NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 LANTAI 2 DAN BISIKAN DI KEGELAPAN

Pagi buta. Jam 5.

Pintu Menara Langit terbuka lagi.

Cuma aku yang masuk. Murid lain baru mulai jam 7.

"Grom, siap?" bisikku.

"Siap Tuan! Hajar semua!"

Tanganku masih perih dari latihan api semalam. Tapi [MPA: 100/100] sudah full.

[DING!]

[MEMASUKI: MENARA LANGIT LANTAI 2]

[SUHU: LEBIH DINGIN]

[PERINGATAN: BOSS LANTAI 2 TERDETEKSI]

Lantai 2 beda. Ruangan lebih kecil. Lantainya besi. Dindingnya penuh goresan.

Dan di tengah...

_DUMM... DUMM... DUMM..._

Suara langkah berat.

Keluar dari kegelapan. Tinggi 3 meter.

[IRON GOLEM LV.5]

[TUBUH: BESI PENUH]

[KELEMAHAN: SENDI DAN MATA]

[PERINGATAN: SERANGAN FISIK SANGAT KUAT]

Golem itu tidak punya mata. Cuma 2 lubang merah menyala.

Dia langsung ayunkan tangan.

_BUAAAAAAAAK_

Lantai penyok.

"Terlalu kuat buat adu fisik," pikirku. "Harus pake strategi."

[DING!]

[MPA: 100/100 → 80/100]

"[FIREBOLT!]"

_SHUUUT!_

Api biru menghantam dadanya.

_KLANG!_

Cuma meleleh dikit. Gak tembus.

Golem meraung. Maju.

Aku ngindar ke kiri. Ke kanan.

_BUAK BUAK BUAK_

Tiap pukulannya bikin lantai retak.

"Dua puluh menit lagi guru datang," gumamku. "Harus cepat."

Aku liat ke sendi lututnya. Ada celah kecil.

"Di situ!"

Aku lari muter. Manfaatin kecepatan.

Golem bingung. Dia muter juga.

Sekarang!

"[FIREBOLT!] [FIREBOLT!]"

2 bola api masuk pas ke sendi lutut kanan.

_SSSSHHH!_

Besi meleleh. Golem oleng.

_BRAAAK_

Dia jatuh berlutut.

Masih ada 1 kesempatan.

Aku lompat. Kumpulkan semua mana. 60.

"KALAU KEPALA GAK BISA... HANCURIN INTINYA!"

Di dada golem ada kristal biru. Itu jantungnya.

"[FIREBOLT!!!]"

_BOOOOOOMMMMM_

Ledakan api biru langsung.

Kristal pecah.

_KRAAAAAAAAAK_

Golem berhenti. Lalu runtuh jadi tumpukan besi.

[DING!]

[IRON GOLEM LV.5 DIKALAHKAN]

[LULUS: LANTAI 2]

[REWARD: 300 POIN + RAMUAN BIRU]

[MPA: 20/100]

Aku terengah. Duduk di atas besi panas.

Tiba-tiba...

_klitik_

Suara kecil dari atas.

Aku noleh.

Luna. Dia duduk di balok besi di atas. Sembunyi.

"Kau..." kataku kaget. "Ngapain di sini?"

Luna loncat turun. "Siapa yang ngikutin? Aku... aku cuma lewat."

"Lewat jam 5 pagi di Menara?"

"DIAM!" pipinya merah. "Aku liat kau hampir mati. Jadi... jadi aku siap nolong kalau perlu."

Dia lempar ramuan hijau ke aku. "Ini. Minum."

Aku minum. Luka langsung nutup.

"Kenapa nolong terus?" tanyaku.

Luna buang muka. "Karena... karena guruku dulu juga pernah lawan golem ini. Dan dia... dia mati di sini."

Hening.

"Aku gak mau liat orang pake api biru mati lagi," bisiknya pelan.

Setelah istirahat 10 menit, kami lanjut jalan ke ujung ruangan.

Di sana ada pintu ke tangga. Tapi di samping pintu...

Ada ukiran.

Lingkaran. Di dalamnya ada api.

Api biru.

Aku dan Luna langsung diem.

"Ini..." kata Luna. "Simbol Keluarga Von Ignis."

"Von Ignis? Keluarga yang pake api biru?"

Luna mengangguk. "Iya. Tapi kenapa ada di sini? Di Menara?"

Aku sentuh ukirannya. Dingin.

[DING!]

[ITEM BARU: FRAGMEN CATATAN]

[ISI: "Jika kau bisa baca ini... berarti kau penerusku. Naiklah. Kebenaran ada di Lantai 10. Tapi hati2. Dia juga menunggu di sana. - V.I"]

"V.I. Von Ignis," bisikku.

Luna kaget. "Kau bisa baca? Itu bahasa kuno!"

"Aku... gak tau. Tiba2 bisa," bohongku. Padahal [SISTEM] yang nerjemahin.

Luna menatapku curiga. Tapi gak nanya.

