Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan dan Evan meresponnya. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Kasir Minimarket
Jika remaja seusianya menghabiskan malam Minggu dengan berjalan-jalan di koridor mal yang sejuk, menonton film terbaru di bioskop, atau sekadar duduk di kafe estetik bersama pacar, Lylac sama sekali tidak melakukan semua kesenangan itu.
Di sinilah dia sekarang berada. Di balik meja kasir minimarket yang terletak tepat di dekat area persimpangan jalan raya yang ramai.
Udara di dalam toko terasa sangat dingin karena mesin pendingin ruangan diatur ke suhu paling rendah, kontras dengan udara malam di luar yang gerah dan dipenuhi polusi asap kendaraan.
Lylac membetulkan posisi seragam rompi merahnya yang sedikit kelonggaran. Kakinya terasa pegal luar biasa karena dia sudah berdiri hampir empat jam sejak sif malamnya dimulai pukul lima sore tadi. Belum lagi kepalanya yang masih sedikit pening akibat sisa kejengkelan dari insiden kantin sekolah siang tadi.
Tring!
Bunyi lonceng pintu kaca otomatis berdenting nyaring, memecah keheningan toko yang saat itu sedang sepi pengunjung.
"Selamat datang di minimarket Merah Putih," ucap Lylac dengan nada suara yang teratur, ramah, namun terasa datar. Ini adalah suara dengan mode bekerja khas Lylac.
Kalimat itu sudah otomatis keluar dari bibirnya setiap kali sensor pintu mendeteksi ada objek yang masuk, tidak peduli apakah dia sedang lelah atau tidak.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket kulit tebal dan helm yang belum dilepas langsung melangkah terburu-buru menuju ke meja kasir.
"Beli rokok A, Neng," ujar pria itu sambil mengetukkan jari-jarinya di atas meja kaca, tampak tidak sabaran.
"Isi enam belas atau dua belas?" tanya Lylac. Mata tajamnya langsung melirik ke arah deretan etalase di belakangnya. Dia sudah menghafal seluruh tata letak dan harga barang di area itu di luar kepala.
"Dua belas saja."
Lylac berbalik dengan cekatan. Tangan rampingnya mengambil satu bungkus rokok yang dimaksud, lalu memindai kode batangnya ke mesin pemindai hingga terdengar bunyi pip yang familier.
"Tujuh belas ribu," kata Lylac sambil memasukkan data transaksi ke dalam komputer kasir yang layarnya berkedip-kedip.
Pria itu mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari saku jaketnya, meletakkannya begitu saja di atas meja, lalu dengan cepat menyambar bungkus rokok tersebut.
"Kembaliannya ambil saja, Neng," katanya sambil berbalik dan melangkah lebar keluar dari toko.
"Terima kasih," ucap Lylac sambil membungkukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk kesopanan standar pada pelanggan.
Setelah punggung pria itu benar-benar hilang di balik pintu kaca, Lylac menarik napas lega. Dia membuka laci mesin kasir yang berdenting terbuka, lalu memasukkan uang dua puluh ribu tadi.
Dengan teliti, Lylac mengambil uang tiga ribu rupiah dari kantong dompet kecilnya sendiri untuk dimasukkan ke dalam mesin sebagai penyeimbang laporan keuangan, lalu mengantongi uang tiga ribu kembalian yang hangus dari pria tadi ke dalam sakunya sendiri.
"Lumayan untuk tambahan ongkos angkot hari Senin besok," gumam Lylac pelan. Sebuah senyuman tipis yang sangat langka terukir di wajah tegasnya yang tanpa polesan make-up itu.
"Ih, Lylac! Kamu kok mau sih dikasih uang receh begitu? Harga diri kamu sebagai cewek cantik di mana, Lylac sayang? Malu-maluin tahu!"
Lylac seketika memejamkan matanya rapat-rapat. Senyuman tipis yang baru saja singgah di bibirnya langsung lenyap dalam sekejap tanpa bekas. Pelipisnya mendadak berdenyut. Dia benar-benar lupa kalau malam Minggunya yang melelahkan ini tidak pernah benar-benar dihabiskan sendirian.
