NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjauh

"Dhe,, lo kenapa?” Aku bertanya lelah saat berhasil menjajari Langkah cepat Dheka, Perempuan yang lima tahun ini menyandang gelar sebagai pacarku dan telah mempunyai tempat tersendiri di sudut hatiku.

Sisa waktu istirahatku disekolah hanya kuhabiskan untuk mengejar perempuanku ini. Entahlah, dia berusaha menghindar disaat aku sangat membutuhkan berkeluh kesah padanya. Tanpa menghentikan Langkah kakinya, Dheka mengacuhkanku seperti sebelumnya.

“Dhe!” Kupaksa Langkah kakinya berhenti dengan memutar tubuhnya dan kupegang kedua bahunya kuat. Entahlah, aku merasa menjadi laki-laki kasar sekarang. Aku seakan tidak punya cara lain untuk menghentikannya.

“Lo kenapa? Gue ada salah apa?” Tanyaku mengiba. Cukuplah di rumah mamah selalu menghindariku. Tapi tidak dengan perempuanku yang satu ini.

“Lepasin.” Suara rendahnya penuh penekanan.

“Nggak, lo harus kasih alasan kenapa sikap lo bisa berubah kayak gini. Kenapa lo seakan-akan menghindar terus dari gue.” Seketika tangis Dheka pecah. Aku hanya bisa menuntunnya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di setiap koridor sekolah ini.

“Udah siap ngomong?” Dengan lembut aku coba mulai menanyainya, Ketika tangis di wajah itu telah reda.

“Sorry Dit.” Ucapnya langsung dan berlari meninggalkanku yang masih terduduk mematung disini.

Kehidupanku pasca kecelakaan itu terjadi benar-benar membuatku frustasi. Aku yang biasanya selalu bisa santai mengambil keputusan dan Langkah terbaik, kini aku hanya bisa pasrah pada keadaan. Entah kenapa semua orang yang kusayang terkesan menghindariku tanpa alasan. Beberapa kali aku merasa seolah dipermainkan oleh perasaan dan emosiku sendiri.

Aku benar-benar kehilangan semangat ku memasuki kelas kembali. Selain hanya akan ada pembahasan  seputar perpisahan saja disana tanpa ada kelas belajar karena ujian nasional sudah terlaksana, aku juga merasakan kepalaku berdenyut nyeri. Mungkin aku harus benar-benar menyepi sekarang. Dari pada ke UKS yang akan banyak pertanyaan nantinya tentang sakit apa tentang Tindakan apa serta kuyakin akan tiba-tiba muncul teman-teman sekelasku bergantian datang dengan alasan menjengukku, aku lebih memilih menyepi di perpustakaan. Meskipun mungkin masih akan ada keramaian di sudut tertentu karena adik kelas masih normal kegiatan belajarnya, tapi setidaknya akan ada beberapa sudut kosong yang bisa menjadi tempat menyepiku.

Kubiarkan kepala ini tenggelam dalam lipatan tanganku setelah kutemukan sudut paling belakang yang sangat sepi. Air mataku kembali menetes, sejujurnya akau tak pernah selemah ini. Aku bahkan tidak pernah menangis sejak memasuki usia SD ku. Aku selalu menjadi anak yang bersemangat, pintar, aktif dan ceria. Hampir semua guru dan orangtua teman-temanku selalu menjadikanku rule mode untuk anak-anak mereka. Aku seakan tak mempunyai celah kelemahan dan kasih saying memang selalu tercurah untukku sehingga kesedihan seakan enggan menghampiriku.

Aku mengangkat kepalaku tepat saat ada seseorang menggoyang bahuku. Ku kerjapkan mata beberapa kali, dan baru kusadari ternyata pak Liam lah yang ada di depanku, penjaga perpustakaan sekolahku yang sudah seperti kakak bagi murid-murid disini.

“Tumben sampai tidur disini Dit, tanpa buku pula. Sengaja kamu tidur disini?” tanyanya menelisik sambil melipat kedua tangannya di dada bidang yang dimilikinya.

“I-Iya pak maaf, tadi pusing banget dan UKS penuh jadi kesini.” Ucapku sedikit berbohong tentang UKS yang sepertinya tidak sepenuhnya salah karena pasti UKS akan penuh di hari-hari selepas UN seperti saat ini.

