Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy Melecehkan Mami!
Langkah kaki Keith terdengar berat di atas lantai marmer mansion yang luas. Jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul satu malam. Rumah itu terasa asing, sunyi, dan hampa, sebuah kontras yang menyakitkan dibandingkan dengan kebisingan yang biasanya diciptakan oleh Jeslyn setiap kali ia pulang. Tidak ada ocehan soal makanan, tidak ada omelan soal jam malam, dan tidak ada kehadiran wanita itu yang selalu membuat rumah ini terasa... hidup.
Keith menghela napas panjang, melonggarkan dasinya dengan kasar. Saat ia hendak melangkah menuju lift untuk naik ke lantai atas, telinganya menangkap sebuah suara samar dari ruang santai. Itu suara televisi.
Langkah kaki Keith secara otomatis berbelok, seolah magnet tak terlihat menariknya ke sana. Ada secercah harapan yang tumbuh di dadanya, sebuah perasaan yang tidak bisa ia jabarkan, namun ia sangat menginginkan sosok itu ada di sana.
Di sana, di atas sofa beludru panjang, sosok Jeslyn meringkuk. Wanita itu tertidur pulas dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Kepalanya bersandar pada lengan sofa, mulutnya sedikit terbuka, dan tangannya masih menggenggam erat sebuah bungkus makanan ringan yang sudah kosong.
Melihat pemandangan konyol itu, tanpa sadar seulas senyum geli merekah di bibir Keith. Pria yang biasanya kaku dan tak tersentuh itu mendekat perlahan, tidak ingin mengusik kenyamanan sang istri. Ia memperhatikan wajah polos Jeslyn tanpa makeup. Tanpa polesan lipstik dan bedak tebal, Jeslyn terlihat jauh lebih muda, cantik, dan sangat mempesona. Mata birunya yang tajam kemudian turun, tertuju pada perut buncit Jeslyn yang membungkus kehidupan baru mereka.
"Sudah delapan bulan," batin Keith.
"Waktunya sudah dekat."
Keith merasa iba melihat posisi tidur Jeslyn yang pasti akan membuat punggungnya sakit saat bangun nanti. Ia membungkuk, berniat meraih tubuh istrinya untuk memindahkannya ke kamar dengan lebih layak. Namun, baru saja tangannya menyentuh punggung Jeslyn, sebuah suara dingin memecah kesunyian.
"Apa yang sedang Daddy lakukan?"
Keith terlonjak, refleks menarik tangannya. Ia berbalik dan menemukan Lucian berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh kecurigaan.
"Lucian?" Keith berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh.
"Daddy hanya... dia tertidur di posisi yang salah. Daddy ingin memindahkannya ke kamar."
Lucian tidak bergeming. Ia terus menatap ayahnya dengan sorot mata yang menghunus, membuat Keith merasa tidak nyaman.
"Daddy pikir aku tidak melihatnya? Tangan Daddy tadi hampir menyentuh bagian yang tidak seharusnya."
Keith mengerutkan kening, merasa tersinggung dengan tuduhan itu. "Apa maksudmu Lucian? Daddy bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Jangan bicara sembarangan."
"Tuduhan tidak jelas?" Lucian melangkah mendekat, auranya yang dingin kini terasa lebih pekat.
"Aku melihat Daddy ingin melakukan sesuatu yang tidak sopan padanya saat dia sedang tidak berdaya. Apakah Daddy sedang mencoba melecehkannya saat dia tertidur?"
Keith merasa ubun-ubunnya memanas. Tuduhan itu benar-benar konyol dan melampaui batas.
"Lucian, jaga bicaramu! Aku ini Daddy mu, dan dia adalah istriku, maksudku Mami mu. Daddy tidak mungkin melakukan hal serendah itu!"
"Benarkah?" tantang Lucian, suaranya naik satu oktaf, menunjukkan sisi emosional yang selama ini ia tekan.
"Bagi Daddy, semuanya adalah objek. Daddy selalu menganggap orang lain sebagai alat. Aku tidak akan membiarkan Daddy melakukannya pada Mami!"
Keith merasa kesabarannya benar-benar telah habis. Ia tidak tahu mengapa putranya ini begitu defensif, atau mengapa malam ini Lucian sangat cerewet, setelah perang batin yang panjang di kantor, ia harus menghadapi tuduhan konyol seperti ini. Tanpa sadar, egonya yang selama ini terpendam meledak.
