Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pukul 07.15 WIB.
SMA Nusantara seperti diselimuti udara tebal yang membikin sesak. Kasak-kusuk soal "rahasia besar Ketua OSIS" merayap cepat dari mulut ke mulut sepanjang lorong. Beberapa anak berbisik-bisik sambil melirik Kirei yang melintas di koridor lantai dua. Kirei melangkah konstan, menegakkan dagu—menolak menyuapkan kepanikan pada mata-mata yang haus rumor.
Di ujung koridor, Bima sudah bersiap. Senyum tipis berbalut percaya diri meluap-luap di wajahnya. Kemeja OSIS-nya rapi tanpa lipatan, sementara kacamata bingkai tipisnya memantulkan kilau matahari pagi.
"Pagi, Bu Ketua," sapa Bima dingin, nada suaranya sarat ancaman saat Kirei berpapasan dengannya. "Lima belas menit lagi sidang di ruang Kepala Sekolah. Sudah siap menyaksikan kehancuran lo sendiri?"
Kirei mengerem langkah, berbalik perlahan. Sorot matanya menancap pada Bima dengan rasa iba yang tak ditutup-tutupi—tatapan yang mendadak membuat Bima gerah.
"Lo yakin mau meneruskan kebodohan ini, Bima?" tanya Kirei pelan.
"Gue enggak bercanda, Kirei!" bisik Bima tajam, mencondongkan badan. "Buktinya ada di ponsel gue. Sekali ketuk, berkas pernikahan kontrak lo sama Arka bakal mendarat di surat elektronik Pak Hartawan dan seluruh grup OSIS. Pilihannya cuma dua: lepas jabatan lo dan jauhi Arka, atau kita hancur bareng-bareng!"
Belum sempat Kirei menyambar, derap langkah sepatu yang diseret santai terdengar mendekat.
Arka muncul dalam balutan seragam rapi—pemandangan langka yang memaksa beberapa siswi menoleh heran. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, sementara sebuah flashdisk perak berputar-putar di sela jemarinya.
"Pagi, Wakil Ketua yang terhormat," celetuk Arka, menyunggingkan senyum miring yang provokatif.
Bima mendengus geli, memindai Arka dari ujung kepala sampai kaki. "Masih berani pamer muka, Arka? Lo pikir pakai baju rapi begini bakal bikin Pak Hartawan mengampuni manipulasi pernikahan di bawah umur?"
Arka tak ambil pusing. Ia melangkah mendekat, miring sedikit ke arah Bima. "Gue cuma mau kasih saran... mending lo cek ponsel mahal lo itu sekarang. Siapa tahu ada kabar penting yang kelewatan."
Kening Bima berkerut curiga. "Gak usah gertak gue—"
"Cek aja, Bim. Enggak rugi," potong Arka santai seraya menyandarkan bahunya ke dinding.
Didorong rasa penasaran yang memanas bercampur cemas, Bima merogoh saku jasnya lalu membeberkan layar ponsel. Kunci layar terbuka.
Dalam hitungan detik, warna di wajah Bima menguap habis. Matanya membelalak kaku menatap pemberitahuan email masuk dari alamat yang sangat ia paham.
Dari: Tim Penyelidik Siber & Kedisiplinan Sekolah
Subjek: Bukti Pelanggaran Etika dan Akses Ilegal Siswa a.n. Bima Putra
Jemari Bima mendadak gemetar hebat saat mengusap layar. Di sana melampirkan video dua menit.
Rekaman kamera tersembunyi dari sudut atas ruang OSIS semalam memperlihatkan dengan teramat telanjang detik-detik Bima mengutak-atik laci Kirei memakai kawat, mengambil kunci duplikat, hingga momen ia mencetak berkas pribadi subuh tadi.
Bukan cuma itu, lampiran di bawahnya memuat tangkapan layar percakapan dari akun anonim Bima saat memesan cetakan foto A3 di percetakan luar dua hari lalu.
"G-gimana bisa...?" desis Bima terbata-bata, dadanya kempas-kempis menahan napas.
"Kamera pengawas sekolah memang cuma memantau koridor, Bima," Arka maju selangkah, merampas ponsel dari jemari Bima yang melemas. "Tapi lo lupa tim basket pasang kamera analisis di sudut ruang OSIS dari bulan lalu. Dan kebetulan... kuncinya cuma gue yang pegang."
