NovelToon NovelToon
Jadi Janda? Siapa Takut?

Jadi Janda? Siapa Takut?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.

Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.

Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.

Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?

"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.

"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.

Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Janda? Siapa Takut? 19

Malam itu berlalu dengan kesunyian yang mencekam. Meski Bu Sri sudah pergi, kata-kata "anak durhaka" dan "pembawa kemiskinan" masih terngiang jelas di telinga Rumi. Fathur lebih banyak diam, matanya sembab, sementara tangannya tak lepas mengelus perut Rumi yang masih rata—seolah sedang melindungi janin mereka dari kutukan neneknya sendiri.

Pagi harinya, drama belum berakhir. Saat dia baru saja tiba di toko roti, sebuah pesan masuk ke ponsel Rumi dari nomor yang tidak dikenal, namun Rumi tahu betul siapa pengirimnya.

“Puas kamu membuat Fathur berlutut seperti pengemis di depanku? Gara-gara kamu, Fathur kehilangan akal sehatnya. Ingat Rumi, kalau sampai terjadi apa-apa dengan kesehatan saya karena memikirkan tingkah kalian, kamu pelakunya. Kamu yang sudah mencuci otak anak saya sampai dia berani membantah ibunya sendiri. Anak yang kamu kandung itu hanya akan membawa sial jika caranya saja sudah membuat bapaknya berdosa!”

Rumi meremas ponselnya. Air matanya luruh tanpa suara. Setiap gerakan, setiap helaan napasnya, seolah selalu menjadi celah bagi Bu Sri untuk menyalahkannya. Ia merasa seperti monster yang memisahkan ibu dan anak, padahal ia hanya ingin mempertahankan martabat dan nyawa anaknya.

Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran di pusat kota, Fathur dipanggil ke ruangan Direktur Utama. Langkahnya gontai, ia berpikir mungkin ia akan ditegur karena performanya yang sedikit menurun belakangan ini akibat beban pikiran rumah tangga. Apalagi untuk pertama kalinya dia pergi beberapa jam setelah jam istirahat, walau sudah izin dan mengganti jam tetap saja dia merasa bersalah.

"Fathur, duduk," ujar Pak Hendra, sang Direktur.

"Iya, Pak. Maaf kalau belakangan ini saya sedikit..."

"Saya sudah memantau grafik kerjamu setahun terakhir," potong Pak Hendra.

"Kamu jujur, ulet, dan tidak pernah mengeluh meski posisi kamu berat. Saya butuh orang seperti kamu untuk mendampingi Manager operasional yang baru. Mulai besok, saya angkat kamu menjadi Wakil Manager."

Jantung Fathur seolah berhenti berdetak sesaat. Ini adalah berita baik kedua di antara kabar dan suasana buruk yang selama ini terasa mence-kik dirinya. Kebencian ibunya yang tak pernah berhenti kepada sang istri membuat ya merasa sangat bersalah.

"Wakil... Manager, Pak?" beo Fathur seolah tak percaya dengan yang dia dengar.

"Ya. Gaji, tunjangan kesehatan keluarga, dan fasilitas lainnya akan segera disesuaikan. Selamat, Fathur. Semoga ini bisa memotivasi kamu lebih baik lagi." Pak Hendra menjabat tangan Fathur.

Fathur keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Bahagia, lega, tapi juga perih. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memeluk Rumi. Ia ingin membuktikan pada ibunya bahwa Rumi bukanlah pembawa sial atau kemiskinan.

Fathur memutuskan untuk pulang lebih awal sore itu dengan membawa kabar gembira. Hari ini dia tak mengambil lembur, karena ingin segera bertemu dan mengabarkan kabar gembira ini kepada istrinya.

“Ya Allah... kenapa nasibku begini? Aku yang melahirkan, aku yang menyusui, tapi setelah punya istri, anakku sendiri tega mengusirku!”

Bu Sri menangis pilu.

Dia terduduk di lantai teras yang berdebu. Rambutnya sengaja dibuat sedikit acak-acakan, kerudungnya miring, dan ia memegang dadanya seolah sesak napas. Di depannya, Rumi berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, memegang gagang pintu dengan tangan gemetar.

