NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rival Yang Mulai Berubah

Ella mengembuskan napas pelan setelah panggilan video dengan Emma berakhir.

Ia meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu menyandarkan tubuh ke kursi empuk di ruang kerja Emma.

Jam digital di sudut monitor menunjukkan pukul 15.27.

Masih ada beberapa jam sebelum jam kerja berakhir.

Ella menoleh ke jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung Manhattan.

Baru satu hari.

Namun rasanya seperti seminggu.

Ia baru tahu betapa beratnya menjadi Emma Taylor.

Bukan karena pekerjaannya.

Melainkan karena semua orang tampak selalu waspada terhadapnya.

Tak ada yang berani bercanda.

Tak ada yang berbicara santai.

Semua orang selalu memilih kata-kata sebelum berbicara dengannya.

Ella menunduk pelan.

"Emma... selama ini kau hidup seperti ini?"

Tok...

Tok...

Suara ketukan membuyarkan lamunannya.

"Masuk."

Seorang staf administrasi masuk sambil membawa beberapa map.

"Nona Taylor, Tuan William meminta Anda ke ruang rapat lima menit lagi."

Ella mengangguk.

"Baik. Terima kasih."

Staf itu tersenyum kikuk.

"Sama-sama."

Begitu pintu tertutup, Ella tersenyum kecil.

Ia kembali teringat ucapan Emma.

"Kalau kau bersikap baik, mereka pasti bingung."

Ternyata benar.

Ella keluar dari ruangannya sambil membawa tablet.

Koridor kantor mulai ramai.

Beberapa karyawan yang berpapasan masih mencuri-curi pandang.

Sebagian karena rambut panjang bergelombang berwarna cokelat yang kini dimiliki 'Emma'.

Sebagian lagi karena sejak pagi Emma tidak sekali pun membentak atau marah pada siapa pun.

Ella sudah terbiasa di Inggris menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai Lady Alexander.

Namun menjadi pusat perhatian karena semua orang takut padanya...

Adalah pengalaman yang sama sekali baru.

"Emma."

Sebuah suara memanggil dari belakang.

Ella menoleh.

Roman James berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah map tipis.

"Kau lupa membawa berkas evaluasi proyek."

Ella melihat map di tangannya.

"Oh..."

Ia benar-benar lupa.

"Terima kasih."

Roman menyerahkan map itu.

Tatapannya masih menyelidik.

"Lagi-lagi berterima kasih."

Ella tersenyum bingung.

"Memangnya tidak boleh?"

Roman terkekeh pelan.

"Biasanya kau akan bilang, 'Taruh saja di mejaku.'"

Ella baru sadar.

Ia hampir lupa lagi.

"Aku sedang mencoba memperbaiki sikap setelah pulang berlibur."

Roman memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Hanya karena sebuah liburan?"

Ella mengangguk.

"Mungkin."

Roman menggeleng kecil sambil tersenyum samar.

"Aneh."

"Apanya?"

"Rupanya seminggu bisa mengubah seorang Emma Taylor yang galak."

Ella hanya membalas dengan senyum tipis.

Dalam hati ia berdoa agar Roman berhenti bertanya.

Ruang rapat sudah dipenuhi beberapa manajer divisi ketika Ella dan Roman masuk.

William Whitmore duduk di kursi paling depan.

Pria tua itu langsung mempersilakan mereka duduk.

"Baik."

William membuka rapat.

"Kita akan membahas proyek akuisisi."

Ella mulai mencatat semua yang diperlukan.

Roman menyampaikan analisisnya lebih dulu.

Semua orang mendengarkan.

Begitu Roman selesai, William menoleh kepada Ella.

"Emma?"

Ella membuka beberapa halaman dokumen.

"Ada satu risiko yang belum diperhitungkan."

Roman langsung melihat ke arahnya.

Ella melanjutkan dengan tenang.

"Jika akuisisi dilakukan bulan depan, biaya distribusi akan meningkat hampir tiga belas persen karena perubahan tarif logistik."

Beberapa peserta rapat saling berpandangan.

William tersenyum.

"Lanjutkan."

Ella menjelaskan dengan runtut.

Tidak terburu-buru.

Tidak meninggikan suara.

Semua data tersusun rapi.

Roman memperhatikan setiap penjelasannya.

"Tetap luar biasa..."

Kemampuan Emma sama sekali tidak berubah.

Hanya...

Cara berbicaranya jauh lebih nyaman didengar.

Setelah Ella selesai, Roman mengangkat tangan.

"Aku setuju dengan analisismu nona Taylor."

Semua orang langsung menoleh dengan tatapan curiga.

Biasanya...

Kalimat berikutnya pasti menjadi awal pertengkaran mereka.

perselisihan yang membuat orang ramai terjebak didalamnya.

Namun hari itu tidak.

Roman melanjutkan,

"Tapi menurutku ada satu variabel yang perlu ditambahkan."

Ella membaca kembali tabel di depannya.

Lalu mengangguk.

"Itu ide yang bagus."

Ruangan mendadak sunyi.

Salah seorang manajer bahkan hampir menjatuhkan pulpennya.

William tersenyum lebar.

"Kalau begini, pekerjaanku jauh lebih mudah. Seharusnya sejak dulu kalian berdua bisa akur."

Roman melirik Ella.

"Tidak ada bantahan?"

Ella menggeleng pelan.

"Kenapa harus membantah kalau idemu memang masuk akal?"

Roman terdiam.

Jawaban sederhana itu justru membuatnya kehilangan kata-kata.

Rapat berakhir hampir pukul lima sore.

Orang-orang mulai meninggalkan ruangan.

William memanggil keduanya.

"Emma. Roman."

Mereka berhenti.

"Aku ingin kalian berdua menangani proyek ini bersama."

Roman mengangguk tanpa keberatan.

Ella juga tersenyum sopan.

"Baik, Tuan William."

William memandang keduanya bergantian.

Entah mengapa...

Hari itu ia merasa akhirnya dua orang paling berbakat di perusahaan ini bisa bekerja tanpa saling menjatuhkan.

Sementara Roman masih menatap Ella beberapa saat.

Dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan.

"Apa sebenarnya yang terjadi selama seminggu itu... hingga seorang Emma Taylor bisa berubah sejauh ini?"

Dan tanpa disadarinya...

Rasa penasaran itu menjadi alasan pertama ia mulai memperhatikan rivalnya lebih lama daripada biasanya.

Orang-orang sudah meninggalkan lantai rapat.

Ella menjadi yang terakhir keluar sambil membawa tablet dan beberapa berkas.

Ia baru beberapa langkah berjalan ketika suara William Whitmore kembali menghentikannya.

"Emma."

Ella berbalik.

"Ya, Tuan William?"

Pria tua itu tersenyum hangat.

"Aku senang melihat perubahanmu."

Ella sedikit gugup.

"Perubahan?"

William mengangguk pelan.

"Aku menyukai rambutmu, caramu berbicara, bahkan caramu berdiskusi lebih halus dan enak didengar."

Ia tertawa kecil.

"Awalnya kupikir kau hanya sedang ingin mencoba penampilan baru."

"Tapi sekarang kurasa bukan hanya itu."

Jantung Ella berdegup sedikit lebih cepat.

William menatapnya dengan sorot mata penuh kebapakan.

"Kau terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Mungkin hasil meditasi mu berhasil saat liburan."

"Dan entah kenapa..."

"Aku lebih menyukai Emma yang sekarang."

Ella tersenyum canggung.

"Terima kasih Tuan William."

William mengangguk.

"Pulanglah. Besok kita mulai pekerjaan yang lebih berat. Kau harus beristirahat dengan baik untuk menghasilkan ide-ide brilian mu."

"Baik, Tuan William."

Ella membungkukkan badan sedikit sebelum berjalan menuju lift.

Pintu lift perlahan menutup.

Begitu hanya dirinya seorang di dalam sana, ia mengembuskan napas panjang.

"Syukurlah...Emma sudah menjelaskan semua tentang project itu."

Setidaknya...

Hari pertamanya berhasil ia lewati tanpa membongkar penyamaran.

Namun tanpa sepengetahuannya...

Di balik dinding kaca ruang kerjanya, Roman masih berdiri memandangi lift yang baru saja turun.

Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Tatapannya tidak lagi dipenuhi rasa kesal seperti biasanya.

Melainkan rasa penasaran.

"Bahkan Paman William sampai memuji perubahannya hari ini. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan nya? Tidak mungkin orang bisa berubah dalam sekejab."

Roman bergumam pelan.

Ia menggeleng kecil, lalu tersenyum tipis.

"Emma Taylor..."

"Apa sebenarnya yang terjadi padamu selama seminggu itu?"

Pertanyaan itu terus terngiang di benaknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi rival...

Roman pulang dengan membawa bayangan Emma sang Rival yang mulai berubah di dalam pikirannya.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!