Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKHAWATIRAN EROS
Di saat pikirannya masih bergulat dengan kebingungan, pintu ruang perawatan perlahan terbuka.
Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah tenang.
Eros segera menghampirinya dengan langkah tergesa.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya penuh harap.
Dokter itu tersenyum tipis sebelum menjawab,
"Nona Zenaya sudah berhasil melewati masa kritis. Kondisinya mulai stabil, tetapi beliau masih harus menjalani perawatan intensif. Jika tidak ada kendala, beliau akan segera sadar."
Kalimat itu seolah menjadi beban yang terangkat dari pundak Eros. Ia memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi terasa begitu sesak.
"Syukurlah..." lirihnya penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Dok. Apa saya boleh masuk menemuinya?"
"Tentu, Tuan. Silakan mengenakan pakaian steril terlebih dahulu demi menjaga kebersihan ruangan."
Eros menganggukkan kepala. Setelah mengenakan jubah steril yang telah disediakan rumah sakit, ia melangkah perlahan memasuki ruang VVIP.
Suasana ruangan begitu sunyi.
Pandangannya langsung tertuju pada sosok Zenaya yang terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus terpasang di tangannya, sementara alat bantu pernapasan masih menutupi hidung dan mulutnya. Wajah cantik yang biasanya dihiasi senyum ceria kini tampak pucat dan tak berdaya.
Hati Eros terasa diremas.
Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping ranjang. Dengan sangat hati-hati, jemarinya mengusap lembut rambut Zenaya yang terurai di atas bantal.
"Zen..."
Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya.
Tanpa disadari, sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. Eros tertegun sesaat sebelum buru-buru menghapusnya. Bahkan dirinya sendiri tidak menyangka ia bisa menangis seperti ini.
Ia menundukkan kepala, menggenggam tangan Zenaya dengan hati-hati.
"Maafkan aku, Zen..." suaranya bergetar. "Aku belum bisa menjagamu dengan baik."
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Eros tetap duduk di sana, enggan beranjak sedikit pun. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Zenaya, seolah takut wanita itu menghilang begitu saja jika ia berpaling.
Beberapa waktu kemudian, pintu ruangan kembali terbuka.
Desmon masuk dengan mengenakan pakaian steril rumah sakit. Di tangannya terdapat kotak makan siang yang sengaja ia bawakan. Ia tahu, sejak kembali dari Kyoto hingga sekarang, Eros belum menyentuh makanan sedikit pun.
"Tuan," panggil Desmon pelan.
"Makanlah dulu. Jangan biarkan perut Anda kosong."
Eros menoleh sekilas ke arah makanan itu, lalu kembali memandang Zenaya yang masih belum sadarkan diri.
"Aku benar-benar merasa bersalah padanya," ucapnya lirih.
Desmon mengikuti arah pandangan Eros.
"Seharusnya aku bisa menjaganya... tapi aku gagal."
Desmon menghela napas pelan.
"Tenanglah, Tuan. Kecelakaan ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda."
Namun Eros hanya terdiam. Tatapannya kosong, dipenuhi penyesalan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara.
"Bagaimana keadaan sopirnya?"
Desmon menundukkan kepala sejenak sebelum menjawab dengan nada berat.
"Maaf, Tuan... sopir itu tidak berhasil diselamatkan."
Ucapan itu membuat suasana kembali sunyi.
Kecelakaan tersebut ternyata begitu dahsyat hingga merenggut nyawa sang sopir. Meski demikian, Eros masih sangat bersyukur karena Zenaya berhasil bertahan hidup.
Rahangnya mengeras.
"Usut tuntas kecelakaan ini," ucapnya dengan nada dingin namun penuh ketegasan.
"Jika memang ada campur tangan manusia, aku ingin pelakunya ditemukan dan diproses sesuai hukum."
Desmon mengangguk mantap.
"Baik, Tuan. Saya akan menyelidiki semuanya sampai tuntas."
Tatapan Eros kembali jatuh pada wajah Zenaya.
Di dalam hatinya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun yang telah mencelakai wanita nya itu lolos begitu saja.