Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening di Balik Tirai
Kediaman Keluarga Vincentes tenggelam dalam sunyi.
Setelah gemuruh sorak dan alunan musik di Aula Agung Kristal meredup, rumah besar itu kembali keheningannya yang khas—hening yang telah menjadi teman setia Grey selama bertahun-tahun. Lampu-lampu kristal di lorong utama menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding marmer yang dingin. Tak ada tawa, tak ada canda. Hanya detak jam tua dari ruang tengah yang bergema seperti jantung rumah yang berdetak lambat.
Gran Vincentes duduk di kursi ruang keluarga, punggungnya tegak meski usianya telah melewati setengah abad. Jari-jarinya yang keriput menggenggam erat tongkat ukiran elang, matanya yang tajam mengikuti sosok putranya yang melangkah perlahan menuju tangga. Rambut abu-abu Gran disisir rapi, dan rahangnya mengeras seperti batu—kebiasaan lamanya saat sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Grey."
Suara Gran berat, bergema di ruang kosong. Langkah Grey terhenti di anak tangga pertama.
"Kau lagi-lagi ingin mengurung diri di dalam kamar?" nada Gran terdengar seperti teguran, namun ada keletihan di baliknya.
Grey menoleh, senyum cerahnya merekah—terlalu cerah untuk suasana yang sunyi. "Ayolah, Ayah. Aku tidak punya semangat lagi setelah tidak bisa tinggal satu atap bersama Keilla."
Ia membayangkan gadis itu berada di sini, di rumah ini, berjalan di lorong yang sama, duduk di kursi yang sama. Bayangan itu saja sudah cukup membuat dadanya berdebar.
Gran menghela napas panjang, dahinya berkerut. "Dasar anak aneh. Ini baru sebatas kesepakatan. Kau pikir ini semua sudah selesai?" Ia menatap putranya dengan sorot tajam. "Jika hubungan kalian retak, maka kedua keluarga akan kembali bermusuhan. Perjanjian ini adalah pisau bermata dua, Grey. Jangan kau lupakan itu."
Grey menahan diri untuk tidak mendengus. Ia sudah terlalu sering mendengar peringatan yang sama.
"Terserah apa yang Ayah katakan. Aku ingin beristirahat." Ucapnya singkat, lalu melanjutkan langkah menaiki anak tangga.
Di balik punggungnya, Gran menggenggam tongkatnya lebih erat. Matanya menyipit, menatap punggung putranya yang semakin menjauh.
"Anak bodoh," gumamnya dalam hati. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi."
---
Kamar Grey terletak di ujung lorong lantai dua, menghadap taman belakang yang kini gelap diterpa malam. Ia mendorong pintu kayu jati berukir naga dan masuk, membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Ruangan itu luas, tetapi terasa hampa.
Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan usang, sebagian besar adalah potret ibunya—seorang wanita dengan rambut pirang keemasan dan senyum yang pernah menerangi setiap sudut rumah ini. Grey menatap salah satu lukisan itu, dan untuk sesaat, hatinya terasa sesak.
"Ibu..."
Beberapa tahun telah berlalu sejak ibunya pergi. Dan sejak saat itu, rumah keluarga Vincentes kehilangan warnanya. Tak ada lagi aroma masakan ibu di dapur, tak ada lagi tawa yang menggema di ruang keluarga. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan dinding-dinding dingin yang bisu.
Grey duduk di tepi ranjangnya, tubuhnya terasa berat. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dan membiarkan pikirannya melayang.
"Hidupku benar-benar hampa," bisiknya lirih. "Andai saja Keilla berada di sini... mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini."
Ia tersenyum sendiri membayangkan gadis dingin itu berjalan di kamarnya, menyentuh buku-buku di rak, atau duduk di kursi dekat jendela sambil membaca. Grey tahu Keilla masih bersikap dingin padanya—tapi ia percaya, seiring waktu, gadis itu akan luluh.
"Dulu, aku bahkan tidak boleh mendekatinya," kenangnya.
Ia masih ingat saat pertama kali ia memutuskan untuk mengejar Keilla, bertahun-tahun lalu. Saat itu, kedua keluarga masih dalam puncak permusuhan. Para pengawal Vincentes dan Sienta hampir saja terlibat perang saudara hanya karena Grey nekat mengirimkan surat cinta kepada putri musuh bebuyutan mereka. Gran hampir mencabut hak warisnya. Tapi Grey tetap bertahan.
Dan kini, semua usahanya berbuah manis. Keilla menjadi tunangannya. Kedua keluarga berdamai.
"Tapi..."
Grey mengerutkan kening. Bayangan keluarga Sienta muncul di benaknya. Kenta Sienta yang kaku, Belinda yang dingin, dan para kerabat Sienta yang tepuk tangannya hampa. Ada sesuatu di mata mereka—sesuatu yang tidak bisa ia uraikan.
"Apa mereka benar-benar menyetujui perjanjian damai ini?"
Grey menggigit bibir bawahnya. Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran itu.
"Keilla masih bersikap acuh padaku," akunya dalam hati. "Tapi itu wajar. Aku tahu gadis itu tidak mudah terbuka. Namun... lambat laun, ia akan menyukai diriku. Aku yakin."
Namun, pikirannya kembali pada Kenta dan Belinda. Sekilas, saat acara pertunangan, ia melihat sesuatu di wajah mereka. Bukan kebahagiaan. Bukan kelegaan.
"Mereka seperti menyembunyikan sesuatu."
Grey tahu Kenta Sienta adalah pria yang tegas dan licik—seorang pemimpin yang tidak pernah menunjukkan kelemahan. Dan Belinda... wanita itu adalah misteri tersendiri. Anggun, dingin, dan matanya selalu seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Lupakan saja," gumam Grey, berbaring di ranjang empuknya. "Mungkin mereka belum terbiasa. Mungkin aku terlalu banyak berpikir."
Ia menutup matanya, mencoba menenangkan debaran di dadanya.
"Lebih baik aku tidur. Kuharap besok bisa memulai hari dengan damai."
Udara malam menusuk dari balik jendela yang sedikit terbuka, membawa bau tanah basah dan dedaunan. Grey menarik selimutnya, memejamkan mata.
Tapi tidur tidak datang dengan mudah.
Di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan Keilla—wajahnya yang dingin, tatapannya yang kosong, dan senyum yang dipaksakan.
Ia sadar, ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang apa yang terjadi di balik layar. Tentang masa lalu kedua keluarga. Tentang alasan sesungguhnya Kenta Sienta menyetujui perjanjian damai. Tentang mengapa keluarganya sendiri terasa asing baginya.
"Besok," bisiknya dalam hati. "Besok aku akan mulai mencari tahu."
Namun untuk malam ini, ia memilih untuk beristirahat—mengumpulkan energi, menenangkan pikirannya, dan bersiap menghadapi apa pun yang disembunyikan dari dirinya.
Di luar, angin malam berdesir pelan, membawa bisik-bisik yang tak terdengar.