"Lalu, kalau Daddy memang melecehkannya, memangnya kenapa?" tantang Keith balik, suaranya dingin dan tajam.
"Dia adalah istriku yang sah. Daddy memiliki hak penuh atas dirinya. Jangankan melecehkannya, melakukan hal lain yang lebih jauh pun Daddy bisa, karena kami suami istri yang sah di mata hukum dan Tuhan!"
Ucapan itu meluncur begitu saja, tanpa filter, karena Keith sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan logika putranya.
Wajah Lucian memucat, tangannya terkepal di samping tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Daddy... Daddy benar-benar tidak punya hati."
Keith tidak menunggu tanggapan Lucian. Ia merasa tidak punya energi lagi untuk meladeni perdebatan ayah dan anak yang tidak masuk akal ini. Dengan gerakan yang tegas, ia membungkuk dan langsung menggendong tubuh Jeslyn ala pengantin (bridal style).
Yang lebih ajaib adalah Jeslyn. Wanita itu sama sekali tidak terbangun. Ia tetap lelap, bernapas tenang dalam gendongan Keith, seolah ia sedang tidur di atas kasur paling empuk di dunia. Ia tampak seperti mayat yang tidak terganggu oleh perdebatan sengit di sekelilingnya.
Keith melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Lucian. Ia melewati putranya yang masih berdiri mematung di tengah ruang santai. Saat melewati Lucian, Keith bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari putranya itu.
Lucian tetap diam di posisinya, menatap punggung ayahnya yang menjauh dengan tatapan yang penuh kebencian dan ketidakberdayaan. Tangannya yang terkepal semakin erat, hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Ia menyaksikan bagaimana sosok yang dulu ia benci karena sikap dinginnya, kini tampak sangat protektif dan mungkin, posesif terhadap wanita yang beberapa minggu ini menjadi satu-satunya pelindung bagi Lucian.
Keith terus melangkah hingga sampai di lantai atas, memasuki kamar utama, dan membaringkan Jeslyn di ranjang dengan sangat hati-hati. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu istrinya.
Keith duduk di tepi ranjang, menatap wajah Jeslyn yang damai. Ia menghela napas panjang, menyingkirkan anak rambut dari dahi wanita itu. Debat dengan Lucian tadi meninggalkan rasa pahit di mulutnya. Apakah Lucian benar-benar peduli pada Jeslyn karena kasih sayang, atau ada hal lain yang membuat pemuda itu begitu obsesif melindungi Jeslyn dari ayahnya sendiri?.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Lucian?" gumam Keith pelan.
Di bawah sana, Lucian masih berdiri di ruang santai. Ia tidak beranjak. Pikirannya dipenuhi oleh pengakuan ayahnya tadi.
"Jangankan melecehkannya, melakukan hal lainnya saja aku bisa."
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, memicu api kemarahan yang tidak bisa ia jelaskan. Lucian tidak tahu mengapa hatinya begitu sakit mendengar ayahnya mengakui hak kepemilikannya atas Jeslyn. Ia merasa seolah-olah sesuatu yang berharga sedang dirampas darinya.
Lucian berbalik, menatap kosong ke arah tangga yang baru saja dilalui oleh orang tuanya. Ia tahu ia tidak bisa melawan ayahnya secara fisik, tidak untuk saat ini. Tapi ia tahu satu hal ia tidak akan membiarkan ayahnya menyakiti Jeslyn, meskipun ia harus menjadi orang jahat dalam drama keluarga ini.
Malam itu, di mansion yang megah namun terasa semakin kelam, sebuah dinding pemisah telah benar-benar terbentuk. Ayah dan anak, yang seharusnya bisa mulai membangun hubungan, kini justru terperosok dalam perselisihan yang berakar pada satu sosok wanita yang sedang tidur pulas, tidak tahu apa-apa tentang badai yang baru saja pecah di rumah mereka.
Keith mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya remang-remang yang masuk dari jendela. Ia berbaring di samping Jeslyn, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih kacau. Ia tahu perdebatan tadi malam hanyalah awal dari sesuatu yang lebih rumit. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Keith merasa takut, bukan takut pada saingan bisnisnya, bukan takut pada mantan mertuanya, tapi takut kehilangan kedamaian yang baru saja ia temukan di sisi Jeslyn.
Bersambung...
Oh no! Ada apa dengan ayah dan anak itu? apa ada yang tau? silahkan tulis pendapat kalian.