“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bab 11: Surat Keputusan di Ujung Tanduk
Papan pengumuman utama di koridor SMA Nusantara mendadak terasa seperti pusat gravitasi yang menyedot seluruh perhatian pagi itu. Kertas putih berukuran besar dengan kop resmi pihak yayasan sekolah terpampang nyata, memuat keputusan darurat yang sukses membuat puluhan siswa berbisik-bisik tegang.
Skorsing massal. Dan di barisan paling atas, tercantum nama Rangga Dewantara Aldebaran dengan ancaman sanksi terberat: skorsing panjang hingga rekomendasi pengeluaran dari sekolah.
Keisha Zahra Aurellia berdiri mematung di samping Rangga. Napasnya tercekat, dan dadanya mendadak terasa sesak seolah kehabisan oksigen. Pengumuman itu bukan sekadar berita biasa baginya; itu adalah palu besar yang menghantam keras kenyataan bahwa kehadirannya di sisi sang ketua geng telah membawa malapetaka yang sesungguhnya.
"Kak..." bisik Keisha tertahan, jemarinya mencengkeram erat tali ranselnya sendiri. Manik matanya menatap nanar ke arah kertas pengumuman itu, lalu beralih menatap wajah Rangga di sampingnya. "Ini... ini semua gara-gara aku, kan? Gara-gara kemarin sore di lorong sempit itu..."
Rangga tidak langsung menjawab. Pemuda itu berdiri tegak, menatap lembaran kertas keputusan sekolah dengan ekspresi wajah yang tetap tenang, dingin, dan tanpa gentar. Tidak ada secercah kepanikan pun di matanya. Seolah-olah sanksi terberat sekalipun bukanlah hal yang mampu meruntuhkan ketenangannya.
Satria dan Bara yang berdiri di belakang Rangga mengepalkan tangan mereka dengan erat. Raut wajah Satria tampak jelas menahan amarah. "Sialan. Ini pasti ulah si Reno sama anak-anak Viper yang sengaja ngelaporin setengah-setengah ke pihak guru BK biar kita disudutkan!" gerutu Satria dengan suara tertahan.
"Bukan cuma itu, Bos," tambah Bara dengan nada cemas. "Orang tua lo... pihak yayasan pasti bakal langsung tahu soal surat keputusan ini hari ini juga. Lo tahu sendiri bokap lo paling benci kalau nama keluarga tercoreng gara-gara masalah berandalan di sekolah."
Mendengar kata-kata Bara, sudut bibir Rangga terangkat membentuk senyuman miring yang sinis. Ia tidak peduli pada ancaman pihak yayasan, dan ia sama sekali tidak gentar pada amarah keluarganya. Satu-satunya hal yang kini mengusik pikiran dinginnya bukanlah status sekolahnya, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya dengan bahu bergetar hebat.
Rangga menoleh perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan lembut menyentuh puncak kepala Keisha. "Hei," panggil Rangga dengan suara baritonnya yang tenang, begitu kontras dengan keriuhan koridor pagi itu. "Ngapain muka lo pucat begitu? Gua masih berdiri di sini, kan?"
"Tapi Kakak bisa dikeluarkan dari sekolah..." suara Keisha parau, air mata penyesalan hampir menetes di pelupuk matanya. "Masa depan Kakak..."
"Masa depan gua ada di tangan gua sendiri, Keisha, bukan di atas secarik kertas keputusan pihak yayasan sekolah yang sok suci itu," potong Rangga tegas namun lembut. Ia menatap lekat-lekat manik mata Keisha. "Dengerin gua. Apapun yang tertulis di papan pengumuman itu, itu bukan urusan lo. Jangan pernah ngerasa bersalah atas apa yang nggak pernah lo kendalikan."
Sebelum Keisha sempat membantah atau mengeluarkan kata-kata protes lainnya, suara derap sepatu pantofel yang tegas terdengar menggema dari ujung koridor. Pak Gunawan, guru disiplin sekaligus wakil kepala bidang kesiswaan yang terkenal paling killer di sekolah, berjalan mendekat dengan wajah mengeras penuh amarah.
"Rangga Dewantara Aldebaran!" panggil suara menggelegar itu, menghentikan seluruh aktivitas siswa di sekitar koridor.
Semua mata langsung tertuju pada Pak Gunawan yang kini berdiri tepat di hadapan kelompok Black Raven. Guru paruh baya itu memegang segepok berkas di tangan kanannya, menatap tajam kepada sang ketua geng dengan kemarahan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
"Ikut saya ke ruang kepala sekolah sekarang juga!" titah Pak Gunawan mutlak, lalu melirik tajam sekilas ke arah Keisha yang berdiri di dekat Rangga. "Dan kamu, Keisha Zahra Aurellia, siswi beasiswa teladan... ikut menghadap ke ruang BK sekarang!"
Deg!
Jantung Keisha seolah copot dari tempatnya mendengar namanya ikut dipanggil.
Rangga langsung melangkah maju, berdiri tepat di depan Keisha untuk menghalangi pandangan tajam Pak Gunawan. Suara dingin dan berwibawa langsung meluncur dari bibir pemuda itu. "Panggil saya sendirian, Pak. Jangan libatkan siswi lain yang sama sekali nggak tahu apa-apa soal masalah ini."
Pak Gunawan mendengus keras, menatap Rangga dengan sorot mata kecewa. "Nggak tahu apa-apa kamu bilang, Rangga? Seluruh sekolah sudah tahu kalau perkelahian kemarin sore itu melibatkan perebutan masalah kamu dan kelompok luar gara-gara anak ini! Pihak yayasan sudah memutuskan, keterlibatan kalian berdua harus diselidiki secara tuntas!"
Suasana koridor mendadak semakin mencekam. Keisha merasakan dunianya seakan runtuh seketika. Beasiswa yang ia perjuangkan setengah mati demi ibunya kini berada di ujung tanduk, dan semua itu terjadi karena takdir mempertemukannya dengan sang penguasa jalanan.
Rangga mengepalkan rahangnya, sorot mata kelamnya menatap tajam ke arah Pak Gunawan, bersiap melontarkan perlawanan verbal. Namun, sebelum Rangga sempat membuka suara, sebuah tangan kecil secara perlahan merajut jemarinya menyentuh ujung lengan jaket kulit pemuda itu.
Keisha mendongak. Di balik kacamata berbingkai tipisnya, tidak ada lagi air mata ketakutan; yang ada hanyalah secercah keteguhan hati yang baru.
"Kak..." bisik Keisha pelan namun cukup jelas terdengar oleh Rangga. "Jangan buat masalah lebih besar lagi di hadapan guru... Aku bakal ikut menghadap ke ruang kepala sekolah. Apapun keputusannya, kita hadapi sama-sama."
Rangga tertegun menatap manik mata gadis di hadapannya. Ada keberanian luar biasa yang terpancar dari diri seorang siswi teladan yang selama ini dikira penakut. Pemuda itu menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil.
"Baiklah, Pak. Saya ikut," ucap Rangga akhirnya kepada Pak Gunawan dengan nada suara datar namun penuh tekanan mutlak. Ia kembali menoleh ke arah Satria dan Bara. "Kalian tunggu di luar. Jangan bikin kekacauan apa pun sebelum gua keluar."
"Siap, Bos," jawab Satria dan Bara serempak dengan wajah tegang.
Di bawah temaram cahaya koridor pagi itu, Rangga dan Keisha melangkah berdampingan menuju ruang kepala sekolah—memasuki pusat badai yang siap menentukan takdir kelanjutan masa depan mereka berdua di SMA Nusantara.