pura-pura menyusun buku akhirnya mendekat.

"Mbak..."

"Iya?"

"Itu soal pinjaman toko, ya?"

Nadira tersenyum kecil. "Iya."

"Parah?"

Nadira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap rak-rak buku yang memenuhi ruangan. Setiap sudut toko menyimpan kenangan bersama ayahnya. Di sana ayahnya mengajarinya menghitung uang hasil penjualan. Di sana mereka pernah tertawa karena listrik mati saat hujan deras. Di sana pula ayahnya mengembuskan napas terakhir setelah terkena serangan jantung beberapa tahun lalu.

Bagaimana mungkin ia menjual semua kenangan itu?

"Selama toko ini masih berdiri aku akan mempertahankannya." Nadira berkata pelan.

Maya mengangguk. "Kalau butuh bantuan, bilang aja ya, Mbak."

"Terima kasih."

Menjelang sore, seorang anak kecil berlari masuk sambil menggandeng tangan ibunya.

"Mama yang kemarin!" Anak itu menunjuk sebuah buku dongeng bergambar kelinci.

Ibunya tersenyum meminta maaf. "Maaf ya, Mbak. Dia memang suka sekali ke sini."

"Nggak apa-apa." Nadira mengambil buku yang dimaksud lalu menyerahkannya kepada anak itu.

Wajah bocah kecil itu langsung berbinar. "Terima kasih, Kak." Hanya dua kata sederhana cukup membuat hati Nadira terasa sedikit lebih hangat.

Mungkin inilah alasan ayahnya tidak pernah menyerah. Karena selalu ada seseorang yang menemukan kebahagiaan lewat sebuah buku.

Menjelang toko tutup, Nadira kembali membuka laci meja kasir. Surat dari bank masih berada di sana. Ia menggenggam amplop putih itu erat-erat.

Empat belas hari.

Waktu yang bahkan lebih singkat daripada yang ia bayangkan. Jika tidak berhasil melunasi tunggakan, bukan hanya tokonya yang akan hilang. Melainkan seluruh kenangan yang selama ini ia jaga atas nama ayahnya.

Nadira menarik napas panjang sebelum melipat kembali surat itu. Jemarinya masih terasa dingin. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin ketika Maya menghampiri.

"Mbak, nggak apa-apa?"

"Iya."

"Yakin?"

Nadira mengangguk sambil memaksakan senyum. "Cuma surat dari bank."

Maya menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mendengar pembicaraan Nadira dengan pihak bank melalui telepon, tetapi tak pernah berani bertanya lebih jauh.

"Apa masih soal cicilan?"

"Iya."

"Kalau boleh tahu, masih banyak?"

Nadira tidak langsung menjawab. Ia membuka laci kasir, mengambil buku catatan keuangan yang sampulnya mulai lusuh, lalu membalik beberapa halaman.

"Beberapa bulan terakhir pemasukan terus turun." Ia menunjukkan deretan angka yang ditulis rapi dengan tinta biru. "Kalau begini terus, aku nggak bisa nutup cicilan bulan depan."

Maya memandang buku itu dengan perasaan bersalah. "Maaf ya, Mbak. Aku malah nambah beban karena harus digaji."

Nadira langsung menggeleng. "Jangan bilang begitu. Kalau bukan karena kamu, aku nggak mungkin bisa ngurus toko sendirian."

Maya tersenyum tipis. "Kalau memang lagi susah, gajiku bisa ditunda."

Nadira spontan menatapnya. "Nggak."

"Tapi, Mbak—"

"Nggak boleh."

Nada suara Nadira terdengar lebih tegas daripada biasanya.

"Ayah selalu bilang, orang yang bekerja sama kita jangan sampai pulang dengan perasaan haknya diambil."

Kalimat itu membuat Maya terdiam. Ia baru menyadari satu hal. Walaupun sedang berada dalam kesulitan, Nadira tidak pernah sekalipun mengurangi hak orang lain.

"Terima kasih, Mbak."

Nadira hanya tersenyum kecil. "Sekarang bantu aku bikin promo akhir pekan."

"Promo?"

"Iya."

"Diskon?"

"Bukan."

Nadira berpikir sejenak. "Gimana kalau beli dua buku gratis kopi?"

Mata Maya langsung berbinar. "Itu bagus!"

"Atau bikin tantangan membaca buat anak-anak."

"Wah, seru tuh!"

Keduanya mulai menuliskan beberapa ide di atas kertas kecil. Nadira masih ingin berusaha sebelum menyerah. Sekitar satu jam kemudian, seorang pelanggan tetap datang memasuki toko. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum ramah.

"Seperti biasa, Mbak. Novel sejarah terbaru sudah datang?"

"Sudah." Nadira mengambil satu buku dari rak bagian atas lalu menyerahkannya.

Pak Hendra membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya mengangguk puas. "Kalau bukan karena toko ini, saya mungkin sudah berhenti beli buku."

Nadira tersenyum. "Kenapa memangnya, Pak?"

"Di toko besar rasanya beda." Pria itu memandang sekeliling. "Di sini saya selalu merasa seperti datang ke rumah teman."

Ucapan sederhana itu membuat hati Nadira menghangat. "Terima kasih."

"Jangan sampai tutup ya, Mbak."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, dada Nadira kembali terasa sesak. Ia hanya mampu mengangguk pelan.

Pak Hendra membayar bukunya lalu berpamitan. Begitu pintu kembali tertutup, Maya menatap Nadira sambil tersenyum.

"Tuh kan."

"Hm?"

"Masih banyak yang sayang sama Toko Buku Senja."

Nadira memandang rak-rak kayu yang memenuhi ruangan. Benar. Mungkin jumlah mereka tidak sebanyak dulu. Masih ada orang-orang yang datang bukan hanya untuk membeli buku. Mereka datang karena merasa memiliki tempat ini dan selama masih ada satu saja orang yang percaya pada Toko Buku Senja. Nadira ingin terus memperjuangkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!