Bahkan di sana sudah ada beberapa orang tetangganya yang datang karena mendengar jerit tangis Bu Sri. Bukan hanya itu mereka juga berbisik-bisik membicarakan perlakuan Rumi kepada Bu Sri.

“Ibu... Rumi tidak mengusir Ibu. Rumi cuma bilang Mas Fathur belum pulang, jadi lebih baik Ibu tunggu di dalam atau kembali nanti—”

“Halah! Jangan bohong kamu!” potong Bu Sri dengan suara melengking yang disengaja agar terdengar sampai ujung gang.

“Kamu bilang aku mertua tak tahu diri, kan? Kamu bilang aku cuma mau morotin gaji suamimu? Tega kamu, Rumi! Kamu ingin aku ma-ti supaya kamu bisa menguasai Fathur sendirian!”

Tetangga semakin berbisik-bisik. Ada yang menatap Rumi dengan pandangan menghakimi. Rumi hampir terjatuh, dunianya berputar. Fit-nah yang dilemparkan Bu Sri terasa lebih tajam daripada sembilu.

“Bu... demi Allah, Rumi nggak pernah bilang begitu,” isak Rumi.

Perutnya mulai terasa nyeri karena tekanan stres yang luar biasa.

“Lihat! Lihat semuanya! Dia berani bersumpah palsu di depan orang tua yang sedang sekarat!” Bu Sri semakin menjadi-jadi.

Dia merebahkan tubuhnya di lantai, berakting seolah pingsan namun matanya sesekali mengintip mencari simpati. Sedangkan Rumi terlihat kebingungan. Beberapa tetangga juga mulai datang mendekat.

Fathur memacu motornya dengan perasaan buncah. Di dalam tas kerjanya, terselip surat keputusan resmi yang menyatakan dirinya kini menjabat sebagai Wakil Manager. Ia sudah membayangkan wajah lelah Rumi akan berubah cerah saat mendengar berita ini. Ia ingin meyakinkan istrinya bahwa janin yang mereka kandung adalah pembawa berkah, bukan kesialan seperti yang diumpat ibunya.

Namun, begitu memasuki gang rumah kontrakannya, langkah Fathur tertahan. Kerumunan tetangga terlihat berkumpul di depan rumahnya yang mungil. Terdengar Isak tangis istrinya yang sedang mendapatkan tatapan tajam dari para tetangga.

"Ibu-ibu ada apa ini?" tanya Fathur menerobos kerumunan dan memeluk istrinya yang sudah gemetar ketakutan.

Rumi bukan tak bisa membela dirinya sendiri, namun untuk saat ini rasanya percuma menjelaskan kepada semua orang. Apalagi itu adalah masalah rumah tangga dan a-ib mereka semua. Rasanya tak pantas semua orang tahu jika keluarga mereka sedang tak baik-baik saja. Apalagi selama ini Rumi selalu berusaha menjaga harga diri suami dan keluarganya.

"Mas ..." panggil Rumi lirih.

"Nak Fathur, ini lihat ibunya pingsan! Katanya Bu Sri dia di usir dari rumah oleh Rumi. Padahal dia hanya ingin bertemu dengan kamu!"

"Jangan jadi anak durhaka Fathur! Kasihan ibumu sudah tua dan sangat ra-puh. Apalagi aku juga sering mendengar cerita Bu Sri kalau Arumi selalu memperlakukan dia dengan bu-ruk. Padahal Bu Sri sangat menyayangi dia!"

"Benar! Wajar kalau seorang anak memberikan uang kepada ibunya! Jangan kalah sama perempuan yang serakah seperti itu, Fathur!"

"ibumu sudah tua! Masa masih harus di suruh beres-beres di rumah kamu! Setiap pagi dia harus datang dan beres-beres! Menantu macam apa si Rumi ini! Kelihatannya saja wanita baik dan sopan! Eh nggak tahunya!.