Sesosok hantu centil berpita merah tampak sedang duduk bersila dengan santai di atas tumpukan kardus mi instan yang terletak tepat di samping meja kasir.
Mika melayang turun dengan anggun, memutar tubuhnya di udara sebelum akhirnya mendekatkan wajah pucatnya yang transparan ke arah Lylac yang sedang merapikan struk belanjaan.
"Mika, diam," desis Lylac dengan suara yang sangat pelan.
Dia sama sekali tidak menoleh ataupun melirik ke arah Mika. Tangannya berpura-pura sibuk menata ulang tumpukan permen di dekat komputer agar orang-orang yang melihat lewat kamera CCTV di atas kepalanya tidak mengira dia sedang mengobrol dengan angin kosong.
"Rezeki itu kalau kamu diajak jalan-jalan atau ditembak sama Evan pas malam Minggu, tahu!" Mika mencibir, lalu melayang dalam posisi jungkir balik tepat di depan wajah Lylac, membuat rambut panjangnya yang bergelombang transparan seolah-olah menyentuh hidung Lylac.
"Kamu tahu tidak, Ly? Sore tadi aku sempat terbang sebentar ke area lapangan basket luar sekolah sebelum toko ini buka. Evan latihan sampai magrib! Ya ampun... keringat di dahinya pas dia melakukan slam dunk itu... aku sampai mau pingsan rasanya kalau masih hidup!"
Lylac menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya di dada, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengontrol emosinya yang mulai tersulut.
Dia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa memukul hantu dengan alat pemindai harga adalah hal yang mustahil dan hanya akan membuang tenaga.
"Aku bekerja karena butuh uang untuk membayar tunggakan SPP bulan depan, Mika. Bukan karena butuh cuci mata untuk melihat cowok," jawab Lylac ketus, suaranya terdengar sangat dingin.
"Ih, kamu. Melihat cowok cakep itu adalah wajib!" Mika memberi nasihat.
Lylac mendengus.
Mika melayang naik lalu duduk di atas monitor komputer kasir sambil mengayun-ayunkan kakinya yang tembus pandang.
"Nanti kalau ada cowok ganteng lagi yang masuk ke toko ini, kamu harus latihan tersenyum yang manis, ya? Anggap saja simulasi. Biar kalau suatu saat kamu berhadapan dengan Evan, muka kamu tidak kaku dan menyeramkan seperti ini. Kamu itu cantik, Lylac."
"Jangan memuji untuk bikin aku ikut rencanamu, ya?" sergah Lylac. "Dan berhenti duduk di atas monitor, kamu membuat layarnya terasa dingin."
Mika hanya menjulurkan lidahnya dengan cuek, mengabaikan protes Lylac. Hantu itu kemudian melayang ke arah langit-langit toko, bersiap untuk menyanyikan lagu galau tahun 90-an dengan nada sumbang untuk menggoda Lylac kembali.
Namun, baru saja Mika membuka mulutnya, lonceng pintu minimarket kembali berdentang nyaring menembus keheningan malam.
Tring!
"Selamat datang di minimarket _"
Seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi atletis melangkah masuk. Dia mengenakan jaket olahraga berwarna biru dongker dengan logo sekolah SMA 27 di bagian dadanya.
SMA 27?
Lylac fokus pada logo itu. Namun dia tidak hafal dengan cowok ini.
Sebuah tas olahraga berukuran besar disampirkan di bahu kanan, sementara sepasang sepatu basketnya diikatkan bersama dan digantungkan di lehernya. Rambut hitamnya tampak sedikit basah oleh sisa keringat yang belum sepenuhnya kering, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat.
"LYLAC!!! ITU EVAN!!! YA AMPUN, DEMI APA DIA KE SINI?! RENCANA TUHAN EMANG NGGAK PERNAH SALAH!!! LIHATLAH, GANTENG BANGET!!!" jerit Mika histeris sambil terbang berputar-putar di langit-langit minimarket seperti gasing yang kehilangan kendali.
Ternyata itu Evan.
Cowok nomor satu di sekolah mereka.
Bagaimana bisa dia muncul di tempat kerjaku?