Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman untuk Clara
Aisha melangkah perlahan memasuki ruang tamu utama mansion keluarga Alister. Karpet yang tebal meredam suara langkah kakinya, namun irama detak jantungnya terasa hangat di dalam dada. Di belakangnya, Devan berjalan dengan postur tegap dan protektif, tangannya siap menopang atau menarik Aisha jika situasi memburuk.
Di sudut ruangan yang megah itu, seorang wanita bergaun lusuh duduk meringkuk di pinggir sofa kulit mewah. Wajahnya yang dulu selalu dipenuhi keangkuhan kini pucat, tirus, dan menyisakan bayangan hitam di bawah matanya. Gaun bermerek yang biasa ia banggakan kini tampak kedodoran pada tubuhnya yang menyusut drastis.
Itu adalah Clara.
Saat mendengar derap langkah mendekat, Clara mendongak. Matanya yang sembab dengan genangan air mata. Begitu pandangannya bertabrakan dengan sosok Aisha yang berdiri anggun membalut gaun putih gading, memancarkan wibawa dan aura kebahagiaan seorang Nyonya Alister, Clara langsung tersungkur dari sofa. Wanita itu berlutut di atas lantai, mengabaikan segala harga diri yang pernah ia agungkan.
"Aisha. Aisha, tolong aku." Tangis Clara pecah seketika, suaranya parau dan terengah-engah.
"Tolong cabut tuntutan itu, Aisha. Aku mohon, aku tidak sanggup kembali ke tahanan."
Aisha menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Clara. Ia menatap saudara angkatnya itu tanpa sedikit pun raut dendam, namun juga tanpa sisa kelemahan yang dulu kerap dimanfaatkan oleh mereka.
"Berdirilah, Clara. Jangan merendahkan dirimu seperti ini di rumah orang lain," Ujar Aisha tenang. Suaranya halus, namun menyiratkan jarak tebal yang tak lagi bisa ditembus.
Clara menggelengkan kepalanya dengan histeris, tangannya bergetar berusaha menggapai ujung gaun Aisha, namun Devan langsung menggeser posisinya berdiri tepat di depan Aisha, menghalangi gerak-gerik Clara dengan pandangan mata yang tajam.
"Jangan berani-berani menyentuh istriku dengan tangan kotormu," Ancam Devan dingin.
Dengan bibir bergetar, Clara menatap Aisha dari balik sosok Devan yang menjulang.
"Aisha, orang tuaku memang bersalah pada orang tuamu, tapi aku, aku hanya menuruti perintah saja. Aku tidak tahu apa-apa soal itu. Aku mohon, Aisha, pengacara Papa bilang aku bisa dipenjara sepuluh tahun. Usia muda dan masa depanku akan hancur di dalam sana."
Aisha menghela napas panjang.
"Kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa, Clara?" Tanya Aisha, nada suaranya mengalun pelan namun penuh dengan penekanan.
"Dua puluh tahun aku diam karena aku menghormati Papa Hendra sebagai orang yang membesarkanku. Menjadikanku pembantu dan kalian mengambil semua milik orang tuaku." Lanjut Aisha. Mata beningnya kini memancarkan ketegasan yang luar biasa.
"Tapi kalian justru menganggap kebaikan dan kesabaranku sebagai kelemahan yang bisa terus kalian peras hingga habis."
"A-aku salah, Aisha... aku mengaku salah." Air mata Clara mengalir semakin deras, membasahi lantai kayu yang berkilat.
"Aku janji akan mengembalikan semuanya. Aku akan keluar dari Jakarta, aku tidak akan pernah muncul di depanmu lagi. Tolong bicaralah pada Tuan Devan agar memberi perintah pada jaksa..."
"Hukum tidak berjalan berdasarkan belas kasihan yang terlambat, Clara," Sela Aisha tegas.
"Semua proses hukum terhada Hendra, Sinta, dan kamu sudah berjalan sesuai dengan bukti kejahatan yang kalian lakukan sendiri. Aku tidak akan menambah tuntutan, tapi aku juga tidak akan pernah mencabut tuntutan yang sudah ada."
Mendengar keputusan Aisha yang dingin dan tak tergoyahkan, raut wajah Clara berubah seketika. Rasa takut yang tadinya menyelimuti dirinya mendadak tergantikan oleh keputusasaan yang berubah menjadi kemarahan liar.
