Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titisan papi Jaya
Setelah selesai menata hidangan sarapan di atas meja, Owen mengambil tempat di kursi utama, menunggu adik-adiknya berkumpul.
Tak berapa lama, Ell muncul dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi. Anak itu menarik kursi dan langsung duduk di samping Owen.
“Ell, nanti kamu ada kelas tambahan enggak di sekolah?” tanya Owen membuka percakapan.
“Enggak ada, Kak. Tapi nanti sepulang sekolah Ell ada rencana main basket sebentar sama teman-teman,” balas Ell seraya mengambil selembar roti.
“Oke. Nanti kalau udah selesai langsung kabari Kakak, ya. Kakak kayaknya hari ini juga bakal pulang agak sorean,” jelas Owen.
“Gue juga ada kelas sore hari ini,” sahut Rafa yang baru saja melangkah turun dari lantai dua. Di belakangnya, Javin dan Lily berjalan membuntut, namun Javin sengaja mengambil jarak lumayan jauh di belakang Lily.
“Kalau gitu...” Owen mengalihkan pandangannya pada Lily. “Ly, nanti kamu sama Wafa pulang naik taksi online aja, ya?”
“Iya Kak, tapi kayaknya nanti Wafa ada latihan band sama teman-temannya deh. Kemarin dia bilang bandnya mau tampil buat acara kelulusan,” tutur Lily mengingatkan.
“Ya udah, kalau gitu Wafa biar Kakak yang jemput sekalian,” kata Owen, yang langsung disetujui Lily dengan anggukan pelan.
Di tengah pembicaraan itu, Wafa akhirnya muncul dengan rambut yang masih sedikit basah.
“Waf, nanti sore Lo jadi latihan band dulu, kan?” tanya Lily begitu adiknya mendudukkan diri.
Wafa menatap Lily lalu menjawab dengan nada yang disengaja. “Iya, nanti Aku latihan dulu. Kamu pulang duluan aja, ya,” ucap Wafa, sengaja menekan kata aku dan kamu dengan raut muka dibuat-buat.
Lily mengernyit gila. “Apaan sih, Waf? Segala pakai aku-kamu, geli tau enggak!” Lily menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
“Halah! Kemarin malam aja Kak Lily ngomongnya pakai aku-kamu sama temannya yang ganteng itu! Sekarang giliran Bang Wafa yang ngomong gitu enggak boleh. Apa karena Bang Wafa enggak ganteng?” cerocos Ell polos tanpa dosa.
Ruang makan yang tadinya tenang mendadak pecah oleh tawa kecil Rafa dan Owen. Sementara itu, wajah Wafa langsung berubah riyung.
“Maksud lu apa bilang gue enggak ganteng?!” seru Wafa tak terima. “Teman Lily kemarin kalau dibandingin sama gue ya jelas jauh lah! Dia ibarat 11, gue 12 miliar! Gila aja, cowok seganteng Wafa Wijaya anaknya Papi Wijaya dikatain jelek sama bocah!”
“Udah, udah, jangan berantem mulu di depan rezeki,” lerai Rafa seraya menepuk bahu Wafa.
Wafa akhirnya bungkus menyuap makanannya. Namun, matanya yang jahil tak bisa diam. Pandangannya bergerilya menyusuri meja makan hingga akhirnya terkunci pada sosok Javin yang duduk sangat tenang terlalu tenang, malah. Ada sesuatu yang janggal.
“Bang Javin... kenapa telinga lu merah banget?” tanya Wafa tiba-tiba di sela kunyahannya.
Refleks, Rafa menoleh cepat ke arah Javin, sementara Javin yang tersentak kaget buru-buru menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Rafa terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya itu. “Dia tuh lagi salting, Waf. Gara-gara tadi Lily enggak sengaja lihat dia nggak pake baju,” beber Rafa blak-blakan. Pandangannya lalu beralih menatap adiknya. “Lo salting juga enggak, Dek?”
“Enggak,” jawab Lily enteng tanpa beban. “Cuma begituan doang mah udah biasa lihat.”
Uhuk!!
Seketika seluruh saudara laki-lakinya menghentikan aktivitas makan dan menatap Lily tajam.
“Lihat punya siapa lu?!” tembak Wafa dengan nada ngegas.
Lily menoleh ke arah Wafa dengan raut keheranan yang makin menjadi. “Ya punya Papi sama punya kalian lah! Siapa lagi?” Lily memutar bola matanya malas, lalu lanjut menyendok sarapannya dengan santai.
Helaan napas lega beruntun terdengar dari Owen, Rafa, dan Wafa secara bersamaan.
Namun, Rafa yang dasar otaknya jahil tak mau melepas momen begitu saja. Ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Lily dengan senyum penuh arti.
“Tapi lu tau enggak, Ly? Punya Javin itu beda jauh tau dari punya kita-kita.”
Alis Lily terangkat sebelah. Bahkan Ell dan Wafa yang tadi sibuk makan kini ikut mencondongkan badan, mendadak penasaran.
“Bedanya apa?” tanya Lily polos.
