"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06 - Perempuan Yang Tidak Lagi Mengalah
Pagi pertama setelah menikah, Safira bangun pukul lima.
Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia turun ke dapur, membuka kulkas, lalu berhenti ketika melihat isinya penuh.
Telur, ayam fillet, sayuran, tahu, tempe, buah, susu, bumbu dasar, bahkan daun bawang yang sudah dibungkus rapi.
Ia tidak ingat membeli semua itu.
Di meja dapur ada kertas kecil.
`Kalau tetap ingin masak, bahan sudah ada. Tapi tidak wajib. - A`
Safira membaca catatan itu dua kali.
Tidak wajib.
Dua kata itu terasa aneh sekali.
Di rumah Santoso, dapur adalah kewajiban. Kalau ia terlambat bangun, semua orang merasa berhak marah. Kalau ia sakit, Ratna akan bilang, "Masak bubur saja. Kamu juga butuh makan, kan?"
Safira membuka lemari, menemukan beras dan minyak. Tangannya mulai bergerak. Bukan karena disuruh. Kali ini karena ia ingin.
Ia memasak nasi goreng kampung, telur mata sapi, dan teh panas. Saat hampir selesai, suara langkah turun terdengar.
Arga muncul dengan kaus hitam polos dan rambut sedikit berantakan.
Safira hampir tidak mengenalinya.
Semalam ia terlihat seperti lelaki dingin yang selalu tahu harus berkata apa. Pagi ini ia terlihat manusiawi. Masih terlalu tampan, tetapi lebih mudah didekati.
"Pagi," kata Arga.
"Pagi. Aku masak."
"Saya lihat."
"Kamu tidak keberatan?"
"Kenapa saya harus keberatan?"
"Semalam kamu bilang tidak wajib."
"Tidak wajib bukan berarti tidak boleh."
Safira mengangguk, lalu mengambil dua piring. Arga mendekat, membuka laci, dan mengambil sendok sendiri.
Safira menatapnya.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Di rumahmu sendok juga diambilkan?"
Safira tidak menjawab.
Arga sudah tahu jawabannya.
Mereka sarapan di meja kecil. Safira menunggu komentar Arga soal rasa. Lelaki itu makan beberapa suap, lalu mengangguk.
"Enak."
"Cuma nasi goreng."
"Nasi goreng juga bisa tidak enak kalau dibuat asal."
Safira menahan senyum.
Ponselnya bergetar saat ia mulai minum teh. Nama Ratna muncul di layar.
Safira menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat.
"Assalamualaikum, Ma."
"Kamu di mana?"
Safira mengerutkan kening. "Di rumah Mas Arga."
"Mama tahu. Maksud Mama, kamu bisa ke rumah sekarang?"
"Ada apa?"
"ART tidak masuk. Kakek dari tadi rewel tidak mau makan. Kamu datang sebentar, siapkan sarapan dan bereskan kamar Kakek."
Safira memejamkan mata.
Ia baru satu malam keluar dari rumah itu.
Satu malam.
"Ma, aku sudah menikah."
"Lalu? Menikah bukan berarti kamu lupa keluarga."
"Aku tidak lupa. Tapi aku tidak bisa setiap pagi datang untuk masak."
Ratna terdiam seolah baru saja mendengar kalimat dalam bahasa asing.
"Safira, jangan mulai."
"Aku tidak mulai apa-apa. Aku hanya bilang aku tidak bisa."
"Kakek yang meminta kamu."
Itu menusuk.
Safira menatap meja. Arga, di seberangnya, berhenti makan. Ia tidak ikut campur, tetapi perhatiannya penuh.
"Kalau Kakek benar-benar tidak mau makan, aku akan video call dan bujuk. Tapi untuk masak dan beres-beres, Mama bisa minta bantuan tetangga atau pesan makanan."
"Kamu sekarang sombong?"
"Tidak, Ma."
