NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Sepuluh Menit

Tatapan mereka masih bertaut beberapa detik.

Theo lebih dulu memutusnya. Berjalan mendekati Milka setelah pamit pada keluarga pasien.

"Sejak kapan kamu di sini?" Tatapannya membelalak, pura-pura terkejut akan kehadiran Milka.

"Sejak ... setengah enam."

Theo spontan menoleh ke arah jam tangannya. "Hampir tiga jam?"

Milka mengangguk kecil. "Katanya yang akan kutemui masih di ruang operasi."

Theo mengusap tengkuknya pelan. "Maaf."

"Hah?" Milka memasang wajah heran

"Aku yang membuatmu menunggu."

Milka mengernyit. "Kakak?"

Theo tersenyum tipis. "Direktur Pelayanan Medis yang dimaksud itu ... aku."

Milka membeku, meski ia sempat menduganya beberapa detik lalu.

"..."

"Kakak?"

Theo mengangguk pelan. "Iya."

Milka benar-benar tak menyangka. Selama ini, ia hanya tahu Theo seorang dokter bedah. Tak pernah terpikir bahwa pria itu juga memegang jabatan penting di rumah sakit sebesar AD Medical ini.

Pantas saja, Vando terlihat begitu berhati-hati saat berbicara dengannya waktu itu.

Theo melihat perubahan ekspresi Milka lalu terkekeh kecil. "Kenapa?"

"Kaget," cibirnya.

"Wajar," cetus Theo dengan bibir tersenyum tipis.

"Kakak nggak pernah cerita apa pun padaku."

"Kamu juga nggak pernah bertanya apa pun."

Milka mendengus pelan. "Benar juga."

Theo tertawa kecil. "Kebiasaanmu itu, belum juga berubah."

Milka memutar bola mata. "Kak Theo..."

"Hm?"

"Aku lagi kerja."

"Aku juga."

"..."

Theo mengangkat kedua tangannya. "Tapi saat ini ... aku ini sedang kelaparan."

Milka baru memperhatikan wajah Theo. Rambutnya masih sedikit basah oleh keringat. Lingkar hitam samar tampak di bawah matanya. Bahkan scrub operasi yang dikenakannya masih belum sempat diganti.

"Kakak belum makan?"

Theo menggeleng. "Belum."

"Kenapa?"

"Tadi operasi dimulai sebelum subuh. Kondisi pasiennya sudah cukup sulit. Kami melewati bedah ini sejak lima jam yang lalu."

Milka refleks membelalakkan mata. "Lima jam?"

Theo mengangguk. "Belum termasuk persiapannya."

"Lalu setelah selesai, aku langsung menemukan Bu Polisi yang sedang menungguku."

Milka mengulum senyum. "Kebetulan."

Theo ikut tersenyum tipis. "Iya ... kebetulan ..."

Padahal, Bonar yang berdiri beberapa meter di belakang hampir tersedak menahan tawa.

'Kebetulan dari mana, Boss?'

'Orang sejak semalam sudah menyuruh kami memastikan jadwalnya. Bahkan, sampai memperkirakan jam kedatangan polisi wanita ini.'

Namun Bonar cukup pintar untuk diam. Ia segera menghilang bersama staf yang lain. Membiarkan dua orang itu berbicara.

Theo kembali menatap Milka. "Temani aku makan dulu."

Milka menggeleng. "Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Aku datang ke sini buat bekerja."

"Aku ini juga sedang bekerja."

"..."

"Bedanya, aku bisa pingsan kalau aku tak segera mengisi perutku."

Milka tertawa pelan merasa geli mendengar alasan pria di hadapannya ini.

"Kakak lebay."

Theo menunjuk perutnya. "Coba tanya dia."

Seolah mengerti situasinya, perut Theo benar-benar berbunyi.

Grrrkk...

Milka langsung menutup mulut menahan tawa yang lebih besar lagi. "Kedengeran," bisiknya di sela tawa.

Theo mengangguk pasrah. "Makanya, tolong kasihanilah aku."

Untuk pertama kalinya, Milka melihat seorang Theo yang memasang wajah memelas.

'Lucu.'

'Sangat tidak cocok dengan citranya.'

Tanpa sadar, bibir Milka terangkat. "Baik. Tapi cuma sepuluh menit."

Theo mengangkat telunjuk. "Deal."

Mereka berjalan menuju kantin khusus dokter. Sepanjang perjalanan, hampir semua perawat dan dokter menyapa Theo.

"Selamat pagi, Dok."

"Pagi."

"Dokter Theodore."

"Pagi."

Milka memperhatikan semua itu. Baru kali ini ia benar-benar melihat bagaimana pria itu dihormati.

Bukan karena jabatan. Melainkan karena karakternya.

Begitu memasuki kantin, Theo memilih meja paling pojok. "Silakan."

Milka duduk lebih dahulu.

Theo mengambil menu. "Lapar?"

Milka menggeleng. "Sedikit."

Theo mengangkat alis. "Sedikit?"

"Tiga jam menunggu di lobi, terus bilang cuma sedikit lapar?" Lalu dia menyipitkan mata. "Bahkan, aku denger rintihan karena perutmu tersiksa gara-gara tak diisi."

Milka langsung salah tingkah. "Kakak dengar, ya?" Wajahnya seketika merona karena malu.

"Aku bukan cuma ahli bedah. Pendengaranku ini sangat tajam," tambahnya semakin menggoda Milka.

"Ish ..."

Theo tersenyum.

"Baik." Akhirnya Milka ikut sarapan bersama.

"Saya pesan dua," ucap Theo pada penjaga kantin.

"Eh, jangan! Aku bisa membayarnya sendiri."

Theo langsung menatap Milka. Tatapannya datar. "Tidak."

"Kenapa?"

"Kamu itu, tamuku."

"Tapi—"

"Milka." Suara Theo sedikit turun dan lebih lembut.

"Izinkan sekali saja aku mentraktir junior yang sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu? Ini cuma makanan di rumah sakit. Atau, kamu mau kita ke puncak?" Menunjuk ke bagian atas gedung.

Milka menggeleng cepat. Kali ini, Milka kehilangan alasan untuk menolak.

Beberapa menit kemudian, makanan pun datang. Theo benar-benar menikmati makannya dengan lahap. Milka sampai memandanginya beberapa kali.

"Kenapa?" tanya Theo tanpa menoleh.

"Kakak makannya cepat bener?"

Theo tersenyum. "Dokter bedah terbiasa begitu. Setiap detik, waktu terasa berharga."

"Lima belas menit."

"Hmmmf?" Milka meneleng sedikit heran.

"Itu waktu makan paling mewah yang biasanya kami miliki."

Milka tiba-tiba merasa sesak. Pria ini, menghabiskan hidupnya di ruang operasi. Menyelamatkan begitu banyak orang.

Namun bahkan untuk sarapan pun, ia sering tidak sempat. Tanpa sadar, Milka mendorong gelas teh hangat ke arah Theo.

"Minum dulu."

Theo menatap gelas itu. Lalu menatap Milka. Senyumnya muncul pelan.

"Terima kasih." Teh hangat itu benar-benar diminum tanpa canggung.

Entah kenapa, hatinya terasa jauh lebih hangat dibanding teh yang baru saja disodorkan itu.

Milka yang hendak menarik tangannya kembali ... mendadak merasakan sentuhan lembut di dagunya.

Theo memandangi wajah Milka beberapa detik.

Pipi wanita itu tampak sedikit lebih tirus dibanding yang ia ingat semasa SMA dulu.

Tanpa ia sadari, jemarinya terangkat begitu saja.

"Ck." Theo tanpa sadar mencubit pelan dagu wanita itu. "Kurus."

Milka langsung membeku. "Kak?"

Theo sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Tangannya refleks berhenti di udara. Seketika ia menariknya kembali.

"Maaf."

"Aku ... kebiasaan." Wajah Theo tampak sedikit canggung.

Sementara Milka, hanya bisa menatap pria itu tanpa berkedip.

Di balik pintu kantin ... sepasang mata diam-diam memperhatikan mereka. Ponsel kembali terangkat.

Klik.

Satu foto lagi berhasil diambil. Kali ini, foto ketika tangan Theodore baru saja menyentuh dagu Milka.

Pria itu menatap foto di layar ponselnya. Senyum tipis terulas di sudut bibirnya.

"Direktur Pelayanan Medis ... dan seorang penyidik."

"Bos pasti akan menyukai laporan ini."

Ia segera mengirim foto itu. Beberapa detik kemudian, hanya satu balasan yang muncul.

Awasi mereka. Jangan bertindak sebelum ada perintah.

Pria itu mengunci layar ponselnya. Tanpa disadari Theo maupun Milka, mulai pagi itu ...

Mereka telah resmi masuk ke dalam daftar orang-orang yang harus mereka awasi.

*bersambung*

1
MomyWa
plin plan amat lu jang, cemen
MomyWa
apa yg kau takutkan vando? lu udah bikin anak, tp egoisnya masih mau sm prawan
MomyWa
namanya yg haram emang gitu
MomyWa
lokasi dikawal penuh sama theo
MomyWa
emang kapan kamu nangis?
Dewi kunti
dah tak bagi vote ya,up lagi dong
Dewi kunti: aamiin,,semangaaaattt
total 2 replies
Anbu Hasna
karma beut ya...
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣
Anbu Hasna: Anda yg bikin Theo jadi merepotkan diri 🤣🤣
total 2 replies
Dewi kunti
berpapasan,jangan dipisah itu bukan pengulangan kata pas😤
SoVay: iye iye, ini udeh dganti buguyu 🙈
total 3 replies
MomyWa
main tebak2an siapa yg duduk itu? si black cobra apa white scalpel?
MomyWa
wkwkwkw...gombalannya mameeen, pengen diinget terus
MomyWa
bagi Milka, Theo 'B' aja 😂
Aidil Kenzie Zie
Naga di suruh awasi Bu Polisi malah kehilangan jejaknya 😡😡😡 siap-siap kena amuk Bos mu 🤭🤭🤭
SoVay: pasti dijagain juwita hatiku ❤️
total 1 replies
MomyWa
ke mana dong milka setelah kabur dr rumah?
SoVay: ke suatu tempat ❤️
total 1 replies
MomyWa
gmn nih, kok smpai kecolongan?
MomyWa
hahaha, senyam senyum dia
MomyWa
tidak semudah itu ferguso
Dewi kunti
klo dinovel mafia nya ganteng2 ,body bagus2, klo didunia nyata ganteng standar perut buncit🙈🙈🙈🙈🙈
Dewi kunti: yg selera yg pingin dunia nya aman🙈🙈🙈🙈
total 4 replies
MomyWa
suka karakter cewennya gak menye2.. perselingkuhan dibuat kayk myelidikin ksus pmbunuhan 🤪
MomyWa
pengen nyanyi: maju tak gentar, mengusir sitanggang 🤪
MomyWa
gak jd dapat, cerai ja, mumpung baru seumur jagung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!