“Tuh kan, lu kepo! Pengin lihat lagi, ya? Emang punya javin tu ca-”
Sebelum kalimat keramat itu lolos sempurna, telapak tangan Javin sudah melayang cepat membungkam mulut Rafa rapat-rapat.
“Bisa diam enggak sih, Raf?! Jangan bikin gue makin malu!” bisik Javin setengah panik dengan wajah merah padam.
Lily memutar bola matanya malas. “Sangat membuang waktu berhargaku,” gumamnya seraya menggeleng-geleng heran.
Ding... dong...
Bunyi bel rumah mendadak memecah ketegangan konyol di meja makan.
“Buka pintunya, Ell,” suruh Wafa santai.
Ell mengangguk patuh lalu melangkah menuju pintu depan. Namun, begitu gagang pintu diputar dan sosok tamu di luar terlihat jelas, senyum di wajah polos anak itu seketika sirna. Raut mukanya berubah keruh tak suka.
“Siapa, Ell? Suruh masuk aja!” teriak Rafa dari ruang makan.
“Teman Kak Lily yang kemarin ketemu di toko es krim!” balas Ell berteriak dengan nada jutek yang tidak ditutup-tutupi.
“Lian!” seru Lily girang.
Tanpa membuang waktu, Lily bangkit dari kursinya dan setengah berlari menuju pintu depan. Begitu melihat sosok Julian berdiri rapi di ambang pintu, raut wajah Lily langsung berbinar. Ia tanpa ragu menggandeng tangan laki-laki itu dan menariknya menuju ruang makan untuk mengambil tas sekolah.
Namun, sesampainya di ruang makan, Julian dengan lembut melepaskan genggaman tangan Lily. Ia memegang kedua bahu gadis itu lalu mendudukkannya kembali di kursi.
“Habisin dulu sarapan kamu, jangan buru-buru,” ujar Julian halus. Setelah itu, ia mengulas senyum sopan ke arah semua orang yang ada di meja makan.
Lily menurut patuh dan segera menghabiskan sisa makanannya. Kehadiran Julian pagi itu memang bukan tanpa alasan semalam mereka sudah janjian untuk pergi ke perpustakaan kota dan membeli buku Biologi bersama.
“Lu ngapain ke sini?” tanya Rafa ketus. Emosi gara-gara kejadian kemarin malam saja belum sepenuhnya reda, kini matanya makin panas melihat Lily dijemput secara mendadak.
“Jemput Lily, Kak,” jawab Julian tenang dan sopan. Pandangannya lalu beralih pada Lily. “Ly, kamu enggak bilang ke kakak kamu kalau aku mau jemput?”
Lily menelan suapan terakhirnya lalu menoleh. “Kamu bilang takut sama Papi? Makanya aku enggak bilang siapa-siapa.”
“Ya kamu kan yang bilang kalau Papimu galak,” jelas Julian membela diri.
“Iya, Papi memang galak! Apalagi kalau dia tahu ada anak cowok yang berani dekat-dekat sama anak gadisnya,” potong Wafa sengaja dengan nada menakut-nakuti. “Jangan lupain hukuman yang Bang Javin sama Malik terima waktu itu.”
“Oh iya, waktu itu Lily pernah cerita ke aku. Tapi itu salah kalian sendiri sih, bercandanya berlebihan,” sahut Julian tenang, meski nada bicaranya sedikit berubah defensif. “Papimu ada di rumah, Ly?”
Belum sempat Lily membuka suara, Ell sudah menyerobot duluan dengan wajah datar. “Papi lagi dinas ke luar kota.”
“Kalian kenapa pada jutek banget sih sama Julian?” protes Lily kesal. Ia menyampirkan tas sekolahnya ke bahu. “Ayo berangkat, Lian.” Lily kembali meraih dan menggandeng tangan Julian.
“Kita jalan duluan ya, Kak,” pamit Julian seraya mengangguk ramah.
Mata Rafa tak lepas mengawasi kepergian mereka sampai pintu depan tertutup. “Kurang ajar banget... Mana Lily nempel terus lagi sama tuh bocah!” umpat Rafa gusar, tangannya mencengkeram sendok makan hingga buku-buku jarinya memutih.
Owen mengangguk pelan dengan napas memburu, menahan kekesalan yang sama. Pandangannya mendadak mengarah pada Wafa dengan tatapan tajam dan intens yang membuat sang adik sedikit merinding. “Waf.”
“I-iya, Bang?”
“Pokoknya di sekolah, lu harus mata-matai mereka berdua!” perintah Owen tegas.
“Aman, Bang! Atau gini aja, lu buat grup WhatsApp baru biar kita gampang koordinasinya,” usul Wafa memberi ide.
Owen langsung mengangguk setuju tanpa ragu. “Boleh, nanti buat.”
Ell yang duduk di samping Owen menyandarkan punggungnya seraya bersedekap. “Kak Lily enggak bakal sedekat itu sih kalau cuma sekadar teman...” gumam Ell, sangat paham tabiat kakaknya. Lily dikenal sebagai tipe anak yang sangat selektif dan sulit membuka diri pada teman baru, apalagi lawan jenis.