Bu Sri bersorak dalam hati karena rencananya kali ini berhasil. Sedangkan Rumi menggelengkan kepalanya. Fathur mengusap kepala Rumi dan mengecup kepalanya lama. Dia tak mengira kalau ibunya juga menyebarkan fit-nah kelasa ibu-ibu di sekitar rumah kontrakannya. Fathur berjalan mendekat ke arah ibunya yang masih pura-pura pingsan di lantai.

1
Muft Smoker
kak author boleh nyumpahin bu ny fathur sakit beneran gx ,,
heran gx da sadar2 ny ,, harus ny dy gx usah serakah toh fathur sebagai anak juga pasti menjalan kan kewajiban ny ,, mudah2an sakit beneran ,, baru tau rasa ,, biar tu si dona2 yg ngerawat bu Tari ,, yg katany menantu idaman ,, sedangakn Rumi udh pergi jauh ,, Dan punya pendamping yg baru yg lebih berkelas dr fathur ,, 😏😏😏😏😏
nely_48
boleh ga sih ak kirim santet buat bu Sri 🤣🤣🤣
Lovita BM
ya wes terusno sg gk nok ujunge,
gk da ontran² sbg penggerak sg ngegep otak busuk keluarga Rumi sg menjamur 3th lamanya, ditambah kedatangan lampir dona tmbh beehhh💩
Yam_zhie: aku gak paham. bahasa jowo..aku sundanise mbak 😭
total 1 replies
Yunita Sophi
udahlah sementara pun sama suami... klo perlakuan mertua sejahat itu dan suami tdk membela dan tetap tdk mau jauh dari ibu nya lebih baik pergi lah...
Yunita Sophi
mungkin menghadapi si Dona kamu bisa nolak Fathur... tp menghadapi ibu mu aq gak yakin tuh kamu bisa nolak...😄
Yunita Sophi
gak mungkin suami mu berani membela mu di depan ibu nya Rumi...
lebih baik kamu pergi menyerah
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
panjang kali ini drama dibikin SM othor👻👻👻🤣
Muft Smoker: jgn panjang2 kak ,, kasihan mak ny si fathur takut urat syaraf ny keburu putus marah2 plus dengki ke arumi🤭🤭🤭
total 2 replies
Dew666
💟💟💟
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kanjeng ratu Sri, Tari siapa?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪: ngakaakk 😭😭
total 2 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
ceilee.. salahin tiang listrik noh ada dipinggir jalan
Oma Gavin
mertua lucknyaku sumpahin kamu beneran sakit jantung saat tau siapa dona yg sebenarnya jalang murahan gatel yg ingin menguasai harta fathur dsn gobloknya fathur masuk jebakan nya dan drama ibunya klop cucok jodoh orang goblok jodoh nya jalang murahan
Muft Smoker: mending klo di buang k panti jompo ,, kalo d buang ke tempat pembuangan sampah atau kolong jembatan ,, lebiih estetik lgii itu 🤭🤭🤭
total 3 replies
Arin
Ibu Sri apa Ibu Tari? 🤔🤔🤔🤔
Yam_zhie: maacih 🙈😘
total 4 replies
Yunita Sophi
mulut buka mu Fathur untuk membela istri mu yh sll di hina dan di sudut kan... membela kehormatan istri itu wajib Fathur
Yunita Sophi
kasian Arumi... melihat orang kaya aja udah takut... jgn takut Rum gak semua orang kaya sama dgn kluarga suami kamu yg sombong...
gina altira
Dah lah pergi aja Rumi,, kasian kau tersiksa begini. Fathurnya ga punya prinsip
Yunita Sophi
bu Sri bukan setan lg tp dijual...
Yunita Sophi
kasian yg mertua nya gak tau diri dan gak ngerti agama seperti bu Sri...
Yunita Sophi
maaf thor banyak typo nya 🙏🏻
Yunita Sophi
cari bahagia sendiri Rumi... pergi dari suami gak berguna buat apa bertahan... untung nya apa?
Yunita Sophi
gak jadi makan deh Rumi...rumit banget tuh mertua...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!