"Baru dinikahi laki-laki biasa saja sudah merasa punya rumah sendiri?"
Safira menelan napas.
"Iya, Ma. Aku memang punya rumah sendiri sekarang."
Hening di seberang.
Arga menatap Safira dengan sesuatu yang sulit dibaca.
Ratna tertawa pahit. "Baik. Nanti kalau hidupmu tidak enak, jangan pulang."
"Aku akan tetap menjenguk Kakek. Tapi bukan sebagai pembantu."
Safira menutup telepon sebelum ibunya menjawab.
Tangannya sedikit gemetar.
Arga mendorong gelas air ke dekatnya.
"Minum dulu."
Safira mengambil gelas itu. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Suara Mama keras. Kamu dengar semua."
"Saya dengar istri saya menetapkan batas."
Istri saya.
Lagi.
Safira menarik napas. "Aku terdengar durhaka?"
"Kamu terdengar lelah."
Mata Safira memanas. Ia segera berdiri membawa piring.
Arga ikut berdiri. "Saya cuci."
"Tidak perlu."
"Kamu baru saja melawan kebiasaan bertahun-tahun. Minimal biarkan piring ini saya lawan."
Safira hampir tertawa di tengah air mata yang belum jatuh.
Mereka mencuci piring bersama. Setelah itu, Safira bersiap ke workshop kecilnya. Ia selama ini menyewa ruangan sempit di belakang toko kain milik kenalan. Tempat itu tidak bagus, tetapi cukup untuk menerima pelanggan dan menyimpan mesin jahit.
Arga mengantarnya.
Safira menolak tiga kali.
Arga mengabaikan tiga kali.
"Aku biasa naik ojek online."
"Hari ini saya satu arah."
"Ke proyek?"
"Iya."
Bohong itu terdengar terlalu rapi.
Safira menatapnya dari kursi penumpang. "Kamu tahu alamat workshop-ku dari mana?"
Arga diam sepersekian detik. "Kamu menulisnya di buku catatan semalam."
"Kamu membaca?"
"Tidak sengaja terlihat."
"Hmm."
Arga menoleh sekilas. "Kamu curiga?"
"Sedikit."
"Bagus. Jangan mudah percaya pada laki-laki yang baru kamu nikahi."
Safira menatapnya heran.
"Kamu aneh."
"Saya realistis."
Workshop Safira berada di gang kecil dekat toko kain. Papan namanya sederhana: `Safa Atelier`. Cat putihnya mulai pudar. Di dalam, ada dua mesin jahit, satu meja potong, manekin, gulungan kain, dan sketsa menempel di dinding.
Arga masuk hanya sampai ambang pintu.
"Ini tempatmu bekerja?"
"Iya. Kecil, ya?"
"Rapi."
"Kamu tidak perlu menghibur."
"Saya tidak menghibur."
Safira meletakkan tas. "Aku mulai dari sini. Dulu aku ingin sekolah desain di Jakarta, tapi uangnya dipakai. Jadi aku belajar dari YouTube, kursus pendek, dan praktik sendiri."
Arga melihat sketsa di dinding. Ada kebaya modern dengan potongan bersih, gaun modest dengan detail tenun, blus batik kontemporer.
"Kamu berbakat."
Safira menoleh, kaget oleh keseriusan suaranya.
"Kamu mengerti desain?"
"Tidak banyak. Tapi saya tahu ketika seseorang mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh."
Safira tidak sempat menjawab karena pintu kaca didorong dari luar.
Rania masuk bersama Dimas.
Hari yang baru saja mulai terasa tenang langsung berubah dingin.
Rania melihat Arga, lalu Safira. "Oh. Pengantin baru langsung kerja?"
"Ada pesanan," jawab Safira.
Dimas menatap Arga dengan senyum tipis. "Mas Arga tidak keberatan istrinya kerja di tempat seperti ini?"
Arga balik menatapnya. "Kenapa saya harus keberatan?"
"Biasanya suami ingin istrinya lebih... terurus."
Safira menyela, "Aku terurus."
Rania tertawa kecil. "Safa, jangan sensitif. Aku ke sini bukan mau ribut. Aku cuma mau ambil beberapa pola lama punya butik Mama. Katanya masih kamu simpan."
"Pola yang mana?"
"Koleksi Lebaran tahun lalu."
Safira menatap kakaknya. "Itu pola yang aku buat."
"Untuk butik keluarga."
"Tapi tidak pernah dibayar."
Rania menghela napas. "Kamu sekarang hitung-hitungan sekali."
"Iya. Mulai sekarang, semua pekerjaan harus jelas."
Dimas tersenyum meremehkan. "Safa, kamu berubah setelah menikah. Apa karena suamimu mengajari kamu melawan keluarga?"
Safira belum sempat menjawab.
Arga sudah melangkah maju.
"Istri saya tidak perlu diajari untuk menghargai dirinya sendiri."
Rania menegang. Dimas kehilangan senyum.
Arga melanjutkan, "Kalau ingin memakai desainnya, buat kontrak. Kalau ingin mengambil barang dari workshop ini, minta izin. Kalau tidak bisa melakukan dua hal sederhana itu, pintunya ada di belakang kalian."
Suara Arga tidak keras.
Namun ruangan kecil itu langsung terasa sempit.
Rania menatap Safira, marah bercampur malu. "Kamu membiarkan suamimu bicara seperti itu pada kakakmu?"
Safira menatap Rania lama.
Dulu ia pasti akan meminta Arga diam. Dulu ia akan bilang, "Sudah, Kak, ambil saja." Dulu ia akan mengalah agar suasana tidak memburuk.
Hari ini, ia menggeleng.
"Dia benar."
Rania terdiam.
Safira mengambil map dari rak, menaruhnya di meja.
"Kalau Mama mau pola itu, bilang Mama kirim pesan resmi. Aku akan hitung biaya desain dan lisensinya. Setelah dibayar, file akan kukirim."
Dimas mencibir. "Kamu pikir desainmu sudah sehebat itu?"
"Kalau tidak hebat, kenapa kalian datang mengambil?"
Bibir Dimas mengatup.
Rania menarik napas tajam, lalu berbalik. "Ayo, Dim."
Mereka keluar dengan langkah keras.
Safira berdiri diam beberapa detik. Lalu ia menghembuskan napas panjang.
Arga menatapnya. "Kamu baik-baik saja?"
"Tanganku dingin."
"Tapi kamu tidak mundur."
Safira melihat pintu kaca yang masih bergetar.
"Aku capek mundur."
Arga mengangguk pelan.
Di mata lelaki itu, Safira melihat sesuatu yang membuat dadanya hangat.
Bukan kasihan.
Rasanya seperti hormat.
Setelah Arga pergi, Safira duduk di kursi kerjanya dan menatap map pola yang tadi hampir diambil Rania. Ia membuka satu per satu kertas di dalamnya. Ada bekas pensil, coretan ukuran, revisi bentuk lengan, dan catatan kecil yang ia tulis tengah malam ketika rumah Santoso sudah sepi.
Selama ini, ia menganggap semua itu cuma kerja tambahan.
Hari ini, untuk pertama kalinya, ia melihatnya sebagai aset.
Ia mengambil selembar kertas kosong dan menulis: `Daftar desain milik Safa Atelier`.
Tulisan itu agak miring karena tangannya masih dingin. Namun setelah baris pertama, baris kedua terasa lebih mudah. Pola kebaya Lebaran. Outer batik hijau. Dress lamaran Bu Maya. Blus tenun pesanan Tante Lilis.
Satu per satu, pekerjaannya punya nama.
Punya nilai.
Dan kalau suatu hari keluarganya datang lagi untuk mengambil tanpa izin, ia tidak akan hanya mengandalkan keberanian spontan.
Ia akan siap.