NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tirai yang Terangkat

“Ini... ini...”

Aku berdiri terpaku di tengah lorong yang riuh.

Suara langkah kaki berderap dari segala penjuru. Para pemain, penata panggung, pekerja, dan para penari berlalu-lalang di hadapanku dengan tergesa-gesa. Kain-kain kostum bergesekan, suara perintah bersahutan, sementara dari kejauhan terdengar alunan musik orkestra yang perlahan mulai memenuhi gedung.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali.

Apa yang sedang terjadi?

“Christine!”

Sebuah suara perempuan memanggil namaku dari kejauhan.

Aku menoleh tanpa sadar.

Seorang gadis berambut pirang berlari kecil ke arahku. Wajahnya tampak begitu akrab, seolah-olah aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun.

“Christine! Mengapa kau berdiri di sini?”

Ia berhenti di hadapanku sambil mengatur napas.

“Semua orang sudah siap. Pertunjukan akan segera dimulai.”

Christine?

Mengapa dia memanggilku seperti itu? Dan... mengapa wajahnya begitu familiar? Aku menatapnya dalam kebingungan.

Lalu, tiba-tiba...

Kepalaku terasa berdenyut.

Sebuah rentetan gambar yang bukan milikku mengalir deras ke dalam pikiranku.

Sebuah kamar kecil.

Seorang gadis muda yang sedang berlatih menyanyi.

Panggung yang megah.

Kostum-kostum indah.

Gedung opera.

Dan seorang pria berwajah tampan yang tersenyum kepadaku.

Kemudian semuanya berhenti.

Aku terdiam.

Ingatan itu bukan milikku.Namun aku mengenal semuanya.

“...Christine Daaé.”

Nama itu lolos begitu saja dari bibirku.

Dan pada saat itulah aku mengerti.Aku telah masuk ke dalam sebuah cerita.Mataku perlahan menyapu sekeliling.

Langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen keemasan. Pilar-pilar megah. Lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan dan patung. Para pemain yang mengenakan kostum panggung dari masa lampau.

Tidak mungkin aku salah.

Ini adalah Palais Garnier. Gedung Opera Paris yang termasyhur.

Bangunan megah yang dirancang oleh Charles Garnier dan selesai pada tahun 1875 itu tampak jauh lebih menakjubkan daripada gambaran apa pun yang pernah kulihat di buku.

Namun kekagumanku segera tergantikan oleh kepanikan. Aku tahu tempat ini. Aku tahu cerita ini. Dan yang lebih buruk adalah...

Aku tahu siapa aku sekarang.

Christine Daaé.

Tokoh perempuan utama dalam kisah yang selama ini hanya kukenal sebagai cerita.

“Christine?”

Suara Meg menarikku kembali ke kenyataan.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

Aku segera tersenyum. “Jangan khawatir, Meg. Aku hanya sedikit gugup.”

Aku berusaha terdengar tenang. “Bagaimanapun, ini adalah hari yang besar.”

Meg mengangguk. “Hari ini pemutaran perdana Polyeucte. Semua orang di gedung opera menantikannya.”

Polyeucte.

Aku menelan ludah. Tentu saja. Ini adalah hari ketika semuanya dimulai. Hari ketika nama Christine Daaé perlahan mulai dikenal.

Hari ketika takdir yang selama ini hanya kubaca dalam sebuah cerita akan kembali berjalan di hadapanku.

Aku memandang panggung di kejauhan. Aku hanyalah pendatang baru. Bahkan tidak lebih dari seorang penyanyi latar yang mendapatkan kesempatan kecil untuk tampil di atas panggung. Impian menjadi pemeran utama masih terasa begitu jauh.

Namun setidaknya...

Ini adalah permulaan.

“Orkestra sudah mulai bermain.” Meg tersenyum kepadaku.

“Christine, aku mengharapkan yang terbaik darimu.”

“Terima kasih, Meg.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Aku akan segera pergi.”

...----------------...

Begitu kakiku menginjak panggung, suara orkestra seolah berubah menjadi gelombang besar yang menghantam tubuhku.

Cahaya lampu menyilaukan mataku.

Di hadapanku terbentang ribuan penonton.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sebanyak itu pasang mata tertuju ke arah panggung tempat aku berdiri.

Jantungku berdegup begitu keras.

Telapak tanganku berkeringat.

Bahkan suaraku sedikit bergetar ketika bait pertama keluar dari bibirku.

Aku hampir lupa bernapas.

Namun aku segera memejamkan mata.

Bernyanyilah.

Aku membiarkan musik membawaku.

Satu bait.

Dua bait.

Perlahan, kegugupanku mulai mereda.

Aku membuka mata dan memandang ke arah penonton. Lalu aku menyadari sesuatu. Mereka tidak benar-benar memperhatikanku.

Tentu saja. Bagaimana mungkin mereka memperhatikanku? Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak pemain yang berdiri di atas panggung.

Perhatian seluruh aula tertuju kepada satu orang.

Carlotta.

Pemeran utama wanita itu berdiri di bawah cahaya lampu dengan keanggunan yang nyaris sempurna. Suaranya memenuhi gedung opera.

Jernih. Kuat. Tanpa cela.

“Ya Tuhan... suara Carlotta sungguh seperti suguhan surgawi.”

“Menurutku, dia adalah penyanyi sopran terbaik di seluruh Paris.”

“Dan lihat aktingnya. Sempurna!”

