Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Darius segera menghentikan langkahnya. Ia menatap pria di hadapannya dengan raut wajah yang datar. Sorot matanya yang dingin seolah menembus pertahanan para pengawal tersebut.
"Kemana tujuan Anda sekarang, Tuan?" tanya sang pemimpin pengawal dengan nada menuntut. "Jika Anda tidak memiliki urusan, Tuan Besar meminta Anda untuk segera kembali ke kediaman utama."
Darius tidak membalas pertanyaan itu dengan jawaban. Ia hanya mengulurkan tangan kanan, merapikan kerah jasnya dengan gerakan yang amat santai dan presisi.
"Sejak kapan seorang pengawal berani mempertanyakan tujuanku?" ucap Darius dengan suara rendah, namun bergema menekan di telinga para pengawal.
Pemimpin pengawal itu mengepalkan tangannya dengan erat. Tekanan tak kasatmata yang dipancarkan oleh Darius membuat sorot matanya berubah menjadi keras.
"Maafkan kami, Tuan Muda," ujar sang pemimpin pengawal dengan nada suara yang penuh ancaman. "Tuan Besar Hardiman memberi wewenang kepada kami. Jika Anda menolak untuk kembali, kami terpaksa menggunakan cara kasar!"
Darius menatap pria dihadapannya itu dengan pandangan datar yang sangat meremehkan. "Coba saja."
"Tangkap dia!" teriak sang pemimpin pengawal memberi perintah dengan suara yang menggelegar keras.
Dua pengawal di sisi kiri dan kanan menerjang maju bersamaan. Pengawal kiri berusaha mengunci kedua lengan Darius. Sedangkan yang kanan mengayunkan tinju keras ke arah rahang.
Serangan itu sejatinya dilakukan dengan cepat dan terukur khas prajurit terlatih. Tetapi di mata Darius, setiap pergerakan mereka justru terasa begitu lambat
Darius memiringkan tubuh ke belakang, membiarkan pukulan lawan menyapu udara kosong. Sebelum tangan itu ditarik kembali, Darius menyambar pergelangan sang pengawal dan memelintirnya.
KRAK!
"AAAAGH!" Jeritan kesakitan pecah di pelataran saat tulang pergelangan tangan pengawal itu terdislokasi seketika.
Tanpa melepaskan cengkeramannya, Darius memutar tubuh pria itu dan memanfaatkannya sebagai tameng untuk menahan pengawal kedua yang mencoba menyerangnya dari belakang.
Benturan keras tak terelakkan saat tubuh kedua pengawal itu beradu hebat. Daya hantamnya menghempaskan mereka dan membuat keduanya jatuh tersungkur tak berdaya.
Empat pengawal lainnya melangkah mundur dan terperanjat. Ketika melihat dua rekan mereka baru saja ditumbangkan hanya dalam waktu kurang dari tujuh detik.
"Serang bersamaan! Patahkan kakinya!" jerit sang pemimpin pengawal yang kini merogoh tongkat taktis dari balik jasnya.
Empat pengawal yang tersisa seketika menyerbu serentak dari berbagai arah, mengepung dan mencoba mengunci ruang gerak Darius secara mutlak
Dua di antaranya mengayunkan tongkat taktis secara membabi buta ke arah bahu dan leher, sementara dua sisanya mencoba memiting tubuh Darius dari belakang.
Namun, Darius tetap berdiri dengan tenang. Sorot matanya berkilat dingin saat ia melangkah kecil ke depan, memotong sudut serangan lawan dengan akurasi sempurna.
Sreet!
Ayunan tongkat pertama meleset, hanya membelah udara kosong di samping telinga Darius. Tanpa memberi celah sedkit pun, ia segera mendaratkan pukulan tepat di ulu hati pengawal tersebut.
BUG!
Pengawal itu terhenyak dengan mata mendelik lebar. Udara di paru-parunya terhempas keluar dalam satu hembusan paksa, sebelum tubuhnya ambruk dan kaku tak bergerak
Melihat rekannya tumbang, pengawal di sebelah kanan yang memegang tongkat taktis berteriak murka. Ia mengayunkan tongkat itu secara horizontal, mengincar leher Darius dengan sekuat tenaga.
Darius tidak bergerak mundur satu langkah pun. Dengan satu gerakan yang begitu cepat, tangan kirinya menangkap ujung tongkat yang sedang melayang kencang tersebut.