"Jadi beneran," katanya. "Yang di Lantai 10 itu... mungkin sisa2 keluarga kau."

Darahku dingin. "Keluarga? Bukannya sudah punah?"

"Aku gak tau," kata Luna. "Tapi kita harus naik."

Kami naik ke tangga. Menuju Lantai 3.

Di tengah tangga, suara itu muncul lagi di kepalaku.

_"Bagus... kau menemukan fragmen itu... tapi itu baru 1 dari 10..."_

_"Kumpulkan semua. Baru kau akan tau siapa yang sebenarnya membunuh keluargamu..."_

Aku berhenti. Pegang kepala.

"Kael?!" Luna panik.

"Tidak apa2," kataku. "Cuma... dia ngomong lagi."

"Siapa?!"

"Sang Penerus Api."

Lantai 3.

Begitu masuk... gelap total.

[DING!]

[PERINGATAN: AREA JEBAKAN]

[TIDAK BISA GUNAKAN SIHIR API]

"Apaan?!"

Lingkungan anti-api.

Dari kegelapan muncul 10 bayangan kecil.

[SHADOW RAT LV.3]

Mereka cepat. Gigit.

Aku cuma bisa pake tongkat kayu. _PUK PUK_

Luna bantu dari belakang pake [CAHAYA KECIL].

"Kael! Di belakang!"

Aku noleh. 3 tikus mau gigit leher.

_TEBAS!_

Sebilah pisau cahaya motong mereka.

Luna. Dia turun tangan.

"Katanya cuma 'lewat'?" kataku sambil napas.

"Diam! Fokus!" bentaknya.

10 menit pertarungan. Akhirnya habis.

Lampu menyala.

Di tengah ruangan ada peti.

Di dalamnya... [FRAGMEN CATATAN KE-2]

"2 dari 10," kata Luna. "Kita harus kumpulin semua."

Aku buka.

Isinya: "Dia bukan monster. Dia korban. Yang membunuh kami... ada di dalam Akademi ini. Cari orang dengan kalung mata merah."

Kalung mata merah.

Aku inget. Profesor Garret punya kalung kayak gitu.

Kami keluar dari Lantai 3. Sudah siang.

Murid lain baru mulai masuk.

Di depan Menara... Profesor Garret berdiri. Liat kami.

Kalungnya. Mata merah.

Jantungku berhenti.

"Kael. Luna," katanya sambil senyum. "Gimana Menaranya?"

Aku gak bisa jawab. Tangan dingin.

Luna jawab: "Lancar Profesor. Kami sampai Lantai 3."

"Bagus," kata Garret. "Lanjutkan. Lantai 4 lebih seru."

Dia jalan pergi. Kalungnya berkilau.

Begitu dia hilang, aku langsung lemas.

"Luna..." bisikku. "Dia..."

"Aku tau," kata Luna. Wajahnya pucat. "Kalung mata merah."

[DING!]

[MISI: BAYANGAN DI MENARA - PROGRESS 60%]

[MISI BARU: SELIDIKI PROFESOR GARRET]

Malamnya.

Asrama.

Aku gak bisa tidur.

Suara di kepala muncul lagi. Kali ini marah.

_"KAU LAMBAT! DIA MAU HANCURIN BUKTI! NAIK SEKARANG! KE LANTAI 10!"_

_"ATAU AKU YANG AKAN TURUN!"_

_BUUUUM_

Jendela pecah.

Masuk bayangan. Tinggi 2 meter.

Wajahnya tertutup jubah. Tapi di tangannya... api biru.

Sama persis kayak punyaku. Tapi 10x lebih besar.

"Akhirnya kita ketemu... penerusku," katanya.

Suara serak. Tua.

"Siapa kau?" tanyaku sambil berdiri. Api di tangan.

Bayangan itu melepas tudungnya.

Wajah tua. Luka bakar di separuh wajah.

Tapi matanya... sama kayak aku.

"Aku..." katanya. "Aku ayahmu."

DUNIA BERHENTI.

[DING!]

[MISI UTAMA UPDATE: TEMUI AYAH DI LANTAI 10]

[STATUS: PENGKHIANATAN DI AKADEMI TERUNGKAP]

Aku mundur. "B...bohong..."

"Ayah mati 20 tahun lalu," kataku.

Pria itu tersenyum pahit. "Yang mati itu tubuhku. Jiwaku dikurung di Lantai 10. Oleh dia."

Dia nunjuk ke arah luar. Arah kantor Profesor Garret.

"Besok. Ke Lantai 10. Atau dia akan bunuh semua orang yang kau sayang. Termasuk gadis itu."

Lalu dia _POOF_ hilang.

Aku jatuh duduk. Napas tersengal.

Grom lari ke aku. "Tuan?!"

Di luar, Menara Langit... lampunya menyala semua. Sampai lantai 10.

Seolah memanggil.

Aku mengepalkan tangan.

"Besok. Kita naik. Ke Lantai 10."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!