Pujian terdengar dari berbagai penjuru.

Aku tidak bisa menyangkalnya. Carlotta memang luar biasa. Setiap nada tingginya terdengar sempurna. Setiap gerak tubuhnya seolah telah diperhitungkan. Ia tahu persis bagaimana membuat ribuan orang di hadapannya terpaku.

Aku menunduk sedikit.

Dibandingkan dengannya, aku benar-benar biasa saja.

Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Padahal ini pertama kalinya aku berdiri di atas panggung sebesar ini. Bukankah seharusnya aku bahagia? Aku menghela napas pelan.

(Tenanglah, Sofia.)

(Atau... haruskah aku mulai membiasakan diri dipanggil Christine?)

Aku hampir tertawa getir. Aku kembali memusatkan perhatian pada peranku. Aku tidak perlu menjadi Carlotta. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri bukan?

Atau setidaknya... Menjadi Christine.

Aku membiarkan musik memenuhi pikiranku dan berusaha menghidupkan setiap emosi yang seharusnya dimiliki tokoh yang kumainkan.

Untuk beberapa saat, aku lupa bahwa aku bukan berasal dari dunia ini.

...----------------...

Pertunjukan akhirnya berakhir.

Tirai perlahan turun, disusul gemuruh tepuk tangan yang memenuhi seluruh gedung opera.

Aku menarik napas lega.

Berhasil.

Aku berhasil melewati penampilan pertamaku. Para pemain mulai meninggalkan panggung.

Di balik tirai, suasana kembali dipenuhi kesibukan. Orang-orang berbicara, mengganti kostum, membawa perlengkapan, dan membereskan berbagai benda yang berserakan.

Aku baru saja hendak mengikuti Meg ketika suara seorang perempuan terdengar tajam.

“Menyingkir!”

Aku menoleh. Carlotta berdiri di lorong. Wajahnya masih dihiasi riasan panggung, tetapi senyum anggun yang tadi ia tunjukkan kepada penonton telah lenyap sama sekali.

“Jangan menghalangi koridor! Mengapa para aktris di sini begitu tidak disiplin?”

Seorang pekerja buru-buru menyingkir.

“Ah, maaf, Nona. Kami baru saja turun dari panggung.”

Carlotta bahkan tidak repot-repot mendengarkan penjelasannya. Ia berjalan melewati kami dengan dagu terangkat tinggi. Aku memperhatikannya hingga sosoknya menghilang di ujung lorong.

(Penampilannya memang sempurna.)

Aku menghela napas.

(Sayangnya, emosinya tidak seindah suaranya.)

Aku hendak berbalik ketika sesuatu menarik perhatianku.

Bunga.

Setangkai buket bunga yang indah tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku mengangkat kepala. Seorang pemuda berdiri di sana. Wajahnya tampan dan rapi. Tatapannya lembut, dengan binar ramah yang membuatku sedikit terkejut.

“Untukmu.”

Aku menerima buket itu dengan ragu.

“Oh...”

Harumnya memenuhi udara.

“Terima kasih.”

Pemuda itu tersenyum.

“Maafkan aku karena terlalu jujur, Nona Christine, tetapi penampilanmu malam ini benar-benar tak terlupakan.”

Aku terdiam sesaat. Pujian setelah penampilan pertamaku? Sungguh perasaan yang aneh.

Hangat. Menyenangkan.

Namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa seolah-olah ia telah mengenalku jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Ia tidak langsung menjawab.

Aku menggenggam buket itu sedikit lebih erat.

“Aku hanyalah karakter pendukung. Bahkan aku tidak memiliki bagian solo.”

“Aku ingat suaramu, Christine.” Suaranya terdengar lembut. “Nyanyianmu seindah yang kuingat.”

Aku mengerutkan kening.

Seindah yang dia ingat?

Apa maksudnya?

“Terima kasih, Tuan...”

Aku menatapnya dengan penuh kebingungan.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Untuk sesaat, senyum di wajahnya memudar.

“Aku rasa kau tidak mengingatku.”

Tatapan pemuda itu berubah. Ada sesuatu yang menyerupai kekecewaan di sana.

“Maaf, Tuan...”

Aku berusaha keras menggali ingatan Christine. Namun tidak ada apa-apa. Sebelum aku sempat mengatakan lebih banyak, suara Meg terdengar dari kejauhan.

“Christine!”

Aku menoleh.

“Sudah waktunya berganti kostum!”

Aku kembali memandang pemuda di hadapanku.

“Maaf, aku harus pergi.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku tidak akan menahanmu lagi.” Kemudian ia sedikit membungkuk.

“Kita akan bertemu lagi.”

Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kalimat itu yang membuat bulu kudukku meremang. Seolah-olah ia tidak sedang mengucapkan sebuah harapan. Melainkan sebuah kepastian. Aku memperhatikannya sesaat sebelum akhirnya berbalik.

“Baiklah... aku harus segera mengganti kostum.”

Aku berjalan menyusul Meg. Tanpa mengetahui bahwa malam itu bukan sekadar malam pertunjukan pertamaku. Malam itu adalah malam ketika roda takdir mulai bergerak.

Dan jauh di suatu tempat di balik kegelapan gedung opera—

Seseorang sedang mendengarkan.

Seseorang yang telah lama menungguku.

Seseorang yang kelak akan menjadi malaikat...

atau justru hantu dalam hidupku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!