“Hampir saja bapak mau tutup perpus ini kalau tidak mendengar teriakan kamu yang tiba-tiba. Bapak kira sudah sepi perpus ini. Ternyata di paling ujung dan di belakang pula masih ada orang yang masih merajut mimpi.” Aku hanya menanggapi dengan senyum salah tingkah.

“Ah!” Aku memekik tertahan saat kuangkat tubuh ini dan merasakan perutku sangat sakit. Bukan mulas, bukan perih, bukan juga mual. Entahlah, seperti ribuan pukulan di satu titik yang tidak berhenti. Kududukkan kembali tubuh ini dan tangan kananku mulai intens menekan pusat rasa sakit ini.

“Lho, kenapa?! Mana yang sakit?”

Aku menunduk semakin dalam saat rasa mual mulai menguasaiku. Sakit itu masih ada, namun rasa mual ini sekan tidak sabar merangsek keluar memenuhi kerongkonganku.

“Dit?!” Suara yang sarat kekhawatiran itu masih bisa kudengar sebelum akhirnya kegelapan sempurna menguasai ku. Entah apa yang terjadi setelahnya. Aku tersentak terbangun kaget saat gejolak dalam perutku merangsek keluar.

“Astaghfirullah!” Sebuah teriakan membuatku menoleh ke sumber suara.

“Lo ngagetin gue aja si Dit! Kalau mau bangun santuy aja si, slow kaya di film-film. Ini malah bangun dari pingsan kayak mayat bangun dari kubur!” Ferdy misuh-misuh memandangku kesal. Aku masih belum mengerti situasi, yang kuinginkan sekarang adalah segera memuntahkan semua gejolak di perutku.

“Gue pengen muntah..” Ucapku segera dan sigap kututup mulutku.

“Oh No! Tunggu gue cariin baskom atau kantong kresek dulu.” Ferdy terlihat kebingungan, dan entah sekarang pergi kemana. Aku segera menyeret tubuh ini memasuki toilet khusus yang ada di UKS ini. Ya,sekarang aku ada di UKS. Entah bagaimana tadi pak Liam membawaku kesini.

Huek!!

Kembali aku memuntahkan isi perutku yang tidak seberapa. Kunyalakan keran dengam kekuatan full untuk menyamarkan suara muntahanku.

“Astaghfirullah, Adit.. Sorry banget, gue lama ya?” Suara ferdy yang terdengar jelas dibelakangku membuatku tersadar kalau pintu toilet ini belum kututup.

“Gimana? Udah enakan belum?” Ferdy memijat pelan tengkukku. Aku hanya terdiam menikmati serangan mual yang masih setia menemaniku.

“Udah dy, Thanks.” Aku langsung mengusap seluruh wajahku dan berbalik menghadapnya yang masih diliputi kekhawatiran. Dengan sigap Ferdy membantuku berjalan kembali menuju ranjang UKS yang sebelumnya menjadi tempatku berbaring. Aku sedikit merasa lucu dengan sikapnya kali ini, Ferdy yang selalu cuek bahkan kadar seriusnya sangat minim bisa bertingkah semanis dan seperhatian ini.

“Lo kenapa Dit?! Bikin gue khawatir aja.” Tanyanya setelah memastikan aku terduduk nyaman diatas ranjang itu.

“Hmmm… Bukan karena lo stress mikirin Dheka yang berubah kan?! Yaah,, meskipun lo ga pernah cerita apa-apa lagi, tapi gue bisa melihat itu Dit.”

“Nggak Dy, banyak hal yang membebani otak gue. Bukan hanya Dheka. Kalau Dheka, gue nggak tahu, dia selalu menghindar.” Jawabku jujur. Ya, sejak kepulanganku dari Rumah Sakit Dheka memang menjadi sangat berbeda. Padahal hampir setiap hari dia menemaniku selama di Rumah Sakit, tetapi sejak kepulanganku dia justru menjauh.

Keadaan rumah tiga hari terakhir sejak kepergian papah pun memang membuatku frustasi, hampir setiap hari suara tangisan mamah memenuhi ruangan dalam rumah. Dan sekarang aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa di rumah nanti. Tidak ada sapaan hangat lagi di rumah itu. Tidak ada canda tawa lagi di rumah itu. Setiap hari aku harus menahan diri untuk tetap berada di dalam kamar, karena jika aku keluar kamar maka mamah akan sangat histeris dan langsung memasuki kamarnya.

Apakah aku layaknya monster dimata mamah, sehingga mamah harus selalu ketakutan saat melihatku?!

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!