Raut Bima memucat seperti mayat. "L-lalu... berkas itu..."
"Dokumen pernikahan yang lo curi dari tas Kirei?" Arka terkekeh rendah, menepuk-nepuk paha Bima pakai ponsel cowok itu. "Jam satu pagi tadi, peretas yang gue sewa sudah membersihkan seluruh cloud storage dan folder rahasia ponsel lo. Berkas itu hilang permanen. Lo enggak punya kartu lagi buat mengancam Kirei."
Bima tersandar lemas ke dinding koridor, lututnya kehilangan tumpuan. "Lo... lo jebak gue..."
"Bukan menjebak, Bima. Ini membersihkan sampah," sela Kirei dingin, melangkah berdiri sejajar di samping Arka. "Semua bukti pelanggaran lo, dari pencurian data sampai perusakan nama baik, sudah terkumpul di flashdisk Arka. Dan laporan itu sudah mendarat di email Pak Hartawan tepat jam tujuh pagi tadi."
Klek.
Pintu ruang Kepala Sekolah di ujung koridor terdorong keras. Pak Hartawan keluar bersama Pak Tio dengan wajah kelam penuh amarah.
"Bima Putra!" seruan Pak Hartawan menggelegar, memotong keramaian lorong. "Masuk ke ruangan saya sekarang! Orang tua kamu dalam perjalanan ke sekolah!"
Koridor seketika senyap. Seluruh mata menyapu figur Bima yang berjalan gontai mengekor di belakang guru-guru dengan kepala tertunduk dalam. Topeng anak emas yang ia rawat bertahun-tahun hancur tak berbekas di depan semua orang.
Suasana koridor kembali lengang setelah kerumunan dibubarkan guru piket.
Kirei menyandarkan punggungnya ke pembatas koridor, meraup udara pagi yang kini terasa lapang setelah rasa takut menghimpit dadanya sejak kemarin. Ia memalingkan wajah, menatap cowok di sampingnya.
Arka masih asyik memutar-mutar flashdisk perak di jemari dengan raut santai, seakan baru saja menyelesaikan urusan sepele.
"Arka," panggil Kirei lirih.
"Hm?" Arka menoleh, mengungkit sebelah alisnya.
"Soal peretas semalam... dan kamera itu..." Kirei mengamati Arka dengan desakan ingin tahu yang membakar. "Lo beneran mengurus semua itu semalaman?"
Arka menghentikan putaran flashdisk, balas menatap Kirei lurus-lurus. Cahaya pagi yang menembus kaca menyinari iris cokelat gelapnya, menyintesis kehangatan tak terduga.
"Kan gue udah bilang, Rei?" suara Arka melunak, turun jadi bisikan rendah. "Gue enggak bakal biarkan siapa pun merusak hidup lo. Lagian..."
Arka condong ke depan, mengikis jarak hingga helaan napasnya terasa di wajah Kirei. Kirei menahan napas, merasakan degup dadanya mendadak liar tak terkendali.
"...kalau sampai rahasia pernikahan kita terbongkar terus lo dikeluarkan dari sekolah, siapa yang bakal ribet menegakkan aturan sembilan belas poin di rumah?" bisik Arka sambil menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran senyum tulus yang membuat parasnya berkali-kali lipat lebih menawan.
Pipi Kirei terasa panas seketika. Untuk menutupi canggung, ia buru-buru mendorong dada Arka pelan. "Enggak usah mulai, deh!"
Arka tertawa kecil, suara tawa lepas yang bergetar hangat di telinga Kirei.
Namun, sebelum Kirei sempat berbalik menuju kelas, ponsel di dalam saku seragamnya meraung-raung. Panggilan masuk dari nomor rumah sakit.
Raut wajah Kirei mendadak kaku. Jemarinya gemetar saat menggeser tombol hijau.
"Halo? Ibu Kirei?" suara dokter di seberang sana terdengar tergesa. "Bisa ke Rumah Sakit Medika sekarang? Pasien Tuan Wijaya... Kakek Anda... baru saja sadar dari koma dan memanggil nama Anda dan Arka."
Ponsel di genggaman Kirei nyaris terlepas kalau saja Arka tak cekatan menangkap pergelangan tangannya. Tatapan mereka terkunci dalam napas yang tertahan. Badai di sekolah mungkin sudah reda... tapi babak baru dalam pernikahan kontrak mereka baru saja dimulai.