"Ini... tidak mungkin!" bisik pengawal itu dengan peluh dingin yang perlahan mulai membasahi dahinya.
Belum sempat pengawal itu menyadari apa yang terjadi, Darius menyentak tongkat itu ke arahnya. Tubuh sang lawan tertarik maju, di saat yang sama lutut kanan Darius menghantam dadanya.
KRAK!
Suara tulang rusuk yang retak terdengar samar. Pengawal itu melayang mundur beberapa meter sebelum menghantam tiang marmer gedung dan pingsan seketika.
Kini hanya tersisa sang pemimpin pengawal bersama satu anak buahnya yang berdiri dengan gemetar hebat di belakangnya. Keduanya menelan ludah dengan susah payah.
Enam pengawal yang dikirim oleh Tuan Besar Hardiman untuk menundukkan satu orang pemuda, kini empat di antaranya sudah terkapar tak berdaya hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
"K-Kau... dari mana kau mempelajari kemampuan seperti itu?!" teriak sang pemimpin pengawal dengan suara yang mulai bergetar panik.
Rasa takut luar biasa seketika menyelimuti pikirannya, namun bayangan akan murka Tuan Besar Hardiman memaksanya untuk tetap bertahan.
"Majulah," ucap Darius dengan suara datar. Matanya menatap dingin ke arah dua pengawal yang tersisa. "Bukankah kalian ingin menghentikanku menggunakan cara kasar?"
Sang pemimpin pengawal mengetatkan rahangnya erat-erat. "Serang dia! Gunakan seluruh tenagamu! Jangan biarkan dia melangkah keluar dari gedung ini!"
"HAAAAAGHH!"
Dengan teriakan frustrasi, pengawal terakhir menerjang maju. Kali ini ia tidak menggunakan teknik kaku, melainkan mencoba melakukan takel bawah untuk menjatuhkan Darius.
Sementara itu, sang pemimpin pengawal melesat maju dari sisi kanan. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan tinjunya dengan tepat ke arah pelipis Darius.
Darius kembali tidak menghindar. Saat pengawal yang berada di bawah mencoba menangkap pinggangnya, ia langsung mencengkeram leher sang lawan, lalu menekan tubuhnya ke lantai pelataran.
Hantaman itu membenturkan wajah sang pengawal yang berada di bawah ke lantai pelataran luar dengan sangat keras. Pria itu seketika kehilangan kesadarannya.
Di saat yang sama, tinju sang pemimpin pengawal yang mengincar pelipis Darius meleset beberapa milimeter. Darius cukup memiringkan kepalanya dengan presisi sempurna.
Sebelum pemimpin pengawal itu sempat menarik kembali tangannya, jemari Darius bergerak secepat kilat dan langsung mencengkeram tenggorokan pria tersebut.
Dengan satu lontaran santai, Darius melemparkan tubuh pemimpin pengawal itu hingga melayang dan menghantam Rolls-Royce milik Surya Adhitama yang terparkir di pelataran.
Pria itu mengerang pelan dengan napas yang tersengal-sengal. Tubuhnya yang bersimbah darah gemetar, benar-benar kehilangan kekuatan untuk kembali bangkit berdiri.
Suasana mendadak hening mencekam. Desiran angin menyapu pelataran, melintasi tubuh enam pengawal Keluarga Adhitama yang kini terkapar tak berdaya.
Para karyawan, staf, serta penjaga yang menyaksikan pertarungan tersebut berdiri membeku dengan wajah pucat pasi. Tidak ada satu pun yang berani melangkah maju atau sekadar bersuara.
Darius berdiri tenang di tengah kekacauan. Setelah merapikan lengan jas dan mengibaskan debu di tangannya, ia menatap dingin tubuh sang pemimpin pengawal yang terkulai di atas kap mobil.
Darius melangkah mendekat dengan perlahan, lalu membungkuk sampai jarak mereka menyisakan beberapa inci. Ia menatap tepat ke dalam mata sang pemimpin pengawal yang ketakutan.
"Sampaikan pesan ini pada Hardiman," ucap Darius dengan suara yang teramat rendah. "Jangan pernah mengendalikanku dengan anjing-anjing cacat seperti kalian,"
Tanpa menunggu balasan, Darius kembali menegakkan tubuhnya. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan jejak ketakutan mendalam di hati semua orang yang menyaksikan kehebatannya hari itu.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya