Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : SENJATA DARURAT
Kabut masih tebal menyelimuti lembah, jarak pandang tak sampai sepuluh langkah. Udara dingin menusuk tulang, namun tak ada satu pun yang mengeluh.
Sejak fajar, semua mata tertuju pada Bayu yang berdiri di atas batu pipih di tepi sungai. Di sampingnya berdiri Karta, Demang, dan Mbah Kartareja. Bayu meraba pinggangnya yang kosong—tempat biasanya sabit digantungkan. Ia menghela napas panjang, lalu menatap semuanya.
"Kita semua tahu," ucapnya tenang namun tegas.
"mereka datang membawa senjata jauh yang meledak. Kita tak punya senapan, tak punya peluru, tak punya meriam untuk membalas."
Beberapa orang menunduk, seolah mendengar kembali dentuman yang meratakan rumah mereka. Embek Gombloh meremas ujung bajunya yang sobek, Dul Kalong menatap tajam ke arah semak.
"Tapi," lanjut Bayu lebih lantang, "apakah karena tak punya benda impor itu, kita biarkan saja diri dan keluarga dihancurkan begitu saja?"
Ia menoleh ke arah Pak Somad yang memegang sepotong besi panjang sisa reruntuhan bengkel.
"Pak Somad, sehari-hari Bapak pakai apa?"
"Parang, kampak, pahat, palu, Nak. Semua untuk mengolah kayu dan besi supaya bisa makan dan berteduh," jawab Pak Somad pelan.
"Nah, itulah senjata pertama kita," tegas Bayu.
"Benda yang setiap hari kita genggam untuk memberi makan keluarga, hari ini kita genggam untuk menjaga nyawa keluarga itu sendiri."
Baru saja selesai bicara, terdengar langkah tergesa dari arah semak, lalu muncul Pak Dul Kalong sambil memegang sebilah besi panjang yang melengkung sedikit, permukaannya penuh karat tipis. Napasnya masih terengah.
"Maaf mengagetkan... saya tadi menyusuri sisa reruntuhan bengkel tua di pinggir sungai, menemukan ini tertimbun lumpur," ucapnya sambil menyodorkan perlahan.
"Bentuknya tidak utuh, tapi bagian ujungnya masih keras sekali."
Pak Somad segera maju memeriksanya, membalikkan berkali-kali sambil mengusap sisa tanah yang menempel.
"Ini sisa bilah bajak sawah, Nak. Besinya ditempa padat, kalau diasah benar-benar tajam, panjangnya cukup untuk menjaga jarak aman."
Beberapa orang mendekat ingin melihat lebih jelas, Bu Siti bertanya pelan sambil menatap benda itu: "Tapi apakah seimbang saat diayunkan? Berat sekali rasanya."
"Kita bisa memendekkannya sedikit, lalu pasang gagang kayu nangka yang kuat. Pasti pas di genggaman," jawab Pak Somad mantap.
Bayu mengangguk puas menatap temuan itu. "Lihat kan? Bahkan apa yang kita kira sampah dan tak berguna, ternyata sudah disiapkan untuk saat ini. Tak ada yang terbuang dari tanah kita sendiri."
Mbah Kartareja melangkah maju, tongkatnya mengetuk tanah tiga kali teratur. Semua menatapnya hormat.
"Dulu leluhur kita juga tak punya besi dari seberang lautan," ucap Mbah Kartareja meresap di hati.
"Mereka menjaga tanah ini dengan apa yang tumbuh di sini: bambu, kayu, batu, dan keberanian yang tak ternilai."
"Di mana kita mencarinya, Mbah?" tanya Ningsih pelan.
"Di sekeliling kita. Hutan dan tanah ini sudah menyediakan, kita tinggal pandai memilih dan membentuknya," jawab Mbah Kartareja tersenyum tipis.
Mereka bergerak berkelompok kecil, tetap saling menjaga jarak pandang. Bayu dan Karta menyusuri rimbunan bambu aren di tepi tebing. Batangnya tinggi lurus, bunyinya padat saat diketuk.
"Ini jenis apa, Yu? Keras sekali," tanya Karta sambil mengetuk batang itu.