“Kalaupun mereka pacaran, gue sih jujur enggak setuju. Ya... minimal modelannya kayak Bang Javin lah!” cetus Wafa spontan.
Celetukan itu seketika membuat semua pasang mata di meja makan mengarah padanya.
Javin, yang merasa namanya dibawa-bawa, langsung menaikkan sebelah alisnya tidak terima. “Minimal banget nih, Waf? Emang yang maksimal tuh kayak gimana bentukannya?”
“Yang maksimal tuh kayak gue! Gue enggak mau pacar kakak gue mukanya lebih jelek dari gue,” jelas Wafa dengan rasa percaya diri setinggi langit. Ia lalu menatap Javin dari atas ke bawah. “Gue rating lu 1/10, Bang.”
Javin melotot tak percaya.
“Bocah gila... serasa paling ganteng lu se-alam semesta?!” timpal Rafa sarkatis, menoyor pelan kepala adiknya yang terlalu percaya diri itu.
“Iya lah! Ingat ya Bang, kata Mami dulu, anak laki-laki yang paling ganteng di rumah ini tuh gue,” ujar Wafa penuh kebanggaan. Nostalgia manis itu memang benar adanya. Almarhumah Mami mereka sewaktu masih ada selalu memuji Wafa sebagai anak yang paling tampan untuk menyenangkan hati putra ketiganya itu.
“Halah, itu mah dulu! Sekarang mah gantengan gue ke mana-mana,” sahut Rafa tak mau kalah. “Lagian, minimal kalau mau jadi pacarnya Lily, cowok itu harus jago berantem kayak gue.”
Ell yang sedari tadi menyimak ikut mengangguk setuju. “Syarat utamanya harus lebih pintar daripada Kak Lily.”
Owen mengusap dadanya seraya menatap adik-adiknya satu per satu. “Yang jelas harus kayak gue ganteng, pintar, bisa masak, dan yang paling penting... bisa ngurusin tiga adik laki-laki yang kelakuannya kayak babi.”
Belum sempat adik-adiknya memprotes kalimat tajam itu, Owen sudah lebih dulu berdiri dari kursinya. Pandangannya menajam, memancarkan aura ketegasan penuh kepemimpinan. “Ayo berangkat, nanti telat.”
Mendengar intonasi tak terbantahkan dari sang abang tertua, Wafa dan Ell langsung bungkam. Mereka berdiri serentak, menyampirkan tas sekolah, dan mengekor di belakang Owen menuju mobil.
Suasana koridor sekolah pagi itu cukup riuh, namun Wafa memisahkan diri sejenak di pojok kantin. Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah grup WhatsApp baru saja dibuat oleh Owen dengan nama yang cukup intimidatif.
📱 Anak Cowok Papi Jaya📱
Jaya
- Grup apaan ini?
Rafa
- Grup buat mata-matai Lily, Pih
Jaya
- Memangnya Lily kenapa?
Tanpa membuang waktu untuk mengetik penjelasan panjang lebar, jemari Wafa bergerak cepat mengunggah sebuah foto dari galeri rahasianya. Foto yang ia ambil diam-diam beberapa hari lalu menampilkan Lily yang sedang duduk berdua dengan Julian di meja perpustakaan sekolah, tampak begitu akrab dan hangat.
Jaya
- Itu Lily?!
- Siapa anak laki-laki yang berani dekat-dekat sama Lily itu?!
Ell
- Namanya Julian, Pih
- Katanya sih teman sekelasnya Kak Lily
Owen
-Pih
- Nanti sore Papi udah pulang dari dinas, kan?
Jaya
- Iya, sore ini Papi sampai rumah
Owen
- Papi bisa jemput Lily?
Rafa
- Harus bisa sih, Pih! Kalau enggak, nanti Lily pasti dianter pulang sama si Julian itu lagi
- Tadi pagi aja Julian yang jemput Lily
Jaya
- Dia pacarnya Lily atau gimana?!
- Kok Papi enggak pernah dengar cerita apa-apa dari Lily?
Wafa
- Katanya sih cuma teman, Pih...
- Tapi kalau di kantin sampai suap-suapan
Ell
- Iya Pih!
- Tadi aja pas cowok itu datang, Kak Lily langsung menggandeng tangannya erat banget
Di tempat terpisah, tepatnya di dalam ruang rapat sebuah hotel di luar kota, Jaya yang membaca deretan pesan itu hampir menyemprotkan kopi yang baru diminumnya. Matanya membelalak menatap layar ponsel.
Jaya
- ENGGAK BISA DIBIARIN INI!!
Owen
- Setuju Pih
- Waf, pokoknya di sekolah lu harus mata-matai mereka berdua terus!
- Jangan sampai lolos!
Wafa
- Aman, Bang! Laksanakan! 🫡
Wafa menyeringai puas, memasukkan kembali ponselnya ke saku seragam. Misi agen rahasia keluarga Wijaya resmi dimulai.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat