NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12.Sisi Lain Kenzo yang Tak Diketahui

Sejak hari itu, mata Anisa perlahan mulai terbiasa memperhatikan sosok di sebelahnya. Bukan lagi untuk mencari celah atau bersiap menyanggah setiap ucapannya, melainkan karena rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh di hatinya—siapa sebenarnya Kenzo, di balik wajah kaku dan sikap seakan tak peduli pada siapa pun itu. Dan ternyata, semakin lama Anisa memperhatikannya, semakin banyak hal baru yang ia temukan; hal-hal yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya.

Suatu siang saat jam istirahat, Anisa kembali ke kelas lebih awal karena meninggalkan buku catatannya. Saat mendekati pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di dalam kelas yang sepi itu, tampak sosok Kenzo sedang berdiri di dekat meja seorang teman sekelas yang terlihat kurang mampu. Anisa bersembunyi sedikit di balik kusen pintu, tak sengaja menyaksikan pemandangan itu. Kenzo sedang memasukkan selembaran uang ke dalam saku tas teman itu dengan gerakan cepat dan hati-hati, seakan tak ingin diketahui siapa pun. Setelahnya ia buru-buru berpaling, membetulkan posisi tas itu kembali seperti semula, lalu duduk tenang di kursinya seakan tak terjadi apa-apa. Tak ada kata sombong, tak ada nada merendahkan. Hanya kebaikan yang dilakukan diam-diam, tanpa suara dan tanpa pamrih sedikit pun.

Jantung Anisa berdetak pelan menyaksikannya. Selama ini ia mengira Kenzo hanya peduli pada aturan, ketertiban, dan dirinya sendiri. Ternyata... hatinya jauh lebih lembut dari yang terlihat.

Tak lama kemudian, Anisa kembali menemukan sisi lain yang sama sekali tak disangkanya. Saat sore hari seusai pelajaran, ia berjalan melewati taman sekolah yang agak sepi dan melihat Kenzo sedang berdiri di sana. Bukan sedang membentak siapa pun atau menegur aturan seperti biasanya. Melainkan sedang menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, perlahan mengucapkan sesuatu dengan lembut sambil menatap seekor anak kucing kecil yang kakinya tampak terluka di rumput. Suaranya begitu pelan, begitu lembut, seakan takut mengejutkan makhluk kecil itu. Kenzo dengan hati-hati membungkus kaki kucing itu dengan sapu tangan bersih miliknya, lalu meletakkan sepotong roti di dekatnya sebelum perlahan melangkah pergi. Wajahnya yang biasanya tegas tampak begitu tenang dan damai, tak ada sedikit pun bayangan kemarahan atau kesombongan yang biasa Anisa lihat setiap hari.

Anisa terpaku di tempatnya. Selama ini ia hanya mengenal Kenzo yang keras, kaku, dan tak segan-segan menegur siapa pun. Namun di sini, sendirian tanpa siapa pun yang melihat... lelaki itu memancarkan kelembutan yang begitu tulus.

Ada hal-hal lain pun yang kini mulai terlihat jelas oleh Anisa. Saat teman-teman lain ribut mengejek seseorang, Kenzo diam saja dan sesekali menatap mereka dengan tatapan tak setuju. Saat guru memberikan tugas yang berat, diam-diam Kenzo menuliskan poin-poin penting di papan tulis agar teman yang lambat mencatat bisa ikut tertulis. Saat ada yang tertinggal bekal makan siang, perlahan sebuah kotak bekal berisi makanan lengkap tersedia di atas meja tanpa nama pengirimnya. Dan Anisa tahu, siapa pelakunya.

Semua hal itu dilakukan Kenzo dengan cara yang sama—senyap, tak bersuara, tak memamerkan kepada siapa pun. Ia tak ingin dipuji, tak ingin dikenal baik. Ia justru berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin, kembali bersikap dingin dan tegas saat berada di hadapan orang banyak. Seakan kelembutan hatinya itu adalah rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Hari itu, saat mereka kembali duduk berdampingan dan Kenzo kembali bersikap tenang dengan wajah yang datar seakan tak pernah melakukan hal-hal baik tersebut, Anisa menatapnya lekat-lekat. Ada rasa hangat yang perlahan mengalir di dadanya. Selama ini ia menilai Kenzo hanya dari apa yang tampak di luar saja—sikap tegasnya, nada bicaranya yang tinggi, dan ketegasannya dalam menegur aturan. Padahal di balik semua itu, tersembunyi hati yang jauh lebih lembut, jauh lebih peduli, dan jauh lebih mulia daripada yang ia duga selama ini.

Anisa pun akhirnya memahami satu hal: Kenzo memang tak pandai mengungkapkan kebaikannya lewat kata-kata manis. Ia tak suka berbicara banyak atau memamerkan perhatiannya. Namun setiap tindakan kecil yang ia lakukan diam-diam, setiap perhatian yang tersembunyi di balik sikap dinginnya... justru berbicara jauh lebih jujur dan menyentuh hati daripada ribuan ucapan indah. Dan sejak saat itu, pandangan Anisa terhadap sosok di sebelahnya perlahan berubah. Rasa benci yang dulu membara kini perlahan sirna, berganti rasa hormat dan kagum yang perlahan tumbuh, menyadari bahwa selama ini ia hanya mengenal kulit luarnya saja, belum pernah benar-benar mengenal isi hatinya yang sebenarnya.

BERSAMBUNG....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!