Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Ruang Bk lagi
Tentu saja Arga kesal. Ia menyentak tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Devan terlepas.
"Lepasin, anjing! Apa-apaan sih, main pegang-pegang saja! Ini sebenarnya nyata atau bukan? Kalau cuma mimpi, kenapa dipukul bisa sesakit ini?!" bentak Arga bingung bercampur emosi.
Devan berdecak sinis, merasa tidak percaya adiknya yang penurut sekarang berani melawan. "Sudah berani ya kamu menentangku! Anak haram sepertimu seharusnya dulu dibuang saja oleh Kakek ke jalanan!"
Arga menghela napas panjang mendengarnya. "Berisik banget nih orang. Dari dulu sampai sekarang, omongannya selalu saja 'anak haramlah', 'anak gak gunalah'. Capek aku dengarnya."
Begitu Arga berniat berbalik untuk pergi, Devan yang makin naik pitam kembali melayangkan pukulan.
Namun kali ini, Arga yang sudah kepalang kesal langsung menghindar dan membalas pukulan tersebut tepat di rahang Devan.
"Sini kalau mau gelut! Kamu pikir aku takut?!" tantang Arga.
Keduanya langsung terlibat baku hantam. Mereka saling dorong, memukul, dan bergulingan di lantai kantin.
Keributan besar itu membuat seluruh aktivitas di kantin berhenti total. Tidak butuh waktu lama sampai para guru datang melerai.
Pak Bima yang tiba di lokasi langsung menepuk jidatnya berulang kali begitu melihat pelakunya. "Arga? Kamu lagi?!"
Arga yang saat itu sedang menarik kerah seragam Devan langsung menoleh. "Oh, ini, Pak. Bajingan ini yang duluan mukul, saya mah cuma bela diri dengan membalasnya."
Devan menggertakkan gigi dengan napas memburu. Ia mendorong tubuh Arga menjauh, lalu merapikan seragamnya yang kusut.
Sebelum melangkah pergi, ia menunjuk wajah Arga dengan penuh ancaman. "Awas saja kamu nanti di rumah!"
Arga hanya memutar bola matanya malas.
Pak Bima menggelengkan kepala. "Ayo, ikut ke ruang BK lagi. Kamu memang harus dihukum karena bikin keributan."
"Lah, kok gitu? Terus si Devan gimana, Pak? Masa cuma saya yang dihukum? Kekuatan uang memang curang banget, ya," protes Arga tidak terima.
Pak Bima menghela napas. "Nanti dia juga tetap dapat hukumannya. Saya usahakan."
"Masa cuma diusahakan sih, Pak? Curang banget tuh orang. Santet saja lah sekalian, biar kapok," celetuk Arga ketus.
Di sudut meja, Dimas merapikan kacamatanya yang sempat miring.
Dalam hati, ia merasa sangat berterima kasih kepada Arga.
Setidaknya untuk jam istirahat kali ini, ia selamat dari siksaan Hendra dan gengnya.
Sementara itu, Hendra dan teman-temannya langsung pergi menyusul Devan.
Kembali ke ruang BK untuk kedua kalinya dalam sehari, wajah guru BK langsung berubah suram begitu melihat sosok yang masuk. "Baru saja tadi kamu keluar dari sini, Arga..."
"Anggap saja saya lagi bertamu, Pak. Lain kali kalau saya ke sini lagi, suguhin apa kek. Gorengan boleh, sama kopi hitam kalau bisa," sahut Arga santai seraya mendudukkan diri di kursi.
Pak Bima dan guru BK kembali dibuat ternganga kebingungan melihat perubahan drastis sifat murid di depan mereka.
Sementara itu, Arga yang sedang memegangi pipinya yang bengkak mulai menyadari sesuatu.
Rasa sakit ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi atau akhirat. Tampaknya, ia benar-benar kembali ke masa lalu saat dirinya masih SMA.
'Supranatural banget. Kenapa hidupku bisa keulang begini, ya?' pikirnya bingung sekaligus mulai menyusun rencana baru untuk hidupnya yang sekarang.
Tapi yah, ada rasa syukur dan senang karena ia dapat memulai hidupnya.