"Kamu kejam, Aisha!" jerit Clara seraya berdiri tertatih-tatih, matanya mendelik penuh kebencian.
"Kamu pura-pura menjadi malaikat padahal kamu senang melihat kami hancur. Kamu hanya beruntung bisa menikah dengan Devan Alister. Tanpa pria ini, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya anak yatim piatu yang menyedihkan!"
Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya berkilat tajam penuh amarah.
"Arya!" panggil Devan dengan nada keras yang menggema di seluruh sudut mansion.
Dalam hitungan detik, Asisten Arya bersama dua petugas keamanan bertubuh tinggi besar masuk ke dalam ruangan.
"Panggil pihak kepolisian sekarang. Laporkan bahwa tahanan luar atas nama Clara telah melanggar batas penangguhan dengan melakukan pengancaman dan perbuatan tidak menyenangkan di kediaman pribadi Alister," perintah Devan tanpa ampun.
"Baik, Tuan Devan," jawab Arya mantap. Kedua petugas keamanan langsung memegang kedua lengan Clara dengan kuat.
"Lepaskan aku! Aisha, kamu wanita licik! Aku benci kamu!" teriak Clara histeris saat tubuhnya diseret keluar dari ruang tamu utama. Suara jeritannya perlahan memudar seiring pintu kayu raksasa mansion ditutup rapat kembali.
Keheningan kembali menguasai ruangan.
Aisha berdiri terdiam, dadanya naik turun mengontrol emosi yang sempat bergejolak. Meskipun ia telah bersikap tegas, melihat kehancuran keluarga yang pernah menjadi bagian dari hidupnya tetap menyisakan sedikit rasa sesak di relung hatinya.
Tiba-tiba, sepasang lengan kokoh melingkar hangat di sekeliling pinggangnya. Devan menarik tubuh Aisha ke dalam dekapan dadanya yang bidang, menyandarkan dagunya di atas kepala sang istri.
"Kamu melakukan hal yang benar, Sayang," bisik Devan lembut, mengusap punggung Aisha dengan penuh kasih sayang.
"Memberi ampunan pada orang yang tidak pernah menyesali perbuatannya hanya akan melukai dirimu sendiri di masa depan."
Aisha menyandarkan kepalanya di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Rasa hangat dan aman seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku tidak benci mereka, Devan," gumam Aisha pelan.
"Aku hanya ingin keadilan untuk almarhum ayah dan ibuku. Aku ingin ingatan tentang nama Dirgantara kembali bersih."
Devan memiringkan kepalanya dan mencium pelipis Aisha dengan lembut.
"Keadilan itu akan tuntas dalam sidang persidangan minggu depan. Aku sudah menyiapkan tim pengacara terbaik untuk memastikan Hendra dan seluruh konspirasinya mendapatkan hukuman maksimal."
Devan kemudian melonggarkan pelukannya, menatap mata bening Aisha dengan pendar senyuman yang hangat.
"Sekarang, fokuslah pada hal yang membuatmu bahagia. Pengadaan lahan untuk Risa Dirgantara Foundation di Jakarta Selatan sudah selesai sore ini. Surat kepemilikannya sudah atas namamu."
Mata Aisha membelalak, rasa terkejut dan haru menyapu bersih sisa-sisa kesedihannya.
"Sudah selesai? Cepat sekali?"
Devan tersenyum tipis, mengusap pipi halus Aisha dengan ibu jarinya.
"Apa pun untuk manisku. Besok pagi kita akan meninjau lokasinya bersama arsitek, dan Nenek juga menyampaikan ingin ikut mendampingimu."
Aisha tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang memancarkan pendar kebahagiaan sejati. Ia berjinjit sedikit dan menekan bibirnya di pipi Devan.
"Terima kasih, Devan. Terima kasih untuk semuanya."
Devan menatap bibir Aisha yang mengulas senyum manis itu.
"Ucapan terima kasih di pipi rasanya belum cukup, Nyonya Alister." Ujar Devan dengan suara rendah seraya menyeringai tipis, sebelum merengkuh pinggang Aisha dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat yang dipenuhi rasa cinta mendalam.