"Bambu pucuk aren tua, tumbuh di tanah agak kering. Getahnya lengket dan menyengat. Kalau melukai, lama sembuhnya dan terasa terus panas," jelas Bayu sambil mengukur setinggi dada orang dewasa.
Ia mengambil batu tajam, mulai mengiris ujung bambu perlahan sampai meruncing tajam. Karta ikut membantu menghaluskan sisi-sisinya.
"Jadi begini rupa bambu runcing ya... sederhana sekali," gumam Karta sambil menguji ketajamannya dengan hati-hati.
"Tapi kalau menusuk kuat-kuat, pasti sangat menyakitkan."
"Sederhana bukan berarti lemah. Justru begini kita bisa membuatnya sebanyak-banyaknya," kata Bayu sambil mengangkat kampak tua milik Bapaknya.
"Ini dulu untuk membelah kayu, sekarang tugasnya berubah."
Di tempat lain, Pak Somad sedang mengasah parang bedog Galuh milik Demang. Bilahnya melengkung khas tanah Pasundan.
"Besi ini asalnya pasir besi Sungai Citanduy, ditempa kakek buyut dulu. Tak mudah patah meski dipukul keras," kata Pak Somad sambil terus mengasah.
"Cukup kuat melawan senjata mereka, Pak?" tanya Demang.
"Yang memegang yang menentukan, bukan semata besinya. Kalau digenggam dengan tekad menjaga, ini sama kuatnya," jawab Pak Somad yakin.
Dul Kalong mencari akar sulur yang sangat kuat, melilitkannya menyilang pada gagang bambu supaya tak mudah terlepas saat dipakai. Jaka Kelitik mengumpulkan ranting berduri rumbia.
"Jangan terlalu besar, biar seperti semak biasa saja sampai kaki mereka terperosok," pesan Bayu melihat pekerjaan itu.
Astri dan Bu Siti melumuri ujung bambu dengan getah gambir yang sudah direbus kental. Warnanya gelap, sulit dilihat di antara dedaunan.
"Ini mematikan bukan, Bayu?" tanya Astri agak ragu.
"Tak seketika melumpuhkan saja, memberi kita waktu untuk mengamankan tempat," jawab Bayu lembut.
"Kita tak ingin menyakiti siapa pun, tapi kita juga tak boleh membiarkan mereka datang lagi menghancurkan sisa kehidupan ini."
Siang mulai tinggi. Di atas batu besar sudah tersusun rapi hasil kerja mereka: belasan bambu runcing, lima parang tajam, kampak milik Bayu, tombak sisa alat berburu, dan jaring duri.
Karta mencoba menusukkan bambu ke batang kayu mati yang tebal. Sampai sepertiga bagian masuk.
"Tembus, Yu! Benar-benar tembus!" serunya takjub.
Bayu memegang kampak ayahnya, merasakan lekukan bekas genggaman Bapak yang masih terasa jelas. Diangkatnya tinggi, diayunkan membelah udara. Berat di hati harus mengubah fungsinya, tapi ia yakin Bapak akan bangga.
Demang mengangkat keris pusaka warisan kampung, menatapnya sejenak lalu ke arah semua orang.
"Inilah kekuatan sejati kita: berasal dari tanah sendiri, dibangun kasih sayang, disertai doa leluhur," ucap Demang lantang.
Semua maju satu per satu memilih apa yang paling nyaman di tangan. Ada yang parang, bambu, kayu keras berujung batu tajam. Tak ada yang terlihat gagah seperti tentara lawan, tapi mata mereka memancarkan keteguhan yang sama besarnya.
"Mulai sekarang kita belajar," kata Bayu memecah hening.
"Belajar genggaman yang benar, ayunan yang pas, cara menghindar. Bukan untuk menyerang, tapi untuk menjaga tempat berlindung kita."
Mereka pun berlatih di tempat terbuka yang terlindungi pepohonan. Kadang salah ayun, kadang bambu patah karena terlalu dipaksa. Tapi tak ada yang menyerah. Yang pandai mengajari yang belum bisa.
Di tempat tersembunyi itu, perlahan tumbuh pertahanan yang tak terlihat oleh mata asing, namun kokoh berdiri di dalam dada setiap warga Rancagaok.